Jumlah Balita Stunting Masih Jadi Perhatian, SPPG Margomulyo Seyegan Minta MBG Dikawal Bersama

Sleman – Kepala Satuan Pelayanan Program Gizi (SPPG) Margomulyo, Seyegan, Joni Prasetyo, menanggapi munculnya aksi penolakan terhadap Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dilakukan oleh sebagian kelompok mahasiswa. Menurutnya, kritik dan evaluasi terhadap pelaksanaan program merupakan hal yang wajar dalam negara demokrasi, namun tidak seharusnya berujung pada penolakan terhadap program yang manfaatnya dirasakan langsung oleh masyarakat.

Joni Prasetyo menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program strategis nasional yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi generasi muda Indonesia. Program ini dinilai memiliki dampak jangka panjang terhadap kesehatan, pertumbuhan, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia di masa depan.

“Program MBG ini adalah komitmen besar untuk masa depan bangsa. Manfaatnya sangat nyata bagi anak-anak penerima manfaat, terutama dalam mendukung pemenuhan gizi yang lebih baik,” ujar Joni Prasetyo dalam keterangan resmi, Selasa (16/6/2026).

Selain menyasar peserta didik, Program MBG juga memberikan perhatian khusus kepada kelompok rentan yang dikenal sebagai sasaran 3B, yakni ibu hamil, balita yang belum bersekolah, dan ibu menyusui. Kelompok ini dinilai menjadi prioritas karena berada pada fase penting dalam siklus kehidupan yang menentukan kualitas kesehatan dan tumbuh kembang generasi mendatang.

Menurut Joni, pemenuhan gizi pada sasaran 3B memiliki peran strategis dalam menekan angka stunting, meningkatkan kesehatan ibu dan anak, serta memastikan tumbuh kembang balita berlangsung secara optimal.

Hal tersebut juga sejalan dengan kondisi di wilayah Seyegan. Dalam forum koordinasi lintas sektor yang dilaksanakan beberapa waktu lalu, Panewu Seyegan menyampaikan bahwa Kapanewon Seyegan merupakan salah satu wilayah dengan jumlah balita stunting yang masih menjadi perhatian di Kabupaten Sleman. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa intervensi pemenuhan gizi melalui Program Makan Bergizi Gratis sangat dibutuhkan, terutama bagi kelompok rentan yang berisiko mengalami masalah gizi.

“Ketika kita berbicara tentang MBG, yang harus diingat bukan hanya anak sekolah. Ada ibu hamil yang membutuhkan asupan gizi untuk mendukung perkembangan janin, ada balita yang sedang berada pada masa emas pertumbuhan, dan ada ibu menyusui yang membutuhkan nutrisi cukup untuk mendukung kesehatan dirinya maupun bayinya. Mereka adalah kelompok yang sangat membutuhkan program ini,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa apabila ditemukan kekurangan kualitas layanan, kendala distribusi, atau pelanggaran prosedur dalam pelaksanaan program, maka evaluasi harus diarahkan kepada pihak atau oknum yang melakukan kesalahan, bukan kepada program secara keseluruhan.

“Jika ada oknum pengelola yang curang, lalai, atau tidak menjalankan tugas dengan baik, maka yang harus dikritik dan ditindak adalah oknumnya. Jangan sampai hak anak-anak, ibu hamil, balita, dan ibu menyusui yang membutuhkan program ini justru menjadi korban,” tegas Joni.

SPPG Margomulyo juga menyatakan komitmennya untuk membuka ruang dialog, menerima masukan dari berbagai pihak, serta mendukung pengawasan publik demi meningkatkan kualitas pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis.

“Pengawasan dan kritik yang konstruktif sangat dibutuhkan. Namun yang terpenting adalah memastikan seluruh penerima manfaat, khususnya anak-anak dan kelompok sasaran 3B, tetap mendapatkan haknya atas asupan gizi yang layak,” pungkasnya.

Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu program prioritas pemerintah yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi peserta didik serta kelompok rentan, termasuk ibu hamil, balita, dan ibu menyusui, sebagai bagian dari upaya membangun generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan produktif menuju Indonesia Emas 2045. (Jony Prasetyo/KIM Seyegan)




22 Naskah Permainan Tradisional Dibedah dalam Bimtek KPOTI Sleman

Sleman– Agar peraturan permainan rakyat dan olahraga tradisional tidak hilang ditelan zaman, Komite Permainan dan Olahraga Tradisional (KPOTI) Kabupaten Sleman menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Penulisan Naskah Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional. Kegiatan tersebut berlangsung pada Selasa (16/6/2026), di Ruang Rukuns Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman.

Bimtek ini bertujuan untuk membenahi 22 naskah terbaik hasil lomba penulisan yang masuk ke KPOTI. Harapannya, naskah tersebut layak diterbitkan dan dapat menjadi pedoman baku.

Empat narasumber kompeten dihadirkan untuk mengasah kemampuan para penulis. Bintang Wahyu Putra menyampaikan materi dasar-dasar kepenulisan. Ma’riatus Sholikhah dari Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) DIY membawakan materi pelestarian kearifan lokal dolanan anak. Kharisma Endah Susanti menyampaikan materi penulisan artikel dan esai, sedangkan Amin Surahmad membahas reviu isi dan bahasa.

Ketua KPOTI Sleman, Syukron Arif Muttaqin, menegaskan bahwa bimtek ini merupakan langkah penting dalam mendokumentasikan permainan rakyat sebagai warisan budaya tak benda.

“Tujuan workshop ini untuk membenahi karya yang sudah diterima agar layak terbit. Untuk mencapai kelayakan, kita membutuhkan keseragaman metodologi, teknik penulisan, dan tata bahasa,” tegasnya.

Ia menambahkan bahwa penerbitan buku bukan hanya menjadi tugas KPOTI, melainkan tanggung jawab bersama. “Pelestarian budaya memerlukan langkah dan strategi yang tepat agar dapat menjadi pedoman. Ini merupakan tanggung jawab kita bersama,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Seksi Warisan Budaya Tak Benda Kundha Kabudayan Sleman, Andre Veriangga, mengapresiasi kontribusi KPOTI dan para penulis dalam upaya pelestarian budaya.

“Mendokumentasikan budaya adiluhung adalah langkah strategis. Sejarah dan warisan budaya jika tidak didokumentasikan akan hilang,” ungkapnya.

Ia menambahkan, penulisan sejarah permainan rakyat yang sudah berlangsung lama memang tidak mudah. “Saya yakin para penulis banyak merefleksikan masa kecil atau cerita yang diwariskan dari leluhur,” ujarnya.

Andre juga menyoroti tantangan era digital. “Untuk menangkal arus budaya dari gawai, kita perlu menghidupkan kembali permainan rakyat. Ini bukan sekadar rekreasi fisik, tetapi juga mengandung filosofi kehidupan,” tegasnya.

Setelah sesi tersebut, Andre Veriangga secara resmi membuka Workshop Penulisan Naskah Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional. (Giek / KIM Moyudan)




70 Peserta Ikuti Baking Demo “Kreasi Olahan Tepung Bisa Jadi Cuan” di Kayen

Sleman – Semangat pemberdayaan masyarakat kembali tumbuh di Padukuhan Kayen, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman. Sekolah Keterampilan Sekar Kemuning Padukuhan Kayen menggelar kegiatan Baking Demo – Kreasi Olahan Tepung Bisa Jadi Cuan di Pendopo Green Kayen, Selasa (16/6/2026).

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan masyarakat sekaligus membuka peluang usaha berbasis kuliner rumahan. Sebanyak 70 peserta yang terdiri dari ibu rumah tangga, pelaku UMKM, dan masyarakat umum mengikuti kegiatan tersebut.

Mengusung konsep learning by doing, panitia menghadirkan Chef Rose dari Rose Culinary bersama Chef Yohan, selaku Technical Baker Ellenka, sebagai narasumber utama. Para peserta mendapatkan materi sekaligus praktik pembuatan floody moist cake, aneka roti manis, brownies kukus, serta palm sugar mocca latte. Selain itu, peserta juga dibekali teknik pengolahan, penyajian, hingga strategi pemasaran agar produk memiliki nilai jual dan daya saing di pasar.

Ketua Sekolah Keterampilan Sekar Kemuning Padukuhan Kayen, Muslikah, menegaskan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari komitmen sekolah keterampilan dalam meningkatkan kapasitas masyarakat, khususnya kaum perempuan dan pelaku usaha rumahan.

“Kami ingin Sekolah Keterampilan menjadi ruang belajar yang inspiratif. Melalui pelatihan seperti ini, masyarakat tidak hanya memperoleh keterampilan baru, tetapi juga mampu mengubahnya menjadi peluang usaha yang dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga. Ke depan, kami berencana menghadirkan lebih banyak kegiatan yang bermanfaat dan bernilai ekonomis bagi masyarakat,” ujarnya.

Sementara itu, Dukuh Kayen, Ade Hermawan Susilo mengajak warga untuk terus membangun budaya belajar dan berinovasi melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat.

“Padukuhan Kayen berkomitmen mendukung lahirnya masyarakat yang kreatif, mandiri, dan berdaya saing. Semoga kegiatan ini menjadi awal munculnya wirausaha baru di bidang kuliner yang mampu mengangkat potensi lokal sekaligus memperkuat ekonomi keluarga,” ungkapnya.

Apresiasi juga disampaikan Hamid, selaku perwakilan sponsor RichCreme, yang menilai kolaborasi antara komunitas, dunia usaha, dan masyarakat merupakan langkah strategis dalam mendorong lahirnya produk kuliner inovatif berbasis olahan tepung.

Menurutnya, pelatihan semacam ini tidak hanya memperkenalkan teknik pembuatan makanan berkualitas, tetapi juga memberikan wawasan tentang pentingnya kreativitas, konsistensi mutu, dan inovasi dalam membangun usaha berkelanjutan.

Antusiasme peserta turut mewarnai jalannya kegiatan. Salah seorang peserta, Ibu Zaidar, mengaku senang mengikuti pelatihan tersebut.

“Selain menambah pengetahuan tentang baking, saya juga mendapatkan banyak relasi baru dan inspirasi untuk memulai usaha rumahan,” katanya.

Hal senada disampaikan Ibu Dwi Sukamti yang memperoleh pengalaman baru selama praktik.

“Saya baru tahu ternyata membuat roti bisa dilakukan tanpa mixer. Cukup diuleni dengan tangan, hasilnya tetap bagus. Ini sangat membantu bagi pemula yang ingin memulai usaha dengan modal terbatas,” ujarnya.

Kegiatan Baking Demo ini melanjutkan semangat inovasi yang selama ini dibangun Sekolah Keterampilan Sekar Kemuning Padukuhan Kayen melalui berbagai program pemberdayaan, termasuk pelatihan pemanfaatan barang bekas menjadi produk bernilai ekonomi. Konsistensi tersebut menunjukkan komitmen dalam menciptakan masyarakat yang adaptif, kreatif, dan mampu mengembangkan potensi lokal menjadi sumber kesejahteraan.

Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan semakin banyak warga terdorong mengembangkan usaha kuliner rumahan berbasis olahan tepung, menciptakan produk inovatif dan kompetitif, serta menjadikan keterampilan sebagai modal penting dalam memperkuat ekonomi keluarga dan membangun kemandirian masyarakat. (Wasana / KIM Depok)




Mahasiswa UPY Gandeng SAH Banyu Bening Sleman Edukasi Konservasi Tanah dan Air di Kulon Progo

Sleman – Upaya meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pelestarian lingkungan terus dilakukan berbagai pihak, termasuk kalangan perguruan tinggi. Salah satunya melalui kegiatan pemberdayaan masyarakat bertajuk Sosialisasi Konservasi Tanah dan Air yang diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (BEM-FKIP) bersama Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Pertanian (BEM-FP) Universitas PGRI Yogyakarta (UPY) di Pendopo Sasana Bhakti Praja Pendoworejo, Kapanewon Girimulyo, Kabupaten Kulon Progo, Selasa (16/6/2026).

Kegiatan hasil kolaborasi dengan Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman tersebut menjadi bagian dari pengabdian mahasiswa kepada masyarakat sekaligus sarana edukasi untuk meningkatkan pemahaman warga mengenai pentingnya menjaga keseimbangan lingkungan melalui pengelolaan sumber daya tanah dan air secara berkelanjutan dihadapan perwakilan warga dari 17 padukuhan di Kalurahan Pendoworejo.

Dalam kesempatan tersebut, mahasiswa Universitas PGRI Yogyakarta menghadirkan pendiri SAH Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih sebagai narasumber. Saat mempresentasikan materi, Dia menjelaskan pentingnya pengelolaan air hujan dan pemeliharaan struktur tanah sebagai langkah strategis dalam menghadapi dampak perubahan iklim serta menjaga ketersediaan air bersih, terutama di wilayah perbukitan seperti Girimulyo.

“Konservasi tanah dan air bukan hanya tugas pemerintah atau aktivis lingkungan saja, melainkan tanggung jawab bersama yang dapat dimulai dari lingkungan rumah tangga. Memanen air hujan dan menjaga pori-pori tanah merupakan langkah sederhana yang dapat memberikan dampak besar bagi keberlanjutan lingkungan,” tandas Wahyuningsih.

Sementara itu, Ibnu Maulana Afriyan selaku Ketua Panitia Kegiatan menjelaskan bahwa kolaborasi antara BEM-FKIP dan BEM-FP Universitas PGRI Yogyakarta dirancang untuk mengintegrasikan perspektif pendidikan dan pertanian dalam upaya pemberdayaan masyarakat 17 padukuhan di Kalurahan Pendoworejo.

“Melalui kegiatan ini, masyarakat diharapkan tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai konservasi tanah dan air, tetapi juga mampu menerapkan berbagai praktik baik sederhana yang relevan dengan kondisi lingkungan setempat,” terangnya antusias.

Lebih lanjut, Ibnu menjelaskan bahwa konservasi tanah dan air merupakan langkah strategis untuk menjaga produktivitas lahan sekaligus menjamin ketersediaan sumber air bagi generasi mendatang. Menurutnya, wilayah perbukitan seperti Girimulyo memiliki potensi kerentanan terhadap degradasi lingkungan apabila tidak dibarengi dengan upaya konservasi yang tepat.

Selain penyampaian materi, kegiatan diisi dengan sesi diskusi dan tanya jawab. Warga mendapatkan pemahaman mengenai berbagai teknik konservasi sederhana yang dapat diterapkan di lingkungan sekitar. Beberapa di antaranya meliputi pembuatan biopori, penanaman vegetasi penutup tanah, pemanfaatan terasering, hingga pengelolaan air hujan di kawasan permukiman untuk meningkatkan cadangan air tanah.

Melalui forum sosialisasi konservasi tanah dan air ini, BEM-FKIP dan BEM-FP Universitas PGRI Yogyakarta berharap tumbuh kesadaran yang lebih kuat di tengah masyarakat untuk menjaga kelestarian lingkungan. Dengan pengelolaan tanah dan air yang baik, keseimbangan ekosistem dapat terjaga, produktivitas lahan tetap optimal, serta kualitas hidup masyarakat dapat meningkat secara berkelanjutan.

“Semoga kesadaran masyarakat terhadap pentingnya konservasi tanah dan air semakin meningkat, sehingga dapat mendukung ketahanan lingkungan, ketahanan pangan, serta keberlanjutan sumber daya alam di Kalurahan Pendoworejo,” harap Ibnu. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Dari Medari, Menelusuri Kenangan Sepur Kluthuk Era 1960-an

Sleman – Di wilayah Medari, Kapanewon Sleman, masih berdiri kokoh sebuah bangunan menyerupai gerbang yang kerap luput dari perhatian. Letaknya tersembunyi sekitar 500 meter di selatan SPBU Medari. Bentuknya sederhana, berupa penyangga jembatan kereta api yang kini tidak lagi terhubung dengan rel maupun timbunan tanah. Namun, bagi mereka yang mengenal sejarahnya, bangunan tersebut merupakan saksi bisu kejayaan jalur kereta api Yogyakarta–Magelang–Ambarawa.

Pada masanya, di atas bangunan itu membentang rel kereta api yang menghubungkan Yogyakarta, Magelang, hingga Ambarawa. Sementara di bawahnya melintas jalur lori pengangkut tebu menuju Pabrik Gula Medari, salah satu pabrik gula yang pernah berjaya di kawasan tersebut. Kini pabrik gula itu telah lama berhenti beroperasi. Di lokasi yang sama berdiri pabrik kain mori milik GKBI (Gabungan Koperasi Batik Indonesia).

Kenangan tentang jalur kereta api itu masih tersimpan jelas dalam ingatan Djoko Sunarto (78), warga asal Temanggung. Saat ditemui pada Selasa (16/6/2026), ia mengenang masa-masa ketika menjadi penumpang setia kereta uap yang akrab disebut masyarakat sebagai “Sepur Kluthuk”.

“Pada tahun 1960-an saya sering menggunakan sepur itu untuk pulang-pergi. Saat itu saya kuliah di UGM Yogyakarta dan ngekos di Mergangsan Lor. Hampir setiap minggu saya pulang menggunakan kereta tersebut,” tuturnya.

Menurut Djoko, suasana perjalanan kala itu sangat berkesan. Penumpang berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, pegawai, petani, hingga pedagang yang menjajakan makanan tradisional selama perjalanan.

“Jendela kereta selalu terbuka sehingga penumpang bisa menikmati udara segar sambil melihat hamparan sawah, kebun, dan perkampungan di sepanjang jalur,” tuturnya.

Ia menambahkan, kereta tersebut melewati sejumlah stasiun kecil seperti Guntur, Nguwet, Kranggan, Payaman, Magelang, Mertoyudan, Tempel, Medari, dan Sleman sebelum berakhir di Stasiun Tugu Yogyakarta. Pada beberapa titik, rel kereta bahkan berdampingan dengan jalan raya sehingga kereta, sepeda, dan kendaraan bermotor tampak berjalan beriringan.

Dibangun pada masa kolonial Belanda, jalur kereta api tersebut menjadi sarana transportasi bagi masyarakat sekaligus mendukung distribusi hasil perkebunan dari wilayah pedalaman menuju Yogyakarta. Selain mengangkut penumpang, kereta api juga berperan besar dalam menunjang industri gula yang berkembang pesat di wilayah Sleman dan Magelang pada awal abad ke-20.

Menurut sejumlah catatan sejarah, operasional jalur tersebut berakhir pada tahun 1975. Salah satu penyebabnya adalah rusaknya jembatan kereta api di atas Kali Krasak, sekitar empat kilometer dari Medari. Jembatan itu diterjang lahar dingin Gunung Merapi sehingga jalur tidak lagi dapat dilalui. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)