Ibu-Ibu Mandungan 2 Kompak Kelola Sampah, Siap Bentuk Bank Sampah Mandiri dari Rumah

Sleman — Kesadaran akan pentingnya kelestarian lingkungan mulai tumbuh kuat di tingkat rumah tangga. Sebanyak 24 perwakilan ibu-ibu RW 27 Padukuhan Mandungan 2, Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, bersepakat untuk memulai gerakan pemilahan dan pengelolaan sampah secara mandiri dari rumah masing-masing.
Komitmen tersebut mengemuka dalam sosialisasi pengelolaan sampah yang digelar dalam pertemuan rutin warga di RW 27 Mandungan 2 pada Sabtu (29/08/2026). Kegiatan ini menjadi langkah awal dorongan perubahan pola pikir warga yang sebelumnya masih didominasi kebiasaan membakar sampah anorganik.
Petugas Pendamping Pengelolaan Sampah (P3S) Kalurahan Margoluwih, Suminah, menyampaikan bahwa langkah awal pembenahan tata kelola sampah warga adalah dengan membentuk kepengurusan serta menentukan skema pengelolaan, baik berupa Bank Sampah maupun Sedekah Sampah.
“Tahap pertama yang perlu dilakukan adalah membentuk pengurus dan menentukan sistem pengelolaannya. Setelah itu, pengelolaan sampah bisa mulai dijalankan dari rumah tangga dengan memilah sampah sejak dari sumbernya,” jelas Suminah di hadapan para peserta.
Pihak kalurahan juga menyatakan kesiapannya untuk memfasilitasi penerbitan Surat Keputusan (SK) Lurah Margoluwih setelah struktur kelompok pengelolaan sampah di tingkat RW tersebut resmi disepakati.
Sementara itu, Pendamping Pengelolaan Sampah (P3S) Kapanewon Seyegan, Sutarto Agus, mendorong agar edukasi pengelolaan sampah diperluas melalui jejaring kelompok masyarakat yang lebih kecil seperti Dasa Wisma, PKK, Kelompok Wanita Tani (KWT), dan majelis pengajian. Pihaknya juga berkomitmen mendampingi teknis pemilahan sampah anorganik bernilai jual serta introduksi teknologi pengolahan sampah organik seperti biopori dan losida.
“Jangan berhenti di tingkat RW. Pengelolaan sampah ini bisa disosialisasikan lagi melalui kelompok PKK, Dasa Wisma, KWT, maupun kelompok pengajian, sehingga semakin banyak warga yang memahami dan ikut bergerak. Pengelolaan sampah harus dimulai dari kebiasaan sehari-hari. Kurangi penggunaan barang yang menghasilkan sampah, gunakan kembali barang yang masih bisa dipakai, dan lakukan daur ulang terhadap barang yang memungkinkan untuk dimanfaatkan kembali,” ujar Sutarto Agus.
Melalui pendampingan berkelanjutan dan penguatan jejaring dengan pihak ketiga pembeli sampah anorganik, aksi swadaya ibu-ibu di Padukuhan Mandungan 2 ini diharapkan mampu menekan volume sampah rumah tangga sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi warga setempat. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)



