Gandeng UNY, SLB Bhakti Kencana I Sleman Terapkan Karakter Kejogjaan untuk Siswa Disabilitas Intelektual

Sleman – Sekolah Luar Biasa (SLB) Bhakti Kencana I yang terletak di Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman, melakukan terobosan besar dalam dunia pendidikan inklusif dengan mengadopsi kearifan lokal ke dalam ruang kelas. Langkah ini diwujudkan melalui kolaborasi taktis bersama Tim PKM-PM Sekar-Amarta dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Sinergi kedua lembaga ini berhasil melahirkan sebuah model pembelajaran adaptif yang mengintegrasikan nilai-nilai luhur filosofi karakter Kejogjaan guna melejitkan potensi serta kemandirian para siswa disabilitas intelektual, yang secara resmi diperkenalkan pada Jumat (19/6/2026).
Fokus dari peristiwa ini menyoroti pergeseran metode mengajar dari yang semula teoretis-akademik menjadi pendekatan konkret berbasis budaya ragawi. Siswa dengan keterbatasan intelektual sering kali kesulitan mencerna materi pelajaran abstrak. Oleh karena itu, pengenalan falsafah Yogyakarta yang dipadukan dengan aktivitas seni, ketukan ritme musik, serta media visual interaktif diposisikan sebagai jembatan kognitif agar para siswa dapat menyerap pelajaran dengan lebih gembira tanpa merasa terbebani.
Kepala SLB Bhakti Kencana I, Sardiyana, memaparkan bahwa riset internal sekolah menunjukkan anak-anak didiknya memiliki respons dan ketertarikan yang sangat tinggi terhadap stimulasi yang melibatkan pengalaman fisik langsung. Ia menilai kehadiran para mahasiswa inovator dari UNY ini menjadi momentum emas untuk mereformasi kurikulum khusus di sekolahnya agar lebih memanusiawakan keunikan cara belajar setiap siswa.
“Anak-anak memiliki kemampuan dan potensi yang berbeda-beda. Kehadiran program ini menjadi kesempatan yang baik untuk mengembangkan pendekatan pembelajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan mereka, sekaligus memperkuat karakter melalui budaya lokal yang dekat dengan kehidupan sehari-hari,” ujar Sardiyana penuh optimisme.
Ia menggarisbawahi bahwa potensi seni dan motorik yang kuat pada diri anak-anak disabilitas intelektual merupakan modal sosial yang sangat berharga. Jika modal tersebut diasah menggunakan metode yang presisi, hambatan kognitif anak dapat diminimalkan, yang pada gilirannya akan mendongkrak rasa percaya diri dan keterampilan adaptasi sosial mereka di tengah masyarakat umum.
Ketua Tim PKM-PM Sekar-Amarta UNY, Lituhayu Sasikirana, menjelaskan bahwa rancangan program ini bertumpu pada pemanfaatan empat pilar utama Pendidikan Khas Kejogjaan, yakni Sawiji yang berarti konsentrasi total, Greget atau semangat yang berkobar, Sengguh yang bermakna percaya diri penuh tanggung jawab, serta Ora Mingkuh yang berarti pantang mundur menghadapi tantangan hidup. Keempat nilai ksatria ini diturunkan ke dalam media instruksional yang ramah bagi anak berkebutuhan khusus.
“Kami melihat banyak potensi yang selama ini telah tumbuh di lingkungan sekolah. Melalui integrasi budaya lokal dan karakter Kejogjaan, kami berharap siswa dapat belajar dengan cara yang lebih konkret, menyenangkan, dan mudah dipahami sesuai karakteristik masing-masing. Pendekatan tersebut dirancang untuk mengakomodasi berbagai gaya belajar siswa, baik visual, auditorik, kinestetik, maupun taktil,” kata Lituhayu Sasikirana membedah aspek teknis programnya.
Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa pengenalan nilai kearifan lokal sejak dini ini juga berfungsi sebagai pembuat jangkar identitas kebudayaan bagi para siswa. Dengan memahami akar budayanya sendiri, siswa disabilitas intelektual diharapkan mampu tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, memiliki tata krama yang santun, serta mampu berinteraksi secara aktif dalam dinamika kehidupan bertetangga di lingkungan rumah mereka kelak.
Melalui keberlanjutan sinergi antara dunia akademis kampus dan praktisi pendidikan khusus ini, SLB Bhakti Kencana I dan UNY berharap dapat menyodorkan sebuah draf model percontohan sekolah inklusif yang ramah budaya bagi daerah lain di Indonesia. Ketika sistem pendidikan mampu membuka ruang seluas-luasnya bagi metode pembelajaran yang fleksibel dan adaptif, maka setiap anak bangsa, apa pun kondisi fisiknya, dipastikan akan mampu mengeluarkan potensi terbaiknya demi masa depan yang mandiri. (Athiful/KIM Depok)



