Bentuk Karakter dan Kedisiplinan Anak, Olahraga Panahan di Sleman Kian Diminati

Sleman – Olahraga panahan kini kian digandrungi oleh generasi muda, khususnya anak-anak usia Sekolah Dasar (SD) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) di Kabupaten Sleman. Pemandangan puluhan atlet cilik yang tengah serius membidik papan target menjadi pemandangan harian di Lapangan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman. Meskipun tidak melibatkan kontak fisik atau pergerakan dinamis sekencang sepak bola dan bola voli, olahraga ketangkasan ini terbukti menyimpan manfaat besar bagi kesehatan fisik sekaligus menjadi laboratorium pembentukan karakter anak, seperti yang terlihat pada sesi latihan Minggu (21/6/2026).
Fokus dari peristiwa ini menyoroti tren positif pemanfaatan olahraga panahan sebagai media terapi psikologis untuk melatih fokus dan mengendalikan emosi anak di tengah gempuran distrasi digital. Menembakkan anak panah secara akurat menuntut keselarasan antara kekuatan biologis dan ketenangan mental. Melalui ritme latihan yang repetitif, anak-anak secara tidak langsung ditempa untuk menjadi pribadi yang penyabar, disiplin, tidak grusa-grusu, serta memiliki tanggung jawab penuh terhadap setiap keputusan yang mereka ambil.
Pelatih panahan dari Godean Archery Club (GAC), Herman, menjelaskan bahwa klubnya yang telah resmi berbadan hukum dan terdaftar di SK PERPANI Sleman ini berkomitmen menjadikan panahan sebagai sarana edukasi formal luar sekolah. Saat ini, ia membina sedikitnya 20 peserta didik yang terbagi dalam klaster program reguler dan intensif, di mana beberapa di antaranya telah berhasil mengukir prestasi hingga level regional.
“Panahan melatih kekuatan otot hampir seluruh tubuh, terutama tangan, bahu, punggung, dan kaki. Selain itu, anak-anak belajar fokus, mengendalikan emosi, serta membangun karakter positif melalui proses latihan yang membutuhkan kesabaran dan ketekunan,” ujar Herman saat ditemui di sela-sela memandu anak asuhnya di Lapangan Sumbersari.
Herman menambahkan, dampak dari latihan ini tidak hanya berhenti di area lapangan saja. Berdasarkan testimoni berkala dari para orang tua murid, anak-anak yang semula memiliki masalah hiperaktif, sulit berkonsentrasi saat belajar, atau cenderung bertindak semaunya sendiri, perlahan-lahan bertransformasi menjadi lebih tenang, tertib, dan mudah diarahkan dalam aktivitas harian di rumah.
“Banyak orang tua menyampaikan bahwa anak-anak mereka menjadi lebih fokus dan terarah dalam menjalani aktivitas sehari-hari. Minggu depan beberapa anak usia SMP akan mengikuti kompetisi tingkat provinsi. Saat ini mereka sedang fokus mempersiapkan diri dan berlatih dengan semangat yang tinggi,” kata Herman menambahkan.
Terkait akomodasi, GAC menerapkan sistem pengelolaan yang inklusif dan merakyat. Pada tahap awal, calon atlet tidak dibebani biaya pembelian alat yang mahal karena seluruh busur dan anak panah disediakan oleh klub. Iuran operasional bulanan yang ditarik dari anggota dialokasikan secara transparan, salah satunya untuk biaya perawatan berkala dan penggantian bantalan target yang cepat rusak seiring meningkatnya akurasi lesatan anak panah para atlet.
Menariknya, Herman memaparkan bahwa esensi dari ketepatan memanah tidak melulu bersandar pada kemewahan perangkat tambahan seperti teleskop bidik (scope). Banyak anak didiknya yang justru memilih mengasah ketajaman insting alami, kepekaan arah angin, dan ketelitian mata telanjang. Baginya, melihat anak-anak tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri dan memiliki daya juang tinggi melalui olahraga ini adalah sebuah pencapaian yang jauh lebih hakiki daripada sekadar koleksi medali juara. (Edy – KIM Sumber Biwara Moyudan)



