Semangat Pagi di Caturtunggal, Guru dan Murid TK Binaan TP PKK Ikuti Senam Bersama

Sleman – Pemerintah Kalurahan Caturtunggal menyelenggarakan kegiatan Senam Bersama Guru dan Murid TK Binaan TP PKK Kalurahan Caturtunggal di halaman Kantor Kalurahan Caturtunggal, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Jumat (2/10/2026).

Kegiatan yang dimulai pukul WIB ini diikuti oleh ratusan murid beserta guru pendamping dengan suasana ceria dan penuh semangat. Agenda ini digelar sebagai sarana mengenalkan kebiasaan hidup sehat sejak usia dini sekaligus mempererat kebersamaan antara pimpinan kalurahan, tenaga pendidik, dan para siswa.

Kamituwa Kalurahan Caturtunggal, Kirwanto, menyampaikan apresiasi atas sinergi para guru dan pengurus TP PKK yang terus mendampingi tumbuh kembang anak-anak melalui aktivitas fisik luar ruang.

“Kegiatan seperti ini sangat baik untuk membiasakan anak-anak hidup sehat sejak dini. Selain menjaga kebugaran, senam bersama juga menjadi kesempatan bagi anak-anak untuk belajar bersosialisasi, membangun kebersamaan, serta mengikuti kegiatan secara tertib dan menyenangkan,” ujar Kirwanto dalam sambutannya.

Melalui olahraga bersama ini, anak-anak diharapkan tidak hanya memperoleh manfaat kebugaran fisik yang sesuai usia tumbuh kembang, tetapi juga terlatih dalam menanamkan nilai kedisiplinan, keberanian, serta interaksi sosial positif dalam kelompok.

Pemerintah Kalurahan Caturtunggal berkomitmen untuk terus mendukung program-program edukatif dan kesehatan anak usia dini secara berkelanjutan demi mewujudkan generasi yang sehat, aktif, dan berkarakter. (Oktaviana/KIM Depok)




Buku Gampang Eling Carangapak Permudah Masyarakat Hafal Aksara Jawa

Sleman – Upaya mengenalkan kembali aksara Jawa kepada masyarakat terus dikembangkan melalui penyusunan buku Gampang Eling Carangapak karya Akhmad Fikri. Buku panduan ini menawarkan teknik menghafal aksara carakan Jawa secara praktis, sederhana, dan sistematis agar dapat dipelajari oleh berbagai kalangan.

Metode Carangapak yang dikembangkan sejak 2021 ini menghubungkan proses berpikir, penalaran, dan pengenalan visual. Pendekatan tersebut mempermudah pembaca mengenali bentuk serta karakter aksara tanpa harus melalui proses pembelajaran yang rumit.

Penulis buku Gampang Eling Carangapak, Akhmad Fikri, menjelaskan bahwa buku ini dihadirkan untuk menjawab tantangan masih banyaknya masyarakat Jawa yang mahir berbahasa daerah tetapi belum mengenal tradisi tulis leluhurnya.

“Penguasaan aksara Jawa tidak seharusnya menjadi sesuatu yang sulit dijangkau masyarakat. Dengan metode pembelajaran yang tepat, pengenalan aksara dapat dilakukan secara bertahap dan menyenangkan. Buku Gampang Eling Carangapak diharapkan menjadi panduan praktis yang membantu pembaca memulai proses belajar secara mandiri maupun melalui kegiatan pendidikan,” ujar Akhmad Fikri saat ditemui di Pondok Pesantren Bina Aksara Mulya, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Minggu (4/10/2026).

Akhmad Fikri menegaskan bahwa kehadiran bukunya ditujukan sebagai fasilitas pendukung bagi pelajar, pendidik, maupun pegiat budaya dalam memperkuat literasi daerah.

“Lebih dari sekadar buku panduan, Gampang Eling Carangapak merupakan bagian dari ikhtiar untuk mendekatkan kembali masyarakat dengan warisan budaya. Aksara Jawa bukan hanya sistem tulisan, melainkan bagian dari perjalanan peradaban yang merekam pengetahuan, pemikiran, dan ekspresi kebudayaan masyarakat Jawa dari generasi ke generasi,” tegasnya.

Melalui kemudahan teknik menghafal yang ditawarkan dalam buku ini, pembelajaran aksara Jawa diharapkan tidak berhenti sebagai materi pelajaran formal semata, melainkan berkembang menjadi kesadaran bersama dalam melestarikan warisan budaya leluhur. (Adnan Nurtjahjo/KIM Parartaguna Gamping)




UNY Perkuat Daya Saing Usaha Jamur Lingzhi di Seyegan Lewat Teknologi dan Digitalisasi

Sleman – Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) mendorong peningkatan daya saing usaha jamur Lingzhi di Jamal Farming, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta melalui penerapan teknologi tepat guna, perbaikan kemasan, dan pemasaran digital.

Program PkM berbasis pemberdayaan masyarakat yang berlangsung sejak Agustus hingga September 2026 ini mendapat dukungan pendanaan dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi serta DRPM UNY.

Ketua Tim PkM UNY, Penny Rahmawaty, menjelaskan bahwa intervensi teknologi dan pendampingan bisnis ini ditujukan untuk memperkuat kapasitas produksi, kualitas tampilan produk, serta perluasan jangkauan pasar mitra.

“Penerapan teknologi tepat guna diharapkan dapat memberikan solusi terhadap kebutuhan produksi mitra sekaligus mendukung pengembangan usaha secara berkelanjutan. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu Jamal Farming meningkatkan daya saing produk jamur Lingzhi, baik dari sisi kapasitas produksi, tampilan produk, maupun jangkauan pasar,” ujar Penny Rahmawaty pada Minggu (4/10/2026).

Salah satu inovasi teknologi yang diserahkan berupa mesin perajang jamur Lingzhi. Mesin tersebut mampu menghasilkan irisan dengan ketebalan 1 hingga 5 milimeter serta kapasitas perajangan mencapai 10 hingga 30 kilogram per jam, jauh lebih efisien dan seragam dibandingkan pengerjaan manual.

Selain modernisasi alat produksi, tim UNY memberikan pelatihan pembaruan desain kemasan guna meningkatkan nilai estetika dan informasi produk, serta pendampingan pemasaran digital untuk membuka peluang pasar yang lebih luas bagi olahan jamur Lingzhi lokal Seyegan. (Athiful/KIM Depok)




Rawat Warisan Leluhur, Masyarakat Padukuhan Tamanan Konsisten Lestarikan Tradisi Sambatan

Sleman – Masyarakat Padukuhan Tamanan, Kalurahan Tamanmartani, Kapanewon Kalasan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta hingga kini terus merawat dan mempertahankan tradisi sambatan sebagai bagian dari upaya memperkuat ketahanan budaya berbasis nilai gotong royong di akar rumput.

Dukuh Tamanan, Hasto, menjelaskan bahwa sambatan—yang berasal dari bahasa Jawa sambat atau meminta bantuan—merupakan budaya saling membantu antarwarga untuk meringankan beban tetangga yang sedang memperbaiki atau membangun rumah.

“Saat ada keluarga yang hendak memperbaiki atau membangun rumah, mereka meminta bantuan tetangga. Di situlah warga berdatangan bergotong royong tanpa memandang status sosial. Bahkan warga yang tidak diundang pun akan dengan senang hati ikut bergabung membantu,” ujar Hasto saat ditemui di kediamannya pada Minggu (4/10/2026).

Hasto menuturkan, aktivitas sambatan biasanya terlihat saat proses penggantian atap dan genting, penggalian lubang pondasi, hingga pemasangan tiang dan perakitan atap rumah. Ia menegaskan perbedaan antara sambatan dan kerja bakti umum.

“Sambatan itu gotong royong untuk membantu kepentingan pribadi atau satu keluarga. Sementara kalau untuk kepentingan umum biasa disebut gotong royong atau kerja bakti,” jelasnya.

Tradisi ini tidak hanya sarat nilai sosial lewat interaksi warga yang mempererat persaudaraan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi. Keluarga yang memiliki hajat dapat menghemat biaya pembangunan, sementara tetangga sekitar turut menyumbang sembako untuk konsumsi bersama.

Keterlibatan aktif kaum perempuan dan pemuda di Padukuhan Tamanan menjadikan tradisi ini sebagai sarana penanaman nilai kebersamaan sejak dini.

“Dengan melestarikan sambatan, kita memperteguh semangat kebersamaan dan memantapkan ketahanan budaya di tengah masyarakat,” pungkas Hasto. (Tri Joko S/KIM Kalasan Bersahabat)




Madurejo Gumblegur: Tujuh Sanggar Karawitan Semarakkan Garebeg Madurejo 2026

Sleman – Alunan Gendhing Lancaran Desa Budaya bergema menembus radius dua kilometer dalam pentas Parade Gamelan dan Festival Karawitan yang digelar di Area Wisata Grembyangan, Kalurahan Madurejo, Kapanewon Prambanan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Sabtu (3/10/2026).

Kegiatan bertajuk “Madurejo Gumblegur” yang menjadi rangkaian utama acara Garebeg Madurejo 2026 tersebut melibatkan tujuh sanggar karawitan dari wilayah Kalurahan Madurejo. Parade gamelan dimainkan secara serentak di ruang terbuka dengan konduktor Pendamping Kalurahan Budaya Madurejo, Dwi Eko Purnama.

Lurah Madurejo, Sumadi, mengapresiasi tinggi semangat gotong royong masyarakat serta lembaga kalurahan yang aktif melestarikan kebudayaan Jawa. Ia menekankan pentingnya pemanfaatan sarana gamelan untuk membina generasi muda.

“Fasilitas budaya, khususnya gamelan yang dimiliki kalurahan maupun masyarakat padukuhan, hendaknya dimanfaatkan dengan baik dengan senantiasa melibatkan generasi muda dan anak-anak. Dengan demikian, seni karawitan dapat tetap lestari dan berkembang di Madurejo,” ujar Sumadi saat membuka acara.

Usai parade, kegiatan dilanjutkan dengan festival karawitan. Setiap sanggar membawakan gending lancaran pilihan yang dipadukan dengan penampilan penari lokal dari padukuhan masing-masing, yang didominasi oleh penari cilik.

Tujuh kelompok yang berpartisipasi dalam ajang ini meliputi Sanggar Yoga Madularas (Padukuhan Majasem), Sanggar Karawitan Sekar Jagad (Mutihan), Sanggar Seni Karawitan Jagadite (Macanan), dan Sanggar Seni Karawitan Jodhipati (Kebondalem) yang masing-masing membawakan Lancaran Gugur Gunung. Sementara itu, Sanggar Karawitan Puspo Laras (Bendosari) membawakan Lancaran Bang Bang Wis Raino, serta Sanggar Karawitan Ngudi Laras (Gangsiran) membawakan Lancaran Suwe Ora Jamu.

Selain parade dan festival karawitan, rangkaian Madurejo Gumblegur yang dihadiri Tim Monev Desa Budaya Kundha Kabudayan DIY Tri Joko Saptono ini juga diisi dengan penyerahan piala Lomba Wajah Padukuhan, Administrasi Padukuhan, dan Festival Hadroh, bazaar UMKM, pentas jathilan pada Jumat (2/10/2026), serta ditutup dengan Kirab Boyong Projo pada Minggu (4/10/2026). (Tri Joko S/KIM Kalasan Bersahabat)