Pemkab Sleman Dorong Penguatan Usaha Ekonomi Kreatif Penyandang Disabilitas

Sleman — Pemerintah Kabupaten Sleman memiliki kewajiban mendorong peningkatan usaha ekonomi kreatif bagi penyandang disabilitas, baik secara langsung maupun melalui pihak perantara dengan melibatkan instansi yang memiliki kompetensi dan relevansi di bidangnya.

Hal tersebut disampaikan Koordinator Tim Rehabilitasi Penyandang Disabilitas Dinas Sosial Kabupaten Sleman, Riyatmi, saat membuka kegiatan program pendampingan usaha bagi penyandang disabilitas, Kamis (11/6/2026) di Ruang Rapat Kantor Kalurahan Tamanmartani, Kapanewon Kalasan. Kegiatan ini diikuti 40 peserta dari Kapanewon Kalasan, Berbah, dan Prambanan.

Riyatmi menjelaskan, dalam kesehariannya banyak penyandang disabilitas yang telah memiliki usaha untuk menopang perekonomian keluarga, seperti usaha menjahit, produksi makanan ringan atau jajanan, peternakan ayam, kerajinan, hingga usaha kos-kosan.

“Dinas Sosial secara terstruktur dan terencana terus melakukan pendampingan dan pembinaan dengan melibatkan berbagai instansi terkait,” ujarnya.

Ia mencontohkan, pada kegiatan pendampingan bagi penyandang disabilitas dari Kalasan, Berbah, dan Prambanan di Tamanmartani ini, Dinas Sosial turut melibatkan Dinas Koperasi Kabupaten Sleman dengan menghadirkan dua orang narasumber pembina.

Sementara itu, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kapanewon (TKSK) Kalasan, Danang Eko Purnomo, menyampaikan bahwa peserta mendapatkan materi terkait teknik pemasaran yang disampaikan oleh Bintar serta materi perizinan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) oleh Rahmad, keduanya dari Dinas Koperasi Kabupaten Sleman.

Ia menuturkan, meskipun para penyandang disabilitas telah memiliki keterampilan dan usaha, masih terdapat kendala dalam aspek pemasaran serta perizinan usaha, seperti belum dimilikinya Nomor Induk Berusaha (NIB).

“Karena itu mereka dibina dan didampingi, baik dalam pengurusan NIB maupun strategi pemasaran melalui media sosial,” jelasnya.

Danang menambahkan, pelaku usaha juga perlu terus meningkatkan kualitas produk agar mampu bersaing di tengah ketatnya persaingan UMKM.

“Yang tidak kalah penting, pelaku usaha harus menjaga kualitas produk agar tidak ditinggalkan konsumen. Ini menjadi kunci sukses dalam menghadapi persaingan usaha yang semakin ketat. Sukses berkarya, sukses pemasaran, dan kesejahteraan meningkat,” pungkasnya. (Tri Joko S – KIM Kalasan Bersahabat)




UNY Kenalkan BUDIKDAMBER, Perkuat Ketahanan Pangan dan Pemberdayaan Perempuan di Kawasan Peri Urban

Sleman – Perempuan yang tinggal di kawasan peri urban memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam meningkatkan ketahanan keluarga dan masyarakat. Namun, masih banyak perempuan yang menghadapi berbagai hambatan dalam mengakses peluang ekonomi maupun pengembangan keterampilan. Oleh karena itu, diperlukan upaya pemberdayaan melalui peningkatan kapasitas, keterampilan, dan kewirausahaan sebagai strategi untuk memperkuat ketahanan masyarakat secara menyeluruh.

Hal tersebut disampaikan oleh dosen Geografi Fakultas Ilmu Sosial, Hukum, dan Ilmu Politik (FISHIPOL) UNY, Hastuti dalam kegiatan Pelatihan Penerapan Sistem Aquaponik Portable Berbasis Zero Waste (BUDIKDAMBER/Budidaya Ikan Dalam Ember) bagi kelompok perempuan di Padukuhan Jetis Suruh, Kalurahan Donoharjo, Kapanewon Ngaglik, Kabupaten Sleman, Kamis (11/6/2026).

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari program pengabdian masyarakat UNY, yang bertujuan meningkatkan kapasitas perempuan di kawasan peri urban, melalui penguatan keterampilan pemanfaatan pekarangan dan pengembangan ketahanan pangan keluarga berbasis teknologi sederhana yang ramah lingkungan.

Menurut Hastuti, kawasan peri urban merupakan wilayah transisi antara desa dan kota yang memiliki karakteristik sosial dan ekonomi yang khas. Sebagian masyarakat masih menggantungkan mata pencaharian pada sektor pertanian, sementara sebagian lainnya bekerja di sektor industri, perdagangan, maupun jasa di wilayah perkotaan.

“Kawasan peri urban memiliki dinamika yang berbeda dibandingkan kawasan pedesaan maupun perkotaan. Di wilayah seperti ini, perempuan memiliki peran strategis dalam menjaga ketahanan keluarga, baik dari sisi ekonomi maupun pangan. Karena itu, peningkatan keterampilan dan kapasitas perempuan menjadi sangat penting,” ungkapnya.

Hastuti menjelaskan bahwa pemanfaatan lahan pekarangan merupakan salah satu solusi yang dapat dilakukan untuk memperkuat ketahanan pangan keluarga. Pekarangan yang berada di sekitar rumah dapat dimanfaatkan secara produktif untuk menanam sayuran, budidaya ikan, maupun kegiatan produktif lainnya yang mampu menghasilkan nilai ekonomi.

Melalui pemanfaatan pekarangan, keluarga tidak hanya dapat memenuhi sebagian kebutuhan pangan secara mandiri, tetapi juga memiliki peluang untuk memperoleh tambahan penghasilan. Konsep ini menjadi semakin penting di tengah tantangan perubahan iklim, keterbatasan lahan pertanian, dan meningkatnya kebutuhan rumah tangga.

Namun, kondisi lahan yang relatif sempit dan keterbatasan ketersediaan air sering kali menjadi kendala dalam budidaya secara konvensional. Untuk itu, pelatihan ini juga mengenalkan sistem BUDIKDAMBER (Budidaya Ikan Dalam Ember) sebagai alternatif sederhana, hemat lahan dan air, yang dapat diterapkan masyarakat.

Narasumber pelatihan, Nur Ariyanto, menjelaskan bahwa BUDIKDAMBER merupakan sistem aquaponik sederhana yang mengintegrasikan budidaya ikan dengan tanaman sayuran dalam satu media. Sistem ini memungkinkan masyarakat memelihara ikan sekaligus menanam sayuran tanpa membutuhkan lahan yang luas.

“Keunggulan BUDIKDAMBER adalah sistemnya sederhana, tidak membutuhkan listrik maupun aerator, hemat ruang, hemat energi, dan mudah diterapkan oleh masyarakat. Sistem ini sangat cocok untuk kawasan peri urban maupun lingkungan perkotaan yang memiliki keterbatasan lahan,” jelasnya.

Menurutnya, prinsip kerja BUDIKDAMBER memanfaatkan hubungan saling menguntungkan antara ikan dan tanaman. Kotoran ikan menghasilkan unsur hara yang dibutuhkan tanaman, sedangkan tanaman berfungsi menyerap zat-zat sisa dalam air sehingga kualitas air tetap terjaga dan lebih sehat bagi ikan.

Konsep tersebut menjadikan BUDIKDAMBER sebagai sistem budidaya yang ramah lingkungan dan menerapkan prinsip zero waste, karena memanfaatkan sumber daya secara efisien dengan limbah yang sangat minim.

” Air dalam ember tidak perlu sering diganti secara total sehingga penggunaannya jauh lebih hemat dibandingkan sistem budidaya konvensional.” ujarnya.

Selain mendukung ketahanan pangan keluarga, BUDIKDAMBER juga memberikan manfaat ekonomi. Hasil panen sayuran maupun ikan dapat dimanfaatkan untuk konsumsi keluarga atau dijual sehingga mampu menambah pendapatan rumah tangga.

Dalam praktiknya, tanaman kangkung yang banyak digunakan pada sistem BUDIKDAMBER dapat dipanen dalam waktu sekitar 14 hingga 21 hari. Sementara itu, ikan lele dapat dipanen setelah pemeliharaan selama dua hingga tiga bulan, sehingga memberikan hasil yang relatif cepat bagi masyarakat.

Melalui program pengabdian masyarakat ini, UNY berharap pengetahuan dan keterampilan yang diberikan dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh masyarakat. Dengan demikian, perempuan sebagai pengelola rumah tangga dapat berperan lebih aktif dalam mewujudkan ketahanan pangan keluarga, meningkatkan kesejahteraan ekonomi rumah tangga, serta memperkuat ketahanan masyarakat di kawasan peri urban. (Upik Wahyuni KIM Donoharjo)




Kesehatan Jiwa Jadi Fokus Pembahasan Lokmin Linsek Seyegan

Sleman – Puskesmas Seyegan menggelar Lokakarya Mini Lintas Sektor (Lokmin Linsek) Triwulan II di Ruang Puntadewa Lantai II Kapanewon Seyegan, Rabu (10/6/2026). Kegiatan tersebut dihadiri Panewu dan Kawat Sosial Kapanewon, Koramil dan Polsek Seyegan, Korwil Pendidikan, Lurah, Ketua Tim Penggerak PKK, Kamituwo, kader kesehatan, PLKB hingga Ketua KIM Seyegan.

Kepala Puskesmas Mlati II, dr. Reni Anjar Asmarani memaparkan capaian kinerja Triwulan I Tahun 2026, rencana tindak lanjut, serta perkembangan kasus kesehatan di wilayah Seyegan. Salah satu program yang menjadi perhatian adalah Cek Kesehatan Gratis (CKG), program pemeriksaan kesehatan tanpa biaya dari pemerintah Indonesia untuk seluruh kelompok usia masyarakat.

“Total populasi Seyegan mencapai jiwa, sementara target CKG sebesar 46 persen populasi atau sekitar jiwa. Namun hingga 3 Juni 2026 capaian baru mencapai jiwa atau 6,89 persen,” jelas dr. Reni dalam paparannya.

Namun, pembahasan yang paling menyita perhatian peserta adalah meningkatnya kasus kesehatan jiwa di masyarakat. Hingga awal Juni 2026, tercatat sudah terjadi tiga kasus bunuh diri di wilayah Seyegan. Menurut dr. Reni, kondisi tersebut dipicu berbagai faktor seperti trauma masa lalu, tekanan sosial dan lingkungan, masalah ekonomi, hingga penyalahgunaan zat adiktif.

“Gangguan kesehatan jiwa biasanya diawali perubahan perilaku seperti murung, menarik diri, kehilangan minat, gelisah, hingga sering membicarakan kematian. Bahkan ada yang mulai meminta maaf kepada orang terdekat atau menulis pesan perpisahan,” ungkapnya.

Ia menambahkan, pencegahan dapat dilakukan dengan membangun kepedulian lingkungan dan dukungan sosial. Masyarakat diimbau hadir sebagai teman bicara, memberikan dukungan positif, serta mendorong penderita untuk segera mendapatkan bantuan profesional dan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.

“Kolaborasi lintas sektor sangat penting agar kasus kesehatan jiwa bisa dicegah sejak dini. Jangan sampai masyarakat merasa sendirian menghadapi masalahnya,” tandas dr. Reni.

Sementara itu, Kepala KUA Seyegan, Eddy Hermanta menyampaikan bahwa pihaknya turut berperan dalam upaya pencegahan gangguan kesehatan jiwa melalui kegiatan Bimbingan Perkawinan (Bimwin). Dalam kegiatan itu, calon pengantin diberikan pembekalan terkait ketahanan ekonomi keluarga dan pentingnya rasa syukur dalam menjalani kehidupan rumah tangga.

“Kami mengingatkan calon pasangan agar tidak mudah membandingkan hidup dengan orang lain dan lebih bersyukur atas apa yang dimiliki. Ketahanan mental dalam keluarga sangat penting untuk mencegah tekanan psikologis di kemudian hari,” ujar Eddy.

Melalui Lokmin Linsek ini, Puskesmas Seyegan berharap seluruh elemen masyarakat semakin peduli terhadap isu kesehatan jiwa dan bersama-sama menciptakan lingkungan yang lebih sehat, aman, serta saling mendukung satu sama lain. Lokmin Linsek ditutup dengan perkenalan dengan kepala Puskesmas Seyegan yang baru yaitu dr. Desi Hariyadi. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




KDMP Tamanmartani Buka Klinik Pratama, Perluas Akses Layanan Kesehatan Masyarakat

Sleman —KDMP Kalurahan Tamanmartani membuka unit usaha pelayanan kesehatan berupa Klinik Pratama KDMP, untuk memudahkan masyarakat memperoleh layanan kesehatan yang terjangkau dan berkualitas. Klinik tersebut berada di kompleks Kantor Kalurahan Tamanmartani, dan beroperasi setiap Senin hingga Sabtu dengan jam pelayanan mulai pukul WIB hingga WIB.

Komituwa Kalurahan Tamanmartani, Awan Parades, saat ditemui di Kantor Kalurahan Tamanmartani, Kamis (11/6/2026), menuturkan bahwa Klinik Pratama KDMP telah resmi beroperasi dan mulai memberikan pelayanan kepada masyarakat.

“Ini merupakan tahap awal pelayanan. Klinik Pratama KDMP didukung oleh dua dokter umum, satu dokter gigi, satu bidan, satu perawat, satu apoteker, satu tenaga rekam medis, serta tenaga administrasi dan layanan pelanggan. Seluruhnya merupakan sumber daya manusia lokal Tamanmartani,” ujarnya.

Klinik tersebut menyediakan berbagai layanan kesehatan, meliputi Poli Umum, Poli Gigi, Poli Kesehatan Ibu dan Anak (KIA), serta layanan kefarmasian dan apotek yang menyediakan obat generik maupun racikan. klinik ini juga dilengkapi dengan dua unit ambulans untuk mendukung pelayanan kepada pasien.

“Meski mengutamakan potensi lokal Tamanmartani, layanan kesehatan ini terbuka untuk masyarakat umum. Kami berharap keberadaannya benar-benar dapat dirasakan manfaatnya dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat. Dengan demikian, masyarakat dapat mengakses layanan kesehatan yang lebih dekat dan berkualitas,” kata Awan.

Sementara itu, Carik Tamanmartani, Tomi Nugraha, menyampaikan bahwa meskipun Klinik Pratama KDMP baru berdiri, pihaknya segera mempersiapkan seluruh proses akreditasi guna menjamin mutu pelayanan kesehatan.

“Kami tidak ingin menunda proses akreditasi. Langkah ini penting untuk memastikan pelayanan yang diberikan sesuai standar dan terus meningkat kualitasnya,” ujar Tomi.

Ia juga mengimbau masyarakat untuk memanfaatkan fasilitas kesehatan tersebut ketika membutuhkan layanan kesehatan.

“Klinik Pratama KDMP adalah milik masyarakat, dimanfaatkan oleh masyarakat, dan hasil usahanya juga akan kembali untuk kepentingan masyarakat. Karena itu, kami mengajak warga untuk memanfaatkan layanan kesehatan yang telah tersedia ini,” pungkasnya. (Tri Joko S – KIM Kalasan Bersahabat)




FORKOM UMKM Kapanewon Sleman Periode 2026–2029 Resmi Dikukuhkan

Sleman — Forum Komunikasi (FORKOM) UMKM Kapanewon Sleman periode 2026–2029 resmi dikukuhkan pada Rabu (10/6/2026). Pengukuhan dilakukan langsung oleh Panewu Sleman, Rohmiyanto, dan dihadiri oleh seluruh pengurus baru yang berjumlah 29 orang.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut lurah se-Kapanewon Sleman, Ulu-Ulu kalurahan se-Kapanewon Sleman atau perwakilannya, serta Kepala Bidang Koperasi dan UMKM Kabupaten Sleman.

Kepala Bidang Koperasi dan UMKM Kabupaten Sleman, Sri Wara Nusandari berharap pelaku UMKM mampu meningkatkan inovasi agar semakin berkembang dan berdaya saing.

“UMKM harus mampu meningkatkan inovasi agar dapat terus maju dan berkembang,” ujarnya.

Usai melantik, Panewu Sleman, Rohmiyanto dalam sambutannya menuturkan harapannya agar FORKOM UMKM Kapanewon Sleman semakin maju dan bermanfaat bagi anggota.

“Dengan ini saudara saya kukuhkan secara resmi menjadi Pengurus FORKOM UMKM Kapanewon Sleman periode 2026–2029. Semoga FORKOM UMKM Kapanewon Sleman semakin maju dan mampu memberikan manfaat bagi para pelaku UMKM,” katanya.

Hadir pula Ketua FORKOM UMKM Kabupaten Sleman, H. Ardi Sehami, yang dalam kesempatan tersebut, ia mengajak FORKOM UMKM Kapanewon Sleman untuk berpartisipasi mengisi mengelola lahan yang akan digunakan sebagai pusat kegiatan FORKOM UMKM Kabupaten Sleman di kawasan Jalan Damai, Sariharjo, Sleman.

Ketua FORKOM UMKM Kapanewon Sleman yang baru dikukuhkan, Sushandoyo pun mendukung hal tersebut. Ia menyatakan komitmennya untuk mendorong UMKM Kapanewon Sleman semakin maju melalui kolaborasi dan penguatan kapasitas usaha.

“UMKM Kapanewon Sleman harus terus berkembang melalui kolaborasi. Tidak hanya naik kelas, tetapi juga mampu memperluas jaringan dan meningkatkan daya saing,” ujarnya.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada Kapanewon Sleman atas dukungan dan fasilitasi yang diberikan. Semoga amanah yang diberikan kepada kami dapat dijalankan dengan baik demi kemajuan UMKM di Sleman,” sambung Sushandoyo. (R. Agus N Widayadi / KIM Sleman)