Peran Keluarga dan Sekolah Jadi Kunci Cegah Penyalahgunaan Zat Adiktif pada Remaja

Sleman – Penanganan penyalahgunaan zat adiktif pada anak dan remaja merupakan upaya strategis untuk melindungi generasi muda dari berbagai pengaruh negatif yang berpotensi mengganggu perkembangan dan masa depan mereka. Hal tersebut disampaikan oleh pendiri Jogja Care House, Bro Eko Prasetyo, saat menjadi narasumber dalam Seminar Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) 2026 yang diselenggarakan oleh Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Sleman di Gedung Dekranasda Kabupaten Sleman, Rabu (24/6/2026).

Dalam paparan materinya, Bro Eko menegaskan bahwa anak dan remaja merupakan kelompok yang rentan terpapar berbagai zat adiktif, baik narkotika, alkohol, rokok, maupun zat-zat lain yang dapat menimbulkan ketergantungan. Oleh karena itu, diperlukan perhatian serius dari keluarga, sekolah, masyarakat, dan pemerintah untuk melakukan pencegahan sejak dini.

“Penyalahgunaan zat adiktif tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, namun juga memengaruhi kesehatan mental, perkembangan sosial, kemampuan belajar, serta kualitas hubungan anak dengan keluarga dan lingkungannya. Dampak tersebut bahkan dapat berlangsung dalam jangka panjang apabila tidak segera ditangani,” jelasnya.

Bro Eko mengungkapkan bahwa proses kecanduan atau adiksi sering kali berawal dari rasa ingin tahu, tekanan lingkungan pergaulan, hingga keinginan untuk mencari pelarian dari berbagai persoalan yang dihadapi remaja. Karena itu, pendekatan yang dilakukan tidak cukup hanya melalui larangan atau hukuman semata.

Ia menekankan pentingnya membangun komunikasi yang sehat antara orang tua dan anak agar setiap persoalan yang dihadapi remaja dapat didiskusikan secara terbuka. Lingkungan keluarga yang hangat dan suportif dinilai menjadi benteng pertama dalam mencegah penyalahgunaan zat adiktif.

Akibat mengonsumsi narkoba dapat memicu beragam kenakalan remaja antara lain kejahatan jalanan, vandalisme, tawuran, bullying, akses internet ilegal, judi online, pergaulan bebas, dan tindakan kekerasan lainnya.

“Selain keluarga, sekolah memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi mengenai bahaya zat adiktif. Pendidikan yang berkelanjutan dan sesuai dengan perkembangan usia anak diyakini mampu meningkatkan kesadaran sekaligus membangun ketahanan diri terhadap berbagai pengaruh negatif,” tandasnya.

Lebih lanjut, Bro Eko menegaskan bahwa anak dan remaja yang telah mengalami ketergantungan terhadap zat adiktif membutuhkan penanganan yang komprehensif dan berkelanjutan. Menurutnya, layanan rehabilitasi, konseling, serta dukungan psikososial menjadi komponen penting dalam proses pemulihan agar mereka dapat kembali berfungsi secara optimal dan menjalani kehidupan yang sehat serta produktif.

“Oleh karena itu, pemahaman mengenai adiksi, rehabilitasi, dan pendampingan konseling perlu terus diperkuat sebagai bagian integral dari upaya penanggulangan penyalahgunaan narkoba,” tegasnya.

Menurut Bro Eko, stigma negatif terhadap korban penyalahgunaan zat adiktif justru dapat memperburuk kondisi mereka. Masyarakat perlu memahami bahwa proses pemulihan membutuhkan dukungan dan penerimaan sehingga individu yang sedang berjuang untuk sembuh tidak merasa dikucilkan.

Melalui seminar HANI 2026 ini, Bro Eko berharap seluruh elemen masyarakat semakin peduli terhadap persoalan zat adiktif pada anak dan remaja. Dengan kolaborasi yang kuat antara keluarga, sekolah, komunitas, dan pemerintah, diharapkan dapat terwujud generasi muda Sleman yang sehat, berdaya, dan terbebas dari ancaman penyalahgunaan zat adiktif. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Promosi Kesehatan Jiwa dan P3LP Perkuat Ketahanan Masyarakat dari Ancaman Narkoba

Sleman – Promosi kesehatan jiwa dan Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP) memiliki peran strategis dalam membangun ketahanan individu maupun masyarakat terhadap berbagai persoalan kesehatan mental, termasuk risiko penyalahgunaan narkotika. Hal tersebut disampaikan Psikolog Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Jefri Reza Pahlevi, dalam Seminar Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) Tahun 2026 di Gedung Dekranasda Kabupaten Sleman, Rabu (24/6/2026).

Dalam paparannya, Jefri menjelaskan bahwa kesehatan jiwa merupakan kondisi ketika seseorang mampu mengenali potensi dirinya, mengelola tekanan hidup secara sehat, bekerja secara produktif, serta berkontribusi bagi lingkungan sekitarnya. Karena itu, promosi kesehatan jiwa perlu dilakukan secara berkelanjutan agar masyarakat memiliki kemampuan menghadapi berbagai tantangan kehidupan.

Menurutnya, gangguan kesehatan mental yang tidak ditangani dengan baik dapat berdampak pada berbagai aspek kehidupan, mulai dari menurunnya kualitas hubungan sosial dan produktivitas hingga munculnya perilaku berisiko, termasuk bunuh diri.

“Salah satu faktor yang perlu diwaspadai adalah kecenderungan sebagian individu mencari pelarian melalui penggunaan zat adiktif ketika menghadapi tekanan psikologis yang berat,” ujarnya.

Jefri menegaskan bahwa upaya meningkatkan kesehatan jiwa bukan hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Keluarga, sekolah, organisasi kemasyarakatan, tokoh agama, hingga komunitas pemuda memiliki peran penting dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental.

Ia menjelaskan, promosi kesehatan jiwa dapat dilakukan melalui kampanye pengasuhan positif sebagai bekal bagi orang tua dalam menciptakan lingkungan keluarga yang sehat secara psikologis. Kampanye tersebut dapat dilaksanakan melalui sosialisasi oleh kader dan tenaga kesehatan di Posyandu maupun Puskesmas, pemanfaatan media sosial dan influencer, layanan WhatsApp chatbot, serta Massive Open Online Course (MOOC) atau pelatihan kesehatan daring mandiri yang dikembangkan oleh Kementerian Kesehatan.

“Enam pesan utama yang perlu disampaikan dalam kampanye kesehatan jiwa meliputi pengelolaan stres, pengelolaan emosi, pembagian peran orang tua, komunikasi yang efektif, bersikap baik, serta penerapan disiplin positif,” jelasnya.

Selain promosi kesehatan jiwa, Jefri juga menekankan pentingnya pemahaman mengenai Pertolongan Pertama pada Luka Psikologis (P3LP). Menurutnya, kemampuan memberikan dukungan awal kepada seseorang yang sedang mengalami tekanan emosional dapat membantu mencegah kondisi psikologis menjadi lebih berat.

Program P3LP menyasar berbagai kelompok masyarakat sesuai dengan lingkungannya, seperti guru dan teman sebaya di sekolah, dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa di perguruan tinggi, pengelola kepegawaian serta rekan kerja di tempat kerja, hingga kader dan tokoh masyarakat di tingkat komunitas.

Jefri menjelaskan bahwa P3LP memiliki tiga prinsip utama, yaitu memperhatikan, mendengarkan, dan menghubungkan. Memperhatikan berarti mengenali seseorang yang sedang mengalami tekanan emosional, stres, atau krisis psikologis melalui pengamatan yang peka dan penuh empati. Selanjutnya, mendengarkan dilakukan dengan memberikan ruang bagi individu untuk menyampaikan perasaan dan pengalamannya tanpa dihakimi sehingga mereka merasa diterima dan tidak menghadapi persoalannya sendirian.

Adapun prinsip menghubungkan berarti membantu individu memperoleh dukungan yang dibutuhkan, baik dari keluarga, teman, komunitas, maupun layanan profesional seperti psikolog dan tenaga kesehatan. Menurutnya, ketiga prinsip tersebut merupakan bentuk bantuan awal yang sederhana, tetapi sangat penting untuk mencegah memburuknya kondisi psikologis seseorang.

“P3LP merupakan bentuk bantuan awal yang diberikan kepada individu yang sedang mengalami peristiwa sulit, tekanan emosional, atau kondisi yang memicu stres. Tujuannya bukan untuk mengobati, melainkan memberikan rasa aman, dukungan, serta membantu seseorang mendapatkan pertolongan yang tepat,” jelasnya.

Dalam konteks pencegahan penyalahgunaan narkotika, Jefri menilai kesehatan mental yang baik merupakan salah satu faktor protektif yang kuat. Individu yang mampu mengelola emosi, menyelesaikan masalah, serta memiliki dukungan sosial yang memadai akan lebih mampu menghadapi tekanan dan menolak berbagai pengaruh negatif, termasuk ajakan untuk menggunakan narkotika. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Siswa MAN 4 Sleman Tembus Gerbang Riset Nasional! Tim BioNexus Siap Berkompetisi di B-BRAVE BRIN 2026

Sleman – Kabar membanggakan datang dari MAN 4 Sleman. Tim riset andalan madrasah, BioNexus, berhasil lolos seleksi administrasi Program Bootcamp dan Kompetisi Riset dan Inovasi (B-BRAVE) 2026 yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).

Keberhasilan ini menjadi langkah awal bagi tiga anggota tim, yakni Rizky Akbar Maulana, Rezyka Nur Safitri, dan Faqih Achmad Pramudyanta, untuk melaju ke Tahap Acquisition. Mereka resmi menjadi bagian dari ratusan tim terbaik tingkat SMA, MA, dan SMK dari seluruh Indonesia yang akan mengikuti pembekalan intensif sebelum memasuki tahapan kompetisi berikutnya.

Kelolosan tersebut diumumkan melalui Surat Direktorat Manajemen Talenta BRIN Nomor B-5446/ yang diterbitkan pada 23 Juni 2026. Hasil tersebut menjadi pengakuan atas kualitas proposal riset yang diajukan Tim BioNexus.

Tahap Acquisition akan dilaksanakan secara daring pada 29 Juni hingga 1 Juli 2026. Pada tahap ini, para peserta akan mendapatkan pembinaan langsung dari para peneliti BRIN untuk mempertajam ide riset, menyempurnakan metodologi, serta mengembangkan inovasi yang mampu menjawab berbagai persoalan di masyarakat. Tahapan ini menjadi fondasi penting dalam mengubah gagasan menjadi solusi yang aplikatif dan berdampak.

Kepala MAN 4 Sleman, Ahmad Arif Makruf, mengungkapkan rasa syukur dan bangganya atas capaian tersebut. Menurutnya, prestasi ini membuktikan bahwa siswa madrasah mampu bersaing di tingkat nasional melalui karya riset yang berkualitas.

“Alhamdulillah, ini merupakan kebanggaan bagi kami sekaligus menjadi penyemangat untuk terus meningkatkan budaya riset di madrasah. Saya yakin anak-anak kami memiliki kualitas, integritas, dan kreativitas yang tinggi. Semoga melalui ajang ini mereka dapat membuktikan bahwa inovasi dapat lahir dari mana saja, termasuk dari madrasah,” ujarnya, Kamis (25/6/2026).

Arif menambahkan, budaya riset telah menjadi salah satu pilar utama pengembangan MAN 4 Sleman. Menurutnya, kemampuan berpikir kritis, berkolaborasi, dan menghasilkan solusi inovatif merupakan bekal penting yang harus dimiliki generasi muda dalam menghadapi tantangan global.

“Kami tidak ingin siswa hanya menguasai teori. Mereka harus tumbuh menjadi generasi yang mampu memberikan solusi melalui karya nyata. Kompetisi seperti B-BRAVE menjadi ruang belajar sekaligus laboratorium kehidupan bagi mereka,” tandasnya.

Keberhasilan Tim BioNexus menembus Tahap Acquisition tidak hanya menjadi prestasi bagi madrasah, tetapi juga mempertegas komitmen MAN 4 Sleman dalam membangun ekosistem riset yang kuat. Pengalaman mengikuti B-BRAVE diharapkan dapat memperluas wawasan, meningkatkan jejaring akademik, serta memotivasi siswa lain untuk terus berkarya dan berinovasi.

Wakil Kepala Madrasah Bidang Kesiswaan, Nuke Koesrini, turut menyampaikan apresiasi atas pencapaian tersebut.

“Selamat kepada Tim BioNexus. Semoga langkah kalian di Tahap Acquisition menjadi awal dari prestasi yang lebih gemilang di tingkat nasional serta menginspirasi siswa-siswa lain untuk terus berprestasi dalam bidang riset dan inovasi,” tuturnya. (Edy – KIM Sumber Biwara Moyudan)




Pentingnya Peran BNN Kabupaten Sleman dalam Wujudkan ANANDA Bersinar

Sleman – Peran aktif Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Sleman menjadi salah satu kunci penting dalam mewujudkan program ANANDA Bersinar (Aksi Nasional Anti Narkotika Dimulai dari Anak Bersih Narkoba) sebagai upaya membangun generasi muda yang sehat, produktif, dan berdaya saing. Hal tersebut disampaikan Kepala BNN Kabupaten Sleman, Kombes Pol. Teguh Tri Prasetya, saat menjadi narasumber dalam Seminar Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) Tahun 2026 di Gedung Dekranasda Kabupaten Sleman, Rabu (24/6/2026) yang diselenggarakan Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Kabupaten Sleman.

Dalam paparannya, Kombes Teguh menegaskan bahwa ancaman penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika masih menjadi tantangan serius yang harus dihadapi bersama. Menurutnya, kelompok usia anak dan remaja merupakan sasaran yang rentan terhadap berbagai pengaruh negatif, sehingga membutuhkan perlindungan dan pendampingan dari seluruh elemen masyarakat.

Ia menjelaskan bahwa program ANANDA Bersinar hadir sebagai gerakan preventif yang bertujuan membangun ketahanan diri anak sejak dini terhadap bahaya narkoba. Melalui program tersebut, BNN Kabupaten Sleman terus mendorong terciptanya lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat yang mampu menjadi benteng utama dalam melindungi generasi muda dari penyalahgunaan narkotika.

“Program ini sesuai dengan Asta Cita ke-7 dari program prioritas Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat reformasi politik, hukum, dan birokrasi, serta memperkuat pencegahandan pemberantasan korupsi dan narkoba,” tandas Kombes Teguh.

Ia menyampaikan bahwa peran BNN Kabupaten Sleman tidak hanya terbatas pada aspek penindakan, tetapi juga mencakup edukasi, pencegahan, pemberdayaan masyarakat, serta rehabilitasi bagi korban penyalahgunaan narkoba. Pendekatan yang komprehensif tersebut dinilai penting agar upaya pemberantasan narkoba dapat berjalan secara berkelanjutan dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat.

Disebutkan peran BNN Kabupaten Sleman antara lain menjalin kerjasama dengan pemerintah Kabupaten Sleman dan menghasilkan nota kesepakatan sinergi Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN) salah satunya dalam bentuk rencana kerja Integrasi Kurikulum Anti Narkoba (IKAN) dengan Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman, sekaligus berkoordinasi dengan SD Negeri Godean 1 sebagai pilot project IKAN.

“Sebagai aksi nyata, kami membentuk Satuan Karya Pramuka (Saka) Anti Narkoba dan penandatanganan perjanjian kerja sama P4GN dan Saka Anti Narkoba bersama Kwartir Cabang Kabupaten Sleman. Serta menjadi pembina upacara di beberapa sekolah yaitu SD Negeri Tlacap, GIS 3 Jogja, Gistrav Islamia School Jogja, SMP negeri 1 Gamping, SD Muhammadiyah Kadisoka, dan SMP Negeri 2 Mlati,” ungkap Kombes Teguh.

Menurutnya, keberhasilan mewujudkan generasi bebas narkoba tidak dapat dilakukan oleh BNN semata. Namun, dibutuhkan kolaborasi yang kuat antara pemerintah daerah, lembaga pendidikan, organisasi kepemudaan, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga keluarga sebagai lingkungan pertama dan utama bagi tumbuh kembang anak.

Dalam kesempatan tersebut, Kombes Teguh juga mengajak para peserta seminar untuk menjadi agen perubahan di lingkungan masing-masing. Sekaligus menekankan pentingnya meningkatkan literasi mengenai bahaya narkoba sekaligus memperkuat pengawasan sosial agar potensi penyalahgunaan dapat dideteksi dan dicegah sejak dini.

Seminar HANI 2026 yang diikuti berbagai unsur masyarakat, pelajar, mahasiswa, organisasi kepemudaan, perwakilan partai politik, serta pemangku kepentingan di Kabupaten Sleman tersebut menjadi wadah strategis untuk memperkuat sinergi dalam membangun kesadaran kolektif terhadap bahaya narkoba. Melalui forum ini, peserta memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai langkah-langkah pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan narkotika. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Seminar HANI 2026 Perkuat Peran Kader Muda NU dalam Pencegahan Penyalahgunaan Narkotika

Sleman – Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Sleman berkolaborasi dengan Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Sleman menggelar Seminar Hari Anti Narkotika Internasional (HANI) Tahun 2026 di Gedung Dekranasda Kabupaten Sleman, Rabu (24/6/2026).

Kegiatan tersebut diikuti perwakilan generasi muda dari unsur partai politik dan forum organisasi kemasyarakatan atau lembaga swadaya masyarakat, termasuk kader muda Nahdlatul Ulama yang tergabung dalam Gerakan Pemuda Ansor, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU), dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU).

Menurut Kepala BNN Kabupaten Sleman, Kombes Pol. Teguh Tri Prasetya, seminar HANI 2026 menjadi bagian dari upaya memperkuat kesadaran masyarakat terhadap bahaya penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika yang hingga kini masih menjadi ancaman serius bagi generasi muda. Melalui forum edukatif ini, peserta mendapatkan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai dampak narkotika dari aspek kesehatan, sosial, ekonomi, hingga keamanan nasional.

“Seminar menjadi momentum penting untuk memperkuat komitmen bersama dalam memerangi penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika karena ancaman narkoba terus berkembang dengan berbagai modus baru yang menyasar seluruh lapisan masyarakat, terutama kalangan remaja dan generasi muda,” tandasnya.

Kombes Teguh Tri Prasetya menegaskan bahwa seminar ini memiliki nilai strategis bagi Gerakan Pemuda (GP) Ansor, IPNU, dan IPPNU karena organisasi kepemudaan dan pelajar merupakan garda terdepan dalam membangun ketahanan generasi muda. Menurutnya, kader-kader muda Nahdlatul Ulama dinilai memiliki jaringan yang luas hingga tingkat ranting dan komisariat sehingga dapat menjadi agen edukasi serta penggerak kampanye anti narkoba di lingkungan masing-masing.

Dalam kegiatan tersebut, para peserta memperoleh berbagai informasi terkait pola peredaran narkotika yang terus berkembang seiring kemajuan teknologi digital. Mereka dihimbau untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai modus baru yang memanfaatkan media sosial, platform digital, hingga pergaulan sehari-hari sebagai sarana penyebaran narkotika.

Seminar HANI 2026 juga menjadi ruang penguatan karakter bagi kader organisasi kepemudaan Nahdlatul Ulama. Melalui pemahaman yang benar mengenai bahaya narkoba, generasi penerus bangsa diharapkan mampu membangun ketahanan diri, memperkuat nilai-nilai keagamaan, serta menanamkan sikap tegas dalam menolak segala bentuk penyalahgunaan zat adiktif.

“Selain sebagai sarana edukasi, kegiatan ini menjadi wadah untuk memperkuat sinergi antara pemerintah daerah, BNN, organisasi kemasyarakatan, dan institusi pendidikan dalam mewujudkan lingkungan yang sehat dan bebas narkoba. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi kunci penting dalam menciptakan sistem pencegahan yang lebih efektif dan berkelanjutan,” tambah Kombes Teguh.

Kehadiran kader GP Ansor, IPNU, dan IPPNU dalam seminar tersebut menunjukkan komitmen organisasi badan otonom Nahdlatul Ulama dalam mendukung program pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan narkotika. Sebagai organisasi yang dekat dengan kalangan remaja dan pelajar, ketiganya memiliki peran penting dalam menyebarluaskan pesan-pesan edukatif kepada masyarakat.

Mereka juga didorong untuk memahami bahaya narkotika secara teoritis, sekaligus mampu menerjemahkannya dalam aksi nyata. Bentuk implementasi tersebut antara lain melalui penyelenggaraan sosialisasi di lingkungan sekolah, pesantren, komunitas kepemudaan, hingga kegiatan keagamaan yang melibatkan masyarakat secara luas.

Seminar Hari Anti Narkotika Internasional Tahun 2026 di Kabupaten Sleman diharapkan mampu melahirkan kader-kader muda yang memiliki kesadaran tinggi terhadap ancaman narkoba sekaligus menjadi pelopor gerakan pencegahan di tengah masyarakat. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)