Mantapkan Persiapan, Panitia PAW Caturtunggal Gelar Pembekalan Ujian Assessment

Sleman — Panitia Pemilihan Lurah Antar Waktu (PAW) Kalurahan Caturtunggal menggelar Pembekalan Ujian Assessment Bakal Calon Lurah PAW, Rabu (9/9/2026). Kegiatan yang dimulai pukul WIB tersebut berlangsung di Ruang Karang Tumaris, Kalurahan Caturtunggal, dan diikuti pihak-pihak yang terlibat dalam proses pemilihan.

Pembekalan dilaksanakan sebagai persiapan menghadapi ujian assessment bakal calon Lurah PAW. Materi yang disampaikan meliputi teknis pelaksanaan ujian, tata tertib peserta, serta mekanisme penyerahan hasil ujian.

Kegiatan diawali sambutan Wakil Ketua BPKal Caturtunggal, Sudarmanto. Ia memberikan motivasi kepada seluruh bakal calon agar mengikuti setiap tahapan dengan semangat dan optimisme.

“Saya berharap seluruh bakal calon tetap semangat dan mengikuti setiap tahapan dengan sebaik-baiknya. Apa pun hasil yang nantinya diperoleh, hendaknya dapat diterima dengan lapang dada. Apabila nanti belum berhasil, jangan menganggapnya sebagai kegagalan, karena bisa jadi itu merupakan kesuksesan yang tertunda. Yang terpenting adalah tetap berusaha, mengikuti proses dengan baik, dan menjaga kebersamaan demi Kalurahan Caturtunggal,” ujar Sudarmanto.

Selanjutnya, Ketua Panitia Pemilihan Lurah Antar Waktu, Sumarno, menyampaikan teknis pelaksanaan ujian assessment. Penjelasan mencakup mekanisme ujian yang perlu dipahami peserta sebelum mengikuti tahapan tersebut.

Panitia juga menjelaskan tata tertib yang harus dipatuhi selama ujian agar pelaksanaan berlangsung tertib, lancar, dan sesuai ketentuan. Selain itu, disampaikan mekanisme penyerahan hasil ujian yang akan disaksikan oleh Babinsa dan Bhabinkamtibmas sebagai bagian dari upaya menjaga keteraturan dan keterbukaan proses.

Pembekalan ini menjadi salah satu tahapan penting dalam rangkaian Pemilihan Lurah Antar Waktu Kalurahan Caturtunggal. Melalui kegiatan tersebut, panitia memastikan seluruh peserta memperoleh informasi yang jelas mengenai teknis dan ketentuan ujian.

Panitia berharap seluruh tahapan PAW dapat berjalan tertib, transparan, dan sesuai ketentuan yang berlaku. Kesiapan serta sikap saling menghormati dari seluruh pihak diharapkan terus dijaga guna mendukung proses pemilihan yang kondusif dan dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat Kalurahan Caturtunggal.

(Oktaviana/KIMDepok)




DLH Sleman Dorong Pengelolaan Sampah Makin Berdaya, Tiga Kategori Siap Berkompetisi

Sleman – Pemerintah Kabupaten Sleman terus mendorong partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah melalui Penilaian Pengelolaan Sampah Tingkat Kabupaten Sleman Tahun 2026 yang diselenggarakan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman.

Kegiatan tersebut menjadi bentuk apresiasi sekaligus dorongan bagi masyarakat untuk semakin aktif dan konsisten mengelola sampah di lingkungannya. Tahun ini, penilaian mencakup tiga kategori, yaitu Bank Sampah, Sedekah Sampah, dan Tempat Pengolahan Sampah Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R).

Informasi pelaksanaan penilaian disampaikan Koordinator Pendamping Kalurahan Sleman Barat, Amita Rusdianingrum dalam Rapat Koordinasi P3S Wilayah Sleman Barat di RM Sego Welut, Godean, Rabu (9/9/2026).

Amita menjelaskan, penilaian dilaksanakan dalam dua tahap. Tahap pertama berupa seleksi administrasi dan penilaian awal, sedangkan tahap kedua dilakukan melalui verifikasi dan visitasi lapangan.

“Penilaian ini terdiri dari tiga kategori, yaitu Bank Sampah, Sedekah Sampah, dan TPS3R yang nantinya akan diseleksi melalui dua tahapan,” jelasnya.

Pada tahap pertama, peserta kategori Bank Sampah dan Sedekah Sampah mengisi data pengelolaan sampah melalui Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Terpadu (SIOSESTU), termasuk aspek Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) perilaku. Sementara itu, kategori TPS3R mengikuti proses monitoring dan evaluasi (monev).

Data yang digunakan dalam penilaian tahap pertama merupakan data pengelolaan sampah periode Januari hingga September 2026. Peserta yang lolos seleksi selanjutnya akan mengikuti tahap kedua berupa verifikasi dan visitasi lapangan.

“Pada tahap kedua akan dilakukan visitasi lapangan terhadap 15 nominator pada masing-masing kategori. Pelaksanaannya direncanakan pada Oktober 2026,” ungkap Amita.

Visitasi lapangan dilakukan untuk melihat secara langsung pelaksanaan pengelolaan sampah peserta. Aspek yang dinilai meliputi administrasi, kegiatan pengolahan sampah, sarana dan prasarana, kemitraan, serta KIE.

“Aspek yang dinilai pada tahap kedua meliputi administrasi, kegiatan pengolahan sampah, sarana dan prasarana, kemitraan, serta KIE. Jadi bukan hanya administrasinya, tetapi juga bagaimana pengelolaan sampah benar-benar berjalan di lapangan,” paparnya.

Dewan juri berasal dari sejumlah unsur yang memiliki kompetensi di bidang pengelolaan lingkungan, yakni DLH Kabupaten Sleman, pengurus JPSM SEHATI Kabupaten Sleman, pengurus Asosiasi TPS3R Resep, serta pemerhati lingkungan.

Setiap kategori akan menetapkan Juara I, II, dan III. Para pemenang memperoleh trofi, piagam penghargaan, dan uang pembinaan. Juara I mendapatkan Rp4 juta, Juara II Rp3,5 juta, dan Juara III Rp3 juta.

Khusus kategori Bank Sampah dan Sedekah Sampah, peserta peringkat 4 hingga 15 juga akan memperoleh penghargaan berupa RUMPIAH Lite.

Rangkaian penilaian berlangsung hingga Oktober 2026. Pengumuman pemenang dan penyerahan penghargaan dijadwalkan pada November 2026.

Melalui kegiatan tersebut, Pemkab Sleman diharapkan tidak hanya memberikan apresiasi kepada pengelola sampah berprestasi, tetapi juga mendorong semakin banyak masyarakat menjadikan pengelolaan sampah sebagai kebiasaan dan bagian dari budaya hidup sehari-hari. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Perkuat Transformasi Digital, MAN 4 Sleman Bekali Guru dengan Keterampilan Aplikasi Scola

Sleman — Transformasi digital di lingkungan pendidikan perlu diiringi dengan peningkatan kompetensi sumber daya manusia agar pemanfaatan teknologi dapat mendukung kualitas pembelajaran. Hal tersebut diwujudkan MAN 4 Sleman melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Penggunaan Aplikasi Scola bagi para guru, Selasa (8/9/2026).

Bertempat di Laboratorium II Komputer MAN 4 Sleman, kegiatan tersebut menjadi sarana bagi guru untuk meningkatkan keterampilan digital, khususnya dalam mendukung pengelolaan pembelajaran dan asesmen. Para peserta tidak hanya mengikuti pemaparan materi, tetapi juga langsung mempraktikkan penggunaan aplikasi melalui laptop masing-masing.

Kegiatan dibuka Kepala Tata Usaha MAN 4 Sleman, Wahir Tupono. Dalam sambutannya, Wahir menekankan pentingnya kesiapan guru dalam mengikuti perkembangan teknologi. Menurutnya, penguasaan teknologi tidak hanya membantu pekerjaan administratif, tetapi juga mendukung pembelajaran yang lebih efektif.

“Guru perlu terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Penguasaan teknologi diharapkan dapat memudahkan pekerjaan sekaligus mendukung peningkatan kualitas pembelajaran,” pesannya.

Bimtek menghadirkan staf Wakabid Akademik MAN 4 Sleman, Joko Raharjo, sebagai narasumber. Pendampingan dilakukan secara praktis dengan mengajak peserta mengikuti tahapan penggunaan aplikasi Scola secara langsung.

Untuk mendukung praktik, setiap peserta membawa template soal yang telah disiapkan sebelumnya. Dengan demikian, guru dapat langsung menggunakan bahan tersebut untuk mencoba berbagai fitur dalam aplikasi, mulai dari memasukkan soal hingga mengelola kebutuhan asesmen.

Praktik dilakukan secara bertahap dengan pendampingan narasumber. Peserta dapat langsung menyampaikan pertanyaan maupun kendala yang ditemui selama proses penggunaan aplikasi. Pola pembelajaran tersebut membuat kegiatan berlangsung interaktif dan memberikan kesempatan kepada peserta untuk belajar secara langsung.

Sementara itu, Kepala MAN 4 Sleman, Ahmad Arif Makruf, berharap Bimtek Scola tidak sekadar menjadi kegiatan pengenalan aplikasi, tetapi juga mendorong terbentuknya budaya kerja yang adaptif dan inovatif.

“Transformasi digital harus diikuti dengan peningkatan kompetensi. Guru tidak cukup hanya mengenal teknologi, tetapi juga perlu mampu memanfaatkannya untuk mendukung tugas dan proses pembelajaran,” harapnya.

Melalui Bimtek tersebut, MAN 4 Sleman terus mendorong pemanfaatan teknologi dalam mendukung pengelolaan pembelajaran dan asesmen yang lebih efektif, efisien, dan berkualitas. (Edy/KIM SumberBiwara Moyudan)




Sosialisasi Asesmen Bekali Peserta Pemilihan Lurah Antar Waktu Maguwoharjo

Sleman – Peserta Pemilihan Lurah Antar Waktu Kalurahan Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman mendapat penjelasan mengenai mekanisme, tata tertib, serta materi yang akan diujikan dalam asesmen. Sosialisasi tersebut dilaksanakan pada Rabu (9/9/2026), sebagai persiapan sebelum peserta mengikuti ujian asesmen.

Sekretaris Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UPN “Veteran” Yogyakarta, Avido Yuliestiyan, menjelaskan bahwa asesmen mencakup sejumlah materi yang berkaitan dengan wawasan kebangsaan, pemerintahan, keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, serta kemampuan kepemimpinan dan manajerial.

“Berdasarkan kisi-kisi, asesmen terdiri atas 100 soal. Materi Pancasila, UUD 1945, pemerintahan umum, pemerintahan desa atau kalurahan, serta Keistimewaan DIY masing-masing terdiri atas 15 soal. Sementara itu, materi kepemimpinan dan manajerial mendapat porsi 25 soal,” ujarnya.

Pada materi pemerintahan desa atau kalurahan, peserta akan diuji antara lain mengenai kedudukan desa atau kalurahan, tugas lurah, kelembagaan, perencanaan, keuangan, aset, masa jabatan, hingga musyawarah.

“Adapun materi kepemimpinan dan manajerial meliputi gaya kepemimpinan, pengambilan keputusan, komunikasi, penyelesaian konflik, integritas, delegasi, perencanaan, pengorganisasian, pengawasan, evaluasi, pelayanan, manajemen risiko, hingga orientasi pada kepentingan publik,” kata Avido.

Materi asesmen juga mengacu pada sejumlah regulasi, antara lain UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Undang-Undang tentang Pemerintahan Daerah, Undang-Undang tentang Desa, Undang-Undang tentang Keistimewaan Daerah Istimewa Yogyakarta, serta peraturan daerah dan peraturan gubernur DIY yang relevan.

“Selain materi ujian, peserta mendapatkan penjelasan mengenai tata tertib pelaksanaan asesmen. Peserta diwajibkan hadir 30 menit sebelum ujian dimulai dengan membawa kartu identitas. Selama asesmen berlangsung, peserta tidak diperkenankan membawa telepon genggam, buku, catatan, kalkulator, kamera, komputer, maupun barang lain yang dapat mengganggu pelaksanaan ujian,” jelas Avido.

Menurutnya, ketentuan tersebut juga mengatur larangan melakukan kecurangan selama asesmen. Peserta yang melanggar dapat dikenai sanksi berupa tidak diperkenankan melanjutkan asesmen, sedangkan hasil ujian yang telah diikuti dapat dinyatakan tidak dinilai atau gugur.

“Pelaksanaan asesmen dijadwalkan berlangsung Kamis (10/9/2026) mulai pukul hingga WIB di LPPM UPN “Veteran” Yogyakarta. Rangkaian kegiatan meliputi pembukaan, ujian tertulis selama dua jam, yudisium, serta penyerahan hasil ujian,” tandas Avido. (Athiful/KIM Depok)




Tari Riris Mangenjali, Setahun Sekali Menari untuk Memuliakan Air Hujan

Sleman — Sebuah tarian tidak selalu diciptakan sekadar untuk keindahan. Di Dusun Tempursari, Sardonoharjo, Ngaglik, Sleman, gerak tari menjadi media untuk menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga air sebagai sumber kehidupan.

Pesan tersebut tergambar dalam Tari RirisMangenjali, karya Sanggar Banyu Bening yang dipentaskan khusus sebagai bentuk pemuliaan terhadap air hujan. Tarian ini memiliki keistimewaan karena hanya dipentaskan setahun sekali, setiap tanggal 9 bulan 9.

Dalam rangkaian Kenduri Banyu Udan XI, Rabu (9/9/2026), Tari Riris Mangenjali kembali dipentaskan. Anak-anak Sanggar Banyu Bening tampil membawakan tarian tersebut di hadapan masyarakat dan para tamu yang hadir.

Berbeda dengan pertunjukan tari pada umumnya, jumlah penari Riris Mangenjali selalu menggunakan bilangan ganjil. Tradisi tersebut menjadi bagian dari karakter khas tarian yang telah menjadi simbol pemuliaan air hujan di Banyu Bening.

Guru Sanggar Banyu Bening, Ludtina Pangestu, menjelaskan bahwa Tari Riris Mangenjali menggambarkan hubungan manusia dengan air hujan. Tarian tersebut terbagi dalam tiga bagian utama yang memiliki pesan berbeda, tetapi saling berkaitan.

“Bagian pertama tentang bagaimana mengelola air hujan. Bagian kedua merupakan bagian sakral, yaitu doa dan ungkapan rasa syukur. Kemudian bagian ketiga tentang bagaimana kita dapat memanfaatkan air hujan,” ujar Ludtina.

Melalui tiga bagian tersebut, tari tidak hanya menjadi ekspresi seni, tetapi juga media edukasi. Anak-anak yang membawakan tarian diajak memahami bahwa air hujan bukan sesuatu yang harus segera dibuang, melainkan dapat dikelola dan dimanfaatkan untuk kehidupan.

Pementasan Tari Riris Mangenjali sekaligus menjadi pengingat bahwa menjaga air membutuhkan kesadaran bersama. Ketika air hujan dipandang sebagai berkah, manusia memiliki tanggung jawab untuk merawat dan memanfaatkannya secara bijak.

Ketua Komunitas Banyu Bening, Sri Wahyuningsih, mengatakan perjalanan sebelas tahun Kenduri Banyu Udan bukanlah waktu yang singkat. Selama itu pula komunitas terus berupaya menyampaikan pesan tentang pentingnya menjaga dan menghargai air hujan kepada masyarakat.

Dengan suara penuh haru, Yu Ning, sapaan Sri Wahyuningsih, mengungkapkan bahwa berbagai kegiatan yang dilakukan selama sebelas tahun merupakan bagian dari ikhtiar untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya air.

“Perjalanan kami selama 11 tahun ini menyampaikan pesan-pesan tentang air hujan kepada masyarakat,” katanya.

Pesan tersebut terangkum dalam tema Kenduri Banyu Udan XI, “Ngrumat Banyu Udan, Ngrumat Panguripan”, yang bermakna merawat air hujan berarti merawat kehidupan.

Tema tersebut semakin terasa ketika anak-anak Sanggar Banyu Bening membawakan Tari Riris Mangenjali. Di tangan generasi muda, pesan tentang konservasi air tidak berhenti sebagai wacana, tetapi diwariskan melalui gerak, doa, seni, dan tradisi.

Riris Mangenjali pun menjadi lebih dari sekadar tarian yang hadir setahun sekali. Tarian ini menjadi pengingat bahwa setiap tetes hujan memiliki manfaat bagi kehidupan.

Dari Tempursari, pesan sederhana itu kembali digaungkan: ketika manusia merawat air, sejatinya manusia sedang merawat masa depan. (Andy Ahmad – KIM DSN Ngaglik)