Ribuan Warga Padati Upacara Adat Saparan Bekakak Gamping, Bupati Sleman Ajak Jaga Warisan Budaya

Sleman – Ribuan warga dari berbagai daerah memadati kawasan Lapangan Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, untuk menyaksikan kemeriahan upacara adat Saparan Bekakak pada Jumat (17/07/2026). Tradisi tahunan yang syarat akan nilai filosofis ini dihadiri langsung oleh Bupati Sleman, Harda Kiswaya, bersama jajaran Pemerintah Kabupaten Sleman sebagai bentuk komitmen dalam merawat warisan budaya lokal.

Rangkaian prosesi adat diawali dengan ritual yang diikuti secara tertib oleh barisan bregodo (prajurit rakyat). Suasana sakral kian terasa saat Bupati Sleman didampingi Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman melakukan ritual pecah kendi, yang kemudian dilanjutkan dengan pelepasan burung ke udara bebas sebagai simbol kebebasan serta keselarasan hidup manusia dengan alam sekitar.

Usai prosesi pembukaan, suasana berubah meriah saat kirab budaya mulai bergerak menyusuri jalanan utama. Pasukan bregodo mengarak sesaji bekakak—yakni replika pengantin yang terbuat dari tepung ketan berisi gula merah—bersama deretan ogoh-ogoh raksasa menuju lokasi puncak upacara adat di kawasan Petilasan Gunung Gamping.

Bupati Sleman, Harda Kiswaya, menegaskan bahwa agenda budaya rutin ini bukan sekadar atraksi seni bernilai tinggi, melainkan sarana krusial untuk mempererat tali silaturahmi dan merawat kerukunan antarwarga lintas wilayah di tengah arus modernisasi.

“Saparan Bekakak ini merupakan simbol rasa syukur masyarakat Ambarketawang kepada Tuhan Yang Maha Esa melalui tradisi. Harapannya, warga mendapatkan berkah, dijauhkan dari marabahaya, diberikan tanah yang subur, kesehatan, keselamatan, serta rezeki yang melimpah,” ujar Harda Kiswaya di sela-sela acara.

Harda juga mengapresiasi tinggi semangat gotong royong seluruh elemen masyarakat, para pegiat seni, hingga jajaran pemerintah daerah yang konsisten menjaga eksistensi adat tradisi luhur tersebut. Seluruh rangkaian perayaan budaya ini kemudian diakhiri dengan prosesi puncak berupa penyembelihan sepasang bekakak yang berlangsung khidmat di Petilasan Gunung Gamping.




Puskesmas Tempel I Gelar Survey Mawas Diri di Margorejo Perkuat Peran Kader dalam Pemetaan Masalah Kesehatan

Sleman – Ketersediaan data kesehatan yang akurat menjadi fondasi penting dalam menyusun program kesehatan yang tepat sasaran di tingkat masyarakat. Guna mewujudkan hal tersebut, Puskesmas Tempel I menggelar kegiatan pembekalan Survey Mawas Diri (SMD) yang berlangsung di Ruang Pertemuan Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (18/07/2026).

Kegiatan ini dihadiri oleh para kader kesehatan dari seluruh padukuhan se-Kalurahan Margorejo. Mereka dibekali pemahaman mendalam mengenai mekanisme pelaksanaan SMD sekaligus dipersiapkan menjadi ujung tombak dalam menghimpun data kesehatan masyarakat di tingkat keluarga secara presisi.

Materi utama penyuluhan disampaikan oleh Bidan Desa Puskesmas Tempel I, Farida Nurul Aini. Dalam paparannya, ia menjelaskan teknis pelaksanaan SMD beserta tata cara pengisian instrumen survei berbasis digital. Menurutnya, SMD merupakan langkah awal untuk memperoleh gambaran nyata mengenai kondisi kesehatan warga di lapangan.

“Data yang diperoleh melalui Survey Mawas Diri akan menjadi dasar dalam menentukan prioritas masalah kesehatan. Karena itu, ketelitian kader dalam mendampingi masyarakat saat pengisian survei sangat menentukan kualitas data yang dihasilkan,” ujar Farida Nurul Aini.

Farida Nurul Aini menambahkan bahwa pelaksanaan SMD di Kalurahan Margorejo menargetkan minimal 365 kepala keluarga (KK) sebagai responden. Target populasi tersebut diharapkan dapat memberikan gambaran yang representatif mengenai peta kondisi kesehatan masyarakat di seluruh wilayah kalurahan.

Ia menerangkan, instrumen survei mencakup berbagai indikator kesehatan penting, seperti keikutsertaan kelas ibu hamil, pemberian ASI eksklusif, konsumsi tablet tambah darah bagi remaja putri, kebiasaan tidak merokok di dalam rumah, pemantauan pertumbuhan balita, aktivitas fisik, penggunaan keluarga berencana, perilaku berobat penderita penyakit tidak menular, hingga pengelolaan sampah rumah tangga.

Sementara itu, Penanggung Jawab Pelayanan Promosi Kesehatan (Promkes) Puskesmas Tempel I, Fuad Masykuri, memberikan penekanan mengenai pentingnya penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) sebagai langkah preventif dalam meningkatkan kualitas hidup warga.

“Perilaku Hidup Bersih dan Sehat harus menjadi kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Ketika masyarakat menerapkannya secara konsisten, risiko berbagai penyakit dapat ditekan dan kualitas hidup akan semakin meningkat,” kata Fuad Masykuri.

Melalui perhelatan ini, para kader kesehatan didorong untuk aktif mengedukasi masyarakat sekaligus mendampingi proses pengumpulan data hingga batas waktu yang ditentukan. Pendekatan partisipatif melalui Survey Mawas Diri diharapkan mampu menghasilkan basis data yang valid demi melahirkan kebijakan program kesehatan yang efektif dan berkelanjutan. (SBD/KIM Tempel)




Kamituwo Margorejo Ajak Lansia Tetap Aktif dan Mandiri untuk Menjaga Kualitas Hidup

Sleman – Memasuki usia lanjut tidak berarti berhenti berkontribusi bagi keluarga maupun lingkungan sekitar. Masa lansia justru menjadi fase krusial untuk tetap memelihara kesehatan fisik, mempererat hubungan sosial, serta menjaga semangat hidup agar kualitas dan kebahagiaan di usia senja tetap optimal.

Pesan tersebut ditegaskan oleh Kamituwo Kalurahan Margorejo, Anwar Ihsani, saat memberikan pemaparan materi dalam kegiatan Kelas Lansia bertema “Lansia Sehat dan Mandiri”. Agenda yang diinisiasi oleh Pokja I PKK Kalurahan Margorejo ini berlangsung di Ruang Pertemuan Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (18/07/2026).

Dalam penjelasannya, Anwar Ihsani menekankan bahwa peningkatkan angka harapan hidup di Indonesia harus diimbangi dengan langkah nyata untuk mewujudkan lansia yang sehat, mandiri, dan tetap berdaya. Menurutnya, keluarga dan lingkungan sekitar memegang peranan besar dalam menciptakan suasana kondusif agar para lansia senantiasa merasa dihargai dan dibutuhkan.

“Menjadi lansia bukan berarti menjadi beban. Pengalaman hidup yang dimiliki merupakan modal berharga untuk tetap berkontribusi bagi keluarga maupun masyarakat. Yang terpenting adalah menjaga kesehatan, mempererat silaturahmi, dan tetap aktif dalam berbagai kegiatan,” ujar Anwar Ihsani.

Ia menerangkan bahwa partisipasi rutin dalam aktivitas sosial sangat efektif membantu lansia merawat kesehatan fisik dan mental. Keterlibatan di kelompok kemasyarakatan, kegiatan keagamaan, maupun wadah komunitas lansia dapat menjadi sarana interaktif untuk saling berbagi pengalaman sekaligus mencegah rasa kesepian.

Di samping penguatan mental dan sosial, Anwar Ihsani mengingatkan pentingnya menerapkan pola hidup sehat, seperti menjaga asupan gizi, berolahraga ringan secara teratur, istirahat cukup, dan memeriksakan kesehatan secara berkala guna mengantisipasi penyakit degeneratif.

Menurutnya, perhatian terhadap lansia tidak hanya berfokus pada layanan medis, tetapi juga pada pembentukan lingkungan yang inklusif dan ramah lansia agar mereka memiliki ruang untuk terus berpartisipasi dan tampil percaya diri.

“Ketika lansia merasa dihargai, dilibatkan, dan memiliki ruang untuk beraktivitas, mereka akan lebih optimistis dalam menjalani hari-harinya. Itulah yang perlu dibangun bersama oleh keluarga, masyarakat, dan pemerintah,” kata Anwar Ihsani.

Melalui penyelenggaraan Kelas Lansia ini, kesadaran masyarakat diharapkan kian meningkat bahwa proses menua merupakan siklus kehidupan alami yang perlu dipersiapkan secara matang. Dengan dukungan keluarga serta lingkungan yang peduli, para lansia dapat menjalani masa tua secara sehat, mandiri, produktif, dan inspiratif. (SBD/KIM Tempel)




Pentas Wayang Kulit Lakon Bambang Sembotho Semarakkan Saparan Bekakak Ambarketawang

Sleman – Pergelaran wayang kulit dengan lakon “Bambang Sembotho” menjadi salah satu sajian utama dalam rangkaian Upacara Adat Saparan Bekakak Ambarketawang 2026. Pertunjukan budaya tersebut berlangsung khidmat dan meriah di Pendhapa Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, pada Jumat (17/07/2026) malam.

Penampilan dalang muda, Bayu Gupito, berhasil menyuguhkan tontonan yang memikat masyarakat. Pementasan ini sekaligus merefleksikan komitmen daerah dalam melestarikan seni tradisi serta menanamkan nilai-nilai luhur seperti kejujuran, keteguhan, dan kebijaksanaan kepada generasi muda di tengah arus modernisasi.

Ratusan warga memadati lokasi acara sejak sore hari untuk menyaksikan pergelaran yang telah menjadi bagian integral dari tradisi tahunan tersebut. Kehadiran seni pedalangan dalam Upacara Adat Saparan Bekakak kian menegaskan posisinya sebagai warisan budaya yang memadukan nilai adat, ekspresi seni, dan kearifan spiritual secara berkelanjutan.

Bayu Gupito menjelaskan bahwa pemilihan lakon “Bambang Sembotho” membawa pesan filosofis yang mendalam mengenai kehidupan dan pengabdian.

“Lakon Bambang Sembotho dipilih karena sarat dengan pesan tentang keteguhan hati, keberanian menghadapi cobaan, kejujuran, serta pengabdian kepada kebenaran. Nilai-nilai tersebut dinilai relevan dengan semangat masyarakat Ambarketawang dalam menjaga harmoni kehidupan, mempererat persaudaraan, dan mempertahankan warisan budaya di tengah perkembangan zaman,” ujar Bayu Gupito.

Melalui perpaduan sabetan, sulukan, dialog interaktif, serta iringan gamelan yang harmonis, pertunjukan berlangsung dinamis dari awal hingga larut malam. Penonton dari berbagai lintas generasi, mulai dari anak-anak hingga usia lanjut, tampak antusias mengikuti setiap alur cerita pewayangan.

Bayu Gupito menambahkan bahwa seni pedalangan Jawa tidak sekadar berfungsi sebagai media hiburan, melainkan juga wadah edukasi moral dan kepemimpinan bagi masyarakat.

“Selain menjadi tontonan, wayang kulit juga berfungsi sebagai media tuntunan yang menyampaikan ajaran tentang kepemimpinan, kebijaksanaan, tanggung jawab, dan pentingnya menjaga keseimbangan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, maupun alam. Melalui cerita pewayangan, pesan-pesan luhur disampaikan secara halus sehingga mudah diterima masyarakat tanpa kehilangan nilai estetikanya,” kata Bayu Gupito.

Penyelenggaraan seni tradisional ini turut memperkuat daya tarik pariwisata berbasis kearifan lokal di Kabupaten Sleman. Tingginya partisipasi warga dari berbagai daerah membuktikan bahwa perhelatan Saparan Bekakak mampu menggerakkan potensi ekonomi kreatif sekaligus merawat identitas budaya daerah.

“Di balik setiap adegan pewayangan tersimpan pesan tentang pentingnya menjaga nilai-nilai luhur, memperkuat persatuan, serta mewariskan kebijaksanaan leluhur agar tetap hidup dan menjadi pedoman bagi kehidupan masyarakat di masa mendatang,” tegas Bayu Gupito. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Kesehatan Mental Lansia Jadi Kunci Menua Sehat dan Bahagia di Kalurahan Margorejo

Sleman – Meningkatnya jumlah penduduk lanjut usia (lansia) di Indonesia menjadi tantangan sekaligus peluang untuk membangun masyarakat yang lebih peduli terhadap kesehatan mental. Tidak hanya kesehatan fisik, kesejahteraan psikologis lansia kini dipandang sebagai fondasi penting agar mereka tetap produktif, mandiri, dan memiliki kualitas hidup yang baik di usia senja.

Semangat tersebut menjadi fokus utama dalam kegiatan Kelas Lansia yang diselenggarakan oleh Pokja 1 PKK Kalurahan Margorejo. Agenda ini berlangsung khidmat di ruang pertemuan Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (18/07/2026). Mengangkat tema mengenai kesehatan mental, kegiatan ini bertujuan meningkatkan pemahaman para peserta mengenai pentingnya menjaga kesehatan jiwa sebagai bagian tak terpisahkan dari proses menua secara sehat.

Ketua Pokja 1 PKK Margorejo, Haniroh Astuti, menyampaikan bahwa pembinaan bagi lansia perlu dilakukan secara berkelanjutan karena kesehatan mental memiliki pengaruh besar terhadap kebahagiaan dan kualitas hidup seseorang.

“Memasuki usia lanjut bukan berarti berhenti berkarya atau kehilangan semangat hidup. Justru pada fase ini para lansia perlu memperoleh dukungan keluarga, lingkungan, dan masyarakat agar tetap merasa dihargai, memiliki peran, serta mampu menjalani kehidupan dengan penuh makna,” ujar Haniroh Astuti.

Ia menambahkan bahwa Kelas Lansia juga berfungsi sebagai ruang silaturahmi interaktif yang mendorong para peserta untuk saling berbagi pengalaman, memperluas jejaring sosial, sekaligus menekan rasa kesepian yang kerap menjadi pemicu gangguan mental pada usia lanjut.

Hadir sebagai narasumber, psikolog dari Puskesmas Tempel I, Sasriyanti, menjelaskan bahwa kesehatan mental mencakup kemampuan seseorang untuk mengelola emosi, beradaptasi terhadap perubahan, serta menikmati kehidupan sehari-hari. Menurutnya, berbagai dinamika seperti penurunan kondisi fisik, kehilangan pasangan, hingga berkurangnya aktivitas sosial dapat memicu stres, kecemasan, bahkan depresi jika tidak dikelola secara tepat.

“Menjaga kesehatan mental dapat dilakukan melalui cara-cara sederhana, seperti tetap aktif berinteraksi dengan keluarga dan teman, mengikuti kegiatan sosial, beribadah, berolahraga sesuai kemampuan, menjaga pola tidur, serta berani menyampaikan perasaan ketika menghadapi masalah. Dukungan keluarga menjadi faktor yang sangat menentukan,” kata Sasriyanti.

Sasriyanti juga menekankan pentingnya menghapus stigma masyarakat yang menganggap perubahan suasana hati drastis pada lansia sebagai hal lumrah tanpa perlu penanganan. Menurutnya, deteksi dini dan pendampingan psikologis yang tepat dapat mencegah gangguan kesehatan mental berkembang menjadi kondisi yang lebih berat.

Melalui kegiatan edukatif ini, PKK Margorejo berharap kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan mental lansia terus meningkat. Kolaborasi erat antara keluarga, tenaga kesehatan, kader, dan warga sekitar diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang inklusif dan ramah lansia, sehingga kelompok usia lanjut dapat menjalani masa tua secara sehat, aktif, bermartabat, dan bahagia. (SBD/KIM Tempel)