Jaga Daya Beli Masyarakat, Pemerintah Kalurahan Margorejo Sleman Salurkan BLT Dana Desa

Sleman — Penjagaan terhadap stabilitas ekonomi sirkular di tingkat keluarga miskin ekstrem terus diintensifkan oleh jajaran aparatur perdesaan. Menyadari pentingnya bantalan sosial dalam mengantisipasi fluktuasi harga kebutuhan pokok, Pemerintah Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, merealisasikan penyaluran program Bantuan Langsung Tunai Dana Desa (BLT-DD) bertempat di ruang pertemuan kalurahan setempat pada Jumat (5/6/2026).

Langkah jaminan sosial ini diposisikan sebagai instrumen strategis yang tidak hanya sekadar memindahkan dana kas negara ke masyarakat, melainkan memperkuat jaring pengaman sosial nasional langsung dari unit wilayah terkecil. Melalui eksekusi program berbasis inklusi ini, sebanyak 14 Keluarga Penerima Manfaat (KPM) yang telah lolos verifikasi ketat menerima hak keuangan tunai sebesar Rp300 ribu per bulan secara utuh tanpa ada potongan birokrasi apa pun.

Pemerintah Kalurahan Margorejo yang diwakili oleh Kamituwa Anwar Insani menegaskan bahwa implementasi BLT Dana Desa merupakan draf penugasan konstitusi dalam memberikan perlindungan mutlak kepada warga miskin pasca-pandemi dan disrupsi ekonomi global. Penyaluran komoditas finansial ini didesain agar masyarakat di tingkat tapak memiliki ketahanan pangan harian yang mandiri dan tidak terperosok ke dalam kemiskinan struktural yang lebih dalam.

“Bantuan langsung tunai ini kami harapkan dapat secara instan membantu meringankan beban pengeluaran domestik harian bagi masyarakat penerima manfaat di Margorejo. Meskipun dari segi nominal jumlah nilai uang yang didistribusikan ini terhitung terbatas, kami meyakini intervensi finansial ini mampu memberikan dampak stimulus positif yang signifikan bagi stabilitas psikologis dan ekonomi keluarga yang sedang menghadapi tekanan keuangan. Pemerintah kalurahan berkomitmen penuh menjaga transparansi dan akuntabilitas draf pendataan agar tidak ada bias sasaran di lapangan,” ujar Anwar Insani di sela-sela proses penyerahan dana ke warga.

Prinsip keadilan dan ketepatan sasaran penerima manfaat didasarkan pada draf musyawarah kalurahan khusus yang melibatkan partisipasi aktif para ketua rukun tetangga dan dukuh. Pola penyaringan berlapis ini terbukti ampuh meminimalkan konflik sosial dan memastikan bahwa stimulus tunai murni jatuh ke tangan warga yang menyandang status ekonomi rentan, lansia nonsentris, maupun keluarga dengan anggota penyandang disabilitas.

Rasa lega dan apresiasi diutarakan oleh salah satu warga penerima manfaat asal Padukuhan Tegal Domban, Ponirah. Bagi perempuan paruh baya tersebut, hadirnya dana segar di tengah bulan merupakan draf bantuan tak ternilai yang langsung ia alokasikan untuk mengamankan stok beras, minyak goreng, dan pemenuhan kebutuhan dapur utama lainnya.

“Alhamdulillah, penyaluran bantuan langsung tunai dari dana desa ini sangat berarti dan membawa berkah besar bagi kelangsungan dapur kami. Uang ini langsung saya belanjakan untuk membeli kebutuhan bahan pokok darurat dan keperluan rumah tangga sehari-hari yang harganya di pasar sedang merangkak naik. Kami sekeluarga menghaturkan terima kasih yang mendalam kepada seluruh jajaran pemerintah desa yang masih terus memberikan perhatian konkret dan peduli pada nasib warga kecil seperti kami ini,” tutur Ponirah dengan raut wajah penuh syukur.

Di sisi lain, jajaran pengawas program menggarisbawahi bahwa efektivitas BLT Dana Desa dalam beberapa tahun terakhir telah bertransformasi menjadi pilar pengungkit daya beli di level pasar tradisional desa. Tenaga Pendamping Sosial Kecamatan (TPSK), Iwan Wismantoro, menilai bahwa kualitas tata kelola penyaluran yang terbuka, tertib administrasi, dan akuntabel di Margorejo menjadi faktor determinan utama dalam mempertahankan tingkat kepercayaan publik terhadap kredibilitas kinerja aparat birokrasi.

Melalui konsistensi penyaluran BLT Dana Desa ini, pemerintah daerah di berbagai kluster wilayah Sleman membuktikan perannya sebagai garda terdepan pelayan publik yang berorientasi pada manusia. Orientasi pembangunan kawasan perdesaan kini tidak lagi melulu terjebak pada modernisasi infrastruktur fisik seperti cor blok jalan atau drainase, melainkan secara seimbang memprioritaskan pemulihan harkat hidup, pengentasan kemiskinan ekstrem, serta penguatan kapasitas kesejahteraan warga guna membentuk fondasi desa yang tangguh, inklusif, dan berdaya saing di masa depan. (SBD/KIM Senyum Tempel)




Sinergi Lintas Sektor Berhasil Tekan Stunting di Pondokrejo Sleman, Dana Desa Tetap Diprioritaskan

Sleman — Pemerintah Kalurahan Pondokrejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, sukses menorehkan tren positif dalam akselerasi penurunan angka stunting di tingkat lokal. Keberhasilan menekan angka gangguan pertumbuhan pada anak ini menjadi draf evaluasi sekaligus pemacu semangat jajaran otoritas desa dalam forum Rembug Stunting yang digelar di aula kalurahan setempat pada Jumat (5/6/2026).

Agenda tahunan yang mempertemukan unsur pemerintah kalurahan, Badan Permusyawaratan Kalurahan (BPKal), tenaga medis, Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK), hingga kader kesehatan tersebut berfokus pada penguatan komitmen serta perancangan intervensi strategis jangka panjang. Langkah integratif ini diambil guna memastikan keberlanjutan program perlindungan anak demi mencetak generasi masa depan yang kompetitif.

Lurah Pondokrejo, Widayatma, menegaskan bahwa keberhasilan memotong kurva stunting di wilayahnya bukan merupakan produk kerja instansi tunggal. Capaian ini lahir dari efektivitas kerja kolektif dan kesadaran sirkular dari seluruh elemen masyarakat yang konsisten mengawal pos pelayanan terpadu di tingkat padukuhan.

“Penurunan angka stunting yang terjadi di Pondokrejo bukan hasil kerja satu pihak saja. Ini merupakan buah dari kolaborasi dinamis antara pemerintah kalurahan, tenaga kesehatan, para kader, tim PKK, dan kesadaran tinggi dari masyarakat sendiri. Kami berharap capaian yang sudah sangat baik ini dapat dipertahankan bahkan terus ditingkatkan kualitasnya, sehingga ke depan angka kasus stunting baru bisa benar-benar menyentuh titik nol,” ujar Widayatma saat memberikan sambutan pembuka forum.

Widayatma menambahkan, keberhasilan intervensi stunting merupakan indikator hulu dari keberhasilan pembangunan sumber daya manusia di tingkat perdesaan. Senada dengan hal tersebut, Pendamping Dana Desa, Ariyanto Wibowo, memastikan bahwa program jaminan kesehatan ibu dan anak ini masih masuk dalam daftar prioritas utama pengalokasian Dana Desa untuk tahun anggaran 2027 mendatang.

Meskipun iklim fiskal dari pemerintah pusat menuntut adanya efisiensi dan rasionalisasi anggaran, manajemen kalurahan berkomitmen tidak akan memotong pos anggaran vital yang berdampak langsung pada pemenuhan gizi buruk dan penanganan stunting. Pelaksanaan rembuk ini menjadi mandat regulasi yang wajib digelar secara partisipatif guna menyerap kebutuhan riil di tingkat akar rumput.

“Dana Desa untuk tahun depan akan tetap diarahkan secara ketat untuk mendukung penuh upaya penurunan stunting di Pondokrejo. Walaupun proyeksi anggaran yang tersedia nantinya jauh lebih terbatas akibat penyesuaian kebijakan dari pusat, program-program yang bersentuhan langsung dengan peningkatan kualitas hidup dan investasi kesehatan masyarakat harus tetap menempati prioritas tertinggi dalam draf anggaran,” kata Ariyanto Wibowo mempertegas komitmen fiskal desa.

Di sisi lain, tim medis mengingatkan masyarakat mengenai pergeseran pola kausalitas stunting di era modern. Ahli Gizi dari Puskesmas Tempel II, Astried Eka Candra F., meluruskan persepsi keliru yang selama ini berkembang di publik bahwa stunting melulu berkorelasi dengan faktor kemiskinan atau ketidakmampuan finansial orang tua.

“Masih ada anggapan klise di masyarakat bahwa stunting hanya terjadi pada keluarga dengan kondisi ekonomi kurang mampu. Faktanya di lapangan tidak selalu demikian. Kami menemukan kasus di mana keluarga dengan kondisi ekonomi yang sangat baik, memiliki kendaraan, dan penghasilan bulanan yang cukup, tetapi anaknya tetap terdiagnosa stunting. Hal ini terjadi akibat kesalahan pola asuh, kelalaian pemenuhan variasi asupan gizi, serta kondisi sanitasi lingkungan rumah yang kurang mendukung,” kata Astried Eka Candra F. memaparkan analisis klinisnya.

Astried menjabarkan, benteng pertahanan utama pencegahan stunting wajib diinisiasi sejak masa kehamilan melalui pemantauan status nutrisi ibu, pemberian Air Susu Ibu (ASI) eksklusif, hingga penegakan perilaku hidup bersih dan sehat di area domestik. Momentum Rembug Stunting Pondokrejo ini membuktikan bahwa keberhasilan memitigasi krisis tumbuh kembang anak tidak semata-mata ditentukan oleh besaran nominal anggaran, melainkan pada kekuatan edukasi dan soliditas gotong royong antarwarga. (SBD/KIM Senyum Tempel)




Atasi Krisis Air Bersih, SAH Banyu Bening Sleman Pasang Instalasi Lumbung Air Hujan di Pesantren Bogor

Sleman — Masalah keterbatasan akses air bersih dan air minum sehat di lingkungan lembaga pendidikan keagamaan berskala besar terus memicu lahirnya kolaborasi taktis lintas provinsi. Guna menyudahi krisis sanitasi yang berdampak pada kesehatan para santri, Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman menggandeng Pondok Pesantren Darul Ilmi Wadda’wah, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, untuk menerapkan sistem kemandirian air berbasis pemanenan air hujan.

Langkah yang dilakukan oleh lembaga nirlaba asal Sleman ini menyasar pada pemanfaatan potensi air hujan yang selama ini terbuang percuma melalui atap-atap gedung asrama pesantren yang luas. Sebagai bentuk penyelesaian masalah secara langsung, tim teknis memelopori pemasangan inovasi teknologi terbarukan tahun 2026, yakni teknologi ISLAH atau Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan yang dipadukan dengan mesin elektrolisa air di dalam kompleks pondok.

Pendiri SAH Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih, mengungkapkan bahwa intervensi teknologi tepat guna ini dilatarbelakangi oleh kondisi riil di lapangan di mana ratusan penghuni pesantren mengalami kendala pemenuhan hak dasar atas air. Minimnya pasokan air bersih yang higienis memicu munculnya gangguan kesehatan kulit dan masalah hidrasi tubuh yang mengganggu kelancaran proses belajar-mengajar.

“Masalah utama di Pondok Pesantren Darul Ilmi Wadda’wah yang menampung sekitar 500 santri dan 100 pengajar ini adalah akses air bersih, terutama untuk pemenuhan kebutuhan air minum harian yang layak konsumsi. Keterbatasan akses air bersih inilah yang selama ini menjadi kendala utama kesehatan para santri, sehingga mereka kerap mengalami dehidrasi dan penyakit gatal-gatal pada kulit. Air hujan merupakan sumber daya alam yang melimpah di Indonesia namun belum dimanfaatkan secara maksimal, padahal dengan pengelolaan sains yang tepat, air hujan bisa menjadi alternatif utama sumber air bersih bahkan air minum massal,” ujar Sri Wahyuningsih saat memberikan keterangan pers di markasnya, Kapanewon Ngaglik, Sleman, pada Kamis (4/6/2026).

Sri Wahyuningsih yang akrab disapa Mbak Ning ini menerangkan, teknologi ISLAH bekerja secara terintegrasi mulai dari menangkap curahan air hujan dari atap, menyaring partikel mikro secara bertingkat, menyimpan ke dalam tumpuan lumbung raksasa, hingga mengolahnya melalui proses elektrolisa. Mekanisme elektrolisa tersebut memisahkan molekul air menggunakan arus listrik guna menghasilkan air minum berkualitas tinggi yang aman, sehat, serta bebas dari bakteri patogen.

Sistem pemanenan air terstruktur ini sengaja didesain dengan biaya operasional yang sangat rendah dan metode perawatan yang sederhana agar dapat dioperasikan secara mandiri oleh para santri. Pola desentralisasi air ini dinilai menjadi jawaban paling rasional di tengah tantangan perubahan iklim global dan pencemaran lingkungan yang terus menggerus kualitas serta kuantitas cadangan air tanah konvensional.

“Pesantren memiliki potensi spasial yang sangat besar dalam penerapan teknologi ISLAH karena umumnya didukung oleh bentangan area atap bangunan yang luas sebagai media penangkap air alami. Melalui dukungan sistem lumbung ini, air hujan yang melimpah tidak akan lagi memicu banjir, melainkan diamankan untuk memenuhi kebutuhan domestik santri maupun pengelola pesantren. Kami juga ingin membangun kesadaran kolektif mengenai konservasi air sejak dini, di mana pesantren bertindak sebagai pusat edukasi lingkungan yang efektif dalam membentuk karakter generasi muda yang peduli ekologi,” kata Wahyuningsih menambahkan.

Aksi nyata berupa pemasangan instalasi fisik dan transfer teknologi ini mendapat apresiasi serta respons positif dari jajaran pengurus Pondok Pesantren Darul Ilmi Wadda’wah. Langkah mitigasi ini diharapkan menjadi cetak biru nasional mengenai bagaimana dunia pesantren mampu membangun kemandirian sarana vital secara swadaya tanpa harus bergantung penuh pada pasokan air komersial atau sumur dalam yang ketersediaannya kian tidak stabil sepanjang tahun. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Sarasehan PADAS Bahas Teknik Melawak dan Upaya Pelestarian Budaya Dagelan

Sleman – Pekerjaan sebagai pelawak atau dhagelan bukanlah profesi yang mudah. Dibutuhkan kemampuan, kepekaan, dan proses belajar yang panjang agar seorang pelawak mampu menghibur sekaligus diterima oleh penonton.

Hal tersebut disampaikan salah satu seniman, KRT. Stefanus Prigel Siswanto atau yang akrab sapa Dalijo Angkring, selaku pembicara dalam Sarasehan Induk Organisasi Paguyuban Dagelan Sleman (PADAS), Kamis (4/6/2026), di Aula Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kabupaten Sleman.

“Melawak itu pekerjaan yang ringkih. Tidak jarang orang mencoba tampil melawak, tetapi tidak berhasil. Sebagai contoh, jika melawak di pinggir jalan raya, suara kendaraan dan klakson bisa lebih dominan sehingga lawakannya kalah,” ujarnya.

Dalijo menekankan pentingnya seorang pelawak untuk terus belajar dan mengasah kepekaan terhadap lingkungan, audiens, serta situasi dan waktu. Kepekaan sangat dibutuhkan untuk menarik perhatian penonton saat tampil. Materi, lelucon, ekspresi, maupun waktu penyampaian harus mampu disesuaikan dengan kondisi audiens tanpa meninggalkan ciri khas masing-masing pelawak.

“Ciri khas itu penting karena merupakan jati diri seorang pelawak. Melucu boleh, tetapi jangan sampai menyakiti. Hindari body shaming, menghina fisik, simbol negara, maupun hal-hal yang berkaitan dengan SARA,” tegasnya.

Selain Dalijo Angkring, kegiatan juga menghadirkan seniman dagelan, Wisben Antoro sebagai narasumber. Pada kesempatan itu, Wisben menyampaikan pentingnya membangun rasa percaya diri bagi seorang pelawak.

Ia menjelaskan bahwa bahan lawakan dapat diperoleh dari berbagai sumber, mulai dari pengalaman pribadi, pengalaman keluarga, kebiasaan sehari-hari, hingga pengalaman kegagalan hidup.

“Bahkan kesombongan, kesulitan hidup, maupun kegagalan bisa menjadi bahan lawakan. Yang terpenting adalah bagaimana mengemasnya menjadi hiburan yang sehat, etis, dan menghibur,” katanya.

Terkait program organisasi ke depan, Ketua PADAS, Suparno menyampaikan bahwa pihaknya berencana menyusun program pembinaan melalui penyelenggaraan lomba dagelan antarkapanewon di Kabupaten Sleman. Kegiatan tersebut diharapkan dapat melahirkan seniman dan seniwati muda, yang mampu meneruskan tradisi dagelan sebagai budaya daerah.

“Dengan demikian, komitmen untuk mewariskan, menjaga, dan mengembangkan budaya dagelan sebagai identitas dan kebanggaan masyarakat Sleman dapat terus terwujud,” ujar Suparno. (Tri Joko S – KIM Kalasan Bersahabat)




Ratusan Pohon Pepaya di Tempel Terserang Uret, Tanaman Gagal Berbuah

Sleman – Empat ratus tanaman pepaya milik Tri Supatno di Desa Mororejo, Kapanewon Tempel, Sleman, yang sebelumnya tumbuh subur dan berbuah lebat, kini mengalami kerusakan. Tanaman tampak merana, kurus, pertumbuhannya terhambat, dan tidak lagi berbuah. Di lokasi lain di Dusun Domban, tanaman talas miliknya juga dilaporkan mengalami kerusakan total.

Kondisi tersebut diduga akibat serangan hama uret yang hidup di dalam tanah. Hama ini berbentuk larva melengkung menyerupai huruf “C”. Larva tersebut diketahui merupakan fase perkembangan dari sejenis kumbang, meskipun petani mengaku belum pernah menemukan bentuk kepompongnya di lapangan.

“Bukan kebun saya saja, warga lain juga mengalami hal serupa,” kata Tri sambil menunjukkan tanaman pepaya yang nyaris tinggal batangnya akibat akarnya habis dimakan uret, Kamis (4/6/2026).

Ia telah melakukan berbagai upaya pengendalian menggunakan obat pembasmi hama, namun belum ada yang mampu mengatasi serangan tersebut secara tuntas.

“Saya sudah mencoba berbagai obat pembasmi hama, tetapi belum ada yang benar-benar berhasil,” ujarnya.

Untuk itu, cara yang selama ini cukup efektif digunakan oleh Tri adalah memancing uret dengan menanam batang singkong di sekitar tanaman. Batang singkong yang baru ditanam biasanya dalam waktu singkat langsung dipenuhi uret.

“Singkong yang ditancapkan hari ini, besok sudah dikerubuti uret. Bahkan uret-uret itu masih menempel saat batangnya dicabut,” jelasnya.

Tri menduga meningkatnya serangan hama uret berkaitan dengan meluasnya penggunaan herbisida untuk membasmi rumput liar dan gulma. Menurutnya, semak dan tanaman liar yang selama ini tumbuh di sekitar kebun diduga berfungsi sebagai refugia atau tempat berlindung alami bagi keseimbangan ekosistem hama.

Ia menilai, hilangnya vegetasi tersebut dapat menyebabkan perubahan perilaku hama yang kemudian beralih menyerang tanaman budidaya.

Untuk itu ia mencoba membiarkan semak belukar tumbuh dikebunnya dan menunggu apakah percobaannya kali ini bisa berhasil. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)