KTBM Klinyo Gandeng KWT, Siap Hidupkan Kembali Pengelolaan Sampah

Sleman – Persoalan sampah di Padukuhan Klinyo, Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Seyegan, mendapat angin segar. Karang Taruna Bina Muda (KTBM) Klinyo siap berkolaborasi dengan Kelompok Wanita Tani (KWT) Klinyo untuk menghidupkan kembali pengelolaan sampah di tingkat padukuhan.
Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan rutin KTBM di Masjid Al Akhlaq, Padukuhan Klinyo, Selasa (8/9/2026). Sekitar 25 anggota KTBM hadir dalam kegiatan yang sekaligus menjadi momentum sosialisasi Surat Edaran (SE) Bupati Sleman Nomor 0516 Tahun 2026 tentang Pembentukan Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM) di setiap padukuhan.
Pertemuan turut dihadiri Dukuh Klinyo, Petugas Pendamping Pengelolaan Sampah (P3S) Kapanewon Seyegan, dan P3S Kalurahan Margoluwih.
Padukuhan Klinyo sebelumnya telah memiliki kelompok pengelola sampah yang digerakkan oleh ibu-ibu KWT. Namun, seiring berjalannya waktu, kegiatan tersebut tidak berkembang dan akhirnya berhenti.
Terbitnya SE Bupati Sleman menjadi momentum untuk mengaktifkan kembali pengelolaan sampah di Klinyo. Kali ini, KWT akan berkolaborasi dengan KTBM yang dinilai memiliki potensi dalam menggerakkan generasi muda.
Dukuh Klinyo, Jumono, menyambut baik rencana tersebut. Menurutnya, KTBM selama ini telah aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan.
“Harapannya dengan bergabungnya ibu-ibu KWT yang sudah mempunyai pengalaman mengelola sampah, KPSM di Klinyo dapat berjalan kembali dan menjadi salah satu unit usaha KTBM,” ujar Jumono.
Keterlibatan generasi muda dinilai penting karena pengelolaan sampah tidak hanya membutuhkan tenaga, tetapi juga kemampuan administrasi dan pemanfaatan teknologi. Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman telah menggunakan Sistem Operasional Pengelolaan Sampah Terpadu (SIOSESTU) untuk mendukung pendataan dan pengelolaan sampah berbasis aplikasi dan web.
Ketua KTBM Klinyo, Alya Nurul, menyambut baik rencana tersebut. Namun, ia mengakui pengelolaan sampah merupakan bidang baru bagi KTBM sehingga masih membutuhkan proses belajar dan pendampingan.
“Bagi KTBM, kegiatan pengelolaan sampah ini adalah hal baru. Kami masih banyak belajar, sehingga tentu membutuhkan arahan dan pendampingan dari P3S,” kata Nurul.
Ia juga menilai perlu ada pemahaman mengenai sarana dan prasarana yang harus disiapkan agar pengelolaan sampah dapat berjalan efektif.
Sementara itu, P3S Kapanewon Seyegan, Sutarto Agus, menjelaskan bahwa pengelolaan sampah mencakup dua kegiatan utama, yaitu pengurangan dan penanganan sampah.
Pengurangan sampah dapat dilakukan melalui prinsip 3R, yakni Reduce, Reuse, dan Recycle. Sementara dalam penanganan sampah, pemilahan sejak dari sumber menjadi salah satu langkah penting.
P3S Kalurahan Margoluwih, Suminah, turut menjelaskan potensi ekonomi dari pengelolaan sampah. Menurutnya, sampah anorganik masih memiliki nilai jual apabila dipilah dan dikelola dengan baik.
Ia juga mengenalkan sejumlah alternatif kelembagaan, seperti bank sampah dan sedekah sampah. Keberadaan kelembagaan tersebut dinilai penting agar pengelolaan sampah memiliki sistem yang jelas dan berkelanjutan.
Suminah juga memperkenalkan penerapan SIOSESTU dalam pengelolaan sampah. Sistem berbasis web tersebut diharapkan dapat dimanfaatkan secara bersama oleh KWT dan KTBM Klinyo.
“Harapannya, KWT dapat bekerja sama dengan KTBM untuk menjalankan SIOSESTU yang berbasis web, sehingga pengelolaan sampah dapat dilakukan secara lebih tertata dan melibatkan generasi muda,” jelas Suminah.
Kolaborasi KWT dan KTBM diharapkan menjadi langkah awal terbentuknya KPSM Padukuhan Klinyo. Pengalaman KWT dipadukan dengan energi, kreativitas, dan kemampuan generasi muda menjadi modal untuk membangun pengelolaan sampah yang lebih kuat.
Ke depan, pengelolaan sampah di Klinyo diharapkan tidak berhenti pada kegiatan memilah dan mengumpulkan sampah, tetapi berkembang menjadi gerakan bersama untuk mengurangi sampah dari sumbernya sekaligus memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Pembentukan KPSM di setiap padukuhan diharapkan menjadi salah satu langkah nyata dalam menjawab persoalan sampah di Kabupaten Sleman. Masyarakat juga didorong mengubah cara pandang terhadap sampah, dari sekadar sesuatu yang harus dibuang menjadi sumber daya yang dapat dikelola dan memiliki nilai ekonomi.
(Sutarto Agus/KIM Seyegan)



