Dinsos Sleman Resmikan WKSBM Berkah Sari di Padukuhan Klisat Sebagai Wadah Kesejahteraan Sosial Ke-99

Sleman – Dinas Sosial (Dinsos) Kabupaten Sleman resmi menumbuhkan Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat (WKSBM) ke-99 yang diberi nama “Berkah Sari” di Padukuhan Klisat, Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Sleman pada Jumat (11/9/2026). Peresmian ini bertujuan untuk memperkuat kelembagaan sosial masyarakat di tingkat akar rumput secara legal.

Acara penumbuhan WKSBM tersebut dihadiri oleh Ketua Tim Kerja Kelembagaan dan Partisipasi Sosial Dinsos Sleman Sri Handayani, Carik Sumbersari Junaidi, Dukuh Klisat Rama Wiksn Pratama, serta jajaran pengurus RT, RW, PKK, kader, pemuda, dan perwakilan Forum WKSBM Sleman.

Dalam sambutannya, Ketua Tim Kerja Kelembagaan dan Partisipasi Sosial Dinsos Sleman, Sri Handayani, menjelaskan bahwa WKSBM bekerja dengan prinsip dasar dari, oleh, dan untuk masyarakat. Lembaga ini hadir untuk melegalkan kegiatan kepedulian sosial yang sebenarnya telah lama mengakar dalam kehidupan warga sehari-hari.

“WKSBM merupakan lembaga sosial pada akar rumput yang memiliki prinsip dari, untuk, dan oleh. Terbentuknya WKSBM merupakan inisiatif dan kesepakatan warga. Selanjutnya segala kegiatan yang direncanakan untuk kepentingan warga, dan segala sesuatunya juga dikerjakan oleh warga setempat. Dengan terbentuknya Klisat, ini resmi menjadi WKSBM yang ke-99 di Sleman,” ujar Sri Handayani.

Dukungan penuh juga disampaikan oleh Pemerintah Kalurahan Sumbersari. Carik Sumbersari, Junaidi, mengapresiasi langkah Dinsos Sleman karena WKSBM Berkah Sari menjadi wadah sosial resmi kedua yang berdiri di wilayah Sumbersari setelah WKSBM Sombangan terbentuk pada 2014 lalu.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada Dinsos Sleman. Pemerintah Kalurahan Sumbersari berharap kegiatan sosial yang sudah berjalan di tengah masyarakat kini bisa terwadahi secara resmi. Setelah terbentuk, kami mohon Dukuh Klisat segera menyampaikan berita acara dan dilengkapi nama pengurus untuk kami buatkan SK Lurah,” kata Junaidi.

Proses pembentukan yang dipimpin oleh Forum WKSBM Sleman bersama Dukuh Klisat Rama Wiksn Pratama tersebut berhasil menyepakati struktur kepengurusan secara musyawarah dan gotong royong. Kepengurusan WKSBM Berkah Sari mempercayakan posisi Ketua kepada Marjono dan Ngadiyono, Sekretaris Tuti Ratnawati, Bendahara Dalimin, serta dilengkapi oleh para koordinator seksi. (Giek/KIM Moyudan)




Pentas Seni Tradisi di Sono Kulon Jadi Ruang Regenerasi Budaya Lokal

Sleman – Pentas seni tradisional menjadi sarana efektif dalam menjaga kelestarian budaya sekaligus meregenerasi pelaku seni kepada generasi muda. Hal tersebut tercermin dalam pertunjukan seni yang digelar di Lapangan Voli Sono Kulon, Merdikorejo, Tempel, Sleman pada Sabtu (12/9/2026) malam.

Panggung pertunjukan malam itu menghadirkan kolaborasi antara Grup Kesenian Religi Kubro Siswo Bimo Mudho dari Sono Kulon dengan Grup Brodut Suryo Mudho asal Kantongan, Merdikorejo. Ratusan warga yang hadir antusias menyaksikan aksi panggung kedua kelompok seni yang membawa tradisi lokal ke tengah ruang publik tersebut.

Pengurus Grup Kesenian Religi Kubro Siswo Bimo Mudho, Suripto, menyampaikan bahwa pentas terbuka di tengah masyarakat menjadi wadah krusial agar kesenian tradisional tidak tergerus zaman dan tetap diminati anak muda.

“Kami ingin kesenian ini tetap hidup dan dikenal generasi muda. Pentas seperti ini menjadi ruang bagi kami untuk berkarya sekaligus mengajak masyarakat ikut mencintai dan melestarikan budaya,” ujar Suripto.

Apresiasi senada turut disampaikan Dukuh Sono Kulon, Kumedi. Menurutnya, potensi kesenian lokal harus terus diberi panggung agar dapat tumbuh berdampingan dengan kegiatan kemasyarakatan lainnya.

“Kegiatan seperti ini sangat positif karena masyarakat bisa berkumpul, UMKM mendapat ruang untuk berkembang, dan kesenian lokal tetap memiliki panggung. Harapannya, kebersamaan seperti ini terus dijaga dan kegiatan serupa bisa berkelanjutan,” kata Kumedi.

Pertunjukan seni tradisi tersebut turut dihadiri oleh Lurah Merdikorejo Agus Prasetyo bersama jajaran pamong kalurahan serta unsur keamanan setempat.

Melalui perjumpaan langsung antara pelaku seni dan penonton, proses pewarisan budaya dapat berlangsung secara alami. Panggung terbuka ini mempertegas bahwa kesenian tradisional akan terus hidup dan berkembang selama masyarakat konsisten memberikan ruang apresiasi bagi generasi penerus. (SBD/KIM Tempel)




Kemeriahan Bazar Sono Kulon: Menggabungkan Senam, Bazar Kuliner UMKM, hingga Undian Mesin Cuci

Sleman – Lapangan Voli Sono Kulon, Merdikorejo, Tempel, Sleman berubah menjadi pusat rekreasi sekaligus penggerak ekonomi warga pada Sabtu (12/9/2026). Rangkaian kegiatan yang memadukan senam aerobik, bazar kuliner Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM), hiburan keluarga, hingga undian berhadiah berhasil menyedot antusiasme masyarakat dari sore hingga malam hari.

Acara dimulai sejak pukul WIB dengan sesi senam aerobik yang dipandu instruktur Kris. Aktivitas fisik bersama ini berhasil menghidupkan suasana lapangan dan menjadi pembuka kebersamaan warga. Usai berolahraga, para pengunjung disuguhkan dengan ragam jajanan dan produk lokal dalam jajaran stan bazar UMKM.

Bazar ini dimanfaatkan para pelaku usaha lokal untuk mengenalkan produk secara langsung kepada konsumen. Perwakilan UMKM Sono Kulon, Anatri Sumiyati, mengungkapkan bahwa keterlibatan para pelaku usaha dalam acara ini memberikan dampak ekonomi yang positif.

“Kami sangat terbantu dengan adanya bazar seperti ini. Selain bisa memperkenalkan produk UMKM kepada warga, kami juga mendapat kesempatan untuk berinteraksi langsung dengan calon pembeli. Harapannya, kegiatan seperti ini bisa terus diadakan dan semakin banyak UMKM yang dilibatkan,” ujar Anatri Sumiyati.

Tidak hanya diperuntukkan bagi orang dewasa, kemeriahan acara juga dirasakan anak-anak lewat atraksi hiburan badut yang menghadirkan gelak tawa. Suasana semakin semarak saat malam hari berkat pengundian kupon berhadiah dengan hadiah utama berupa dua unit mesin cuci, yang masing-masing dialokasikan untuk kategori umum dan warga lokal Sono Kulon.

Kesuksesan ajang kumpul warga ini mendapat dukungan penuh dari PT Tonggak Teknologi Netikom (T2Net), perusahaan penyedia layanan internet dan Managed IT Services di wilayah DIY-Jateng, serta jajaran sponsor pendukung lainnya.

Melalui perpaduan olahraga, hiburan, dan transaksi ekonomi, Lapangan Voli Sono Kulon membuktikan fungsinya tidak sekadar sebagai fasilitas olahraga, melainkan juga ruang interaksi sosial yang mampu menghidupkan perekonomian lokal. (SBD/KIM Tempel)




KKN Unit 75 UII Resmi Akhiri Masa Pengabdian di Padukuhan Jamblangan

Sleman – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Unit 75 Universitas Islam Indonesia (UII) resmi mengakhiri masa pengabdian masyarakat selama satu bulan di Padukuhan Jamblangan, Margomulyo, Seyegan, Sleman. Acara perpisahan yang dihadiri tokoh masyarakat dan anggota Karang Taruna tersebut digelar di Rumah Dukuh pada Sabtu (12/9/2026).

Momen penutupan ditandai dengan penyerahan plakat kenang-kenangan dari KKN Unit 75 UII kepada Dukuh Jamblangan, Surtiningsih. Penyerahan plakat ini menjadi simbol berakhirnya masa pengabdian sekaligus bentuk apresiasi atas dukungan warga terhadap tema KKN “Belajar Bersama, Mengabdi Bermakna”.

Ketua Unit 75 KKN UII, Muhammad Fauzan Alfuadi, mengapresiasi penerimaan hangat dan kolaborasi seluruh warga Jamblangan selama pelaksanaan program kerja KKN.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh masyarakat Jamblangan yang telah menerima kami dengan baik dan telah bekerja sama dalam pelaksanaan program kerja. Alhamdulillah, seluruh program yang kami rencanakan dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan,” ujar Fauzan.

Selama satu bulan mengabdi, KKN Unit 75 UII merealisasikan tiga program utama, yakni pelatihan biopori, pendampingan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA), dan bimbingan belajar. Selain program edukasi, mahasiswa menyerahkan bantuan fisik berupa tempat sampah untuk tiga RW serta tabung biopori untuk Karang Taruna setempat.

Di samping seremoni perpisahan, acara ini juga dimanfaatkan sebagai wadah evaluasi. Tokoh masyarakat Jamblangan, Sutarto Agus, menilai durasi KKN selama sebulan tergolong sangat singkat bagi mahasiswa untuk mendalami dan menyelesaikan permasalahan di wilayah pengabdian.

“Satu bulan untuk kegiatan KKN merupakan waktu yang pendek sekali. Dengan kondisi tersebut, sulit rasanya untuk memfasilitasi permasalahan yang ada di wilayah KKN,” kata Sutarto.

Sutarto menyoroti pentingnya keterlibatan tokoh masyarakat sejak tahap perencanaan program agar selaras dengan kondisi lingkungan. Ia memberi contoh program biopori yang membutuhkan kecermatan terkait ketersediaan lahan rumah warga, karakteristik tanah yang porus, serta tingkat kebiasaan masyarakat terhadap teknologi tersebut.

“Dalam penentuan program kerja seperti itu, sebaiknya melibatkan tokoh masyarakat setempat sehingga program yang dipilih bisa sejalan dengan program yang sudah ada di wilayah KKN,” tuturnya.

Meski terdapat catatan evaluasi, partisipasi mahasiswa KKN tetap mendapat apresiasi dari pemuda setempat. Ketua Perkumpulan Muda Mudi (PERMADI) Jamblangan, Muhammad Ridho Kurniawan, menyampaikan terima kasih atas peranan aktif mahasiswa dalam mendukung rangkaian kegiatan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Padukuhan Jamblangan.

Sementara itu, Dukuh Jamblangan, Surtiningsih, berpesan agar pengalaman selama menjalani KKN dapat menjadi pembekalan moral dan sosial bagi para mahasiswa sebelum benar-benar terjun ke dunia profesional dan masyarakat luas.

“Jadikan kegiatan KKN sebagai bentuk tanggung jawab sosial dan sebagai bekal untuk terjun ke masyarakat, sehingga nantinya dapat berkontribusi dalam pembangunan masyarakat,” pesan Surtiningsih.

Acara pelepasan ini mempertegas bahwa perpisahan KKN Unit 75 UII bukan sekadar akhir pengabdian, melainkan momentum untuk saling mengevaluasi dan membangun kemitraan yang berkelanjutan antara civitas akademika dan masyarakat desa. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Radio Harus Jadi Suara yang Berdaulat

Sleman — Radio Komunitas Karisma Jogja menggelar perayaan Hari Radio Nasional ke-81 melalui siaran talkshow, panggung karaoke, dan interaksi langsung bersama 175 pendengar secara streaming pada Sabtu malam (12/09/2026). Kegiatan yang memancar dari Dusun Kradenan, Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, tersebut mengusung tema nasional “Suara Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”.

Puncak perayaan yang diperingati setiap 11 September tersebut ditandai dengan peresmian Mochammad Sinung Restendy sebagai narasumber sekaligus penyiar baru Radio Karisma Jogja dengan nama udara “Bung D R”. Pengesahan dilakukan langsung oleh Ketua Radio Karisma Jogja, Antonius Ngatijan, serta disaksikan jajaran kru siaran dan perwakilan Radio Komunitas Jogja.

Ketua Radio Karisma Jogja, Antonius Ngatijan, menyambut hangat hadirnya penyiar baru yang diharapkan mampu memperkuat jangkauan serta kualitas program edukasi publik berbasis komunitas di wilayah Sleman dan sekitarnya.

“Selamat bergabung Bung D R. Semoga suara baru ini bisa menambah warna dan memperkuat peran Karisma Jogja sebagai radio komunitas yang dekat dengan masyarakat,” ujar Antonius Ngatijan saat meresmikan penyiar baru.

Dalam sesi talkshow interaktif, Sinung Restendy atau Bung D R menegaskan keberadaan radio komunitas di era transformasi digital sangat strategis untuk membendung arus disinformasi dan berita bohong di media sosial.

“Tantangan terbesar kita hari ini adalah hoaks dan disinformasi. Justru di sinilah radio harus hadir. Radio harus jadi media yang benar-benar jernih dan punya kualitas konten yang baik untuk semua usia. Nilainya harus jelas: pendengar harus terhibur, teredukasi, dan literasinya makin luas,” tegas Sinung Restendy.

Melalui peresmian ini, Radio Karisma Jogja meluncurkan program anyar “Cerita Kampus dan Jogja” yang dijadwalkan mengudara setiap Selasa malam. Program tersebut difokuskan untuk mengangkat dinamika anak muda, kehidupan akademis, kearifan lokal budaya Yogyakarta, hingga isu sosial akar rumput demi mewujudkan kedaulatan informasi di tingkat masyarakat. (Mochammad Sinung Restendy/KIM Pararta Guna Gamping)