Tunjang Pembangunan Desa, Akademisi APMD Dorong LKK Sleman Bangun Organisasi Tertib dan Adaptif

Sleman – Kualitas kelembagaan masyarakat memegang peranan krusial yang setara dengan ketersediaan anggaran dalam menentukan keberhasilan program pembangunan desa. Hal tersebut ditekankan oleh akademisi Sekolah Tinggi Pembangunan Masyarakat Desa (STPMD) “APMD”, Hery Purnomo, saat mengisi materi dalam Bimbingan Teknis Lembaga Kemasyarakatan Kalurahan (LKK) di Kalurahan Lumbungrejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, Sabtu (11/7/2026).
Di hadapan puluhan peserta yang berasal dari unsur RT, RW, PKK, Posyandu, Karang Taruna, Satlinmas, hingga Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM), Hery mengajak seluruh jajaran pengurus untuk melakukan evaluasi mendalam. Refleksi berkala dinilai menjadi instrumen penting guna mengukur efektivitas pergerakan organisasi di tengah masyarakat.
Menurut Hery, kesehatan sebuah organisasi swadaya bermula dari kedisiplinan mengelola dokumen dan kejelasan aspek legalitas. Penerbitan Surat Keputusan (SK) kepengurusan oleh otoritas kalurahan tidak boleh lagi dipandang sebelah mata sebagai pelengkap syarat birokrasi semata.
“SK bukan hanya administrasi, tetapi menjadi dasar legitimasi organisasi dalam menjalankan program dan mengambil keputusan. Kejelasan struktur organisasi dan pembagian tugas akan membantu lembaga bekerja lebih efektif serta menghindari tumpang tindih peran antar pengurus,” ujar Hery Purnomo saat memaparkan tata kelola kelembagaan.
Hery menambahkan, jajaran pemerintah kalurahan harus menempatkan LKK sebagai mitra dialog strategis dalam merumuskan arah kebijakan pembangunan kawasan sejak tahap perencanaan. Independensi dan daya kritis lembaga lokal tidak boleh dikerdilkan menjadi sekadar pelaksana teknis kegiatan yang bersifat musiman atau insidental.
“LKK memiliki peran penting dalam mendukung visi, misi, dan program pemerintah kalurahan. Semakin kuat kelembagaan masyarakat, semakin besar peluang keberhasilan pembangunan yang berpihak kepada warga,” kata Hery Purnomo menjelaskan fungsi kemitraan desa.
Menutup arahannya, Hery mengingatkan bahwa tantangan sosiologis di kawasan perdesaan saat ini semakin kompleks sehingga menuntut organisasi lokal untuk lebih luwes, kolaboratif, serta melek teknologi. Melalui pembenahan tata kelola administrasi dan penguatan sinergi ini, LKK di Kabupaten Sleman diharapkan mampu menjadi motor penggerak utama lahirnya pembangunan wilayah yang inklusif, mandiri, dan berdaya saing tinggi. (SBD/KIM Tempel)



