Tingkatkan Kesiapsiagaan Relawan, PMI Sleman Gelar Pelatihan Manajemen Jenazah

Sleman – Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sleman menggelar Pelatihan Manajemen Jenazah di Aula Sembada, Kompleks Kantor Bupati Sleman, pada Minggu (26/07/2026). Pelatihan teknis ini diselenggarakan sebagai bagian dari program kerja peningkatan kapasitas dan keterampilan para relawan secara terstruktur dan berkelanjutan agar siap diterjunkan dalam situasi tanggap darurat bencana maupun kedaruratan sosial.
Kegiatan pelatihan tersebut dibuka langsung oleh Ketua Bidang Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) PMI Kabupaten Sleman, Sri Wantini. Ia menekankan pentingnya pembekalan teknis bagi para relawan demi menjaga profesionalisme layanan di lapangan.
“Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman dan keterampilan para relawan dalam menjalankan peran dan tanggung jawab keorganisasian. Selain itu juga menggembleng kemampuan teknis relawan agar siap diterjunkan dalam berbagai kegiatan dan berbagai situasi dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat secara profesional,” ujar Sri Wantini.
Sebanyak 50 relawan berpartisipasi dalam pelatihan intensif ini. Mereka berasal dari Korps Sukarelawan (KSR) Unit Markas dan Perguruan Tinggi, Tenaga Sukarela (TSR), serta peserta tamu dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dan Sleman Emergency Services (SES) Kabupaten Sleman, dengan bimbingan 10 pelatih dan fasilitator PMI.
Pelatih Senior PMI Sleman, Sarjuri, memaparkan bahwa materi pelatihan mencakup penerapan nilai kepalangmerahan, keselamatan diri, perencanaan operasi tanggap darurat, hingga tata cara penatalaksanaan jenazah.
“Beberapa hal yang perlu diketahui dan diperhatikan antara lain implementasi teknik pencarian jenazah, pengangkutan, serah terima, serta prosedur pengumpulan dan penyimpanan jenazah sementara. Relawan juga diajari pengelolaan data post-mortem, pendokumentasian, hingga penanganan informasi orang hilang dan prosedur penyerahan kepada pihak keluarga,” tutur Sarjuri.
Selama sehari penuh, para peserta mengikuti pembekalan dengan metode tatap muka, demonstrasi, dan simulasi penanganan. Suasana pelatihan berlangsung serius saat simulasi yang merancang tiga skenario kompleks, yakni penanganan korban ledakan petasan, evakuasi jenazah di dalam rumah yang membusuk, serta penanganan korban tindakan kekerasan. Setiap peserta yang mengenakan Alat Pelindung Diri (APD) lengkap dilatih menjalankan peran sebagai petugas pencatat, dokumentasi, keamanan, hingga pendamping keluarga korban. (Tri Joko S/KIM Kalasan Bersahabat)



