Ribuan Warga Muhammadiyah Padati Lapangan Pemda Sleman dalam Senam Bersama Milad ke-114

Sleman — Ribuan warga Muhammadiyah memadati Lapangan Pemerintah Daerah (Pemda) Sleman, Minggu (01/11/2026) pagi. Dengan penuh antusiasme, sekitar peserta mengikuti kegiatan Senam Bersama dalam rangka Semarak Milad ke-114 Muhammadiyah yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sleman.

Kegiatan ini menjadi momentum berkumpulnya keluarga besar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah, mulai dari jajaran PCM dan PCA Sleman, pimpinan ranting, organisasi otonom, hingga berbagai amal usaha di lingkungan Cabang Sleman.

Hadir pula dalam kegiatan tersebut Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sleman Sukirman, Ketua PDM Sleman Harjaka, serta Ketua PCM Sleman Zahrul Mufrodi.

Kemeriahan acara dimulai sejak pukul WIB, yang dilanjutkan dengan penampilan paduan suara ‘Aisyiyah Senior School (AS3) Sa’adah PCA Sleman serta pertunjukan angklung yang membawakan lagu Sang Surya, Anoman Obong, dan Prahu Layar. Memasuki pukul WIB, ribuan peserta tampak antusias mengikuti senam sehat bersama yang menciptakan suasana guyub dan penuh energi.

Rangkaian acara semakin semarak dengan penampilan Polisi Cilik (Polcil) dari SD Muhammadiyah Domban 4, SD Muhammadiyah Sleman, dan SD Muhammadiyah Mantaran. Selain itu, panitia juga membagikan doorprize menarik serta mengumumkan pemenang lomba mewarnai, pidato, dan content creator.

Wakil Ketua Kegiatan Arif Hakim menyampaikan apresiasinya atas kekompakan yang terjalin di Cabang Sleman.

“Apresiasi kekompakan yang ada di Cabang Sleman dan sangat terharu atas pelaksanaan ini. Sukses selalu Muhammadiyah Cabang Sleman,” ungkap Arif.

Melalui kegiatan ini, semarak Milad ke-114 Muhammadiyah tidak hanya menjadi perayaan seremonial semata, tetapi juga wujud nyata dalam membangun kesehatan, mempererat silaturahmi, serta merawat kebersamaan umat di Kabupaten Sleman. (Arief Hartanto/KIM Kertomandiri)




Dongeng Efektif Bentuk Karakter dan Kembangkan Kreativitas Anak

Sleman — Dongeng memiliki peran vital dalam mendukung pendidikan karakter, mengembangkan kreativitas, dan memperluas wawasan anak melalui kisah sarat pesan kehidupan. Tradisi mendongeng tidak sekadar menjadi sarana hiburan, tetapi juga media edukasi yang efektif menyampaikan nilai moral secara menarik.

Hal tersebut diungkapkan seniman sekaligus pendongeng Bagong Soebardjo dalam Workshop Menulis dan Mendongeng Alamkara Batch #2 Fasilitasi Bupati Sleman yang berlangsung di RM Sego Welut, Kapanewon Godean, Kabupaten Sleman, pada Senin (31/10/2026).

Menurut Bagong, dongeng menjadi pendekatan yang ampuh untuk membangun karakter sejak usia dini. Melalui cerita, anak-anak dapat memahami nilai kehidupan seperti kejujuran, tanggung jawab, keberanian, dan kepedulian.

“Pesan moral yang dikemas dalam sebuah cerita akan lebih mudah diterima karena disampaikan melalui pengalaman tokoh dan rangkaian peristiwa,” terangnya di hadapan 25 peserta.

Selain membentuk karakter, dongeng juga mengasah kreativitas dan daya imajinasi anak. Saat mendengarkan cerita, anak diajak membayangkan tokoh, tempat, serta peristiwa yang merangsang kemampuan berpikir kreatif dan melahirkan gagasan baru.

Manfaat lainnya adalah pengembangan kemampuan berbahasa. Aktivitas ini mengenalkan anak pada beragam kosakata, susunan kalimat, ungkapan, dan gaya bertutur secara menyenangkan.

Bagong juga menekankan pentingnya mengenalkan berbagai koleksi cerita, mulai dari cerita rakyat, legenda, fabel, mitologi, hingga kisah sehari-hari untuk memperluas perspektif anak.

“Pendongeng juga perlu memperhatikan teknik penyampaian, ekspresi, intonasi, dan penghayatan agar cerita mampu membangun keterlibatan emosional audiens,” imbuh Bagong.

Melalui workshop Alamkara Batch #2 ini, para peserta diharapkan dapat menggali sumber cerita serta mengemasnya menjadi karya yang edukatif. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang belajar bersama untuk memperkuat tradisi literasi dan menjaga keberlanjutan sastra lisan di tengah era digital. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




PORKAL Bola Voli Margomulyo 2026 Resmi Dibuka, 14 Tim Padukuhan Siap Berebut Juara

Sleman — Lurah Margomulyo Eko Puji Mulyanto resmi membuka Pekan Olahraga Kalurahan (PORKAL) Margomulyo 2026 cabang olahraga bola voli pada Sabtu (31/10/2026) malam. Ajang tahunan untuk menyemarakkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kalurahan Margomulyo tersebut digelar di Lapangan Bola Voli Padukuhan Gerjen.

PORKAL Bola Voli Margomulyo 2026 ini diikuti oleh 14 tim perwakilan dari 13 padukuhan di wilayah Kalurahan Margomulyo. Pembukaan kompetisi ditandai secara simbolis lewat penyerahan bola voli dari Eko Puji Mulyanto kepada wasit pertandingan.

Dalam sambutannya, Eko menegaskan bahwa PORKAL bukan sekadar ajang berburu kemenangan, melainkan sarana mempererat tali silaturahmi antarwarga.

“Melalui kegiatan PORKAL ini, kita ingin menjadikan olahraga sebagai sarana silaturahmi warga Margomulyo. Bukan semata-mata mengejar kemenangan, tetapi bagaimana kita bisa membangun sportivitas, kebersamaan, dan mempererat persaudaraan antarwarga,” ujar Eko.

Eko berharap turnamen ini mampu melahirkan dan mengembangkan potensi atlet lokal agar dapat bersaing di tingkat yang lebih tinggi.

“Saya berharap melalui pertandingan ini akan lahir bibit-bibit pemain bola voli yang andal dari Margomulyo. Diperlukan dukungan dari seluruh padukuhan agar olahraga bola voli semakin berkembang dan melahirkan atlet berprestasi,” tambahnya.

Ia juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh panitia dan peserta yang telah berkontribusi mensukseskan penyelenggaraan turnamen tahun ini.

Kompetisi ini dijadwalkan berlangsung selama tujuh hari, mulai Sabtu (31/10/2026) hingga Jumat (06/11/2026). Seluruh laga dari babak penyisihan hingga final digelar setiap malam mulai pukul WIB.

Antusiasme warga mulai terasa pada laga perdana. Pada pertandingan pembuka, Tim Kamal Wetan dan Tim Jamblangan berhasil menumbangkan lawan masing-masing sekaligus mengamankan tiket ke babak selanjutnya.

Pemerintah Kalurahan Margomulyo pun mengimbau seluruh masyarakat untuk hadir memberikan dukungan langsung. Selain mencetak atlet potensial, PORKAL Margomulyo 2026 diharapkan semakin memperkokoh solidaritas dan kebersamaan antarpadukuhan. Sebab, kemenangan sejati adalah tumbuhnya persaudaraan lewat olahraga. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Kekuatan Pesan Sastra Ditentukan Ketepatan Diksi

Sleman — Ketepatan memilih kata atau diksi menjadi kunci utama dalam menyampaikan gagasan secara efektif. Penggunaan kata yang selaras tidak hanya membuat pesan tersampaikan secara akurat, tetapi juga mampu membangun suasana, memengaruhi emosi, dan meninggalkan kesan mendalam bagi pembaca maupun pendengar.

Hal tersebut diungkapkan pengarang sastra Jawa, Ngatilah, dalam Workshop Menulis dan Mendongeng Alamkara Batch #2 Fasilitasi Bupati Sleman yang berlangsung di RM Sego Welut, Kapanewon Godean, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (31/10/2026).

Menurut Ngatilah, setiap kata memiliki makna, karakter, dan kekuatan tersendiri. Seorang penulis dituntut memahami pilihan kata yang digunakan agar selaras dengan gagasan yang ingin disampaikan.

“Kesalahan dalam memilih kata berpotensi mengubah makna, mengaburkan pesan, bahkan menimbulkan penafsiran berbeda dari yang dimaksudkan penulis,” tegas Ngatilah.

Ia menjelaskan, keselarasan penggunaan kata harus memerhatikan topik, sasaran pembaca, serta tujuan komunikasi. Sebagai contoh, bahasa cerita anak perlu disesuaikan dengan tingkat pemahaman dan perkembangan usia agar lebih komunikatif serta mampu membangun kedekatan emosional.

Dalam karya sastra, diksi tidak sekadar berfungsi sebagai alat penyampai informasi, melainkan instrumen artistik untuk menghidupkan suasana dan karakter cerita. Pemilihan kata yang cermat membuat pembaca seolah-olah ikut merasakan dan mengalami langsung kejadian dalam tulisan.

Ngatilah menambahkan, proses menulis membutuhkan kepekaan terhadap nuansa makna karena kata-kata bersinonim belum tentu dapat saling menggantikan. Kecermatan ini diperlukan demi menjaga kepaduan antarkalimat dan keseluruhan cerita.

Selain penulisan, ketepatan diksi juga krusial dalam seni mendongeng. “Seorang pendongeng tidak cukup hanya menguasai alur cerita, tetapi harus mampu menghidupkannya melalui bahasa yang ekspresif, didukung intonasi, ekspresi, dan penekanan suara yang tepat,” ujar Ngatilah.

Khusus untuk dongeng anak, diksi yang tepat memegang peran vital dalam menyampaikan nilai moral dan kearifan lokal. Pesan seperti kejujuran, keberanian, dan kepedulian akan lebih mudah diterima jika dikemas secara menarik tanpa kesan menggurui.

Workshop Alamkara ini sendiri diharapkan menjadi ruang pembelajaran bagi peserta untuk meningkatkan keterampilan literasi serta mengolah gagasan menjadi karya yang bernilai sastra.

“Selain memperkaya khazanah sastra, kemampuan menggunakan diksi secara tepat juga menjadi bagian penting dalam menjaga kekuatan bahasa sebagai media komunikasi, pendidikan, serta pewarisan nilai-nilai budaya kepada generasi mendatang,” pungkas Ngatilah. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




DPRD DIY Gelar Sosialisasi Perda Pelestarian Warisan Budaya, Ajak Warga Sinduadi “Memayu Hayuning Budaya”

Sleman — Anggota Komisi D DPRD DIY, Sri Muslimatun, menyelenggarakan sosialisasi Peraturan Daerah (Perda) DIY Nomor 6 Tahun 2012 tentang Pelestarian Warisan Budaya dan Cagar Budaya di Joglo Mesan, Kalurahan Sinduadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, Minggu (01/11/2026). Kegiatan ini dihadiri oleh para dukuh, tokoh budaya, serta tokoh masyarakat setempat untuk memperkuat kesadaran kolektif dalam merawat tradisi dan peninggalan leluhur.

Dalam pengantarnya, Sri Muslimatun mengajak masyarakat untuk terus menjaga nilai-nilai keramahan, sopan santun, dan kearifan lokal yang menjadi ciri khas keistimewaan Yogyakarta.

“Yogyakarta memiliki daya tarik tersendiri karena masyarakatnya masih menjaga warisan budaya. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama mempertahankan dan melestarikannya,” ujar Sri Muslimatun.

Hadir sebagai narasumber, budayawan Yani Sapto Hudoyo menekankan bahwa merawat budaya bukan berarti menolak perubahan, melainkan memastikan masyarakat tetap memiliki jati diri di tengah arus modernisasi. Ia mengajak warga memulai pelestarian dari lingkungan terdekat, seperti mengenali sejarah kampung dan menjaga benda bersejarah.

“Memayu Hayuning Budaya, Nguri-uri Warisan Leluhur, kanggo Kabecikaning Anak Putu,” pesan Yani sebagai pengingat pentingnya menjaga warisan leluhur demi generasi mendatang.

Sementara itu, narasumber kedua, Sugita (Gita Gilang), memaparkan pentingnya memahami bentuk warisan budaya, baik yang berupa benda (tangible cultural heritage) seperti candi dan artefak, maupun tak benda (intangible cultural heritage) seperti seni pertunjukan, tradisi lisan, dan kerajinan. Ia mendorong warga melakukan pelestarian melalui pendekatan culture experience (pengalaman langsung) dan culture knowledge (pengetahuan budaya).

Melalui sosialisasi ini, warga Kalurahan Sinduadi diharapkan semakin proaktif mengenali, menjaga, dan mewariskan kekayaan budaya lokal sebagai identitas serta kekuatan masyarakat Yogyakarta. (Y. Edy Setyoharjo/KIM Pijar Mlati)