KIM Kertomandiri Turi Sleman Siapkan Strategi Branding di Media Sosial

Sleman – Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Kertomandiri Kapanewon Turi bergerak memperkuat manajemen komunikasi publik dan digitalisasi pemasaran. Langkah penguatan kelembagaan ini dikemas melalui agenda pertemuan rutin dan arisan bulanan anggota yang dipusatkan di kediaman Supriyati, Projayan, Kalurahan Wonokerto, Kapanewon Turi, Kabupaten Sleman, pada Minggu (21/6/2026). Forum berkala ini dihadiri oleh puluhan pengurus KIM, jajaran pengelola koperasi, serta para pelaku UMKM lokal setempat.

Fokus utama dari peristiwa ini menyoroti akselerasi program branding multimedia dan persiapan teknis KIM Kertomandiri dalam mempertahankan supremasi prestasi di tingkat daerah. Menghadapi kompetisi literasi digital tahun 2026 yang digulirkan oleh pemerintah daerah, lembaga informasi berbasis komunitas ini mengoptimalkan pemanfaatan platform video seperti vlog dan YouTube. Langkah penyebaran konten kreatif tersebut tidak hanya ditargetkan untuk memenangkan perlombaan, melainkan diposisikan sebagai katalisator utama untuk mendongkrak visibilitas produk UMKM Turi agar mampu menembus pasar nasional.

Ketua KIM UMKM Kertomandiri, Bakir, menegaskan bahwa soliditas internal organisasi adalah modal dasar yang paling berharga dalam mengawal roda ekonomi kreatif di kawasan lereng Gunung Merapi tersebut. Ia meminta seluruh anggota untuk meningkatkan kedisiplinan dan peran aktifnya dalam setiap lini program kerja yang telah disepakati bersama.

“Terima kasih kepada seluruh anggota yang tetap aktif mengikuti kegiatan KIM. Semoga kebersamaan ini semakin memperkuat organisasi dan memberikan manfaat bagi masyarakat serta pelaku UMKM di Turi. Insyaallah tahun ini kita kembali mengikuti lomba video. Sebagai juara bertahan, kita harus mempersiapkan diri lebih baik lagi agar mampu meraih hasil maksimal,” ujar Bakir saat memberikan pengarahan di hadapan para anggota.

Rencana strategis organisasi ini kian mendesak setelah Sekretaris KIM Kertomandiri Turi, Suharno, mengumumkan bahwa wilayahnya telah resmi ditunjuk oleh instansi terkait untuk menjadi tuan rumah Pertemuan Akbar KIM se-Kabupaten Sleman pada September 2026 mendatang. Momentum prestisius ini wajib dimanfaatkan sebagai etalase hidup untuk memamerkan produk olahan rakyat dan keunggulan pengelolaan data informasi mandiri yang selama ini dikelola warga Turi.

“Kita harus mempersiapkan diri dengan baik karena KIM Kertomandiri akan menjadi tuan rumah pertemuan KIM se-Sleman. Ini kesempatan untuk menunjukkan potensi dan kegiatan yang selama ini telah berjalan. Setiap kegiatan yang dilakukan bisa dipublikasikan melalui website. Kirimkan berita beserta foto kegiatan agar masyarakat mengetahui berbagai aktivitas positif yang dilakukan KIM,” kata Suharno menekankan pentingnya fungsi jurnalistik warga.

Di sisi penguatan permodalan, Ketua Koperasi KIM Kertomandiri, Winarta, melaporkan bahwa unit usaha simpan pinjam yang dikelolanya kini berjalan sangat sehat dan akuntabel. Berdasarkan draf pembukuan keuangan terbaru yang dirilis oleh bendahara organisasi, Sugiyono, nilai total transaksi simpan pinjam koperasi komunal ini telah menembus angka Rp , sebuah capaian signifikan untuk skala pembiayaan mikro pedesaan.

“Tujuan koperasi adalah memperkuat kegiatan ekonomi anggota. Pengelolaan simpan pinjam harus dilakukan secara tertib agar manfaatnya dapat dirasakan bersama dan mendukung usaha produktif anggota,” jelas Winarta menjabarkan tata kelola dana operasional anggotanya.

Selain membahas proyeksi korporasi, forum warga ini juga merespons secara kolektif tantangan anomali iklim berupa cuaca panas ekstrem yang melanda Kabupaten Sleman dalam beberapa pekan terakhir. Guna mengantisipasi gagal panen komoditas perkebunan, para anggota yang mayoritas bermata pencaharian sebagai petani salak dan hortikultura diimbau segera melakukan penyesuaian pola tanam serta memodifikasi teknik penyiraman secara berkala. Sebagai langkah awal penyambutan delegasi kabupaten pada September nanti, pertemuan diakhiri dengan kesepakatan pengadaan seragam baru organisasi dan penegasan komitmen wajib hadir berkumpul setiap tanggal 20. (Arief Hartanto / KIM Kertomandiri Turi)




Bentuk Karakter dan Kedisiplinan Anak, Olahraga Panahan di Sleman Kian Diminati

Sleman – Olahraga panahan kini kian digandrungi oleh generasi muda, khususnya anak-anak usia Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Sleman. Pemandangan puluhan atlet cilik yang tengah serius membidik papan target menjadi pemandangan harian di Lapangan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman. Meskipun tidak melibatkan kontak fisik atau pergerakan dinamis sekencang sepak bola dan bola voli, olahraga ketangkasan ini terbukti menyimpan manfaat besar bagi kesehatan fisik sekaligus menjadi laboratorium pembentukan karakter anak, seperti yang terlihat pada sesi latihan Minggu (21/6/2026).

Fokus dari peristiwa ini menyoroti tren positif pemanfaatan olahraga panahan sebagai media terapi psikologis untuk melatih fokus dan mengendalikan emosi anak di tengah gempuran distrasi digital. Menembakkan anak panah secara akurat menuntut keselarasan antara kekuatan biologis dan ketenangan mental. Melalui ritme latihan yang repetitif, anak-anak secara tidak langsung ditempa untuk menjadi pribadi yang penyabar, disiplin, tidak grusa-grusu, serta memiliki tanggung jawab penuh terhadap setiap keputusan yang mereka ambil.

Pelatih panahan dari Godean Archery Club (GAC), Herman, menjelaskan bahwa klubnya yang telah resmi berbadan hukum dan terdaftar di SK PERPANI Sleman ini berkomitmen menjadikan panahan sebagai sarana edukasi formal luar sekolah. Saat ini, ia membina sedikitnya 20 peserta didik yang terbagi dalam klaster program reguler dan intensif, di mana beberapa di antaranya telah berhasil mengukir prestasi hingga level regional.

“Panahan melatih kekuatan otot hampir seluruh tubuh, terutama tangan, bahu, punggung, dan kaki. Selain itu, anak-anak belajar fokus, mengendalikan emosi, serta membangun karakter positif melalui proses latihan yang membutuhkan kesabaran dan ketekunan,” ujar Herman saat ditemui di sela-sela memandu anak asuhnya di Lapangan Sumbersari.

Herman menambahkan, dampak dari latihan ini tidak hanya berhenti di area lapangan saja. Berdasarkan testimoni berkala dari para orang tua murid, anak-anak yang semula memiliki masalah hiperaktif, sulit berkonsentrasi saat belajar, atau cenderung bertindak semaunya sendiri, perlahan-lahan bertransformasi menjadi lebih tenang, tertib, dan mudah diarahkan dalam aktivitas harian di rumah.

“Banyak orang tua menyampaikan bahwa anak-anak mereka menjadi lebih fokus dan terarah dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Minggu depan beberapa anak usia SMP akan mengikuti kompetisi tingkat provinsi. Saat ini mereka sedang fokus mempersiapkan diri dan berlatih dengan semangat yang tinggi,” kata Herman menambahkan.

Terkait akomodasi, GAC menerapkan sistem pengelolaan yang inklusif dan merakyat. Pada tahap awal, calon atlet tidak dibebani biaya pembelian alat yang mahal karena seluruh busur dan anak panah disediakan oleh klub. Iuran operasional bulanan yang ditarik dari anggota dialokasikan secara transparan, salah satunya untuk biaya perawatan berkala dan penggantian bantalan target yang cepat rusak seiring meningkatnya akurasi lesatan anak panah para atlet.

Menariknya, Herman memaparkan bahwa esensi dari ketepatan memanah tidak melulu bersandar pada kemewahan perangkat tambahan seperti teleskop bidik (scope). Banyak anak didiknya yang justru memilih mengasah ketajaman insting alami, kepekaan arah angin, dan ketelitian mata telanjang. Baginya, melihat anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan memiliki daya juang tinggi melalui olahraga ini adalah sebuah pencapaian yang jauh lebih hakiki daripada sekadar koleksi medali juara. (Edy – KIM Sumber Biwara Moyudan)




Bentengi Anak dari Ketergantungan Gawai, KPOTI Sleman Gelar Festival Olahraga Tradisional Massal

Sleman – Komite Permainan dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) Kabupaten Sleman mengambil langkah nyata untuk menyelamatkan generasi muda dari dampak buruk kecanduan gawai dan permainan digital. Upaya pelestarian warisan budaya takbenda ini diwujudkan melalui penyelenggaraan Festival Egrang, Gobak Sodor, dan Bakiak secara massal. Agenda kebudayaan tersebut dipusatkan di Lapangan Pemerintah Daerah Kabupaten Sleman pada Sabtu (20/6/2026).

Fokus utama dari peristiwa ini menyoroti strategi revitalisasi permainan rakyat sebagai media pendidikan karakter dan motor penggerak keaktifan fisik anak di luar ruangan. KPOTI Sleman menilai bahwa dominasi gawai di era modern telah mengikis interaksi sosial langsung serta menurunkan kebugaran motorik anak-anak usia sekolah. Melalui kompetisi tradisional yang dikemas secara interaktif dan menyenangkan, nilai-nilai luhur kepemimpinan serta ketangkasan fisik dicoba ditanamkan kembali sejak dini.

Animo peserta dalam festival ini tergolong sangat masif, dengan melibatkan sedikitnya 306 siswa yang menjadi perwakilan resmi dari 18 Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) se-Kabupaten Sleman. Kehadiran ratusan pelajar ini mengubah atmosfer Lapangan Pemda Sleman menjadi panggung kegembiraan kolektif yang sarat dengan nilai sportivitas.

Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, Abu Bakar, mengapresiasi penuh terobosan budaya yang diinisiasi oleh KPOTI ini. Menurutnya, pemerintah daerah berkomitmen mendukung ruang-ruang kreasi serupa agar anak-anak Sleman tidak kehilangan jati diri dan akar budayanya di tengah gempuran modernisasi.

“Pelestarian budaya harus ditanamkan sejak dini. Permainan tradisional bukan sekadar warisan leluhur, tetapi merupakan media pendidikan karakter yang relevan bagi anak-anak kita saat ini,” ujar Abu Bakar secara tegas saat memberikan pengarahan di lokasi acara.

Senada dengan hal itu, Ketua KPOTI Sleman yang juga menjabat sebagai Anggota DPRD Sleman, Syukron Arif Muttaqin, mengaku bangga melihat keceriaan dan ketangkasan para peserta saat bertanding. Ia optimistis bahwa eksistensi dolanan anak tidak akan punah selama semua elemen masyarakat bersedia memberikan panggung yang konsisten.

“Anak-anak ternyata masih semangat mengikuti permainan ini. Ini membuktikan budaya lokal tetap menarik ketika diberi ruang. Kita tetap menjadi generasi modern, tetapi tetap mengenal akar budayanya. Permainan rakyat mengajarkan kerja sama, sportivitas, disiplin, dan tanggung jawab,” urai Syukron Arif Muttaqin membedah esensi filosofis permainan tradisional.

Ketua Panitia Pelaksana, Beni Kusumah, menjabarkan bahwa pemilihan tiga jenis olahraga tradisional dalam festival tahun ini didasarkan pada kekuatan nilai filosofi sosial yang terkandung di dalamnya. Olahraga egrang difungsikan untuk melatih fokus dan keseimbangan diri, gobak sodor untuk mengasah strategi taktis dan kerja sama tim, sedangkan bakiak komunal untuk menguji kekompakan gerak langkah dalam satu ritme kelompok.

“Festival ini kami harapkan menjadi langkah awal untuk memantik kembali permainan tradisional di sekolah-sekolah agar diadopsi menjadi kegiatan ekstrakurikuler formal,” kata Beni Kusumah memungkasi jalannya kompetisi. (Giek/KIM Moyudan)




Lestarikan Sumber Air, Warga Nglahar Sleman Kemas Tradisi Kuras Sendang Jadi Festival Budaya Lintas Provinsi

Sleman – Masyarakat RW 32 Padukuhan Nglahar, Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman, sukses merevitalisasi upacara adat tradisional menjadi sebuah festival rakyat yang meriah. Warga setempat memadukan ritual sakral Kuras Sendang Soka, Sendang Tretes, dan Sendang Siputat dengan berbagai kegiatan modern berbasis kesehatan, penyaluran bakat anak, serta pemberdayaan ekonomi warga. Rangkaian acara kebudayaan ini resmi dibuka dengan geliat lomba seni anak-anak dan pasar rakyat pada Minggu (21/6/2026).

Fokus utama dari peristiwa ini menyoroti strategi cerdas komunitas adat dalam merawat kelestarian mata air (sendang) purba di tengah ancaman krisis ekologi global. Penyelenggara menyadari bahwa esensi ritual pembersihan sendang tidak boleh berhenti pada dimensi mistis semata, melainkan harus diwujudkan dalam tindakan nyata untuk menjaga kebersihan lingkungan hulu. Melalui penambahan konsep festival pop—seperti senam massal, perlombaan edukatif, dan bazar Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM)—generasi muda dan anak-anak dapat ditarik minatnya untuk ikut peduli pada warisan air leluhur mereka.

Ketua Panitia, Eka Endarta, menjelaskan bahwa pengemasan acara tahun ini sengaja dibuat berbeda demi membangun ekosistem pariwisata berbasis masyarakat. Langkah kolaboratif tersebut terbukti ampuh mendongkrak omzet pedagang lokal serta meluaskan gaung tradisi Nglahar hingga ke luar daerah.

“Dalam upacara adat kuras sendang kali ini kami padukan dengan konsep sehat, bakat, dan olahan rakyat. Kami ingin tradisi luhur ini tidak hanya menjadi milik generasi tua, tetapi juga dicintai oleh anak-anak melalui ruang kreasi yang menyenangkan,” ujar Eka Endarta saat meninjau jalannya agenda lomba di lokasi.

Daya tarik acara ini terbukti mampu menyedot animo publik secara masif. Peserta lomba mewarnai misalnya, tidak hanya didominasi oleh anak-anak lokal Sleman, melainkan diikuti oleh perwakilan dari seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta seperti Bantul dan Kulon Progo, bahkan mampu menjaring peserta dari luar provinsi seperti Kabupaten Boyolali dan Magelang, Jawa Tengah.

Koordinator Lomba, Tamto Hadmoko, memerinci bahwa total peserta yang turun berkompetisi mencapai 80 anak. Komposisi tersebut terbagi ke dalam empat klaster usia yang ketat, yakni kategori Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) sebanyak 18 peserta, Taman Kanak-Kanak (TK) A sebanyak 22 anak, TK B sebanyak 15 anak, dan jenjang Sekolah Dasar (SD) sebanyak 33 anak.

Eka Endarta menguraikan bahwa setelah kemeriahan lomba anak usai, panitia akan langsung mematangkan persiapan menuju puncak ritual inti pembersihan air yang dijadwalkan pada Jumat (27/6/2026) mendatang. Prosesi ini bertumpu pada filosofi penghormatan terhadap alam yang menghidupi pertanian desa.

“Dalam prosesi kuras sendang nanti, kami mengambil sampel air suci dari tiga titik mata air, yaitu Sendang Soka, Sendang Siputat, dan Sendang Tretes. Air tersebut kemudian dimasukkan ke dalam wadah kendi khusus untuk disemayamkan atau disucikan di tempat khusus selama satu malam,” terangnya menjabarkan tata cara ritual.

Siklus upacara adat akan ditutup pada Sabtu malam (28/6/2026) melalui prosesi agung kirab budaya. Air suci di dalam kendi tersebut akan diarak oleh ratusan warga berbaju adat bersama gunungan ubarampe hasil bumi menuju panggung utama dusun, yang kemudian diakhiri dengan prosesi doa lintas iman, kenduri massal, serta pagelaran pentas seni tradisi lokal.

Melalui inovasi kemitraan budaya ini, Padukuhan Nglahar berhasil membuktikan bahwa pelestarian adat dan penguatan ekonomi kerakyatan dapat berjalan beriringan. Langkah konkret ini diharapkan menjadi model percontohan bagi desa-desa wisata lain di Kabupaten Sleman dalam mengelola situs warisan sejarah dan sumber daya air sebagai aset masa depan yang mandiri, produktif, dan berkelanjutan. (Giek / KIM Moyudan)




Gerakan Suling Naga Jaga Akidah dan Makmurkan Masjid di Ngaglik Sleman

Sleman – Gerakan Subuh Keliling Ngaglik Jaga Aqidah atau yang populer dengan sebutan Suling Naga terus bergulir konsisten menjadi motor penggerak religiusitas masyarakat di Kabupaten Sleman. Langkah syiar Islam ini kembali diwujudkan dalam aksi berjamaah yang dipusatkan di Masjid Sholihin, Gandok Tambakan, Kalurahan Sinduharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, pada Minggu (21/6/2026). Agenda subuh bersama tersebut diarahkan untuk membangkitkan kesadaran rohani umat sekaligus mempererat tali silaturahmi antarsesama warga di tingkat akar rumput.

Fokus utama dari peristiwa ini menonjolkan taktik pemanfaatan ibadah ritual keagamaan sebagai basis perumusan forum koordinasi sosial dan pemetaan kesejahteraan warga. Penyelenggara menilai bahwa menggerakkan warga untuk memakmurkan masjid di waktu fajar memiliki dimensi tantangan spiritual yang sangat tinggi. Ketika konsistensi subuh berjamaah ini berhasil dirawat, maka ego sektoral antarorganisasi keagamaan di wilayah Ngaglik dapat diredam, sehingga masjid mampu kembali pada fungsi hakikinya sebagai pusat pembinaan umat dan penggerak ekonomi syariah melalui zakat, infak, dan sedekah.

Sosok inisiator gerakan Suling Naga yang kini menjabat sebagai Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sleman sekaligus mantan Panewu Ngaglik, Wawan Widiantoro, menjelaskan bahwa gerakan moral ini sengaja membidik waktu subuh karena merupakan rukun ibadah harian yang paling menantang kedisiplinan manusia. Dari fondasi kedisiplinan spiritual inilah karakter masyarakat yang tangguh dan peduli lingkungan bakal terbentuk.

“Yang ingin dibangkitkan di Ngaglik adalah semangat memulai dari yang paling sulit, yaitu shalat Subuh berjamaah. Dari sini diharapkan lahir dinamika kebersamaan dan forum koordinasi masyarakat Ngaglik. Kegiatan subuh keliling juga menjadi sarana untuk memetakan kondisi masjid dan jamaah yang masih memerlukan perhatian dan pendampingan. Dengan demikian, upaya pembinaan umat dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran,” ujar Wawan Widiantoro menjabarkan peta jalan gerakannya.

Guna mempertebal kualitas keimanan para jemaah fajar, agenda ini juga diisi dengan penyampaian tausiyah oleh pengasuh Pondok Pesantren Inayatullah, Chamdani Yusuf Khumaidi. Dalam uraian teologisnya, ia mengingatkan para pencari takwa mengenai pentingnya menyeimbangkan orientasi hidup agar tidak terjebak dalam pemburuan materiil duniawi yang bersifat semu dan sementara.

“Manusia sering kali mengejar kemuliaan dunia yang pada akhirnya akan ditinggalkan. Sebaliknya, kemuliaan akhirat merupakan tujuan yang seharusnya menjadi orientasi utama kehidupan seorang muslim. Kalimat tauhid merupakan pintu masuk surga, namun seorang muslim tidak cukup hanya mengucapkannya, melainkan harus membuktikannya melalui amal saleh dan ketaatan kepada Allah,” tutur Chamdani Yusuf Khumaidi di hadapan ratusan jemaah yang memadati ruang utama masjid.

Ia juga menyitir nasihat sufi termasyhur Ibrahim bin Adham mengenai karakteristik manusia utama yang meletakkan ibadah sebagai prioritas mutlak, selalu menebar kemaslahatan bagi lingkungan, mengikis penyakit hati berupa iri dengki, serta memiliki kesadaran eksistensial bahwa dunia hanyalah tempat persinggahan sementara. Menurutnya, indikator kecerdasan intelektual yang hakiki dalam pandangan Islam diukur dari seberapa tangguh seseorang mampu mengendalikan hawa nafsunya demi menyiapkan bekal pasca-kematian.

Melalui keberlanjutan estafet program Suling Naga yang bergerak dari satu kampung ke kampung lainnya ini, para tokoh agama dan birokrat di Kapanewon Ngaglik optimistis dapat merawat benteng akidah masyarakat di era modern. Sinergi kolektif ini diharapkan mampu melahirkan ekosistem sosial yang ramah, humanis, religius, serta responsif terhadap penderitaan warga miskin di sekitar lingkungan masjid. (Endarwati/KIM Donoharjo)