Pembinaan WKSBM di Ngepas Lor Dorong Kepedulian dan Partisipasi Masyarakat

Sleman – Pembinaan Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat (WKSBM) di Ngepas Lor, Rabu (27/8/2026), mendorong penguatan kepedulian dan partisipasi masyarakat dalam menangani berbagai persoalan sosial di lingkungan masing-masing.
Ketua Tim Kelembagaan dan Partisipasi Sosial Dinas Sosial Kabupaten Sleman, Sri Handayani menyampaikan bahwa hingga Juli 2026 terdapat 98 WKSBM di Kabupaten Sleman. Dari jumlah tersebut, sebanyak 80 WKSBM dinyatakan aktif, sedangkan 18 lainnya kurang aktif.
Menurut Sri, WKSBM menjadi salah satu wadah untuk memperkuat peran masyarakat dalam penyelenggaraan kesejahteraan sosial. Masyarakat tidak hanya berperan sebagai penerima manfaat, tetapi juga didorong untuk terlibat dalam mengidentifikasi dan menangani persoalan sosial di lingkungannya.
Pembinaan tersebut menghadirkan pengurus WKSBM Kabupaten Sleman, Lilia Cipta Ningsih, sebagai narasumber. Ia menjelaskan bahwa WKSBM merupakan sistem kerja sama antarperangkat pelayanan sosial di tingkat akar rumput yang melibatkan kelompok, lembaga, serta jaringan pendukung.
“Melalui WKSBM, masyarakat didorong untuk membangun kepedulian, meningkatkan partisipasi, serta bersama-sama menangani berbagai persoalan sosial yang muncul di lingkungan masing-masing,” jelas Lilia.
Ia menambahkan, WKSBM merupakan wadah jejaring kerja kelembagaan sosial masyarakat yang dapat tumbuh secara alamiah maupun dibentuk dan dikembangkan oleh masyarakat. Karena itu, keberlangsungan WKSBM sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat.
“Kegiatan WKSBM tidak hanya diarahkan untuk menangani persoalan sosial yang sudah terjadi, tetapi juga melakukan upaya pencegahan. Di antaranya melalui penyuluhan mengenai bahaya narkoba dan HIV/AIDS, perlindungan korban kekerasan, pembentukan kampung ramah anak, serta pemberdayaan kelompok rentan seperti lanjut usia, penyandang disabilitas, fakir miskin, dan perempuan rentan sosial ekonomi,” ujarnya.
Lilia juga menekankan pentingnya transparansi dan akuntabilitas dalam pengelolaan WKSBM. Setiap kegiatan harus diketahui dan dapat dipertanggungjawabkan kepada pengurus maupun masyarakat. Program yang dijalankan diharapkan efektif, efisien, tepat sasaran, serta berdasarkan inisiatif dan kebutuhan masyarakat setempat.
Sementara itu, pengurus WKSBM Kabupaten Sleman sekaligus Ketua WKSBM Ngepas Kidul, Amik Warlinton, menggambarkan kekuatan WKSBM seperti sapu lidi.
“Seperti sapu lidi, akan banyak menghasilkan karya ketika terikat bersama-sama. WKSBM juga seperti air yang bisa ke mana saja,” ujarnya.
Menurut Amik, keberadaan WKSBM dapat menumbuhkan kepedulian masyarakat. Dukungan berupa sedekah maupun gagasan diharapkan terus berkembang untuk membantu masyarakat yang membutuhkan.
“Apa yang kita lakukan di WKSBM akan dapat membantu pemerintah meratakan bantuan bagi mereka yang belum mendapatkan, meskipun bantuannya dari kita. Uang sedekahnya dari kita dan penyalurannya untuk kemakmuran di dalam padukuhan,” katanya.
Ia berharap pembinaan tersebut semakin memperkuat WKSBM sebagai jejaring sosial berbasis masyarakat sekaligus mendorong semangat gotong royong dalam mewujudkan kesejahteraan sosial mulai dari lingkungan padukuhan.
(Endarwati/KIM Donoharjo)



