Edukasi Gizi di Lumbungrejo, Perkuat Peran Kader Posyandu Pantau Tumbuh Kembang Anak

Sleman — Penguatan kapasitas kader Posyandu menjadi salah satu upaya meningkatkan kualitas pemantauan gizi dan tumbuh kembang anak. Melalui pencatatan dan pelaporan yang tertib, kader diharapkan mampu membantu tenaga kesehatan memantau kondisi balita, termasuk status gizi dan kelengkapan imunisasi.

Upaya tersebut dilakukan melalui kegiatan Edukasi Gizi untuk Kader Kesehatan yang digelar di Aula Lantai 2 Kalurahan Lumbungrejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, Jumat (30/10/2026). Kegiatan ini diikuti oleh seluruh kader Posyandu se-Kalurahan Lumbungrejo, dengan masing-masing padukuhan mengirimkan tiga kader.

Bidan Desa Puskesmas Tempel I, Murviana Anisa Putri menyampaikan bahwa ketertiban pencatatan dan pelaporan menjadi bagian penting dalam pemantauan kesehatan balita. Data yang dihimpun secara rutin dapat membantu tenaga kesehatan mengetahui perkembangan anak sekaligus mengidentifikasi kondisi yang memerlukan perhatian lebih lanjut.

“Pelaporan gizi, tumbuh kembang, dan imunisasi harus dilakukan secara rutin dan teratur. Data yang dicatat kader sangat penting untuk mengetahui perkembangan anak, memantau status gizinya, serta memastikan riwayat imunisasinya tercatat dengan baik,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, peserta juga mendapatkan materi mengenai mekanisme pelaporan kesehatan balita menggunakan telepon genggam. Pemanfaatan perangkat digital ini diharapkan mempermudah penyampaian informasi sekaligus meningkatkan ketertiban administrasi pelayanan Posyandu.

Setiap padukuhan mengirimkan tiga kader agar pelaksanaan tugas pencatatan dan pelaporan dapat dilakukan melalui pembagian tanggung jawab. Dengan demikian, informasi mengenai pertumbuhan anak, status gizi, dan riwayat imunisasi dapat dihimpun secara lebih teratur.

Pelaporan yang dilakukan setiap bulan juga menjadi sarana evaluasi untuk mengetahui perkembangan kesehatan balita dan mengidentifikasi kendala dalam pelaksanaan pemantauan. Apabila ditemukan kondisi yang membutuhkan perhatian khusus, kader dapat mengoordinasikannya dengan tenaga kesehatan untuk mendapatkan tindak lanjut sesuai kebutuhan.

Selain menjalankan pencatatan, kader Posyandu memiliki peran strategis karena berinteraksi langsung dengan keluarga dan masyarakat. Kedekatan tersebut memungkinkan kader mengingatkan orang tua mengenai jadwal penimbangan, pemantauan tumbuh kembang, serta pentingnya melengkapi imunisasi anak.

Lurah Lumbungrejo, M. Misbah Al Hakim yang hadir didampingi Kamituwa Lumbungrejo, Suwanto mengapresiasi keterlibatan para kader dalam mendukung pelayanan kesehatan masyarakat, khususnya bagi ibu dan anak.

“Saya mengapresiasi semangat dan pengabdian para kader Posyandu di Lumbungrejo. Mereka memiliki peran penting karena berada dekat dengan masyarakat dan membantu memastikan kesehatan serta tumbuh kembang anak mendapat perhatian secara berkelanjutan,” ujarnya.

Menurutnya, peningkatan kapasitas kader perlu terus didukung karena keberhasilan pelayanan kesehatan di tingkat masyarakat membutuhkan keterlibatan berbagai pihak, baik tenaga kesehatan maupun masyarakat yang menjadi penggerak pelayanan di lingkungannya.

“Harapannya, melalui pelatihan ini, para kader semakin memahami tugasnya, semakin tertib dalam melakukan pencatatan dan pelaporan, serta semakin solid dalam bekerja sama dengan tenaga kesehatan. Upaya menjaga kesehatan anak membutuhkan kepedulian dan kerja bersama,” katanya. (SBD/KIM TEMPEL)




Semangat Sumpah Pemuda, Pasar Bela Negara Sleman Ajak Generasi Muda Wujudkan Aksi Nyata

Sleman – Semangat Sumpah Pemuda tidak sekadar diwujudkan melalui peringatan seremonial, tetapi juga perlu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari melalui tindakan nyata. Nilai persatuan, kepeloporan, dan cinta tanah air menjadi pesan utama dalam Talkshow Pasar Bela Negara Sleman edisi ke-47 yang digelar di sisi utara Lapangan Pemda Sleman, Jumat (30/10/2026).

Mengusung tema “Pemuda Pelopor: Dari Semangat Sumpah Pemuda Menjadi Aksi Nyata”, talkshow tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sleman, Indra Darmawan, serta Sekretaris Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Sleman, Tamzis Sarwana.

Dalam paparannya, Indra menyampaikan bahwa aktivitas kepemudaan di Kabupaten Sleman menunjukkan perkembangan yang positif. Menurutnya, semangat menjadi pemuda pelopor dapat dibangun melalui kebiasaan sederhana yang dilakukan secara konsisten.

Ia mengajak generasi muda untuk membiasakan diri menetapkan target dalam setiap aktivitas. Cita-cita besar, menurutnya, dapat diwujudkan melalui langkah-langkah kecil yang dicapai secara bertahap setiap hari.

“Menjadi pelopor, biasakan dalam aktivitas keseharian Anda harus punya target. Cita-cita Anda bisa diraih lewat target-target kecil yang dicapai tiap harinya. Jadi bisa dimulai dari hal yang kecil seperti aktif di Karang Taruna, aktif di tempat ibadah, dan lain-lain,” ungkap Indra.

Ia menegaskan bahwa kepeloporan tidak harus diwujudkan melalui kegiatan berskala besar. Keaktifan dalam organisasi kepemudaan, kegiatan sosial kemasyarakatan, maupun kegiatan keagamaan merupakan langkah awal untuk membangun karakter, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan.

Sementara itu, Sekretaris Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Sleman, Tamzis Sarwana mengajak generasi muda untuk menunjukkan bakti kepada negara dengan mengembangkan dan memanfaatkan potensi yang dimiliki masing-masing individu.

Menurutnya, setiap pemuda memiliki kesempatan untuk berkontribusi bagi bangsa dan negara melalui bidang keahlian masing-masing. Hal terpenting adalah menjaga semangat nasionalisme serta menumbuhkan kecintaan terhadap tanah air.

Ia juga menekankan bahwa aksi bela negara tidak selalu diwujudkan melalui tindakan besar. Memberikan kontribusi positif sesuai kemampuan, menjaga persatuan, serta menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitar merupakan bentuk pengabdian kepada bangsa dan negara.

Talkshow edisi ke-47 ini menjadi momentum untuk menegaskan kembali bahwa semangat Sumpah Pemuda harus terus diwujudkan melalui tindakan nyata. Generasi muda diharapkan tidak hanya menjadi penonton perubahan, tetapi juga berani mengambil peran sebagai pelopor dan penggerak di lingkungan masing-masing. (Andy Ahmad – KIM DSN Ngaglik)




Ngepos, Merangkai Sejarah dan Budaya Menjadi Penggerak Ekonomi Warga

Sleman — Sejarah dan budaya tidak hanya menjadi warisan masa lalu, tetapi juga dapat dikembangkan sebagai potensi wisata dan penggerak ekonomi masyarakat. Hal tersebut disampaikan anggota DPRD Kabupaten Sleman, Wahyudi Kurniawan saat menghadiri Merti Dusun Ngepos di Kalurahan Lumbungrejo, Kapanewon Tempel, Kamis (29/10/2026).

Menurut Wahyudi, Ngepos memiliki kekayaan sejarah, tradisi, dan potensi geografis yang dapat dikembangkan menjadi kawasan wisata budaya sekaligus pusat aktivitas ekonomi warga. Sejumlah jejak sejarah, seperti bekas stasiun kereta api, Bioskop Chandra, Pasar Tempel, hingga Sungai Krasak, dapat dirangkai menjadi daya tarik kawasan.

Ia menilai, pengembangan potensi lokal perlu dilakukan secara terpadu dengan menghubungkan sejarah dan budaya dengan kesenian, kuliner, serta produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).

“Budaya harus menjadi sumber kebanggaan, ruang kreativitas, sarana pendidikan karakter, sekaligus peluang ekonomi bagi pelaku seni dan masyarakat di sekitarnya,” kata Wahyudi.

Melalui pengemasan kegiatan budaya yang menarik, masyarakat diharapkan tidak hanya datang untuk menyaksikan pertunjukan, tetapi juga mengenal sejarah kawasan, menikmati kuliner, serta membeli produk lokal.

“Pengunjung yang datang tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi juga menikmati kuliner, membeli produk lokal, mengenal sejarah, serta berinteraksi dengan kehidupan masyarakat,” ujarnya.

Wahyudi menambahkan, masyarakat harus menjadi pelaku utama dalam pengembangan kawasan. Seniman, pelaku UMKM, pedagang, komunitas, dan generasi muda perlu dilibatkan agar kegiatan budaya tidak sekadar menjadi agenda seremonial, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi secara langsung.

Merti Dusun Ngepos menjadi salah satu modal sosial untuk memperkuat upaya tersebut. Tradisi ini mencerminkan kebersamaan dan identitas masyarakat yang dapat menjadi landasan pengembangan potensi wilayah. Dukungan pemerintah kalurahan, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan komunitas budaya juga diperlukan agar pengembangan berjalan terarah dan berkelanjutan.

Selain membuka peluang ekonomi, pengembangan berbasis sejarah dan budaya diharapkan dapat menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap identitas daerahnya. Dengan demikian, Ngepos dapat mengembangkan potensi masa depan tanpa meninggalkan nilai-nilai sejarah dan budaya yang telah diwariskan. (SBD/KIM TEMPEL)




Merti Dusun Ngepos, Tujuh Mata Air Satukan Tradisi dan Harapan Ekonomi Warga

Sleman — Masyarakat Padukuhan Ngepos, Kalurahan Lumbungrejo, Kapanewon Tempel, menggelar Merti Dusun dengan mengarak kendi berisi air dari tujuh sumber mata air, Kamis (29/10/2026) malam. Tradisi bertajuk Kirab Tirto Kamulyan Jati tersebut menjadi simbol rasa syukur, persatuan, sekaligus harapan akan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan Surah Yasin dan doa keselamatan, dilanjutkan kirab kendi yang berisi gabungan air dari tujuh sumber mata air di Padukuhan Ngepos.

Dukuh Ngepos, Imam Muhlasin menjelaskan bahwa tradisi tersebut memiliki makna mendalam bagi masyarakat.

“Rangkaian kegiatan mulai malam ini, setelah pembacaan Yasin dan doa keselamatan dilanjutkan dengan Kirab Tirto Kamulyan Jati. Kirab ini merupakan penggabungan tujuh sumber mata air di padukuhan ini yang kemudian disatukan dalam bentuk kendi untuk dikirab keliling padukuhan,” ujar Imam.

“Tirto Kamulyan Jati sendiri bermakna sumber mata air yang diharapkan membawa kemuliaan sejati bagi seluruh warga Ngepos khususnya dan Lumbungrejo pada umumnya,” katanya.

Merti Dusun Ngepos diperingati setiap 28 Oktober, dengan waktu pelaksanaan menyesuaikan kesepakatan panitia dan tokoh masyarakat. Puncak kegiatan tahun ini dijadwalkan Sabtu mendatang dengan menampilkan berbagai kesenian tradisional, seperti karawitan Laras Madyo, Bancak Doyok, jathilan Dhemit Krasak, warokan, dan ketoprak humor.

“Setelah kegiatan malam ini, akan dilanjutkan puncak acara merti dusun pada hari Sabtu mendatang. Akan digelar berbagai macam pertunjukan kesenian tradisional yang berkembang di Padukuhan Ngepos, di antaranya kesenian karawitan Laras Madyo, Bancak Doyok, jathilan Dhemit Krasak, warokan, dan ketoprak humor sebagai wujud syukur berlangsungnya merti dusun tahun ini,” tutur Imam.

Selain melestarikan budaya, kegiatan ini diharapkan mampu mempererat kebersamaan warga sekaligus membuka peluang pengembangan ekonomi lokal. Lurah Lumbungrejo, M. Misbach Al Hakim, menyampaikan bahwa letak Ngepos yang berada di jalur nasional dan dekat dengan Pasar Tempel memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai kawasan ekonomi masyarakat.

“Dengan adanya merti dusun ini, kegiatan-kegiatan di masyarakat mesti bisa bersinergi dan berkembang dengan baik. Apalagi wilayah Ngepos ini merupakan wilayah yang strategis, berada di jalur nasional dan dekat Pasar Tempel. Ini menjadi salah satu harapan kita agar masyarakat Padukuhan Ngepos bisa menjadi pelaku ekonomi di wilayahnya sendiri, tidak hanya menjadi penonton di wilayahnya sendiri,” kata Misbach.

Pemerintah Kalurahan Lumbungrejo juga memberikan dukungan melalui alokasi Bantuan Keuangan Khusus (BKK). Dari total BKK sebesar Rp25 juta yang diterima kalurahan, Rp5 juta dialokasikan untuk mendukung penyelenggaraan merti dusun di setiap padukuhan.

“Dari pemerintah kalurahan sendiri, untuk kegiatan merti dusun ini tentunya memberikan dukungan tambahan. Hampir semua padukuhan melaksanakan kegiatan merti dusun. Dengan adanya BKK dari kabupaten, Rp5 juta bisa dialokasikan untuk menunjang kegiatan merti dusun di wilayah masing-masing,” ujarnya.

Misbach pun berharap tradisi merti dusun terus berkembang di seluruh padukuhan sebagai wujud syukur kepada Allah SWT sekaligus menjadi sarana memperkuat kebersamaan dan potensi masyarakat. (SBD/ KIM TEMPEL)




Tekun Belajar Sejak Dini, Murid SDN Susukan Ikuti Wisuda Tuntas Baca Qur’an

Sleman – Perjalanan belajar membaca Al-Qur’an yang dimulai sejak mengenal huruf hijaiyah akhirnya mengantarkan Naura Azkadina Arundati, murid SD Negeri Susukan, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, mengikuti Wisuda Tuntas Baca Qur’an (TBQ) se-Kabupaten Sleman pada Rabu (28/10/2026).

Pencapaian tersebut menjadi kebanggaan bagi keluarga besar SDN Susukan. Wisuda TBQ tidak sekadar menandai keberhasilan murid dalam menuntaskan pembelajaran membaca Al-Qur’an, tetapi juga menjadi buah dari ketekunan belajar, pendampingan guru, serta dukungan dan doa orang tua.

Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SDN Susukan, Ahmad Nursalim mengungkapkan rasa syukur dan bangganya atas pencapaian Naura. Menurutnya, keberhasilan tersebut merupakan hasil dari proses belajar yang panjang, disertai kesabaran dan keistiqamahan.

Ia mengenang perjalanan Naura sejak masih berada di kelas awal, ketika mulai mengenal huruf hijaiyah, belajar mengeja, dan melafalkan bacaan melalui buku Iqra hingga akhirnya mampu membaca Al-Qur’an dengan lebih lancar dan tartil.

“Melihat Ananda Naura yang dari kelas bawah belajar mengeja hijaiyah, terbata-bata melafalkan Iqra, hingga hari ini dengan lancar dan tartil membaca Kalamullah, adalah kebahagiaan yang tidak bisa dinilai dengan apa pun. Ini adalah buah dari kesabaran, keistiqamahan, dan doa orang tua serta guru,” ungkap Ahmad.

Ia menegaskan bahwa wisuda TBQ bukanlah akhir dari proses belajar membaca Al-Qur’an. Sebaliknya, pencapaian tersebut menjadi awal bagi murid untuk semakin mencintai, membaca, memahami, dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari.

“Wisuda ini bukanlah garis finis, Nak. Justru ini adalah garis start. Hari ini Ananda Naura diwisuda, bukan untuk berhenti membaca Al-Qur’an, tetapi untuk memulai tanggung jawab baru sebagai penjaga Al-Qur’an,” pesannya.

Secara khusus, Ahmad berpesan kepada Naura agar terus menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat dalam berbagai keadaan, baik ketika menghadapi kesedihan maupun saat membutuhkan petunjuk dalam menjalani kehidupan.

“Pegang erat Al-Qur’an ini, Nak. Ketika kamu sedih, kembalilah kepada Al-Qur’an. Ketika kamu bingung, mintalah petunjuk pada Al-Qur’an. Insyaallah, Al-Qur’an akan menjadi sahabat setia dan menjadi mahkota cahaya untuk Ayah dan Bundamu di akhirat kelak,” tuturnya.

Keberhasilan Naura diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi murid lainnya untuk terus belajar membaca Al-Qur’an sejak dini. Selain meningkatkan kemampuan membaca, pembelajaran Al-Qur’an juga berperan penting dalam menanamkan karakter religius, kedisiplinan, dan kecintaan terhadap nilai-nilai kebaikan. (Egi Prayoga – KIM DSN Ngaglik)