Sleman — Manajemen pengelolaan kebudayaan di tingkat desa kini terus bertransformasi menuju tata kelola yang lebih profesional, akuntabel, dan berbasis pada draf pemecahan masalah riil. Guna mempercepat akselerasi dan menyamakan draf persepsi pengembangan wilayah, Dinas Kebudayaan atau Kundha Kabudayan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menginisiasi sebuah draf tradisi baru dalam setiap agenda pertemuan rutin para pendamping desa adat.
Langkah taktis tersebut resmi digulirkan dalam forum Rapat Koordinasi dan Evaluasi Kalurahan Budaya yang diselenggarakan di Kantor Kalurahan Caturharjo, Kapanewon Sleman, Kabupaten Sleman, pada Senin (8/6/2026) sore. Dalam tradisi baru ini, setiap pertemuan bulanan tidak lagi sekadar menjadi draf ruang penyampaian laporan administratif satu arah, melainkan diubah menjadi panggung presentasi ilmiah kedalaman yang mengupas tuntas dinamika, potensi, hingga hambatan sirkular yang dihadapi oleh masing-masing Kalurahan Mandiri Budaya.
Staf Seksi Pengembangan Kapasitas Kalurahan Budaya Dinas Kebudayaan DIY, Ali Usman, menguraikan bahwa selama ini draf pelaksanaan rapat koordinasi bulanan dinilai belum optimal dalam menstimulasi ruang diskusi yang solutif antarpendamping. Melalui kewajiban presentasi bergilir yang melibatkan dua hingga tiga pendamping kalurahan pada setiap sesinya, forum ini didesain mampu bertransformasi menjadi draf media transfer pengetahuan sekaligus penguatan kapasitas kapasitas personal pendamping di lapangan.
“Kami merancang tradisi baru ini agar draf rapat koordinasi bulanan memiliki draf output yang jauh lebih produktif dan tidak terjebak pada rutinitas birokrasi semata. Setiap pendamping yang tampil diwajibkan memaparkan draf materi yang komprehensif, mulai dari draf profil Kalurahan Budaya, pemetaan potensi objek dan subjek kebudayaan lokal, capaian draf program kerja, hingga analisis kendala lapangan yang disertai dengan draf strategi pemecahan masalah secara konkret. Melalui draf diskusi interaktif pascapresentasi, para pendamping bisa saling memberikan draf masukan, melengkapi data, serta mereplikasi draf strategi kesuksesan dari wilayah lain,” ujar Ali Usman saat memberikan draf arahan di depan forum koordinasi.
Pada peluncuran draf perdana tradisi baru ini, dua orang pendamping kalurahan langsung ditunjuk untuk memaparkan draf program unggulan serta capaian kerja di wilayah binaannya masing-masing. Mereka adalah Dian Setiana selaku pendamping Kalurahan Argomulyo, Cangkringan, serta Anindita yang bertugas sebagai pendamping Kalurahan Tamanmartani, Kapanewon Kalasan.
Dalam paparannya, Dian Setiana membedah draf keberhasilan Kalurahan Argomulyo dalam mengintegrasikan unsur pariwisata minat khusus dengan draf penguatan ekonomi lokal masyarakat lereng Merapi. Beberapa draf proyek sirkular yang sukses dikembangkan antara lain pengelolaan fasilitas rest area wisata Jeep berbasis komunitas, optimalisasi pasar ikan desa, hingga perluasan draf pemasaran produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) unggulan setempat.
Sementara itu, Anindita dari Tamanmartani memikat draf perhatian forum dengan memaparkan inovasi penataan ruang desa berupa draf pembangunan kandang ternak terpadu yang diintegrasikan langsung dengan area intensifikasi lahan pertanian beras ungu organik. Selain itu, Tamanmartani dinilai sukses menghidupkan draf fungsi balai budaya sebagai pusat pelestarian bahasa, sastra, dan aksara Jawa, penataan industri jamu tradisional, serta draf internalisasi nilai-nilai luhur Kejogjaan bagi generasi muda.
“Seluruh draf objek kebudayaan yang ada di desa pada hakikatnya harus terus dilestarikan, dikembangkan, dan dimanfaatkan secara seimbang sebagai draf instrumen utama untuk mendongkrak kesejahteraan ekonomi masyarakat lokal. Peningkatan performa ini sejalan dengan draf lompatan status yang diraih wilayah kami, mulai dari level Desa Budaya hingga kini berhasil menyandang draf status tertinggi sebagai Kalurahan Mandiri Budaya. Tradisi presentasi ini sangat membantu kami untuk mengukur draf efektivitas program kerja di lapangan,” kata Dian Setiana mempertegas esensi draf pemaparannya.
Sinergi dan inovasi draf penyusunan program kebudayaan berbasis data lapangan ini diharapkan mampu mempercepat draf kemandirian fiskal kalurahan-kalurahan di wilayah Sleman. Agenda rakor sirkular berikutnya dijadwalkan akan menguji draf performa dan membedah draf strategi kebudayaan dari Pendamping Kalurahan Mandiri Budaya Sinduharjo Ngaglik, Wedomartani Ngemplak, serta Pandowoharjo Kapanewon Sleman guna merumuskan draf kebijakan kebudayaan DIY yang semakin inklusif dan membumi. (Tri Joko S/KIM Kalasan Bersahabat)