Masuk Studi ASEAN, SPPG Margomulyo Seyegan Jadi Model Percontohan Program Makan Bergizi Gratis di Asia Tenggara

Sleman – Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, berhasil mencatatkan prestasi bergengsi di tingkat internasional pada Senin (27/07/2026). Dapur penyelenggara Program Makan Bergizi Gratis (MBG) binaan Badan Gizi Nasional (BGN) ini resmi terpilih menjadi salah satu model percontohan regional dalam riset komprehensif bertajuk Landscape Analysis on School Meals Programmes Implemented by ASEAN Member States.
Studi strategis yang didanai oleh World Food Programme (WFP) dan dilaksanakan oleh Southeast Asian Regional Center for Graduate Study and Research in Agriculture (SEARCA) tersebut bertujuan untuk memetakan, mengevaluasi, serta menyelaraskan kebijakan program pemenuhan gizi sekolah di negara-negara anggota ASEAN. Masuknya SPPG Margomulyo dalam riset ini membuktikan bahwa sistem tata kelola MBG di Indonesia telah memenuhi standar mutu, keamanan pangan, serta prinsip keberlanjutan kelas dunia.
Kepala SPPG Margomulyo Seyegan, Joni Prasetyo, menyambut gembira terpilihnya SPPG Margomulyo sebagai salah satu praktik terbaik (best practice) dalam studi tingkat Asia Tenggara tersebut.
“Sejak mulai beroperasi, kami berkomitmen menjaga kualitas layanan pangan demi masa depan anak-anak Indonesia. Pengakuan dalam studi ASEAN ini menjadi motivasi bagi seluruh tim, kader posyandu, serta para petani dan peternak lokal yang setiap hari bergotong royong mendukung keberhasilan program ini,” ujar Joni Prasetyo.
SPPG Margomulyo dinilai memiliki tiga keunggulan utama, yakni penerapam standar higienitas dan pemantauan nilai gizi secara digital, penguatan ekosistem ekonomi lokal lewat kerja sama dengan BUMKalma Seyegan, serta penerapan konsep Zero Waste atau Green Kitchen melalui pengolahan limbah organik menjadi pupuk dan bioenergi.
Saat ini, SPPG Margomulyo Seyegan rutin melayani sekitar penerima manfaat setiap harinya, yang mencakup siswa dari delapan sekolah di wilayah Margomulyo dan Margoagung, hingga kelompok sasaran prioritas seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Model tata kelola terpadu ini diharapkan dapat menjadi rujukan utama bagi negara-negara ASEAN dalam menekan angka malnutrisi sekaligus mendongkrak perekonomian masyarakat berbasis potensi lokal. (Jony Prasetyo/KIM Seyegan)



