Masuk Lima Besar, Kalurahan Madurejo Wakili Kapanewon Prambanan pada Lomba Kalurahan

Sleman – Kalurahan Madurejo mewakili Kapanewon Prambanan dalam Lomba Kalurahan Kabupaten Sleman Tahun 2026, yang diselenggarakan oleh Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (DPMK) Kabupaten Sleman. Dari 17 kalurahan yang mewakili masing-masing kapanewon, Kalurahan Madurejo berhasil masuk lima besar pada tahap penilaian administrasi.

Sebagai bagian dari penilaian tahap kedua, Tim Juri Lomba Kalurahan Kabupaten Sleman melakukan klarifikasi lapangan di Kalurahan Madurejo, Kamis (30/7/2026). Sebanyak 30 juri dari berbagai perangkat daerah dan instansi terkait mencocokkan dokumen administrasi yang telah diunggah pada tahap sebelumnya dengan kondisi di lapangan.

Kegiatan tersebut dihadiri Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan Kabupaten Sleman, Alchaliq, Panewu Prambanan beserta jajaran, Kapolsek Prambanan, Danramil Prambanan, Babinsa, Bhabinkamtibmas, serta unsur lembaga di tingkat kapanewon dan kalurahan.

Dalam sambutannya, Alchaliq menyampaikan bahwa Lomba Kalurahan merupakan agenda tahunan yang bertujuan mendorong pembinaan dan peningkatan kapasitas pemerintahan kalurahan. Setiap kapanewon secara bergiliran mengusulkan kalurahan terbaik untuk mengikuti kompetisi tersebut.

“Penilaian dilakukan dalam tiga tahap, yaitu penilaian administrasi dengan bobot 25 persen, klarifikasi lapangan 50 persen, dan paparan lurah sebesar 25 persen. Kalurahan terbaik akan mewakili Kabupaten Sleman pada Lomba Kalurahan Tingkat Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2027,” pungkas Alchaliq.

Ia pun menjelaskan bahwa tahun ini, lomba mengusung tema “Membangun Kalurahan dengan Pemerataan Ekonomi dan Pemberantasan Kemiskinan.”

Melalui kegiatan ini diharapkan lahir berbagai inovasi pelayanan publik, penguatan sinergi antarlembaga, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat. (Harmaji – KIM Prambanan)




KSB Sari Migunani Sumbersari Resmi Dikukuhkan, Perkuat Kesiapsiagaan Bencana

Sleman – Setelah mengikuti pembekalan, praktik, dan simulasi selama tiga hari, Kampung Siaga Bencana (KSB) Sari Migunani Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, resmi dikukuhkan di Pendopo Kalurahan Sumbersari, Kamis (30/7/2026).

Pengukuhan dilakukan Asisten Perekonomian dan Pembangunan Setda Kabupaten Sleman, Makwan, mewakili Bupati Sleman. Kegiatan dihadiri Plt Kepala Dinas Sosial DIY, Kepala Pelaksana BPBD Sleman, Forum KSB DIY dan Sleman, Tagana DIY dan Sleman, FKRS, Panewu Moyudan, Forkopimkap, serta Lurah Sumbersari.

Membacakan sambutan Bupati Sleman, Makwan mengatakan pembentukan KSB merupakan wujud komitmen Pemerintah Kabupaten Sleman dalam memperkuat penanggulangan bencana berbasis masyarakat.

“Melalui pengukuhan ini kami berharap sinergi antara KSB dan pemerintah semakin kuat, khususnya dalam pemberdayaan masyarakat untuk mitigasi bencana,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa pengurus KSB memiliki tugas penting untuk meningkatkan kapasitas masyarakat dalam menghadapi bencana. Kehadiran KSB diharapkan mampu memperkuat sistem penanggulangan bencana di tingkat kalurahan.

Makwan juga menyampaikan bahwa KSB Sari Migunani merupakan KSB ke-33 di Kabupaten Sleman. Pemerintah Kabupaten Sleman menargetkan seluruh 86 kalurahan memiliki Kampung Siaga Bencana mengingat wilayah Sleman memiliki potensi ancaman erupsi Merapi, banjir lahar, banjir, tanah longsor, angin kencang, gempa bumi, dan kebakaran.

“Berbagai potensi bencana tersebut harus diantisipasi melalui peningkatan kapasitas masyarakat dan kolaborasi lintas sektor agar risiko bencana dapat diminimalkan,” pungkasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sleman, Wawan Widiantoro menjelaskan bahwa pembentukan KSB bertujuan meningkatkan perlindungan masyarakat melalui upaya pencegahan dan kesiapsiagaan berbasis masyarakat. Pelatihan yang didanai APBD Kabupaten Sleman ini diikuti 50 peserta yang terdiri atas relawan, tokoh masyarakat, kader, dan Karang Taruna.

Selama pelatihan, peserta mendapatkan materi tentang pertolongan pertama kedaruratan, Tim Reaksi Cepat (TRC), pengelolaan shelter, dapur umum, serta keposkoan.

KSB Sari Migunani dipimpin oleh Jogoboyo dan Kamituwa Kalurahan Sumbersari sebagai ketua, dengan Agustinus Fredy Wijayanto sebagai sekretaris dan Windarti sebagai bendahara. Kepengurusan juga dilengkapi divisi keposkoan, logistik, pertolongan pertama kedaruratan, tim reaksi cepat, dan dapur umum untuk masa bakti 2026–2029. (Giek / KIM Moyudan)




Latsar Bela Negara Tanamkan Nilai Kebangsaan Hadapi Ancaman Nonmiliter

Sleman – Semangat bela negara tidak lagi hanya dimaknai sebagai kesiapan mempertahankan kedaulatan melalui kekuatan fisik, tetapi juga diwujudkan dalam kemampuan menghadapi berbagai tantangan global yang berkembang pesat. Pesan tersebut mengemuka dalam hari ketiga Latihan Dasar (Latsar) Bela Negara yang diselenggarakan di Kalurahan Trihanggo, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Kamis (30/7/2026).

Kegiatan yang diinisiasi Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Sleman bekerja sama dengan Anggota DPRD Kabupaten Sleman, Fika Chusnul Chotimah, melalui program Pokok-Pokok Pikiran menghadirkan Fasilitator Bela Negara, Syaiful Rahman, sebagai narasumber.

Dalam pemaparannya, Syaiful menjelaskan bahwa bela negara pada era globalisasi mencakup kemampuan menghadapi berbagai ancaman nonmiliter, seperti perang informasi, ekonomi, budaya, siber, ideologi, hingga perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).

“Perubahan teknologi membawa peluang sekaligus ancaman. Globalisasi tidak bisa dihindari, tetapi dapat dimanfaatkan sekaligus diwaspadai,” ujarnya di hadapan peserta,” ujarnya.

Syaiful menjelaskan bahwa implementasi bela negara tetap berpijak pada lima nilai dasar, yakni cinta tanah air, sadar berbangsa dan bernegara, setia kepada Pancasila sebagai ideologi negara, rela berkorban untuk bangsa dan negara, serta memiliki kemampuan awal bela negara.

“Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting bagi masyarakat untuk tetap tangguh menghadapi perubahan zaman tanpa kehilangan jati diri sebagai bangsa Indonesia,” tandasnya.

Di akhir sesi, peserta diajak melakukan refleksi bahwa bela negara sejatinya dimulai dari diri sendiri. Refleksi itu diwujudkan melalui sikap jujur dalam menilai diri serta kemauan untuk terus berbenah, seperti menjaga persatuan, bijak menggunakan media sosial, menghormati perbedaan, mencintai produk dalam negeri, aktif membangun masyarakat, dan menjadi teladan di lingkungan masing-masing.

Melalui kegiatan ini, Pemerintah berharap pemahaman masyarakat terhadap nilai-nilai bela negara semakin kuat sehingga mampu menjadi benteng menghadapi berbagai tantangan global sekaligus memperkokoh persatuan dan ketahanan bangsa. (Andy Ahmad Akbar / KIM Ngaglik)




UNY Terapkan Papan Sasmita untuk Dukung Pembelajaran Siswa Disabilitas di Sleman

Sleman – Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) menerapkan media pembelajaran Papan Sasmita bagi siswa dengan disabilitas intelektual di SLB Bhakti Kencana 1, Kabupaten Sleman.

Kegiatan bertajuk Prabhaswara Kriya tersebut melibatkan 15 peserta didik dan guru pendamping. Tim UNY melaksanakan pembelajaran secara langsung dengan memadukan konsep sains sederhana, budaya lokal Yogyakarta, serta teknologi berbasis smart-sensoric system.

Ketua Tim, Lituhayu Sasikirana, mengatakan Papan Sasmita dirancang untuk membantu peserta didik memahami materi melalui pengalaman belajar yang nyata dan multisensori.

“Papan Sasmita memungkinkan peserta didik belajar dengan melihat, mendengar, menyentuh, dan mempraktikkan materi secara langsung. Kami berharap media ini dapat membantu mereka memahami konsep sains dan budaya dengan lebih mudah,” katanya, Kamis (30/7/2026).

Tim UNY menyusun kegiatan pembelajaran dalam empat kali pertemuan. Pada pertemuan pertama, peserta didik mempelajari konsep getaran, gelombang, dan bunyi melalui aktivitas sederhana yang dekat dengan kehidupan sehari-hari.

“Peserta didik diajak mengamati sumber bunyi, merasakan getaran, serta mengenali hubungan antara gerakan dan suara. Guru dan mahasiswa mendampingi setiap peserta didik agar dapat mengikuti kegiatan sesuai kemampuan masing-masing,” ujarnya.

Pada pertemuan kedua, tim mengajak peserta didik memainkan gamelan saron adaptif menggunakan Papan Sasmita. Kegiatan tersebut membantu peserta didik mengenali perbedaan bunyi sekaligus memperkenalkan salah satu unsur budaya Yogyakarta.

Media Papan Sasmita memberikan respons terhadap aktivitas peserta didik sehingga proses belajar berlangsung secara interaktif. Peserta didik tidak hanya mendengarkan penjelasan, tetapi juga mencoba, mengamati, dan mengulangi aktivitas secara mandiri maupun dengan pendampingan.

Pertemuan ketiga mengangkat materi pengenalan warna. Tim mengajak peserta didik mengenali berbagai warna dan menghubungkannya dengan benda-benda yang sering dijumpai di lingkungan sekolah maupun rumah.

Pada pertemuan keempat, peserta didik mempraktikkan pembuatan batik jumputan. Melalui kegiatan tersebut, mereka mempelajari proses perubahan warna sekaligus mengenal salah satu warisan budaya Yogyakarta.

Peserta didik terlibat mulai dari mengikat kain, mencelupkan kain ke dalam pewarna, hingga membuka ikatan untuk melihat pola yang terbentuk. Aktivitas tersebut melatih konsentrasi, koordinasi gerak, keberanian mencoba, dan kemampuan mengikuti tahapan kegiatan.

Lituhayu menjelaskan bahwa setiap aktivitas disesuaikan dengan karakteristik dan kemampuan peserta didik. Tim juga melibatkan guru sebagai fasilitator agar penggunaan Papan Sasmita dapat mendukung proses pembelajaran di sekolah.

“Pembelajaran kami susun secara bertahap dan menyenangkan. Peserta didik tidak dituntut untuk memahami materi secara abstrak, tetapi diarahkan untuk membangun pemahaman melalui pengalaman langsung,” ujarnya.

Menurutnya, kolaborasi antara mahasiswa dan guru menjadi bagian penting dalam pelaksanaan kegiatan. Guru memahami kebutuhan serta perkembangan peserta didik, sementara mahasiswa mendukung pembelajaran melalui media dan perangkat yang telah dikembangkan.

Penerapan Papan Sasmita diharapkan dapat menciptakan pembelajaran yang lebih kontekstual, inklusif, dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik dengan disabilitas intelektual. Media tersebut juga menjadi sarana untuk mempertemukan pembelajaran sains dengan budaya lokal dalam kegiatan yang mudah dipahami.

Melalui kegiatan pengabdian tersebut, UNY berupaya menghadirkan inovasi pembelajaran yang tidak hanya membantu peserta didik memperoleh pengetahuan, tetapi juga membangun keberanian, kemandirian, semangat belajar, dan sikap pantang menyerah. (Athiful/KIM Depok)




Caturtunggal Menyapa, Upaya Nyata Percepat Penurunan Stunting Sejak Usia Dini

Sleman – Pemerintah Kalurahan Caturtunggal menunjukkan komitmennya dalam mendukung percepatan penurunan stunting melalui kegiatan Caturtunggal Menyapa yang berlangsung selama empat hari, 27–30 Juli 2026. Kegiatan ini menyasar seluruh Taman Kanak-Kanak (TK) dan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) binaan Kalurahan Caturtunggal sebagai upaya memperkuat pemenuhan gizi dan tumbuh kembang anak sejak dini.

Program ini merupakan tindak lanjut hasil Rembug Stunting Tahun 2025 yang menekankan pentingnya kolaborasi dalam pencegahan stunting. Kegiatan dilaksanakan oleh Pemerintah Kalurahan Caturtunggal bersama Paguyuban PAUD Caturtunggal, Paguyuban TK Caturtunggal, dan TP PKK Kalurahan Caturtunggal.

Selama pelaksanaan, tim mengunjungi setiap TK dan PAUD binaan untuk memberikan edukasi mengenai pencegahan stunting serta menyalurkan Pemberian Makanan Tambahan (PMT). Selain membantu memenuhi kebutuhan gizi anak, kegiatan ini juga menjadi sarana edukasi bagi orang tua mengenai pentingnya pola makan bergizi seimbang dan pola asuh yang mendukung tumbuh kembang anak.

Penjabat (Pj) Lurah Caturtunggal, Feri Ferdian mengatakan bahwa Caturtunggal Menyapa merupakan wujud kehadiran pemerintah dalam memastikan setiap anak memperoleh perhatian sejak usia dini. Menurutnya, pencegahan stunting membutuhkan peran bersama dari keluarga, tenaga pendidik, kader, organisasi kemasyarakatan, hingga pemerintah.

“Caturtunggal Menyapa bukan sekadar kunjungan, tetapi bentuk kepedulian bersama untuk memastikan anak-anak tumbuh sehat, memperoleh gizi yang cukup, dan mendapat lingkungan yang mendukung proses belajar serta berkembang. Kolaborasi seluruh pihak harus terus diperkuat agar upaya pencegahan stunting berjalan optimal,” ujar Feri, Kamis (30/7/2026).

Ia berharap kegiatan ini dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan sebagai sarana mempererat komunikasi antara pemerintah dan lembaga pendidikan anak usia dini, sekaligus memantau kondisi tumbuh kembang anak di Kalurahan Caturtunggal.

Melalui semangat gotong royong dan kolaborasi, Pemerintah Kalurahan Caturtunggal optimistis upaya percepatan penurunan stunting dapat berjalan lebih efektif sehingga terwujud generasi yang sehat, cerdas, dan berkualitas. (Oktaviana/KIMDepok)