Pagelaran Wayang Kulit “Bimo Suci” Semarakkan HUT RI ke-81 dan Maulid Nabi di Glagaharjo

Sleman — Pemerintah Kalurahan Glagaharjo menggelar pertunjukan seni wayang kulit malam penuh di Halaman Kalurahan Glagaharjo, Padukuhan Banjarsari, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman, pada Jumat (04/09/2026). Pementasan budaya ini diselenggarakan untuk menyemarakkan Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia sekaligus memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW.
Pagelaran wayang kulit tersebut membawakan lakon legendaris “Bimo Suci” yang dipandegani dalang Ki Septiawan Kurniadi, serta dimeriahkan oleh kehadiran bintang tamu komedi Eva Kenthir dan Gareng Tralala. Pengangkatan lakon “Bimo Suci” membawa nilai filosofis mendalam mengenai pencarian makna hidup sejati, keteguhan hati, serta sifat rendah hati yang dinilai relevan dengan nilai-nilai perjuangan kemerdekaan dan keteladanan Nabi Muhammad SAW.
Lurah Glagaharjo, Suroto, menyampaikan apresiasi atas tingginya partisipasi masyarakat dan menegaskan pentingnya melestarikan seni pertunjukan tradisional Jawa di tengah arus modernisasi.
“Terima kasih Bapak-Ibu sudah mengajak keluarga, saudara, tetangga, dan sahabat, bersama-sama menikmati pertunjukan wayang kulit sekaligus merawat kebersamaan dan kecintaan terhadap budaya. Di tengah gempuran budaya modern, pagelaran wayang kulit menjadi salah satu upaya strategis untuk mengenalkan nilai-nilai luhur budaya Jawa kepada generasi penerus bangsa,” ujar Suroto di hadapan para warga.
Antusiasme tinggi tampak dari hadirnya ratusan penonton lintas generasi yang memadati lokasi pementasan hingga dini hari. Salah seorang pemuda setempat, Azril Nur Rofi, mengutarakan bahwa kehadiran warga dari berbagai kalangan membuktikan kesenian tradisional masih memiliki daya tarik kuat bagi masyarakat luas.
“Para penonton larut dalam suasana magis alunan gamelan dan cerita wayang yang dibawakan oleh dalang,” kata Azril Nur Rofi.
Melalui pementasan budaya ini, Pemerintah Kalurahan Glagaharjo berkomitmen untuk terus menjadikan kesenian tradisional sebagai media pemersatu warga sekaligus ruang penguatan karakter bangsa berbasis kebudayaan lokal. (Edy/KIM Moyudan)



