Gen Z dan Tantangan Pancasila di Era Media Sosial, Pasar Bela Negara Sleman Dorong Etika Digital

Sleman — Tantangan mengamalkan nilai-nilai Pancasila di era digital tidak lagi sebatas memahami sejarah bangsa atau menghafalkan lima sila. Bagi generasi Z, nilai-nilai Pancasila juga tercermin dari cara menggunakan media sosial, menghormati perbedaan, menjaga ucapan, dan membangun solidaritas di tengah derasnya arus informasi.

Pesan tersebut mengemuka dalam Pasar Bela Negara Sleman edisi ke-44 bertema “Pancasila dan Gen Z”, yang digelar di sisi utara Lapangan Pemda Sleman, Jumat (2/10/2026).

Talk show tersebut menghadirkan Duta Pancasila Paskibraka Indonesia Kabupaten Sleman, Kintan Dewinta Putri dan perwakilan Kesbangpol Sleman Dwijo Anggono. Diskusi dipandu Lina Syafira dan Bobby Tinampi.

Anggono menjelaskan, pembentukan anggota Paskibraka di Sleman tidak hanya berfokus pada kemampuan mengibarkan bendera. Para peserta juga mendapatkan pendidikan mengenai kedisiplinan, nasionalisme, budi pekerti, dan nilai-nilai bela negara yang disesuaikan dengan perkembangan zaman.

Menurutnya, setelah menyelesaikan tugas sebagai Paskibraka, para anggota menjadi bagian dari DPPI Sleman. Mereka diharapkan dapat menerapkan dan meneruskan nilai-nilai yang diperoleh selama proses pendidikan di tengah masyarakat.

“Purna Paskibraka tidak hanya dididik untuk sekadar bisa mengibarkan bendera. Mereka juga dibentuk dengan kedisiplinan, rasa nasionalisme, budi pekerti, serta semangat bela negara yang mengikuti tuntutan zaman,” ujar Anggono.

Sementara itu, Duta Pancasila Paskibraka Indonesia Kabupaten Sleman, Kintan mengatakan penanaman nilai-nilai Pancasila telah dimulai sejak proses seleksi Paskibraka, salah satunya melalui tes wawasan kebangsaan.

Menurut Kintan, nilai-nilai Pancasila masih relevan dengan kehidupan generasi Z. Namun, perkembangan media sosial menghadirkan tantangan baru. Kemudahan berkomunikasi secara anonim, penggunaan akun palsu, serta kebebasan menyampaikan pendapat dapat membuat seseorang kurang mempertimbangkan dampak dari pernyataannya.

Oleh karena itu, generasi muda perlu memiliki kemampuan untuk menahan diri sebelum mengunggah atau menyampaikan sesuatu di media sosial.

“Peran kami sebagai DPPI adalah terus mengingatkan dan memotivasi agar media sosial digunakan dengan baik,” kata Kintan.

Ia menekankan pentingnya menerapkan nilai-nilai Pancasila dalam interaksi digital, antara lain melalui sikap tepo seliro, menghormati orang lain, membangun solidaritas, dan menerima perbedaan.

Nilai-nilai tersebut dapat menjadi pegangan bagi generasi muda agar kebebasan berkomunikasi di media sosial tetap diiringi tanggung jawab.

Pembahasan mengenai Pancasila dan generasi Z menjadi relevan karena ruang digital telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Perbedaan pendapat, informasi yang belum terverifikasi, hingga komentar di media sosial dapat memicu konflik apabila tidak disikapi secara bijak.

Selain menghadirkan aneka makanan dan minuman tradisional, Pasar Bela Negara menyediakan talk show kebangsaan serta pelayanan perizinan halal secara gratis bagi masyarakat.

Kegiatan tersebut juga mengajak masyarakat menerapkan bela negara melalui langkah konkret dalam kehidupan sehari-hari, salah satunya dengan menggunakan dan mendukung produk lokal.

Dengan demikian, bela negara tidak selalu diwujudkan melalui kegiatan formal. Mendukung pelaku usaha lokal, menjaga kerukunan, menghormati perbedaan, serta menggunakan ruang digital secara bertanggung jawab juga menjadi bagian dari kontribusi masyarakat dalam kehidupan berbangsa. (Andy Ahmad – KIM DSN Ngaglik)




Restorasi Sosial Berbasis Budaya Jawa Perkuat Kesetiakawanan Sosial

Sleman – Dinas Sosial Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bersama Pemerintah Kalurahan Donoharjo mendorong penguatan kesetiakawanan sosial melalui restorasi sosial berbasis budaya Jawa-Yogyakarta. Upaya tersebut dinilai penting untuk menjaga solidaritas dan kepedulian masyarakat di tengah perubahan sosial akibat globalisasi dan modernisasi.

Hal tersebut disampaikan dalam sarasehan bertema “Penguatan Nilai Kesetiakawanan, Restorasi Sosial Berbasis Budaya Jawa-Yogyakarta dalam Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial”, yang digelar di Aula Kalurahan Donoharjo, Kapanewon Ngaglik, Sleman, Kamis (1/10/2026).

Mantan Kepala Dinas Sosial DIY, Endang Patmintarsih, selaku narasumber mengatakan, restorasi sosial diperlukan karena terjadi perubahan dalam kehidupan sosial masyarakat yang berdampak pada melemahnya sejumlah nilai luhur.

“Konsep restorasi sosial muncul karena kita mengakui bahwa posisi kehidupan sosial sedang mengalami degradasi. Dengan demikian, kita harus memiliki pijakan untuk melakukan perbaikan,” ujarnya.

Menurut Endang, globalisasi dan modernisasi memberikan berbagai manfaat bagi kehidupan masyarakat. Namun, perkembangan tersebut juga memengaruhi pola interaksi sosial.

“Di satu sisi membawa perubahan positif pada sistem kehidupan manusia, tetapi di sisi lain juga membawa perubahan negatif terhadap sistem interaksi sosial,” katanya.

Ia menyebut, salah satu dampaknya adalah menurunnya solidaritas, kepedulian, dan kesetiakawanan sosial. Oleh karena itu, kemajuan material perlu diimbangi dengan penguatan nilai kepedulian, berbagi, toleransi, gotong royong, dan bekerja tanpa pamrih.

Endang mengajak masyarakat menjadikan budaya Jawa-Yogyakarta yang adiluhung sebagai landasan dalam membangun kehidupan bersama. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat memperkuat keadilan, kerukunan, kemandirian, kejujuran, serta semangat untuk maju bersama.

“Tujuannya agar tercipta masyarakat yang beradab, saling menghargai, peduli terhadap sesama, dan mampu membangun kehidupan bersama,” terangnya.

Lebih lanjut, Endang mengatakan Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan sosial, di antaranya kemiskinan, perilaku antisosial, kekerasan remaja berkelompok, dan kriminalitas jalanan. Menurutnya, kepedulian, kebersamaan, gotong royong, toleransi, dan tanggung jawab sosial perlu ditanamkan sejak lingkungan keluarga, masyarakat, hingga generasi muda.

Melalui sarasehan tersebut, masyarakat diharapkan dapat menerapkan nilai restorasi sosial dalam kehidupan sehari-hari. Penguatan kerukunan, tepa selira, gotong royong, dan kepedulian terhadap sesama diharapkan mampu menciptakan kehidupan masyarakat yang aman, tenteram, dan damai.

(Upik Wahyuni/KIM Donoharjo Ngaglik)




UPPKA 17 Condongcatur Perkuat Ketahanan Keluarga melalui Pertemuan Rutin

Sleman – Kelompok Usaha Peningkatan Pendapatan Keluarga Akseptor (UPPKA) 17 Kalurahan Condongcatur menggelar pertemuan rutin di rumah Suhartini, Dukuh Kentungan, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kamis (1/10/2026).

Pertemuan tersebut dihadiri Penyuluh Keluarga Berencana (PKB) Kapanewon Depok Siti Juwariyah, Petugas Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) Kapanewon Depok Arvian Putra Merdeka, serta anggota UPPKA 17.

Dalam kegiatan tersebut, Siti Juwariyah menyampaikan materi mengenai pentingnya memperkuat ketahanan keluarga dalam menghadapi berbagai tantangan dan permasalahan sosial di masyarakat. Menurutnya, keluarga memiliki peran penting dalam mencegah dan meminimalkan berbagai permasalahan, termasuk potensi terjadinya kriminalitas.

Ia menjelaskan, keluarga merupakan lingkungan pertama dan utama dalam pembentukan karakter anak. Oleh karena itu, penguatan fungsi keluarga perlu dilakukan melalui komunikasi, pengasuhan, pendidikan, perlindungan, serta keteladanan di lingkungan keluarga.

“Keluarga merupakan tameng sekaligus tempat pertama dalam membentuk karakter anak. Ketahanan keluarga perlu diperkuat agar berbagai permasalahan di masyarakat dapat diminimalkan,” ujar Siti.

Menurutnya, penguatan ketahanan keluarga dapat dilakukan dengan menjalankan delapan fungsi keluarga, yaitu fungsi agama, sosial budaya, cinta kasih, perlindungan, reproduksi, sosialisasi dan pendidikan, ekonomi, serta pembinaan lingkungan.

Selain pembekalan mengenai ketahanan keluarga, pertemuan rutin UPPKA 17 juga menjadi sarana untuk mempererat silaturahmi, bertukar pengalaman, serta meningkatkan peran kelompok dalam mendukung kualitas kehidupan keluarga.

Ketua UPPKA 17 Condongcatur, Sri Wahyuni, mengatakan kegiatan rutin tersebut diharapkan dapat memperkuat kebersamaan dan peran anggota dalam mendukung ketahanan keluarga.

Melalui kegiatan tersebut, UPPKA 17 Condongcatur diharapkan tidak hanya berperan dalam mendukung peningkatan pendapatan keluarga, tetapi juga turut memperkuat ketahanan keluarga sebagai bagian dari upaya mewujudkan keluarga yang harmonis, mandiri, dan sejahtera.

(Tri Suhartati/KIM Depok)




Tembang-Tembung dalam Pawiwahan Jadi Bekal Pranata Cara Memahami Makna Upacara Jawa

Sleman — Pelatihan Adiwicara di Kabupaten Sleman tidak hanya membekali peserta dengan keterampilan berbicara di depan publik dan memandu jalannya upacara adat Jawa. Peserta juga diajak memahami makna tembang dan pilihan kata yang digunakan dalam pawiwahan agar tradisi tidak sekadar disampaikan berdasarkan hafalan teks dan urutan prosesi.

Pemahaman tersebut menjadi fokus Sarasehan Budaya bertema “Tembang-Tembung ing Pawiwahan Manten”, yang digelar dalam rangkaian Pembukaan Pelatihan Basa Lan Sastra “Adiwicara” di Pendopo Rumah Dinas Bupati Sleman, Kamis (1/10/2026).

Sarasehan tersebut menempatkan pranata cara tidak hanya sebagai pembawa acara, tetapi juga sebagai penyampai pesan budaya dalam setiap tahapan pernikahan adat Jawa.

Akademisi sekaligus tokoh budaya, Bambang Sulanjari hadir sebagai narasumber. Dosen Universitas PGRI Semarang (UPGRIS) tersebut juga merupakan pengurus Pepadi Jawa Tengah dan DPP Permadani.

Bambang menjelaskan, pernikahan adat Jawa menjadi ruang untuk menyampaikan nasihat, doa, serta nilai kehidupan kepada pengantin dan keluarga.

“Pernikahan adat bukan sekadar tontonan atau pemenuhan gengsi sosial. Di dalam setiap tembang dan pilihan kata tersimpan pesan yang mengarahkan kedua mempelai untuk menghadapi kehidupan berumah tangga dengan bijaksana,” ujar Bambang.

Menurutnya, tradisi pawiwahan menggunakan beragam bentuk sastra Jawa, antara lain sekar ageng, sekar macapat seperti Dhandhanggula, Asmaradana, Kinanthi, dan Mijil, serta lelagon. Berbagai karya tersebut tidak cukup hanya dihafalkan, tetapi perlu dipahami teks dan konteks penggunaannya.

Pemahaman terhadap tembang dan tembung, lanjut Bambang, memungkinkan pranata cara menyampaikan nilai-nilai budaya kepada pengantin, keluarga, dan masyarakat. Prosesi sungkeman, misalnya, mengandung pesan penghormatan kepada orang tua, sementara doa keselamatan atau rahardja merepresentasikan harapan atas kehidupan rumah tangga yang baik.

Nilai penghormatan kepada orang tua, kesetiaan, kerendahan hati, tanggung jawab, dan keselamatan keluarga juga memiliki relevansi yang lebih luas karena dapat dipahami dalam berbagai latar kebudayaan di Indonesia.

Sarasehan tersebut mempertemukan akademisi, pelaku seni, organisasi kebudayaan, pranata cara, dan pemerhati tradisi. Forum ini menjadi ruang untuk memahami pawiwahan tidak hanya sebagai seremoni, tetapi juga sebagai bagian dari pengetahuan bahasa, sastra, seni, dan pendidikan nilai.

Di tengah perubahan pola komunikasi dan tantangan regenerasi, pemahaman terhadap bahasa dan sastra Jawa menjadi penting agar tradisi tidak berhenti pada bentuk upacara. Dengan terus dipelajari dan diwariskan, tembang dan tembung dapat tetap menjadi media penyampaian etika, penghormatan, serta nilai keluarga kepada generasi berikutnya. (SBD/KIM Tempel)




Di Kentungan, Danrem 072/Pamungkas Ajak Mahasiswa UGM Meneladani Perjuangan Pahlawan Revolusi

Sleman – Komandan Korem (Danrem) 072/Pamungkas, Brigjen TNI Yuniar Dwi Hantono, mengajak mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) untuk mengenang sejarah sekaligus meneladani perjuangan dan pengorbanan para Pahlawan Revolusi dalam mempertahankan Pancasila.

Pesan tersebut disampaikan seusai Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2026 di Lapangan Monumen Pahlawan Pancasila, Kentungan, Condongcatur, Depok, Sleman, Kamis (1/10/2026).

Di hadapan mahasiswa UGM yang menjadi bagian dari pasukan upacara, Yuniar menegaskan bahwa peringatan Hari Kesaktian Pancasila tidak semestinya berhenti pada seremoni tahunan. Momentum tersebut juga menjadi kesempatan bagi generasi muda untuk memahami perjalanan sejarah bangsa serta mengambil nilai-nilai perjuangan para pendahulu.

“Sejarah harus kita kenang dan pahami. Dari sana kita belajar tentang pengorbanan para pendahulu dalam mempertahankan Pancasila dan keutuhan NKRI,” tandasnya.

Menurut Yuniar, mahasiswa memiliki peran penting sebagai bagian dari generasi muda dalam menjaga semangat kebangsaan. Nilai-nilai Pancasila perlu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari melalui persatuan, gotong royong, sikap saling menghormati, dan kepedulian terhadap bangsa.

Pesan tersebut disampaikan di kawasan yang memiliki nilai sejarah penting bagi Yogyakarta. Monumen Pahlawan Pancasila Kentungan menjadi tempat memorial bagi Brigjen TNI Anumerta Katamso dan Kolonel Infanteri Anumerta Sugiyono, dua Pahlawan Revolusi yang gugur dalam rangkaian peristiwa 1965 di Yogyakarta.

Keberadaan monumen tersebut menjadi pengingat sejarah sekaligus sarana untuk mewariskan nilai-nilai perjuangan kepada generasi berikutnya.

Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2026 tingkat DIY berlangsung khidmat mulai pukul WIB dan diikuti sekitar 500 peserta. Peserta berasal dari berbagai unsur, antara lain TNI, Polri, pemerintah daerah, mahasiswa, pelajar, dan elemen masyarakat.

Peringatan tahun ini mengusung tema “Pancasila Pemersatu Bangsa Menuju Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”. Rangkaian upacara meliputi penghormatan dan laporan komandan upacara, mengheningkan cipta, pembacaan teks Pancasila, Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, pembacaan ikrar, dan doa.

Melalui ikrar tersebut, peserta meneguhkan tekad untuk mempertahankan dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila sebagai sumber kekuatan dalam membangun kebersamaan, menegakkan kebenaran dan keadilan, serta menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Bagi mahasiswa yang hadir, pelaksanaan upacara di Kentungan juga menjadi ruang untuk belajar sejarah secara langsung. Selain mengikuti rangkaian penghormatan kepada para pahlawan, mereka berada di kawasan yang menyimpan jejak perjuangan Pahlawan Revolusi di Yogyakarta.

Peringatan Hari Kesaktian Pancasila di Kentungan menjadi momentum untuk menghubungkan ingatan sejarah dengan tanggung jawab generasi masa kini. Nilai pengorbanan, persatuan, gotong royong, dan kecintaan terhadap bangsa diharapkan terus diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.

(Wasana/KIM Depok)