Dwiyanto, Penjaga Napas Anyaman Mendong dari Plembon

Sleman – Padukuhan Plembon di Kalurahan Sendangsari, Kapanewon Minggir dikenal sebagai sentra pengrajin mendong yang hasil anyamannya telah menembus berbagai daerah di Indonesia. Di balik geliat kerajinan itu, ada sosok Dwiyanto, seorang dukuh yang hingga kini setia menjaga denyut kehidupan anyaman mendong.

Di rumah yang luas sekaligus menjadi sentra kerajinan, Dwiyanto masih tekun menerima pesanan, mengawasi proses produksi, hingga sesekali melatih warga membuat anyaman. Usianya kini 58 tahun, namun semangatnya menjaga warisan budaya lokal belum surut.

“Kerajinan mendong ini bukan sekadar pekerjaan, tapi sudah menjadi bagian hidup masyarakat Plembon,” ujar Dwiyanto sambil menunjukkan beberapa produk anyaman hasil karya para pengrajin.

Perjalanan hidup Dwiyanto sebenarnya tidak langsung membawanya menjadi pengrajin mendong. Alumni ABA Yogyakarta jurusan Bahasa Inggris ini pernah bekerja sebagai pengrajin perak sebelum merantau ke Jakarta dan berkarier di bidang retail perusahaan asing. Namun panggilan kampung halaman membuatnya kembali ke Yogyakarta.

Tahun 2009 menjadi titik balik hidupnya. Dwiyanto mulai serius menekuni anyaman mendong, potensi lokal yang sejak lama telah ditekuni masyarakat Plembon. Menurutnya, tantangan terbesar saat itu bukan pada keterampilan membuat anyaman, melainkan bagaimana mengembangkan desain dan membuka pasar yang lebih luas.

Pengalaman kerja yang dimilikinya membuat Dwiyanto piawai membaca peluang. Ia mulai memproduksi sajadah mendong yang kemudian menjadi produk unggulan. Pesanan datang dalam jumlah besar, termasuk dari Kementerian Agama untuk kebutuhan musim haji.

“Waktu itu ribuan sajadah dipesan. Dari situ mendong mulai dikenal luas sebagai produk yang unik dan fungsional,” kenangnya.

Tak hanya sajadah, berbagai produk lain seperti dompet, tas, alas gelas, alas piring, hingga sandal mendong mulai diminati pasar. Produk-produk tersebut tidak hanya dipasarkan di Yogyakarta, tetapi juga menghiasi pusat oleh-oleh dan kerajinan di Bali.

Seiring meningkatnya permintaan, Dwiyanto menggandeng sekitar 20 pengrajin dan penjahit untuk memenuhi berbagai pesanan. Ia juga mulai menerima permintaan produk berbahan selain mendong seperti enceng gondok, daun pandan, dan pelepah pisang.

Sebagai pelaku UMKM, Dwiyanto turut mendapatkan dukungan dari pemerintah. Penguatan modal pernah diterimanya dari Disperindag Sleman dan Dinas KB Sleman, sementara budidaya tanaman mendong mendapat pendampingan dari Dinas Pertanian.

Kemampuan dan pengalamannya membuat Dwiyanto kerap dipercaya menjadi narasumber pelatihan anyaman di berbagai kota di Indonesia. Bahkan pada tahun 2017, ia diundang menjadi narasumber pelatihan di Papua.

“Kalau bicara mendong, saya sudah merasakan jatuh bangunnya,” katanya pelan.

Pandemi Covid-19 menjadi masa paling berat bagi usahanya. Pembatasan aktivitas membuat pesanan menurun drastis. Banyak mitra berhenti memesan, bahkan sebagian pengrajin memilih beralih profesi.

Meski demikian, Dwiyanto tetap bertahan. Hingga kini ia masih menerima pesanan rutin sandal hotel, walau jumlahnya belum kembali seperti sebelum pandemi.

“Yang penting saya tetap jalan. Saya ingin kerajinan mendong ini tetap ada,” ucapnya.

Namun di balik keteguhannya, tersimpan kegelisahan yang belum terjawab. Menurut Dwiyanto, minat generasi muda terhadap kerajinan mendong semakin berkurang. Padahal, ia mengaku siap menularkan ilmu dan pengalamannya kepada siapa saja yang ingin belajar.

“Saya khawatir suatu saat mendong benar-benar hilang dari Plembon karena tidak ada yang meneruskan. Saya hanya ingin ada anak muda mau meneruskan kerajinan ini,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




PSEL Dinilai Menjadi Solusi Pengelolaan Sampah Pascapenutupan TPA Piyungan

Sleman – Salah satu solusi yang ditawarkan dalam pengelolaan sampah ialah metode PSEL atau pengolahan sampah menjadi energi listrik. Hal itu disampaikan dosen Fakultas Teknik Lingkungan UII Yogyakarta, Fajri Mulya Iresha saat menjadi narasumber dalam pertemuan JPSM Sehati Kabupaten Sleman di Aula Anglocita, Kapanewon Depok, Sleman, Selasa (23/6/2026).

“Nantinya energi listrik yang dihasilkan akan dipasok ke PLN. Ini merupakan solusi pengelolaan sampah yang lebih aman sekaligus memberikan manfaat berupa penyediaan energi,” ujarnya.

Fajri menjelaskan bahwa teknologi PSEL telah banyak diterapkan di negara-negara maju sebagai alternatif pengelolaan sampah yang dinilai lebih efektif. Menurutnya, sistem tersebut tidak memerlukan proses pemilahan sampah yang rumit.

Sampah hanya dipisahkan menjadi dua kategori, yakni sampah yang masih berpotensi untuk didaur ulang dan sampah yang akan diolah menjadi energi listrik.

Ia menambahkan, program PSEL yang ditawarkan untuk dibiayai oleh Danantara dirancang memiliki kapasitas pengolahan hingga ton sampah per hari. Pasokan sampah akan berasal dari wilayah Kartamantul dengan komposisi 450 ton per hari dari Kabupaten Sleman, 300 ton dari Kota Yogyakarta, dan 250 ton dari Kabupaten Bantul.

“Seharusnya kapasitas ton sampah per hari dapat dipenuhi oleh ketiga wilayah tersebut,” ungkapnya.

Saat ini, Kabupaten Sleman menghasilkan sekitar 600 ton sampah setiap hari. Dengan dibangunnya fasilitas PSEL, diharapkan pengelolaan sampah menjadi lebih mudah sekaligus mampu menghasilkan pasokan energi listrik yang lebih stabil.

Meski demikian, realisasi pembangunan PSEL diperkirakan baru dapat terwujud pada 2028 sesuai kebijakan Danantara.

“Penawaran PSEL merupakan solusi yang efektif untuk pengelolaan sampah di masa depan,” pungkas Fajri. (Kusnadi KIM Berbah)




15 Pasang Calon Pengantin Ikuti Bimwin Kesehatan Reproduksi KUA Depok

Sleman – Sebanyak 15 pasang calon pengantin mengikuti bimbingan perkawinan (Bimwin) dengan materi kesehatan reproduksi di Aula Kantor Urusan Agama (KUA) Kapanewon Depok, Rabu (24/6/2026).

Kegiatan ini bertujuan membekali calon pengantin dengan pemahaman kesehatan sebagai persiapan membangun keluarga yang sehat dan berkualitas.

Anggota Badan Penasihatan, Pembinaan, dan Pelestarian Perkawinan (BP4) KUA Depok, Sussi Sulistyaningsih, mengatakan bahwa kesehatan reproduksi merupakan salah satu aspek penting yang perlu dipahami oleh calon pengantin sebelum memasuki kehidupan berumah tangga.

“Kesehatan reproduksi menjadi bagian penting dalam perencanaan keluarga, menjaga kesehatan pasangan, serta mendukung terwujudnya keluarga yang sehat dan sejahtera,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, peserta memperoleh materi mengenai kesehatan reproduksi, kesiapan kesehatan sebelum menikah, perencanaan kehamilan, serta upaya menjaga kesehatan ibu dan anak. Materi diberikan sebagai bekal bagi pasangan untuk menghadapi kehidupan keluarga secara lebih matang dan bertanggung jawab.

Ia menjelaskan, pemahaman yang baik mengenai kesehatan reproduksi dapat membantu pasangan mengambil keputusan yang tepat terkait kesehatan keluarga serta mencegah berbagai risiko yang dapat memengaruhi kualitas kehidupan rumah tangga.

Bimbingan perkawinan merupakan program pembinaan yang rutin diselenggarakan KUA sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesiapan calon pengantin dari aspek keagamaan, sosial, psikologis, dan kesehatan.

Melalui kegiatan ini, calon pengantin diharapkan memiliki pengetahuan dan kesiapan yang lebih baik dalam membangun keluarga yang harmonis, sehat, dan berketahanan. (Athiful/KIM Depok)




MUI Depok Perkuat Sinergi Publikasi dengan Kedaulatan Rakyat

Sleman – Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, melakukan audiensi dengan Surat Kabar Harian (SKH) Kedaulatan Rakyat di Aula KR, Rabu (24/6/2026), guna memperkuat sinergi publikasi kegiatan dan penyebarluasan informasi kepada masyarakat.

Ketua MUI Depok, Sunhaji mengatakan bahwa Kedaulatan Rakyat merupakan media massa berbasis di Yogyakarta yang memiliki sejarah panjang sebagai salah satu surat kabar harian tertua di Indonesia yang masih beroperasi. Menurutnya, media memiliki peran penting dalam menjembatani informasi antara lembaga dan masyarakat.

“Kami berharap terjalin sinergi yang baik antara MUI Depok dan Kedaulatan Rakyat. Melalui kerja sama publikasi ini, berbagai program dan kegiatan MUI dapat diketahui masyarakat secara lebih luas sehingga nilai-nilai positif yang kami bangun dapat memberikan manfaat yang lebih besar,” ujarnya.

Ia menjelaskan, MUI Depok selama ini aktif melaksanakan berbagai kegiatan pembinaan umat, pendidikan keagamaan, serta kegiatan sosial kemasyarakatan yang perlu didukung dengan publikasi yang memadai agar informasi dapat diterima masyarakat secara tepat dan berimbang.

Audiensi tersebut juga membahas peluang kerja sama publikasi berbagai kegiatan MUI Depok, termasuk agenda keagamaan, penguatan moderasi beragama, pemberdayaan umat, dan kegiatan sosial yang mendukung pembangunan masyarakat.

Pemimpin Redaksi KR, Octo Lampito menyambut baik inisiatif MUI Depok dalam membangun kemitraan dengan media massa. Menurutnya, kolaborasi antara lembaga keagamaan dan media memiliki peran strategis dalam menghadirkan informasi yang edukatif dan bermanfaat bagi publik.

“Kami menyambut baik upaya MUI Depok untuk membangun komunikasi dan sinergi dengan media. Kedaulatan Rakyat siap menjadi mitra dalam menyebarluaskan informasi yang memberikan dampak positif, mencerdaskan masyarakat, dan memperkuat nilai-nilai kebangsaan serta kehidupan sosial yang harmonis,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Octo didampingi wartawan KR Surya Adi Lesmana. Pertemuan berlangsung dalam suasana hangat dan konstruktif dengan semangat membangun kolaborasi yang berkelanjutan.

Melalui penguatan sinergi antara MUI dan media massa, diharapkan informasi mengenai program keagamaan dan kemasyarakatan dapat tersampaikan secara lebih efektif, meningkatkan literasi publik, serta mendukung terwujudnya masyarakat yang religius, harmonis, dan berdaya. (Athiful/KIM Depok)




Percasi Sleman Gelar Kejurkab Catur 2026, Jadi Ajang Seleksi PORDA DIY

Sleman – Persatuan Catur Seluruh Indonesia (Percasi) Kabupaten Sleman akan menyelenggarakan Kejuaraan Kabupaten (Kejurkab) Catur Sleman Tahun 2026 pada 27–28 Juni 2026, di Aula Bappeda Kabupaten Sleman.

Mengusung tema “Mengasah Strategi, Mencetak Master Masa Depan”, kejurkab ini menjadi ajang pencarian bibit unggul pecatur di Kabupaten Sleman, sekaligus sebagai bagian dari seleksi atlet untuk menghadapi Pekan Olahraga Daerah (PORDA) DIY Tahun 2027 di Kulonprogo.

Ketua Percasi Sleman, Nuradi Indrawijaya menyampaikan harapannya agar melalui kejuaraan ini dapat muncul pecatur-pecatur muda berbakat dari Kabupaten Sleman.

“Dengan pertandingan catur kali ini diharapkan akan muncul bibit unggul baru dari Kabupaten Sleman. Junjung sportivitas, raih prestasi terbaik untuk Percasi Sleman,” ujarnya saat rapat pemantapan Panitia Penyelenggara (Panpel) Kejurkab Catur Sleman 2026 di Warung Makan Dolan Sabin, Sumber Rahayu, Moyudan, Selasa (23/6/2026).

Ketua Panpel Kejurkab Catur Sleman 2026, Ahmad Marlan menyampaikan terima kasih atas kerja sama seluruh divisi panitia yang terus bergerak sesuai bidang masing-masing. Menurutnya, kekompakan antarbidang menjadi kunci kesiapan pelaksanaan kegiatan.

“Dari laporan masing-masing bidang terlihat kerja sama yang baik. Kejurkab akan berjalan sesuai rencana, meskipun masih ada beberapa hal yang perlu dimatangkan. Masih ada waktu beberapa hari untuk penyempurnaan,” ujarnya.

Sementara itu, Sekretaris Percasi Sleman, Achmadridlo, menjelaskan bahwa jumlah peserta ditargetkan lebih dari 100 orang yang terbagi dalam beberapa kategori.

Kategori junior meliputi A (18–19 tahun), B (16–17 tahun), C (14–15 tahun), D (12–13 tahun), E (10–11 tahun), F (8–9 tahun), dan G (2–7 tahun), masing-masing untuk putra dan putri. Sementara kategori senior untuk usia 20–54 tahun dan kategori veteran untuk usia di atas 55 tahun.

Untuk kategori junior A–G, pemenang peringkat 1, 2, dan 3 akan mendapatkan trofi, piagam, dan uang pembinaan. Juara harapan 1 dan 2 akan memperoleh piagam dan voucher. Sementara kategori senior, juara 1–3 mendapatkan trofi dan uang pembinaan, serta peringkat 4–10 memperoleh uang pembinaan. Untuk kategori veteran, juara 1–3 juga mendapatkan uang pembinaan.

“Pemain bidak putih wajib menyiapkan papan catur dan jam catur standar. Pertandingan menggunakan sistem catur klasik dengan waktu 30 menit + 30 menit,” jelas Achmadridlo.

Pendaftaran peserta dibuka hingga 25 Juni 2026, sementara technical meeting akan dilaksanakan pada Jumat, 26 Juni 2026 pukul – WIB di Aula Bappeda Sleman. (Kusnadi KIM Berbah)