Siaga Hadapi Krisis, Ratusan Relawan Lintas Sektor Condongcatur Gembleng Fisik dan Soliditas

Sleman – Pemerintah Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, bergerak cepat memperkuat barisan penanggulangan darurat di tingkat lokal guna mengantisipasi potensi krisis dan kebencanaan. Langkah taktis ini diwujudkan melalui pembinaan gabungan yang melibatkan Satuan Perlindungan Masyarakat (Satlinmas), Desa Tangguh Bencana (Destana), Kampung Siaga Bencana (KSB), dan Tim Dapur Umum. Agenda intensif yang memadukan kedisiplinan militer dan kerja bakti sosial ini dipusatkan di halaman Kantor Kalurahan Condongcatur pada Sabtu (13/6/2026) sejak pukul WIB.

Fokus utama dari pergelaran rutin bulanan ini adalah meruntuhkan sekat-sekat antar-organisasi relawan demi membangun satu komando yang solid. Mengingat Condongcatur merupakan kawasan semi-urban dengan tingkat kepadatan penduduk yang tinggi, keselarasan gerak antara petugas keamanan lingkungan dan tim evakuasi bencana menjadi kunci mutlak agar respons penanganan di lapangan dapat berjalan cepat tanpa tumpang tindih.

Rangkaian kegiatan diawali dengan apel pagi yang dipimpin langsung oleh Jagabaya Condongcatur, Rudi Antariksawan. Dalam amanatnya di hadapan barisan relawan, ia menegaskan bahwa status kedaruratan tidak pernah kompromi dengan waktu, sehingga kesiapan mental dan loyalitas personel harus terus diasah meski dalam situasi wilayah yang landai.

“Kesiapsiagaan tidak dibangun secara instan. Melalui pembinaan rutin seperti ini, kami ingin membentuk personel yang sehat, disiplin, tangguh, dan mampu bekerja sama sehingga siap memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat kapan pun dibutuhkan,” ujar Rudi Antariksawan dengan tegas.

Guna menunjang performa operasional, seluruh peserta yang mengenakan kaos olahraga sesuai identitas kesatuan masing-masing langsung digembleng latihan fisik dasar. Sesi pemanasan dan pembinaan kebugaran ini dikomandoi langsung oleh jajaran TNI dan Polri setempat, yakni Babinsa Condongcatur, Jati Hary Prayuda, bersama tim Bhabinkamtibmas Condongcatur yang terdiri dari Bastian Sapta Adhi dan Bagiyo. Para relawan dipacu melakukan gerakan peregangan otot, push-up, hingga sit-up sebelum akhirnya melakukan lari pagi massal menyusuri jalan-jalan utama di kawasan utara Condongcatur sekaligus memantau potensi kerawanan lingkungan.

Jati Hary Prayuda menyampaikan bahwa penguatan ketahanan fisik bukan sekadar pelengkap formalitas organisasi. Ketahanan fisik merupakan fondasi utama yang akan menentukan hidup dan matinya kecepatan evakuasi saat terjadi bencana riil di lapangan.

“Kondisi fisik yang prima akan menunjang kecepatan dan ketepatan personel saat menjalankan tugas di lapangan. Kebersamaan dalam berlatih juga memperkuat koordinasi dan jiwa korsa di antara seluruh unsur,” ungkap Jati Hary Prayuda setelah memimpin latihan fisik.

Pandangan senada diutarakan oleh Bastian Sapta Adhi yang menilai bahwa forum terpadu ini sukses memangkas jarak birokrasi antara aparat pembina kewilayahan dengan garda relawan sipil. Ia meyakini, elemen Dapur Umum yang andal tidak akan maksimal tanpa pengawalan Satlinmas yang tegas, begitu pula sebaliknya dalam ekosistem mitigasi bencana.

“Kolaborasi Satlinmas, Destana, KSB, dan Dapur Umum merupakan modal penting dalam menjaga keamanan, ketertiban, serta kesiapsiagaan menghadapi potensi bencana. Dengan latihan rutin dan komunikasi yang baik, respons terhadap berbagai situasi di lapangan akan semakin efektif,” kata Bastian Sapta Adhi.

Menutup agenda fisik, seluruh relawan langsung bergotong royong membersihkan kompleks Kantor Kalurahan Condongcatur untuk membersihkan sisa rumput liar dan merapikan fasilitas pelayanan publik. Kebersamaan tersebut diakhiri dengan sesi sarapan bersama untuk mencairkan suasana. Melalui sinergi berkala ini, Pemerintah Kalurahan Condongcatur optimis dapat melahirkan klaster relawan kemanusiaan yang profesional, mandiri, dan memiliki ketangguhan wilayah yang paripurna. (Wasana/KIM Depok)




Benteng Identitas Bangsa, Kundha Kabudayan Sleman Dorong Standardisasi Wasit Olahraga Tradisional

Sleman – Dinas Kebudayaan atau Kundha Kabudayan Kabupaten Sleman bergerak cepat menyelamatkan kelestarian warisan budaya takbenda dari gerusan zaman. Salah satu langkah konkretnya diwujudkan melalui pembekalan komparatif dalam agenda Pelatihan Wasit Permainan dan Olahraga Tradisional Batch III Kabupaten Sleman Tahun 2026 yang digelar di Gedung Youth Center Balai Pemuda dan Olahraga Sleman pada Sabtu (13/6/2026). Melalui program ini, pemerintah daerah berupaya menyuntikkan standar profesionalisme baru agar permainan rakyat bisa naik kelas menjadi kompetisi yang diminati generasi muda.

Kegiatan yang diikuti oleh 54 peserta dari berbagai latar belakang profesi ini membedah tuntas regulasi perwasitan dan tata cara perlombaan. Kehadiran korps wasit yang bersertifikat dinilai menjadi kunci utama agar festival maupun turnamen olahraga tradisional di masa depan dapat diselenggarakan secara adil, rapi, dan menarik secara visual bagi penonton modern.

Sekretaris Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, Arif Wibowo, yang hadir sebagai narasumber utama menegaskan bahwa permainan tradisional bukan sekadar komoditas hiburan masa lalu. Aktivitas fisik tersebut merupakan refleksi dari cara hidup, nilai moral, dan kristalisasi identitas suatu suku bangsa yang mengakar kuat di nusantara.

“Keberadaan permainan tradisional tidak hanya berfungsi sebagai sarana hiburan, tetapi juga menjadi media pembelajaran yang mengajarkan nilai kebersamaan, sportivitas, disiplin, dan kerja sama,” ujar Arif Wibowo di hadapan puluhan peserta pelatihan.

Ia tidak memungkiri bahwa lompatan teknologi digital dan pergeseran gaya hidup urban telah membuat anak-anak serta remaja mulai melupakan permainan fisik di luar ruangan. Guna membendung tren negatif tersebut, Kundha Kabudayan Sleman menilai metode penyelamatan kebudayaan harus diubah dari yang semula bersifat dokumentasi pasif menjadi gerakan praktik yang dinamis secara berkelanjutan.

“Pelestarian budaya tidak cukup hanya melalui dokumentasi atau pengenalan secara teoritis, melainkan harus diwujudkan melalui praktik yang berkelanjutan di tengah masyarakat. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan menyiapkan sumber daya manusia yang kompeten, termasuk para wasit yang memahami aturan, filosofi, dan nilai budaya yang terkandung dalam setiap permainan tradisional,” jelas Arif Wibowo.

Lebih lanjut, ia menerangkan bahwa lahirnya wasit-wasit yang andal akan meningkatkan kualitas dari setiap turnamen tradisional yang diadakan di wilayah Sleman. Ketika sebuah pertandingan dikelola dengan regulasi yang jelas dan dipimpin oleh pengadil yang profesional, atmosfer kompetisi akan terasa lebih hidup dan berbobot.

“Keberadaan wasit yang profesional akan membantu menciptakan kompetisi yang tertib, adil, dan berkualitas. Dengan demikian, berbagai kegiatan perlombaan maupun festival permainan tradisional dapat diselenggarakan secara lebih baik dan mampu menarik minat masyarakat untuk berpartisipasi,” sambung Arif Wibowo.

Pemerintah Kabupaten Sleman menaruh harapan besar agar 54 peserta yang telah menyelesaikan pelatihan ini tidak hanya bertugas saat ada kejuaraan resmi saja. Selepas dari pelatihan ini, mereka diinstruksikan untuk melebur ke lingkungan tempat tinggal masing-masing sebagai agen pelestari kebudayaan yang aktif memasyarakatkan kembali olahraga tradisional.

Aksi nyata dari seluruh elemen masyarakat ini diharapkan mampu membentuk ekosistem kebudayaan yang mandiri di Kabupaten Sleman. Dengan perpaduan antara kepedulian warga dan pengawalan teknis yang profesional, permainan tradisional asli daerah diproyeksikan tetap lestari, adaptif terhadap arus modernisasi, serta menjadi kebanggaan yang terus diwariskan ke generasi masa depan. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Lestarikan Warisan Budaya, KPOTI Sleman Gelar Pelatihan Wasit Olahraga Tradisional

Sleman – Komite Olahraga dan Permainan Tradisional Indonesia (KPOTI) Kabupaten Sleman mengambil langkah strategis untuk menyelamatkan aset budaya bangsa dari kepunahan digital. Bekerja sama dengan Badan Pelestari Kebudayaan, KPOTI Sleman menyelenggarakan Pelatihan Wasit Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional. Agenda yang berfokus pada standardisasi aturan dan penegakan sportivitas ini dibuka secara resmi di Gedung Youth Center Sleman pada Sabtu (13/6/2026).

Pelatihan intensif yang berlangsung selama dua hari hingga Minggu (14/6/2026) ini diikuti oleh 54 peserta yang memiliki latar belakang beragam, mulai dari guru, dosen, pegiat kebudayaan, hingga masyarakat umum. Pembukaan acara dilakukan oleh Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga Sleman, Cholis Noor Mutaslimah, yang hadir mewakili Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa.

Dalam sambutan tertulisnya, Danang Maharsa menyoroti tantangan berat yang dihadapi oleh kekayaan non-benda asli Indonesia di era modernisasi. Menurutnya, dominasi gawai dan ekosistem hiburan digital telah menggeser eksistensi permainan fisik yang sarat akan nilai-nilai luhur.

“Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan gaya hidup, permainan tradisional menghadapi tantangan tidak ringan. Generasi muda lebih banyak berinteraksi dengan hiburan digital, sehingga bakiak atau terompah panjang, hadang, dan egrang makin jarang dimainkan,” ujar Danang Maharsa dalam pidato tertulisnya yang dibacakan oleh Cholis Noor Mutaslimah.

Lebih lanjut, Danang Maharsa menegaskan bahwa urusan pelestarian ini bukan sekadar bernostalgia dengan masa lalu, melainkan bagian dari investasi pembentukan karakter bangsa. Permainan rakyat dinilai kaya akan falsafah kehidupan yang mengajarkan arti kerja sama kelompok, kedisiplinan, kejujuran, serta ketangguhan mental sejak usia dini.

Oleh karena itu, kehadiran korps wasit yang bersertifikat dan kompeten menjadi instrumen mutlak agar olahraga tradisional dapat naik kelas menjadi kompetisi yang profesional tanpa kehilangan marwah aslinya. Wasit dituntut memiliki integritas tinggi agar jalannya pertandingan dapat dinikmati secara adil dan aman.

“Wasit bukan sekadar pemimpin pertandingan. Wasit adalah garda terdepan agar lomba berjalan tertib, adil, aman, dan menjunjung sportivitas. Jadilah agen pelestarian budaya di lingkungan masing-masing,” tandas Danang Maharsa.

Sejalan dengan visi tersebut, Ketua Panitia Kegiatan, Beni Kusuma, memaparkan bahwa pelatihan ini sengaja dirancang untuk menyatukan persepsi mengenai aturan main olahraga tradisional yang selama ini sering kali memiliki ragam versi di setiap daerah. Penyamaan regulasi pertandingan ini dinilai penting agar kompetisi tradisional dapat dipertandingkan secara berjenjang hingga tingkat nasional.

“Tujuannya melestarikan budaya, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, dan menyatukan persepsi aturan permainan. Para peserta tidak hanya menerima teori di dalam kelas, tetapi juga langsung dibekali bimbingan teknis serta praktik lapangan bersama narasumber yang ahli di bidangnya,” jelas Beni Kusuma saat menyampaikan laporan kegiatan.

Pemerintah Kabupaten Sleman pun menegaskan komitmennya untuk terus memfasilitasi ruang-ruang publik dan institusi pendidikan agar secara berkala menggelar festival olahraga tradisional. Dengan lahirnya puluhan wasit baru yang profesional dari pelatihan ini, diharapkan permainan rakyat dapat terus beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa harus mengorbankan nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya. (Giek/KIM Moyudan)




Bangkitkan Sedekah Sampah, Generasi Muda Margoluwih Disiapkan Jadi Garda Baru Pengelolaan Limbah

Sleman – Kedaruratan masalah sampah di tingkat hulu memicu gerakan swadaya di tingkat akar rumput untuk kembali menggeliat. Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM) Bartakum Iman yang berbasis di Padukuhan Barak II, Kalurahan Margoluwih, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, kini resmi membangun momentum kebangkitan baru. Kelompok yang memiliki kepanjangan Barak Tanpa Kumuh, Indah, Nyaman ini berupaya memompa kembali semangat pengelolaan limbah domestik setelah program sedekah sampah mereka sempat mengalami pasang surut selama hampir 10 tahun, terutama pascapandemi.

Langkah taktis menghidupkan kembali organisasi ini dipicu oleh tantangan regenerasi pengurus yang krusial. Sebagian besar penggerak lama kini telah memasuki usia lanjut, sementara jumlah personel aktif terus menyusut. Merespons kondisi darurat tersebut, Pemerintah Kalurahan Margoluwih mengintervensi lewat kegiatan pembinaan dan pelatihan intensif yang digelar di serambi Masjid Al Mubarok Barak II pada Sabtu (13/6/2026).

Agenda ini diikuti oleh 25 peserta yang terdiri atas pengurus lama, ibu-ibu PKK, kader kesehatan, tokoh masyarakat, serta elemen pemuda setempat. Ulu-Ulu Margoluwih, Sutikno, yang memfasilitasi langsung jalannya program menegaskan bahwa penanganan sampah domestik merupakan tanggung jawab kolektif yang mutlak membutuhkan konsistensi lintas generasi.

“Kalurahan secara khusus mengalokasikan dana pembinaan dan pelatihan pengelolaan sampah karena sampai kapanpun sampah akan menjadi masalah, sebab kita semua adalah produsen sampah. Terlebih sekarang ini masih banyak terjadi pembuangan sampah liar, termasuk di wilayah Margoluwih,” ujar Sutikno saat membuka jalannya koordinasi.

Ia menambahkan bahwa fokus utama dari pembinaan kali ini bukan sekadar mengaktifkan kembali timbangan sedekah sampah, melainkan melakukan restrukturisasi organisasi. Pemerintah kalurahan sengaja membidik kelompok pemuda di padukuhan untuk diposisikan sebagai pilar penggerak utama agar roda organisasi memiliki napas yang lebih panjang dan adaptif.

Guna membekali para calon pengurus baru, pihak kalurahan menghadirkan praktisi sekaligus Petugas Pendamping Pengelolaan Sampah Kapanewon Seyegan, Sutarto Agus Raharjo. Dalam orasi edukasinya, ia memaparkan strategi radikal pengurangan volume limbah yang wajib dipraktikkan langsung di dapur masing-masing keluarga.

“Pengelolaan sampah paling efektif dimulai dari sumbernya, yaitu rumah tangga. Minimal masyarakat bisa memilah sampah organik dan anorganik sebelum dibuang,” jelas Sutarto Agus Raharjo.

Ia menguraikan teknik penerapan budaya 3R (Reduce, Reuse, Recycle) dalam skala domestik, seperti komitmen membawa tas belanja sendiri untuk memotong rantai pasokan kantong plastik sekali pakai. Tidak hanya itu, para pemuda dan warga juga diajarkan pemanfaatan instalasi teknologi tepat guna untuk mengurai sampah organik secara mandiri, mulai dari metode jugangan, lubang biopori, losida, biopot, hingga tabung komposter mandiri.

Untuk optimalisasi komoditas sampah anorganik bernilai ekonomis seperti botol plastik, para peserta dikenalkan pada konsep Rumah Pilah Sampah atau yang populer disebut “Rumpi-ah”. Sistem pergudangan yang tertata ini nantinya akan dikawinkan dengan platform digital berbasis web bernama Siosestu (Sistem Informasi Operasional Pengelolaan Sampah Terpadu) untuk pelaporan data yang akurat.

“Pendataan berbasis digital membutuhkan keterlibatan generasi muda. Karena itu, sedekah sampah perlu merekrut anak-anak muda agar gerakan ini bisa terus berlanjut,” tambah Sutarto Agus Raharjo terkait urgensi digitalisasi sampah oleh pemuda.

Mendengar pemaparan tersebut, salah satu perwakilan tokoh pemuda Barak II menyatakan kesiapannya untuk mengambil alih tongkat estafet kepengurusan demi menjaga kebersihan tanah kelahiran mereka.

“Kami menyadari bahwa pengoperasian aplikasi digital dan pengelolaan fisik bank sampah ini memerlukan tenaga yang produktif. Kami siap mengorganisir teman-teman karang taruna untuk turun langsung mengaktifkan kembali tabungan sedekah sampah di kampung ini,” tutur pemuda tersebut dengan optimistis.

Melalui sinergi materi teknis dan semangat baru dari kelompok remaja ini, KPSM Bartakum Iman diproyeksikan mampu bertransformasi menjadi role model pengelolaan lingkungan di tingkat kalurahan. Keterlibatan aktif generasi muda diharapkan menjadi jawaban atas problem lingkungan di Margoluwih, sekaligus menjadi bukti nyata bahwa kesadaran ekologi dapat tumbuh subur dari level padukuhan. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Atasi Masalah Sampah di Hulu, DLH Sleman Matangkan Evaluasi KPSM dan Bantuan Sarpras Wilayah Barat

Sleman – Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman bergerak cepat memperkuat tata kelola pengelolaan sampah berbasis masyarakat demi mengatasi kedaruratan sampah di daerah. Langkah taktis ini diwujudkan melalui rapat koordinasi intensif yang digelar di RM Joglo Nartoatmojo, Margokaton, Kapanewon Seyegan, Kabupaten Sleman, pada Jumat (12/6/2026). Pertemuan ini difokuskan untuk mematangkan kesiapan monitoring dan evaluasi bagi Kelompok Pengelola Sampah Mandiri baru serta kelompok penerima hibah sarana dan prasarana di wilayah Sleman Barat.

Agenda krusial ini dihadiri oleh 30 Petugas Pendamping Pengelolaan Sampah tingkat kalurahan, kawasan, dan kapanewon yang mengawal wilayah Sleman Barat, meliputi Kapanewon Seyegan, Minggir, Moyudan, dan Godean. Melalui rakor ini, DLH Sleman ingin memastikan bahwa seluruh instrumen pendamping di lapangan memiliki kesamaan persepsi sebelum tim penilai diterjunkan langsung untuk memeriksa performa kelompok pengolah sampah di tingkat tapak.

Dalam rapat tersebut, berbagai indikator teknis dibedah secara mendalam, mulai dari tertib administrasi kelembagaan KPSM baru, validitas data dukung, status kepemilikan aset, hingga kewajiban pemasangan stiker tahun pengadaan pada sarpras bantuan. Ketua Tim Kerja Pengelolaan Persampahan DLH Sleman, Fitasari Ayu Wardani, menegaskan bahwa akuntabilitas administrasi merupakan syarat mutlak yang tidak bisa ditawar sebelum verifikasi lapangan dimulai.

“Daftar KPSM baru yang akan dimonev sudah harus masuk di awal bulan Juni dan diusulkan ke DLH dengan mencantumkan nama serta alamat KPSM. Sedangkan pelaksanaan monev menunggu penjadwalan dari DLH,” ujar Fitasari Ayu Wardani saat memberikan pengarahan.

Ia merinci bahwa pengawasan sarpras tahun ini akan memberikan perhatian khusus kepada kelompok masyarakat yang menerima bantuan hibah kendaraan roda tiga pengadaan tahun 2025. DLH Sleman tidak ingin bantuan tersebut mangkrak, sehingga tim di lapangan nantinya akan memeriksa langsung kondisi fisik armada, mengecek keberadaan stiker inventaris, hingga mengukur sejauh mana efektivitas kendaraan tersebut dalam mengangkut dan mengurangi volume sampah di lingkungan warga.

Selain mematangkan skema evaluasi, pertemuan ini juga melahirkan kesepakatan mengenai skema fasilitasi sosialisasi dan pembentukan KPSM di titik-titik baru. Guna mengoptimalkan penyerapan, dana pembinaan yang telah dialokasikan pemerintah akan diserahkan dan dikelola langsung oleh P3S di tiap kapanewon. Langkah desentralisasi anggaran ini diambil agar program edukasi sampah di lapangan dapat dikemas lebih fleksibel, sesuai dengan karakteristik dan kebutuhan mendesak masing-masing wilayah.

“Bentuk kegiatannya kami serahkan di masing-masing lokasi, termasuk penentuan KPSM yang akan menjadi sasaran fasilitasi,” tambah Fitasari Ayu Wardani.

Modernisasi pengelolaan sampah juga menjadi daya tarik dalam koordinasi ini dengan diumumkannya rencana pelatihan Sistem Informasi Operasional Pengelolaan Sampah Terpadu (Siosestu) bagi kelompok yang belum bermigrasi ke sistem digital. Pelatihan aplikasi ini akan digelar dalam format klaster taktis, di mana satu sesi pelatihan akan menggabungkan pengurus dari dua kapanewon sekaligus dengan kuota terbatas 30 peserta per sesi agar proses transfer teknologi berjalan optimal.

Sebagai pemungkas acara, Koordinator Pendamping Kawasan, Andi Triyanto, memberikan pembekalan langsung mengenai pembaruan sistem dan fitur terbaru yang ada di dalam aplikasi Siosestu. Berbagai menu pelaporan kini dibuat lebih ringkas dan adaptif demi merespons kendala teknis yang sering dikeluhkan oleh para pengurus kelompok di lapangan.

“Perubahan fitur ini merupakan hasil evaluasi dan masukan dari KPSM pengguna aplikasi agar pelaporan data pengelolaan sampah menjadi lebih mudah dan aplikatif,” jelas Andi Triyanto.

Melalui integrasi antara pembinaan administrasi, pengawasan ketat bantuan fisik, dan pemanfaatan ekosistem digital ini, DLH Sleman optimis kualitas pengolahan limbah domestik oleh warga akan meningkat tajam. Penguatan kapasitas ini diharapkan mampu mentransformasi KPSM di Sleman Barat menjadi garda terdepan yang mandiri dan tangguh dalam menekan volume pembuangan sampah langsung ke tempat pembuangan akhir. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)