Situs Akpol Darurat di Sleman, Rumah Joglo Tua yang Jadi Saksi Lahirnya Kader Polisi pada Masa Revolusi

Sleman – Di balik hamparan sawah yang tenang di Dusun Nanggulan, Kalurahan Sendangagung, Kapanewon Minggir, Kabupaten Sleman, berdiri sebuah rumah joglo tua yang menyimpan kisah besar perjalanan bangsa. Bangunan yang kini dikenal sebagai Situs Akpol Darurat itu bukan sekadar rumah berusia lebih dari satu abad, melainkan saksi bisu lahirnya kader-kader kepolisian Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan.
Di atas tanah seluas meter persegi, bangunan seluas sekitar meter persegi yang diperkirakan dibangun sejak tahun 1885 ini menjadi bagian penting dari sejarah pendidikan Kepolisian Republik Indonesia. Ketika Agresi Militer Belanda II melanda Yogyakarta pada 1948, pendidikan Akademi Kepolisian yang sebelumnya berpindah dari Sukabumi ke Mertoyudan, Magelang, kembali harus mencari tempat yang aman. Dusun Nanggulan dipilih sebagai lokasi penyelenggaraan Akpol Darurat, menjadikannya salah satu titik penting dalam mempertahankan keberlangsungan pendidikan kepolisian di tengah situasi perang.
Nilai sejarah tersebut diakui secara resmi. Pada tahun 2005, pemilik rumah saat itu, Sukapsir, menerima Penghargaan Pelestarian Warisan Budaya dari Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta atas kepeduliannya menjaga bangunan bersejarah tersebut.
Kini, rumah itu dirawat oleh generasi ketiga keluarga, Oscar Ranyo yang akrab disapa Sinyo. Di usianya yang ke-54 tahun, ia terus menjaga keaslian bangunan yang menjadi tujuan kunjungan pelajar, peneliti, hingga wartawan yang ingin menelusuri jejak sejarah perjuangan bangsa.
Meski berstatus sebagai situs sejarah dan cagar budaya, Sinyo mengaku perawatan bangunan masih mengandalkan kemampuan keluarga. “Meskipun sudah ada yang diganti seperti langit-langit dan ubin, tetapi perabot dan rumah inti tak banyak berubah. Namun karena ini milik pribadi maka pengelolaannya ya, semampu kami,” ungkap Sinyo saat ditemui di lokasi, Minggu (28/6/2026).
Keaslian arsitektur joglo beserta suasana pedesaannya justru menjadi daya tarik lain. Dalam beberapa tahun terakhir, Situs Akpol Darurat berkembang menjadi lokasi favorit pengambilan gambar berbagai film layar lebar, film televisi, hingga sesi foto pra-pernikahan. Melalui nama “Joglo Shooting Minggir”, kawasan ini dikenal luas di kalangan sineas. Sejumlah film nasional seperti Kereta Api Terakhir dan Nyai Ahmad Dahlan pernah mengambil adegan di lokasi ini. Sutradara ternama, termasuk Slamet Rahardjo, juga pernah memanfaatkan keunikan situs tersebut sebagai latar cerita.
Tak hanya menjadi ruang pelestarian sejarah, keberadaan Joglo Shooting Minggir turut menggerakkan ekonomi masyarakat sekitar. Kehadiran rumah-rumah homestay, keterlibatan warga sebagai figuran film, hingga pemanfaatan lahan seluas sekitar meter persegi dengan sejumlah pohon jati untuk kebutuhan pengambilan gambar luar ruangan menjadi bukti bahwa pelestarian sejarah dapat berjalan beriringan dengan pemberdayaan masyarakat.
Situs Akpol Darurat hanyalah satu dari sekian banyak potensi yang dimiliki wilayah Minggir. Kawasan barat Kabupaten Sleman ini menyimpan kekayaan sejarah, budaya, dan bentang alam pedesaan yang berpeluang dikembangkan menjadi destinasi wisata berkarakter, sekaligus memperkuat identitas pariwisata berbasis pertanian dan warisan budaya.
Lebih dari sekadar bangunan tua, Situs Akpol Darurat adalah pengingat bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan tidak hanya terjadi di medan perang, tetapi juga di ruang-ruang sederhana tempat generasi penerus bangsa ditempa. Di Minggir, sejarah masih hidup, dirawat, dan menunggu untuk diceritakan kepada setiap pengunjung yang datang. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)



