Serap Aspirasi Warga, Kalurahan Margorejo Sleman Gelar Musyawarah Penyusunan RKP Tahun 2027

Sleman – Perencanaan pembangunan desa yang disusun secara partisipatif terus digenjot demi mewujudkan tata kelola pemerintahan yang transparan, akuntabel, dan responsif. Komitmen ini ditegaskan dalam Musyawarah Kalurahan Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah (RKP) Kalurahan Margorejo Tahun 2027 yang diselenggarakan di Aula Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, Jumat (26/6/2026).

Forum strategis ini mempertemukan jajaran pemerintah desa, perwakilan pemprov, legislatif, hingga berbagai unsur masyarakat setempat. Kehadiran para pemangku kepentingan tersebut ditujukan untuk memetakan dan menyepakati skala prioritas pembangunan wilayah agar tepat sasaran pada tahun anggaran mendatang.

Lurah Margorejo, Abdul Aziz Muh Ridwan, menegaskan bahwa dokumen RKP Kalurahan tidak boleh disusun di atas meja saja, melainkan harus merepresentasikan kebutuhan riil warga di lapangan. Hal ini penting agar dana desa dan alokasi anggaran yang dikucurkan dapat memberikan dampak kesejahteraan yang optimal.

“Perencanaan pembangunan harus lahir dari aspirasi masyarakat. Melalui musyawarah ini, kita memastikan setiap usulan dipertimbangkan secara objektif sehingga program yang disusun benar-benar berdampak bagi kesejahteraan warga,” ujar Abdul Aziz Muh Ridwan di sela-sela memimpin jalannya musyawarah.

Senada dengan hal itu, Panewu Tempel, Rasyid Ratnadi Sosiawan, mengingatkan bahwa kualitas perencanaan menjadi penentu utama keberhasilan pembangunan. Ia meminta agar penyusunan program kerja ke depan harus berbasis data yang akurat serta selaras dengan arah kebijakan pemerintah daerah.

“Musyawarah menjadi ruang menyatukan berbagai kepentingan dan aspirasi. Dengan perencanaan yang matang, pembangunan akan lebih terarah, berkelanjutan, dan mampu menjawab tantangan yang dihadapi masyarakat,” kata Rasyid Ratnadi Sosiawan memberikan arahan.

Dukungan terhadap keterlibatan aktif warga juga disuarakan oleh Anggota DPRD DIY Komisi C, Haris Sugiharta. Menurutnya, sinergi tiga pilar antara pemerintah desa, pemerintah daerah, dan masyarakat adalah modal paling kuat untuk mempercepat pemerataan pembangunan infrastruktur maupun suprastruktur di tingkat akar rumput.

“Partisipasi masyarakat dalam proses perencanaan menjadi kekuatan utama agar setiap program pembangunan benar-benar sesuai kebutuhan dan mampu meningkatkan kualitas hidup warga,” ungkap Haris Sugiharta.

Terkait regulasi dan teknis penganggaran, Kepala Bidang Administrasi, Keuangan, dan Aset Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK) Kabupaten Sleman, Y Purnomo Kristiawan, turut memberikan pembekalan. Ia mengimbau agar dokumen perencanaan yang dibuat harus realistis dan disesuaikan dengan kemampuan keuangan desa demi menghindari masalah hukum di kemudian hari.

“RKP Kalurahan harus menjadi pedoman pembangunan yang realistis, terukur, dan sesuai dengan kemampuan keuangan desa, sehingga pelaksanaannya dapat dipertanggungjawabkan serta memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat,” jelas Y Purnomo Kristiawan.

Dalam musyawarah yang berjalan dinamis tersebut, usulan tidak hanya bertumpu pada pembangunan fisik atau infrastruktur semata. Forum secara terbuka sepakat untuk mendorong penguatan sektor ekonomi lokal, peningkatan mutu pelayanan publik, pemberdayaan perempuan dan pemuda, hingga program pengembangan sumber daya manusia guna menyongsong tahun 2027 (SBD/KIM Tempel).




Semarakkan Tahun Baru Islam, 250 Personel Hadrah Zanisti Pukau Jemaah Gebyar Muharam di Depok Sleman

Sleman – Lantunan selawat dan lagu-lagu Islami berhasil memukau sekitar 900 jemaah yang memadati Pendopo Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Jumat (26/6/2026). Penampilan kolosal tersebut dibawakan oleh sebanyak 250 personel hadrah Zahratun Nisa’ Sleman Timur (Zanisti) Kapanewon Depok dalam rangka menyemarakkan agenda Gebyar Muharam 1448 Hijriah.

Aksi memikat dari kelompok hadrah ini menjadi salah satu rangkaian utama dalam menyambut datangnya Tahun Baru Islam di wilayah tersebut. Melalui perpaduan seni musik tabuh dan syair puji-pujian, kegiatan ini sukses dijadikan sebagai panggung untuk memperkuat syiar keagamaan sekaligus mempererat tali silaturahmi antarwarga.

Ketua Zanisti, Sudarwinanti, menjelaskan bahwa Zanisti merupakan wadah kelompok hadrah yang seluruh anggotanya merupakan jemaah perempuan dari wilayah Sleman bagian timur. Tepat pada tahun 2026 ini, Zanisti genap menginjak usia 12 tahun berkiprah di dunia dakwah berbasis seni. Mereka terus memegang komitmen kuat untuk menebarkan nilai-nilai Islam yang damai serta membangun semangat kebersamaan di lingkungan masyarakat.

“Selama 12 tahun kami berupaya istikamah menjadikan hadrah sebagai sarana syiar Islam. Melalui lantunan shalawat, kami berharap masyarakat semakin mencintai Rasulullah, memperkuat keimanan, sekaligus menjaga kebersamaan dan kerukunan di lingkungan masing-masing,” ujar Sudarwinanti saat ditemui di sela-sela acara.

Sudarwinanti menambahkan, pengerahan hingga 250 personel dalam satu panggung ini menjadi bukti nyata besarnya antusiasme para anggota untuk ikut ambil bagian dalam syiar keagamaan. Baginya, seni hadrah bukan sekadar tontonan atau pertunjukan musik biasa, melainkan media pembinaan umat yang sangat efektif karena menyampaikan pesan kebaikan dengan cara yang santun, sejuk, dan mudah diterima oleh lintas generasi.

“Kami berharap semakin banyak generasi muda yang mencintai seni hadrah dan menjadikannya sebagai wadah berkegiatan positif. Dengan demikian, syiar Islam dapat terus berkembang seiring tumbuhnya karakter masyarakat yang religius, rukun, dan saling menghargai,” tambahnya menaruh harapan pada generasi penerus.

Lebih lanjut, Sudarwinanti menilai sinergi yang harmonis antara kelompok seni keagamaan, organisasi masyarakat, dan pihak pemerintah setempat menjadi pilar penting dalam menjaga kondusivitas sosial. Kegiatan keagamaan yang dikemas menarik melalui pendekatan seni dan budaya terbukti mampu menghadirkan ruang interaksi yang positif, sekaligus menanamkan nilai-nilai moderasi serta gotong royong.

Napas kegiatan ini pun dinilai sangat selaras dengan arah pembangunan jangka panjang Kabupaten Sleman yang menempatkan nilai religius, kelestarian budaya, dan partisipasi aktif warga sebagai modal utama daerah. Melalui konsistensi syiar yang menyejukkan dari panggung ke panggung, keberadaan kelompok seperti Zanisti diharapkan dapat terus menjadi kekuatan sosial yang memperkokoh persatuan menuju masyarakat Sleman yang maju, harmonis, dan beradab (Athiful/KIM Depok).




Gelar Pekan PBB, Padukuhan Kendal Sleman Berhasil Himpun Pajak Rp7,25 Juta dalam Empat Jam

Sleman – Upaya percepatan pelunasan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) Tahun 2026 di Padukuhan Kendal, Kalurahan Bangunkerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman membuahkan hasil menggembirakan. Melalui inovasi layanan bertajuk Pekan PBB yang digelar pada Jumat (26/6/2026) siang, pemerintah padukuhan setempat berhasil menghimpun pembayaran pajak dari masyarakat sebesar hanya dalam waktu empat jam.

Kegiatan yang berlangsung mulai pukul hingga WIB ini sengaja dihadirkan untuk menjemput bola. Sasaran utamanya adalah para wajib pajak yang memiliki keterbatasan waktu atau belum sempat melakukan pembayaran secara mandiri, baik melalui aplikasi perbankan maupun lewat mekanisme penitipan reguler ke petugas padukuhan.

Antusiasme warga dalam menyukseskan program ini tergolong sangat tinggi. Berdasarkan data di lapangan, sekitar 40 wajib pajak berbondong-bondong mendatangi lokasi dengan membawa lebih dari 150 Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT) untuk langsung dilunasi di tempat.

Kepala Padukuhan Kendal, Agus Dwi Subekti, mengungkapkan rasa syukurnya atas kelancaran dan kesuksesan penyelenggaraan Pekan PBB tersebut. Menurutnya, kesadaran tinggi yang ditunjukkan oleh warga menjadi kunci utama kesuksesan agenda penyerapan pajak daerah ini.

“Alhamdulillah, kegiatan ini berjalan dengan lancar dan mendapat sambutan yang baik dari masyarakat. Dana yang terkumpul mencapai dan akan langsung disetorkan pada Sabtu, 27 Juni 2026,” ujar Agus Dwi Subekti saat memberikan keterangan di sela-sela acara.

Agus menjelaskan bahwa total ketetapan PBB untuk wilayah Padukuhan Kendal pada tahun 2026 ini berada di angka . Dengan demikian, hasil optimal yang diperoleh melalui gerakan jemput bola ini telah berhasil mengamankan lebih dari seperempat target ketetapan PBB keseluruhan padukuhan hanya dalam satu kali pelaksanaan kegiatan.

“Ini merupakan capaian yang sangat positif. Kami berharap semangat masyarakat untuk memenuhi kewajiban perpajakan terus meningkat sehingga target pelunasan PBB tahun ini dapat segera tercapai,” tambah Agus optimis.

Langkah taktis yang dilakukan oleh jajaran pemerintah padukuhan ini juga mendapat perhatian dan dukungan penuh dari Pemerintah Kabupaten Sleman. Perwakilan dari Badan Keuangan dan Aset Daerah (BKAD) Kabupaten Sleman, Arkha Baligede Haruan Siregar, turut hadir langsung untuk meninjau jalannya proses pembayaran sekaligus memberikan apresiasi tinggi atas inisiatif lokal dalam mendongkrak kesadaran perpajakan warga.

Selain perwakilan dari BKAD Sleman, kegiatan ini juga dihadiri oleh Lurah Bangunkerto Anas Makruf, Penjabat Kaur Danarta Kalurahan Bangunkerto Reny Kusumastuti, serta beberapa kepala padukuhan tetangga seperti Dukuh Jurugan Walid Turmudzi, Dukuh Gadung Acon Sulaksono, dan Dukuh Ngumbul Nugroho yang datang memberikan dukungan moral.

Di akhir penjelasannya, Agus menegaskan bahwa keberhasilan ini merupakan buah dari kepedulian kolektif warga yang tersebar di tiga wilayah sub-padukuhan, yakni Kendal, Pandansaren, dan Sidoharjo. Pihak pemerintah padukuhan berharap capaian ini bisa memotivasi sisa wajib pajak lainnya yang belum melunasi kewajiban mereka untuk segera membayar sebelum jatuh tempo demi kelancaran pembangunan daerah (Arief Hartanto / KIM Kertomandiri Turi).




KUA Depok Sleman Gandeng Remaja Masjid Berprestasi Perkuat Gerakan Ekoteologi Peduli Lingkungan

Sleman – Kantor Urusan Agama (KUA) Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, meluncurkan langkah strategis dengan memperkuat gerakan ekoteologi di kalangan generasi muda dan ibu-ibu pengajian. Langkah ini diwujudkan dengan merangkul Remaja Masjid Al-Mukhlasin Pringgolayan, Kalurahan Condongcatur yang merupakan Juara I Gen Z Memakmurkan Masjid Tingkat Kabupaten Sleman Tahun 2026, serta perwakilan majelis taklim se-Kapanewon Depok pada Jumat (26/6/2026).

Gerakan bersama yang berpusat di Depok ini sengaja digelar untuk mendongkrak kesadaran kolektif masyarakat dalam menjaga kelestarian lingkungan hidup. Berbeda dengan kampanye lingkungan pada umumnya, gerakan ini mengedepankan pendekatan nilai-nilai keagamaan agar pesan yang disampaikan dapat menyentuh sisi spiritual masyarakat.

Kepala KUA Depok, Abu Hanifah, menegaskan bahwa ekoteologi merupakan gerakan penting yang mengintegrasikan ajaran agama secara langsung dengan aksi nyata pelestarian lingkungan, sebagaimana yang dipelopori oleh Kementerian Agama. Menurutnya, alam semesta tidak boleh hanya dipandang sebagai sumber daya yang bisa dieksploitasi, melainkan harus dijaga sebagai ciptaan Tuhan yang mulia.

“Menjaga bumi merupakan bagian dari ibadah dan wujud nyata keimanan. Karena itu, kepedulian terhadap lingkungan harus menjadi budaya yang tumbuh di tengah masyarakat, dimulai dari keluarga, masjid, hingga komunitas,” ujar Abu Hanifah saat memberikan pengarahan di hadapan para peserta.

Abu Hanifah menjelaskan lebih lanjut bahwa pendekatan melalui doktrin keagamaan memiliki kekuatan strategis dalam mengubah perilaku masyarakat luas. Nilai-nilai spiritual dinilai jauh lebih mampu menyentuh hati dan menjadi motor penggerak perubahan moral yang mendasar agar manusia lebih menyayangi alam sekitarnya.

“Bahasa agama sangat efektif untuk mengajak masyarakat menjaga lingkungan. Ketika merawat alam dipahami sebagai bagian dari menjalankan perintah agama, maka kesadaran untuk melestarikan lingkungan akan tumbuh dari dalam diri setiap individu secara ikhlas,” tambahnya menekankan urgensi metode tersebut.

Melalui penguatan gerakan ekoteologi ini, pihak KUA Depok menaruh harapan besar agar para remaja masjid berprestasi dan ibu-ibu majelis taklim dapat mengambil peran aktif di garda terdepan. Mereka diharapkan mampu menjadi agen perubahan dan pelopor dalam mengampanyekan gaya hidup ramah lingkungan di lingkungan tempat tinggal masing-masing.

“Dengan demikian, upaya pelestarian lingkungan tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah semata. Melalui kolaborasi ini, kita ingin mewujudkannya menjadi sebuah gerakan bersama yang masif dan berlandaskan pada nilai-nilai luhur keagamaan,” tandas Abu Hanifah. (Athiful/KIM Depok)




Jaga Sumber Air, Warga Nglahar Gelar Ritual Adat Kuras Tiga Sendang Purba

Sleman — Ratusan warga Padukuhan Nglahar, Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman, menggelar ritual adat “Kuras Sendang” sebagai bentuk komitmen menjaga kelestarian mata air bagi generasi masa depan. Prosesi sakral yang berpusat di RW 32 ini dilaksanakan mulai Jumat sore (26/6/2026) hingga puncaknya pada Sabtu malam, sebagai respons atas mulainya musim kemarau sekaligus upaya memperkuat ketahanan pangan dan air di wilayah perbatasan.

Arak-arakan budaya dimulai dengan khidmat di bawah kawalan tabuhan kenong dari Bregada Paraga yang mengiringi barisan pembawa kendhi tanah liat serta ubarampe sesaji. Warga berjalan kaki menyusuri jalan dusun menuju tiga titik mata air purba yang selama ratusan tahun menjadi urat nadi kehidupan masyarakat, yaitu Sendang Soka, Sendang Siputat, dan Sendang Tretes. Ketiga sumber air ini memiliki nilai strategis tinggi karena debit airnya tidak pernah kering meskipun wilayah Yogyakarta kerap dilanda kemarau panjang.

Ritual utama di Sendang Soka diawali dengan pelantunan doa bersama dan tabur bunga di sekitar bibir pusaran air. Selanjutnya, Lurah Sumbersari, Sukadi, maju melakukan prosesi visualisasi budaya menggunakan siwur atau gayung yang terbuat dari tempurung kelapa bermenara bambu. Ia mengambil air dari dasar sendang dan membuangnya ke tanah sebanyak tujuh kali berturut-turut sebagai simbolisasi luhur pembersihan diri dari aura negatif serta penghormatan terhadap bumi. Langkah tersebut kemudian diikuti oleh Carik Sumbersari, Junaidi, beserta para peraga adat lainnya, sebelum akhirnya juru kunci sendang, Eka Endarto, menutup ritual dengan menampung sisa air suci ke dalam kendhi untuk disemayamkan.

Pola laku spiritual yang sama juga diterapkan secara berurutan di Sendang Siputat dan Sendang Tretes. Setelah seluruh kendhi terisi penuh oleh “air kehidupan” dari ketiga lokasi tersebut, draf pusaka air diarak kembali menuju pemukiman warga. Puncak acara yang berlangsung Sabtu malam diisi dengan kirab bersama menuju panggung utama, draf pembacaan doa lintas iman, serta kenduri agung yang melibatkan seluruh tokoh pemerintah daerah dan warga lintas generasi.

Ketua RW 32 Padukuhan Nglahar, Utoyo, menegaskan bahwa ritual tahunan ini merupakan ekspresi teologis dan sosiologis masyarakat agro-kultural yang sangat bergantung pada ketersediaan air bersih. Upacara ini menjadi ruang pengingat bagi warga urban maupun petani lokal agar tidak mengeksploitasi alam secara berlebihan dan tetap merawat pohon-pohon besar di sekitar zona tangkapan air.

“Kegiatan ini adalah ungkapan rasa syukur kami yang mendalam kepada Allah SWT. Bagi kami, air adalah sumber kehidupan utama sekaligus lambang kesuburan tanah. Alhamdulillah, atas kuasa-Nya, ketiga sendang purba di wilayah kami ini tetap mengalir deras dan jernih, bahkan mampu menghidupi warga walau diterpa kemarau panjang yang melanda DIY belakangan ini,” ujar Utoyo di sela-sela prosesi kenduri.

Urgensi penyelamatan mata air di wilayah Moyudan ini dinilai memiliki dampak sosiologis yang sangat luas. Carik Sumbersari, Junaidi, memaparkan bahwa aliran air dari ketiga sendang ini tidak hanya dimanfaatkan oleh masyarakat Sleman, melainkan juga mengalir ke hilir dan menghidupi lahan-lahan pertanian serta konsumsi domestik warga di wilayah Kabupaten Kulon Progo yang berbatasan langsung dengan Sungai Progo.

“Pemerintah Kalurahan Sumbersari memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada warga Nglahar atas konsistensi merawat tradisi ini. Upacara adat ini bukan sekadar agenda seremonial atau tontonan wisata tahunan semata. Ada pesan draf ekologis yang sangat penting dan mendasar di sini, yaitu perintah untuk terus menjaga kebersihan saluran air dan menjaga kelestarian lingkungan sendang demi anak cucu kita di masa mendatang. Dari siwur ke kendhi, dari sendang ke panggung, warga Nglahar telah mengajarkan draf nyata bahwa menjaga kelangsungan air berarti menjaga peradaban kehidupan itu sendiri,” kata Junaidi memungkasi penjelasannya. (Giek/KIM Moyudan)