Tim Riset MAN 4 Sleman Presentasikan ALGO-TABAYYUN, Dorong Siswa Kritis terhadap AI

Sleman – Tim riset MAN 4 Sleman mempresentasikan proposal penelitian dalam Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) 2026 Bidang Riset, Kamis (10/9/2026). Presentasi berlangsung di Laboratorium Komputer Timur MAN 4 Sleman.

Proposal berjudul “ALGO-TABAYYUN: Sistem Adaptif Profil Kesalahan untuk Melatih Verifikasi Jawaban Artificial Intelligence (AI) Siswa Madrasah” tersebut disusun oleh Ammata Amalia Kamil (XI C), Reinata Nafiza Cesya (XI C), dan Khoirun Nisa Banjariyani (XI B), dengan pembimbing Rizal Aji Nugroho.

Penelitian ini mengangkat persoalan penggunaan AI di kalangan pelajar, khususnya pentingnya memverifikasi informasi sebelum mempercayai jawaban yang diberikan AI. Melalui ALGO-TABAYYUN, tim mengembangkan gagasan untuk membiasakan siswa memeriksa, menilai, dan membuktikan kebenaran informasi.

Konsep tersebut memadukan pemanfaatan teknologi dengan prinsip tabayyun, yakni sikap kritis dan kehati-hatian dalam menerima informasi.

Kepala MAN 4 Sleman, Ahmad Arief Makruf mengapresiasi kreativitas dan keberanian tim dalam mengangkat isu aktual tersebut.

“Kami bangga karena murid mampu melihat perkembangan AI bukan hanya sebagai teknologi, tetapi juga sebagai tantangan yang harus dihadapi dengan sikap kritis dan nilai. Terus berproses, terbuka terhadap masukan, dan buktikan bahwa madrasah mampu melahirkan gagasan riset yang inovatif dan bermanfaat,” ujarnya.

Presentasi tersebut menjadi bagian dari upaya MAN 4 Sleman mendorong budaya riset dan inovasi di kalangan siswa. Melalui ALGO-TABAYYUN, tim menegaskan pentingnya tidak langsung mempercayai informasi dari AI, tetapi melakukan verifikasi sebelum menjadikannya sebagai rujukan. (Edy/KIM Sumber Biwara Moyudan)




Tim Riset MAN 4 Sleman Go Internasional di WICE 2026, Hadirkan Inovasi Limbah Ampas Kopi

Sleman — Tim Riset MAN 4 Sleman menunjukkan kiprahnya di ajang internasional World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2026. Enam siswa mempresentasikan hasil penelitian secara daring melalui Zoom Meeting, Kamis (10/9/2026), dari Ruang Podcast MAN 4 Sleman.

Penelitian berjudul “Development and Characterization of Sustainable Chitosan Adsorbents Incorporating Spent Coffee Grounds for Dye Removal” tersebut mengangkat pemanfaatan limbah ampas kopi sebagai bahan modifikasi kitosan untuk menyerap zat warna Methylene Blue dari air.

Tim yang terdiri atas Nawra Zeeleka Humayra, Rizky Akbar Maulana, Rezyka Nur Safitri, Faqih Achmad Pramudyanta, Braviasa Pranata, dan Chaissar Faith Anwar, dibimbing Puspa Nindro Mahayuwati.

Penelitian ini berangkat dari persoalan pencemaran air akibat limbah zat warna industri tekstil. Tim mengembangkan kitosan yang dimodifikasi dengan ampas kopi sebagai adsorben yang lebih ramah lingkungan.

Hasil penelitian menunjukkan sampel dengan penambahan 9 gram ampas kopi (S3) memiliki kemampuan adsorpsi terbaik. Pada konsentrasi Methylene Blue 1 mg/L, sampel tersebut mampu mencapai tingkat adsorpsi sebesar 88,5 persen.

Analisis isoterm Langmuir juga menunjukkan peningkatan kapasitas adsorpsi maksimum dari 145,2 mg/g pada kitosan murni menjadi 363,1 mg/g pada kitosan yang dimodifikasi dengan 9 gram ampas kopi, dengan nilai R² sebesar 0,999.

Kepala MAN 4 Sleman, Ahmad Arif Makruf mengapresiasi kiprah Tim Riset tersebut. Menurutnya, penelitian dan inovasi siswa menjadi bagian penting dalam menyiapkan generasi yang mampu menghadirkan solusi bagi persoalan di masyarakat.

“Teknologi itu untuk membantu dan menyejahterakan manusia. Karena itu, kami sangat mengapresiasi anak-anak yang mampu menghasilkan inovasi yang bermanfaat dan peduli terhadap lingkungan,” ujarnya.

Keikutsertaan dalam WICE 2026 menjadi pengalaman bagi Tim Riset MAN 4 Sleman untuk membawa karya penelitian madrasah ke forum internasional. Kegiatan ini sekaligus menjadi ruang bagi siswa untuk mengembangkan kemampuan riset, presentasi, dan komunikasi ilmiah.

Inovasi tersebut menunjukkan bahwa limbah sederhana seperti ampas kopi dapat dikembangkan menjadi material bernilai guna untuk mendukung upaya pengurangan pencemaran lingkungan. (Edy/KIM Sumber Biwara Moyudan)




SMP Muhammadiyah 1 Godean Gencarkan Zero Waste, Siap Ikuti Adiwiyata

Sleman – SMP Muhammadiyah 1 Godean terus memperkuat gerakan Zero Waste sebagai langkah menuju Sekolah Adiwiyata. Program tersebut diterapkan dalam berbagai aktivitas warga sekolah untuk mengurangi sampah, khususnya plastik sekali pakai.

Siswa diwajibkan membawa tumbler dan tempat makan sendiri. Sekolah juga menerapkan pemilahan sampah sejak dari kelas menjadi sampah organik, anorganik, dan residu.

Selain itu, bank sampah sekolah kembali diaktifkan. Setiap pekan siswa menyetorkan sampah plastik, kertas, dan botol bekas. Hasil penjualannya digunakan untuk mendukung kegiatan lingkungan, seperti penghijauan dan lomba kebersihan kelas.

Kepala SMP Muhammadiyah 1 Godean, Ovayagori Rahman mengatakan sekolah berkomitmen membangun kepedulian lingkungan sebagai bagian dari kebiasaan sehari-hari siswa.

“Kami ingin mencetak generasi yang tidak hanya pintar, tetapi juga peduli lingkungan. Budaya bersih harus menjadi kebiasaan sehari-hari,” ujarnya, Jumat (11/9/2026).

Menurutnya, program tersebut mendapat dukungan dari orang tua siswa, antara lain melalui bantuan bibit tanaman dan perawatan lingkungan sekolah.

Ia pun berharap program tersebut tidak hanya menjadikan sekolah lebih bersih, tetapi juga membentuk generasi yang peduli lingkungan dan mampu mengelola sampah secara mandiri.

Sementara itu, Guru Penggerak Adiwiyata SMP Muhammadiyah 1 Godean, Sri Suprihatin Handayani mengatakan berbagai kegiatan pendukung juga terus dilakukan, seperti Jumat Bersih, penanaman tanaman obat keluarga (TOGA), pembuatan kompos dari sisa makanan kantin, serta kampanye hemat energi di setiap kelas.

“Anak-anak langsung praktik memilah, menimbang, dan mencatat sampah. Dari situ mereka memahami dampak sampah plastik terhadap lingkungan,” kata Sri.

Sekolah menargetkan dapat mengikuti penilaian Adiwiyata tingkat Kabupaten Sleman tahun ini. Upaya tersebut diperkuat melalui empat komponen utama, yakni kebijakan berwawasan lingkungan, kurikulum berbasis lingkungan, kegiatan partisipatif, serta sarana dan prasarana ramah lingkungan.

(Giek/KIM Moyudan)




Sosialisasi DBHCHT Dorong Masyarakat Pahami Ketentuan Cukai Rokok

Sleman — Upaya menekan peredaran rokok ilegal tidak cukup hanya mengandalkan penindakan. Pemahaman masyarakat mengenai ketentuan kepabeanan dan cukai menjadi bagian penting untuk membangun kesadaran sekaligus mencegah peredaran produk tembakau yang tidak memenuhi aturan.

Hal itu mengemuka dalam sosialisasi Dana Bagi Hasil Cukai Hasil Tembakau (DBHCHT) yang digelar di Griya Dhahar Taman Merdiko Merdikorejo, Tempel, Kabupaten Sleman, Kamis (10/9/2026).

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kabupaten Sleman Indra Darmawan, Panewu Tempel Rasyid Ratnadi Sosiawan, Kapolsek Tempel, serta perwakilan dari Bea Cukai Yogyakarta.

Panewu Tempel, Rasyid Ratnadi Sosiawan mengapresiasi pelaksanaan sosialisasi tersebut. Menurutnya, edukasi mengenai cukai perlu terus dilakukan karena persoalan rokok ilegal tidak hanya berkaitan dengan kepatuhan terhadap aturan, tetapi juga menyangkut kepentingan masyarakat dan pembangunan.

“Pemerintah perlu terus memberikan pemahaman kepada masyarakat agar mengetahui pentingnya cukai serta ikut berperan mencegah peredaran rokok ilegal,” ujar Rasyid.

Kasatpol PP Kabupaten Sleman, Indra Darmawan menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, aparat penegak hukum, Bea Cukai, dan masyarakat dalam mengawasi peredaran barang kena cukai. Sosialisasi, menurut Rasyid, menjadi bagian penting untuk membangun kesadaran masyarakat sebelum langkah pengawasan dan penindakan dilakukan.

Dalam kesempatan tersebut, Pemeriksa Bea dan Cukai Ahli Pertama Bea Cukai Yogyakarta, Intania Riza atau yang akrab disapa Intan, memberikan pemaparan mengenai ketentuan kepabeanan dan cukai, khususnya yang berkaitan dengan produk rokok.

Intan menjelaskan bahwa masyarakat perlu memahami ketentuan yang melekat pada produk hasil tembakau, termasuk kewajiban cukai dan ketentuan peredarannya. Pengetahuan tersebut penting agar masyarakat dapat membedakan produk yang memenuhi ketentuan dengan rokok ilegal.

Menurut Intan, pemahaman terhadap aturan cukai juga menjadi bagian dari upaya bersama mencegah pelanggaran. Masyarakat tidak hanya berperan sebagai konsumen, tetapi dapat ikut membantu pengawasan dengan tidak membeli maupun mengedarkan produk tembakau yang tidak sesuai ketentuan.

Edukasi tersebut melengkapi upaya pengawasan di lapangan. Dengan pemahaman yang lebih baik, masyarakat diharapkan tidak mudah tergiur produk rokok ilegal yang ditawarkan dengan harga lebih murah.

Sosialisasi DBHCHT di Tempel pun menjadi ruang memperkuat kolaborasi lintas sektor. Pemerintah daerah, Satpol PP, kepolisian, Bea Cukai, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam menciptakan perdagangan yang tertib dan mendukung kepatuhan terhadap ketentuan cukai.

Pada akhirnya, pemberantasan rokok ilegal bukan semata persoalan penertiban, melainkan juga membangun kesadaran publik bahwa kepatuhan terhadap cukai memiliki kaitan dengan penerimaan negara dan manfaat pembangunan yang kembali dirasakan masyarakat. (SBD / KIM Tempel)




Inovasi Tembang Alit Permudah Orang Tua Pantau Tumbuh Kembang Anak

Sleman – Tembang Alit menjadi inovasi digital Puskesmas Depok III yang membantu orang tua memantau pertumbuhan dan perkembangan anak secara mandiri sekaligus memudahkan akses pendaftaran layanan kesehatan.

Pengelola Program Tembang Alit Puskesmas Depok III, Tri Widiastuti menjelaskan bahwa aplikasi tersebut dikembangkan untuk mendukung pemantauan tumbuh kembang anak, terutama melalui deteksi dini yang dapat dilakukan lebih mudah oleh keluarga.

“Melalui Tembang Alit, orang tua dapat memantau pertumbuhan dan perkembangan anak secara mandiri sekaligus mendapatkan kemudahan dalam proses layanan kesehatan,” jelasnya, di Aula Puskesmas Depok III, Kamis (10/9/2026).

Menurutnya, pengembangan Tembang Alit menjadi respons terhadap perubahan pelaksanaan kegiatan Stimulasi, Deteksi, dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang (SDIDTK) konvensional akibat efisiensi anggaran. Melalui sistem digital ini, puskesmas tetap dapat menjaring data secara akurat serta melakukan deteksi dini terhadap gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak, khususnya di wilayah Caturtunggal.

Tri menjelaskan, aplikasi Tembang Alit memiliki tiga fitur utama yang dapat digunakan masyarakat secara mandiri, yaitu cek pertumbuhan, cek perkembangan, dan daftar kesehatan. Fitur cek pertumbuhan digunakan untuk menginput serta menganalisis data antropometri anak seperti berat badan, tinggi atau panjang badan, dan lingkar kepala. Sementara fitur cek perkembangan menggunakan kuesioner mandiri sesuai kelompok usia anak.

“Harapannya, orang tua dapat lebih mudah mengetahui kondisi tumbuh kembang anak dan melakukan pemantauan secara berkala,” tandasnya.

Tri menyampaikan, penggunaan Tembang Alit telah memberikan dampak positif bagi masyarakat. Hingga saat ini, aplikasi tersebut telah memiliki 700 pengguna aktif. Pemanfaatan fitur mencatat sebanyak 323 anak mengikuti cek bayi, balita, dan anak prasekolah pada 2025, serta 881 anak mengikuti Cek Kesehatan Gratis melalui aplikasi pada 2026.

Ia menambahkan, peningkatan partisipasi masyarakat melalui aplikasi menunjukkan bahwa pemanfaatan sistem digital mampu memperluas jangkauan layanan kesehatan meskipun terdapat keterbatasan anggaran. Digitalisasi juga membantu masyarakat memperoleh layanan secara lebih efisien dan mendukung puskesmas dalam melakukan pemantauan kesehatan anak.

“Inovasi Tembang Alit ini terus membutuhkan dukungan lintas sektor, terutama dalam sosialisasi penggunaan aplikasi, integrasi data, penyediaan data terpadu, serta penguatan sistem agar layanan kesehatan anak semakin mudah dijangkau masyarakat,” kata Tri. (Athiful/KIM Depok)