KPOTI Sleman Siapkan Regulasi Baku Demi Angkat Kasta Olahraga Tradisional

Sleman – Komite Olahraga dan Permainan Tradisional Indonesia (KPOTI) Kabupaten Sleman menegaskan bahwa kunci utama dalam melestarikan permainan rakyat di era modern adalah dengan menghadirkan regulasi pertandingan yang jelas dan kepemimpinan wasit yang profesional. Guna mewujudkan ekosistem kompetisi yang tertib dan adil, KPOTI Sleman menyelenggarakan Pelatihan Wasit Permainan dan Olahraga Tradisional yang berpusat di Gedung Youth Center Sleman pada Sabtu (13/6/2026). Langkah ini diambil untuk mengikis potensi kekisruhan yang sering terjadi dalam perlombaan tradisional akibat perbedaan pemahaman aturan di lapangan.
Fokus dari peristiwa ini adalah standardisasi kompetisi sebagai fondasi pelestarian kebudayaan secara konkret. Pelatihan yang diikuti oleh 54 peserta dari berbagai latar belakang ini dirancang untuk mencetak korps pengadil pertandingan yang kompeten, yang nantinya akan mengawal jalannya berbagai festival olahraga tradisional agar sejajar dengan cabang olahraga modern lainnya.
Ketua KPOTI Kabupaten Sleman, Syukron Arif Muttaqin, memaparkan bahwa pihaknya telah menyusun peta jalan strategis yang terdiri dari tiga agenda besar hasil kerja sama dengan Badan Pelestarian Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta. Langkah terstruktur ini sengaja digulirkan secara berkesinambungan demi membangkitkan kembali kecintaan generasi muda terhadap kekayaan budaya nusantara.
“Event pertama sudah kami gelar beberapa waktu lalu berupa sosialisasi permainan tradisional kepada Kamituwa se-Kabupaten Sleman di Gedung DPRD. Sementara event kedua adalah pelatihan wasit yang berlangsung hari ini dan besok dengan tujuan utama untuk menyatukan persepsi aturan main,” ujar Syukron Arif Muttaqin di sela-sela memantau jalannya pelatihan.
Lebih lanjut, ia membeberkan bahwa puncak dari rangkaian program tersebut adalah pembukaan ruang kompetisi riil bagi anak-anak lewat agenda ketiga. KPOTI Sleman dijadwalkan akan menggelar Festival Permainan dan Olahraga Tradisional tingkat Sekolah Dasar (SD) se-Kabupaten Sleman pada tanggal 20 Juni 2026 mendatang. Festival ini akan menjadi panggung perdana bagi para wasit yang baru saja dilatih untuk mempraktikkan ilmu perwasitannya secara langsung.
Tidak hanya fokus pada aspek kompetisi di lapangan, KPOTI Sleman juga menaruh perhatian besar pada lini dokumentasi sejarah dengan mengadakan lomba penulisan naskah permainan rakyat. Dari sekian banyak karya yang dikirimkan oleh masyarakat, panitia telah menyaring 19 naskah terbaik yang paling komprehensif. Para penulis terpilih tersebut nantinya akan diundang untuk mengikuti bimbingan teknis pada tanggal 16 Juni 2026 agar hasil karya mereka memenuhi standar penulisan dokumen ilmiah.
Naskah-naskah yang telah disempurnakan tersebut akan dibukukan sebagai dokumen resmi milik KPOTI Sleman. Buku panduan tersebut diproyeksikan menjadi cetak biru sekaligus pedoman baku yang dapat diakses secara luas oleh institusi pendidikan maupun masyarakat umum yang ingin menyelenggarakan lomba permainan rakyat secara benar dan terstruktur.
Di hadapan puluhan peserta pelatihan, Syukron Arif Muttaqin menitipkan pesan mendalam mengenai tanggung jawab moral pasca-pelatihan. Ia menegaskan bahwa sertifikat kelulusan yang nantinya diraih para peserta akan sia-sia jika tidak dibarengi dengan aksi nyata menyebarluaskan olahraga tradisional di lingkungan tempat tinggal masing-masing.
“Jadi wasit itu penting, tapi yang lebih penting adalah kapan Anda mau mengembangkan dan memberdayakan masyarakat untuk mengenal permainan rakyat. KPOTI berusaha mengembalikan budaya yang terpendam. Melestarikan budaya jangan sampai larut terbawa arus zaman,” tandas Syukron Arif Muttaqin guna mengakhiri arahannya.
Melalui sinergi pembajakan aturan main dan penguatan literasi digital serta tekstual ini, KPOTI Sleman optimis permainan asli daerah seperti egrang, bakiak, dan hadang tidak akan punah digilas teknologi. Lahirnya para pengadil pertandingan yang bersertifikasi dari ajang ini diharapkan mampu memicu tren baru di masyarakat untuk kembali membumikan olahraga tradisional sebagai simbol kebanggaan dan pembentuk karakter bangsa. (Giek/KIM Moyudan)



