Gerakan Suling Naga Jaga Akidah dan Makmurkan Masjid di Ngaglik Sleman

Sleman – Gerakan Subuh Keliling Ngaglik Jaga Aqidah atau yang populer dengan sebutan Suling Naga terus bergulir konsisten menjadi motor penggerak religiusitas masyarakat di Kabupaten Sleman. Langkah syiar Islam ini kembali diwujudkan dalam aksi berjamaah yang dipusatkan di Masjid Sholihin, Gandok Tambakan, Kalurahan Sinduharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, pada Minggu (21/6/2026). Agenda subuh bersama tersebut diarahkan untuk membangkitkan kesadaran rohani umat sekaligus mempererat tali silaturahmi antarsesama warga di tingkat akar rumput.
Fokus utama dari peristiwa ini menonjolkan taktik pemanfaatan ibadah ritual keagamaan sebagai basis perumusan forum koordinasi sosial dan pemetaan kesejahteraan warga. Penyelenggara menilai bahwa menggerakkan warga untuk memakmurkan masjid di waktu fajar memiliki dimensi tantangan spiritual yang sangat tinggi. Ketika konsistensi subuh berjamaah ini berhasil dirawat, maka ego sektoral antarorganisasi keagamaan di wilayah Ngaglik dapat diredam, sehingga masjid mampu kembali pada fungsi hakikinya sebagai pusat pembinaan umat dan penggerak ekonomi syariah melalui zakat, infak, dan sedekah.
Sosok inisiator gerakan Suling Naga yang kini menjabat sebagai Kepala Dinas Sosial Kabupaten Sleman sekaligus mantan Panewu Ngaglik, Wawan Widiantoro, menjelaskan bahwa gerakan moral ini sengaja membidik waktu subuh karena merupakan rukun ibadah harian yang paling menantang kedisiplinan manusia. Dari fondasi kedisiplinan spiritual inilah karakter masyarakat yang tangguh dan peduli lingkungan bakal terbentuk.
“Yang ingin dibangkitkan di Ngaglik adalah semangat memulai dari yang paling sulit, yaitu shalat Subuh berjamaah. Dari sini diharapkan lahir dinamika kebersamaan dan forum koordinasi masyarakat Ngaglik. Kegiatan subuh keliling juga menjadi sarana untuk memetakan kondisi masjid dan jamaah yang masih memerlukan perhatian dan pendampingan. Dengan demikian, upaya pembinaan umat dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran,” ujar Wawan Widiantoro menjabarkan peta jalan gerakannya.
Guna mempertebal kualitas keimanan para jemaah fajar, agenda ini juga diisi dengan penyampaian tausiyah oleh pengasuh Pondok Pesantren Inayatullah, Chamdani Yusuf Khumaidi. Dalam uraian teologisnya, ia mengingatkan para pencari takwa mengenai pentingnya menyeimbangkan orientasi hidup agar tidak terjebak dalam pemburuan materiil duniawi yang bersifat semu dan sementara.
“Manusia sering kali mengejar kemuliaan dunia yang pada akhirnya akan ditinggalkan. Sebaliknya, kemuliaan akhirat merupakan tujuan yang seharusnya menjadi orientasi utama kehidupan seorang muslim. Kalimat tauhid merupakan pintu masuk surga, namun seorang muslim tidak cukup hanya mengucapkannya, melainkan harus membuktikannya melalui amal saleh dan ketaatan kepada Allah,” tutur Chamdani Yusuf Khumaidi di hadapan ratusan jemaah yang memadati ruang utama masjid.
Ia juga menyitir nasihat sufi termasyhur Ibrahim bin Adham mengenai karakteristik manusia utama yang meletakkan ibadah sebagai prioritas mutlak, selalu menebar kemaslahatan bagi lingkungan, mengikis penyakit hati berupa iri dengki, serta memiliki kesadaran eksistensial bahwa dunia hanyalah tempat persinggahan sementara. Menurutnya, indikator kecerdasan intelektual yang hakiki dalam pandangan Islam diukur dari seberapa tangguh seseorang mampu mengendalikan hawa nafsunya demi menyiapkan bekal pasca-kematian.
Melalui keberlanjutan estafet program Suling Naga yang bergerak dari satu kampung ke kampung lainnya ini, para tokoh agama dan birokrat di Kapanewon Ngaglik optimistis dapat merawat benteng akidah masyarakat di era modern. Sinergi kolektif ini diharapkan mampu melahirkan ekosistem sosial yang ramah, humanis, religius, serta responsif terhadap penderitaan warga miskin di sekitar lingkungan masjid. (Endarwati/KIM Donoharjo)



