Sarasehan Sastra dan Media Pasbuja Kawi Merapi Dorong Pengembangan Sastra Jawa di Era Digital

Sleman — Paguyuban Sastra Budaya Jawa (Pasbuja) Kawi Merapi Sleman menggelar Sarasehan Sastra dan Media di Ruang Rukun, Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman, Rabu (10/6/2026). Kegiatan tersebut terselenggara atas fasilitasi Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman.
Sarasehan diikuti 25 anggota Pasbuja dan dipandu oleh Eti Daniastuti. Kegiatan tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni redaktur majalah Djaka Lodang, Suhindriyo dan wartawan senior Harian Kedaulatan Rakyat sekaligus penulis sejumlah buku, Fadmi Sustiwi, dengan moderator Wiyana Antasena.
Acara dibuka oleh Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Bidang Sejarah, Bahasa, Sastra, dan Permuseuman Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, Ita Kurniawati, yang mewakili Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman.
Ketua Pasbuja Kawi Merapi, Sutopo Sugihartono, menyampaikan apresiasi kepada Dinas Kebudayaan Sleman yang telah memfasilitasi terselenggaranya sarasehan tersebut. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya menjadi ajang silaturahmi antarpegiat sastra, tetapi juga wadah diskusi mengenai perkembangan sastra sekaligus upaya memperluas wawasan literasi budaya, khususnya sastra Jawa.
“Semoga kegiatan sarasehan ini memberikan banyak manfaat bagi kebudayaan dan sastra Jawa, serta mendorong perkembangan sastra Jawa di Kabupaten Sleman agar semakin maju dan dikenal masyarakat luas,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Suhindriyo membagikan pengalaman dan pandangannya mengenai pentingnya karya sastra tulis sebagai dokumentasi budaya. Menurutnya, tradisi tutur memiliki risiko hilang seiring berjalannya waktu. Sementara karya sastra yang terdokumentasi dalam bentuk tulisan akan menjadi warisan yang dapat terus dikenang lintas generasi.
“Kadang penulisnya sudah tiada, tetapi karya sastra yang ditinggalkannya tetap hidup dan dikenang sepanjang masa,” jelasnya.
Sementara itu, narasumber kedua, Fadmi Sustiwi atau yang akrab disapa Niniek menyoroti hubungan erat antara sastra dan media. Menurutnya, perkembangan sastra tidak dapat dipisahkan dari peran media sebagai sarana publikasi dan penyebarluasan karya.
Oleh karena itu, keberadaan media, baik cetak maupun digital, memiliki peran penting dalam mendukung pertumbuhan sastra.
“Perkembangan sastra sangat didukung oleh keberadaan media, baik media cetak maupun elektronik,” katanya.
Niniek menilai tantangan terbesar sastra Jawa saat ini adalah kemampuannya beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital. Mengingat, sastra Jawa memiliki penggemar tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara lainnya.
“Kalau ingin berkembang dengan baik, sastra Jawa harus masuk ke dunia digital,” tegasnya. (Kusnadi KIM Berbah)



