Digitalisasi Aksara Jawa Jadi Ikhtiar Selamatkan Peradaban di Era Modern

Sleman – Pemanfaatan perangkat komputer dan smartphone dalam digitalisasi aksara Jawa menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlangsungan warisan budaya di tengah pesatnya perkembangan teknologi. Keterampilan ini diharapkan mampu mendekatkan generasi muda dengan aksara Jawa sekaligus memperluas penggunaannya dalam komunikasi digital.
Langkah konkret tersebut diwujudkan oleh Akhmad Fikri bersama Afiffuddin melalui pelatihan digitalisasi aksara Jawa secara gratis bagi masyarakat di Pondok Pesantren Bina Aksara Mulya, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta pada Minggu (4/10/2026).
Pengasuh Pondok Pesantren Bina Aksara Mulya, Akhmad Fikri, menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi ikhtiar nyata dalam menyelamatkan identitas dan peradaban budaya daerah agar tidak tergerus zaman.
“Pawiyatan ini sebagai ikhtiar kami menyelamatkan peradaban melalui pelestarian aksara daerah, khususnya huruf Jawa atau Carakan, agar tidak terpinggirkan oleh perubahan zaman. Pemanfaatan teknologi digital untuk memastikan aksara Jawa tetap hidup, dipelajari, dan digunakan oleh generasi penerus, bukan sekadar menjadi peninggalan sejarah yang tersimpan dalam naskah-naskah kuno,” ujar Akhmad Fikri.
Ia menambahkan, gerakan literasi ini selaras dengan amanat Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan yang menempatkan bahasa dan aksara daerah sebagai objek pelindungan, pengembangan, serta pemanfaatan yang berkelanjutan.
Dalam pelatihan tersebut, para peserta dibimbing melakukan instalasi perangkat pendukung serta menggunakan font Ngayogyan Jejeg pada komputer dan ponsel pintar. Setelah memahami prinsip dasar tata tulis, peserta langsung melakukan praktik membaca serta mengetik aksara Jawa secara digital.
Mentor pelatihan, Afiffuddin, berharap kemudahan akses penulisan digital ini dapat mendorong minat generasi muda untuk memproduksi konten edukatif beraksara Jawa.
“Pelatihan semacam ini diharapkan dapat memperluas akses masyarakat terhadap pembelajaran aksara Jawa, khususnya di kalangan generasi muda yang akrab dengan teknologi. Ketika aksara Jawa dapat digunakan melalui perangkat yang mudah dijangkau, proses pewarisan pengetahuan budaya berpeluang berlangsung lebih luas dan interaktif,” tutur Afiffuddin. (Adnan Nurtjahjo/KIM Parartaguna Gamping)



