Dongkrak Ekonomi Kreatif, Warga Kampung Bambu Sleman Sukses Nyulap Rebung Jadi Kuliner Bacang

Sleman – Dusun Jetis yang terletak di Kalurahan Sumberejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, terus mempertegas posisinya sebagai pusat inovasi berbasis kearifan lokal. Setelah sukses dikenal luas sebagai “Kampung Bambu” berkat kelestarian kebun koleksi vegetasi bambu nasional dan mancanegara serta industri kerajinan anyamannya, kini kreativitas warga setempat mulai merambah ke sektor industri pangan. Fenomena ini ditandai dengan lahirnya inovasi kuliner unik berupa bacang rebung, sebuah penganan tradisional berbahan dasar beras ketan yang memanfaatkan tunas bambu muda sebagai substitusi bahan isian utama, yang diperkenalkan secara luas pada Minggu (21/6/2026).
Fokus dari peristiwa ini menyoroti strategi diversifikasi produk berbasis potensi alam lokal guna meningkatkan nilai ekonomi komoditas pertanian daerah. Selama ini, melimpahnya produksi rebung di Dusun Jetis hanya diolah menjadi sayur lodeh atau isi lumpia yang bernilai jual rendah. Melalui sentuhan inovasi kuliner, bahan pangan yang kaya serat ini bertransformasi menjadi hidangan premium berkarakter unik, yang tidak hanya memperkuat identitas pariwisata Dusun Jetis, tetapi juga berpeluang membuka lapangan kerja baru bagi ibu-ibu rumah tangga di wilayah Tempel.
Sosok kreatif di balik terciptanya formula bacang inovatif ini adalah Siti Fikki, seorang ibu rumah tangga yang juga menekuni usaha katering rumahan. Di tangan dinginnya, rebung yang kerap dianggap sebagai bahan makanan kelas dua berhasil disulap menjadi isian bacang yang memiliki kelezatan tekstur mirip dengan potongan daging cincang premium.
“Proses mengolah rebung menjadi isian bacang memang cukup rumit. Rebung yang digunakan terlebih dahulu diiris tipis dan dijemur hingga kering di bawah sinar matahari. Setelah itu, rebung kering direndam kembali hingga mengembang dan lunak. Tahap berikutnya adalah mengirisnya lebih halus lalu memasaknya bersama suwiran ayam dan bumbu pilihan hingga meresap,” ujar Siti Fikki saat membagikan rahasia dapurnya di kediamannya.
Ia menambahkan bahwa selain ketelatenan dalam mengeksekusi struktur rebung, pemilihan bahan baku luar juga memegang peranan vital dalam menentukan kualitas akhir produk. Siti Fikki sangat selektif dalam memilih varietas beras ketan yang akan digunakan, di mana hanya beras ketan kualitas super bertekstur pulen yang ia pakai agar mampu mengunci rasa gurih adonan bumbu secara maksimal saat melalui proses pengukusan panjang menggunakan bungkus daun bambu.
Sensasi unik dari bacang ini langsung terasa saat gigitan pertama, di mana irisan rebung kering yang telah dibumbui menyatu secara presisi dengan serat suwiran daging ayam. Teksturnya yang renyah sekaligus empuk memberikan impresi rasa yang kaya dan sulit dibedakan dari komposisi daging utuh. Keunggulan ekonomis dari produk ini juga menjadi daya tarik tersendiri, karena harga jualnya mampu ditekan hingga hanya sekitar 60 persen dari harga pasar bacang daging tradisional pada umumnya.
Mengingat daya beli pasar jajanan harian di tingkat pedesaan Tempel yang masih terbatas untuk kategori kue basah premium, Siti Fikki saat ini menerapkan sistem produksi berdasarkan pesanan (pre-order). Pangsa pasar potensial yang dibidiknya sejauh ini berfokus pada pemenuhan konsumsi untuk acara hajatan keluarga, rapat kedinasan, pertemuan korporasi, hingga paket hantaran khusus (hampers) kebudayaan.
Terobosan kuliner bacang rebung dari Dusun Jetis ini menjadi bukti otentik bahwa hilirisasi potensi desa dapat digerakkan dari skala dapur keluarga. Jika lini usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) ini terus mendapatkan pendampingan manajemen kemasan dan perluasan jaringan pemasaran digital dari dinas terkait, produk ini diproyeksikan mampu naik kelas menjadi oleh-oleh kuliner ikonik baru yang memperkaya khazanah gastro-diplomasi dan pangan lokal Kabupaten Sleman. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)



