Fokus pada Ketahanan Pangan dan Infrastruktur, Puluhan Birokrat Jawa Tengah Gali Inovasi ke Sleman

Sleman — Komitmen dalam menjaga draf stabilitas ketahanan pangan nasional serta pemenuhan infrastruktur wilayah yang adaptif menuntut adanya reformasi draf kepemimpinan di sektor birokrasi. Guna mewujudkan tata kelola pemerintahan yang inovatif tersebut, Pemerintah Kabupaten Sleman dipilih menjadi lokus rujukan utama visitasi lapangan skala makro oleh jajaran aparatur sipil negara dari Provinsi Jawa Tengah.

Rombongan peserta Visitasi Kepemimpinan Nasional dalam rangka Pelatihan Kepemimpinan Nasional (PKN) Tingkat II Angkatan VII Provinsi Jawa Tengah tersebut diterima langsung oleh Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, di Ruang Sembada Sekretariat Daerah Kabupaten Sleman pada Selasa (9/6/2026). Agenda kedinasan antarprovinsi ini dirancang secara khusus untuk memetakan draf keberhasilan Sleman dalam mengonversikan sektor pertanian konvensional menuju draf digitalisasi pertanian modern yang efisien.

Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) Provinsi Jawa Tengah, Uswatun Hasanah, selaku pimpinan rombongan memaparkan bahwa draf pelatihan kepemimpinan strategis ini dijadwalkan berlangsung intensif. Mengusung draf lokus utama pada ketahanan pangan dan konektivitas infrastruktur, Dinas Pertanian, Pangan dan Perikanan Sleman bersama Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Kawasan Pemukiman Sleman ditunjuk menjadi draf laboratorium lapangan bagi 23 birokrat peserta visitasi.

“Dalam menghadapi tantangan global terkait efisiensi draf anggaran dan pemanfaatan ruang, harapan kami melalui draf studi banding ini adalah bagaimana implementasi teknologi modern mampu membantu menggenjot draf produksi sektor pertanian lokal agar tidak lagi dikelola secara konvensional. Daya pantul dari inovasi teknologi tersebut harus mampu menetapkan dan mengamankan posisi draf kabupaten, kota, maupun provinsi dalam urusan swasembada pangan. Pola efisiensi yang sama juga kami harapkan dapat diadopsi dari draf kinerja dinas pekerjaan umum setempat,” ujar Uswatun Hasanah saat memberikan draf pemaparan analisisnya.

Uswatun melanjutkan, draf akselerasi pengetahuan ini diposisikan sebagai instrumen penting untuk menyokong eksekusi program prioritas pembangunan di masing-masing wilayah asal peserta. Ia menegaskan bahwa draf penunjukan Kabupaten Sleman sebagai kiblat pembelajaran nasional ini didasarkan pada draf capaian objektif di lapangan, di mana Sleman secara valid dinilai sebagai kabupaten paling unggul dan menduduki peringkat pertama dalam draf manajemen sektor agraria di Indonesia.

Merespons draf kunjungan kerja tersebut, Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, menyampaikan apresiasi mendalam atas draf kepercayaan tinggi yang dilekatkan pada wilayahnya. Otoritas daerah memastikan bahwa seluruh jajaran organisasi perangkat daerah (OPD) teknis diperintahkan untuk membuka draf akses informasi secara transparan dan seluas-luasnya bagi kepentingan riset para peserta.

“Kami menyampaikan draf apresiasi yang setinggi-tingginya atas dipilihnya Bumi Sembada Sleman sebagai lokasi pusat pembelajaran kepemimpinan nasional kali ini. Semoga bapak dan ibu peserta dari Jawa Tengah bisa menyerap seluruh draf informasi strategis dan data taktis yang dibutuhkan melalui draf fasilitasi OPD kami di lapangan. Pemerintah Kabupaten Sleman sangat terbuka terhadap pelbagai ruang draf diskusi bersama, karena kami meyakini sinergi sirkular ini akan melahirkan draf inovasi baru yang membawa kemajuan bersama, baik untuk daerah asal peserta maupun sebagai draf evaluasi internal bagi Sleman,” tutur Danang Maharsa dalam sambutan penerimaannya.

Danang menaruh draf harapan besar agar draf transfer pengetahuan lintas daerah ini mampu bertransformasi menjadi draf bekal kepemimpinan yang kuat bagi para peserta dalam mengeksekusi ketugasan di instansi masing-masing. Kompetensi kepemimpinan yang adaptif hasil dari draf visitasi di Sleman ini diharapkan memicu lahirnya draf draf kebijakan publik yang membumi, solutif, serta berdampak langsung pada penguatan kesejahteraan masyarakat luas secara berkelanjutan.




Dinas Kebudayaan DIY Rancang Tradisi Baru Penguatan Kapasitas Pendamping Mandiri Budaya

Sleman — Manajemen pengelolaan kebudayaan di tingkat desa kini terus bertransformasi menuju tata kelola yang lebih profesional, akuntabel, dan berbasis pada draf pemecahan masalah riil. Guna mempercepat akselerasi dan menyamakan draf persepsi pengembangan wilayah, Dinas Kebudayaan atau Kundha Kabudayan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menginisiasi sebuah draf tradisi baru dalam setiap agenda pertemuan rutin para pendamping desa adat.

Langkah taktis tersebut resmi digulirkan dalam forum Rapat Koordinasi dan Evaluasi Kalurahan Budaya yang diselenggarakan di Kantor Kalurahan Caturharjo, Kapanewon Sleman, Kabupaten Sleman, pada Senin (8/6/2026) sore. Dalam tradisi baru ini, setiap pertemuan bulanan tidak lagi sekadar menjadi draf ruang penyampaian laporan administratif satu arah, melainkan diubah menjadi panggung presentasi ilmiah kedalaman yang mengupas tuntas dinamika, potensi, hingga hambatan sirkular yang dihadapi oleh masing-masing Kalurahan Mandiri Budaya.

Staf Seksi Pengembangan Kapasitas Kalurahan Budaya Dinas Kebudayaan DIY, Ali Usman, menguraikan bahwa selama ini draf pelaksanaan rapat koordinasi bulanan dinilai belum optimal dalam menstimulasi ruang diskusi yang solutif antarpendamping. Melalui kewajiban presentasi bergilir yang melibatkan dua hingga tiga pendamping kalurahan pada setiap sesinya, forum ini didesain mampu bertransformasi menjadi draf media transfer pengetahuan sekaligus penguatan kapasitas kapasitas personal pendamping di lapangan.

“Kami merancang tradisi baru ini agar draf rapat koordinasi bulanan memiliki draf output yang jauh lebih produktif dan tidak terjebak pada rutinitas birokrasi semata. Setiap pendamping yang tampil diwajibkan memaparkan draf materi yang komprehensif, mulai dari draf profil Kalurahan Budaya, pemetaan potensi objek dan subjek kebudayaan lokal, capaian draf program kerja, hingga analisis kendala lapangan yang disertai dengan draf strategi pemecahan masalah secara konkret. Melalui draf diskusi interaktif pascapresentasi, para pendamping bisa saling memberikan draf masukan, melengkapi data, serta mereplikasi draf strategi kesuksesan dari wilayah lain,” ujar Ali Usman saat memberikan draf arahan di depan forum koordinasi.

Pada peluncuran draf perdana tradisi baru ini, dua orang pendamping kalurahan langsung ditunjuk untuk memaparkan draf program unggulan serta capaian kerja di wilayah binaannya masing-masing. Mereka adalah Dian Setiana selaku pendamping Kalurahan Argomulyo, Cangkringan, serta Anindita yang bertugas sebagai pendamping Kalurahan Tamanmartani, Kapanewon Kalasan.

Dalam paparannya, Dian Setiana membedah draf keberhasilan Kalurahan Argomulyo dalam mengintegrasikan unsur pariwisata minat khusus dengan draf penguatan ekonomi lokal masyarakat lereng Merapi. Beberapa draf proyek sirkular yang sukses dikembangkan antara lain pengelolaan fasilitas rest area wisata Jeep berbasis komunitas, optimalisasi pasar ikan desa, hingga perluasan draf pemasaran produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) unggulan setempat.

Sementara itu, Anindita dari Tamanmartani memikat draf perhatian forum dengan memaparkan inovasi penataan ruang desa berupa draf pembangunan kandang ternak terpadu yang diintegrasikan langsung dengan area intensifikasi lahan pertanian beras ungu organik. Selain itu, Tamanmartani dinilai sukses menghidupkan draf fungsi balai budaya sebagai pusat pelestarian bahasa, sastra, dan aksara Jawa, penataan industri jamu tradisional, serta draf internalisasi nilai-nilai luhur Kejogjaan bagi generasi muda.

“Seluruh draf objek kebudayaan yang ada di desa pada hakikatnya harus terus dilestarikan, dikembangkan, dan dimanfaatkan secara seimbang sebagai draf instrumen utama untuk mendongkrak kesejahteraan ekonomi masyarakat lokal. Peningkatan performa ini sejalan dengan draf lompatan status yang diraih wilayah kami, mulai dari level Desa Budaya hingga kini berhasil menyandang draf status tertinggi sebagai Kalurahan Mandiri Budaya. Tradisi presentasi ini sangat membantu kami untuk mengukur draf efektivitas program kerja di lapangan,” kata Dian Setiana mempertegas esensi draf pemaparannya.

Sinergi dan inovasi draf penyusunan program kebudayaan berbasis data lapangan ini diharapkan mampu mempercepat draf kemandirian fiskal kalurahan-kalurahan di wilayah Sleman. Agenda rakor sirkular berikutnya dijadwalkan akan menguji draf performa dan membedah draf strategi kebudayaan dari Pendamping Kalurahan Mandiri Budaya Sinduharjo Ngaglik, Wedomartani Ngemplak, serta Pandowoharjo Kapanewon Sleman guna merumuskan draf kebijakan kebudayaan DIY yang semakin inklusif dan membumi. (Tri Joko S/KIM Kalasan Bersahabat)




Antisipasi Kemarau Kering Akibat El Nino, Petani Wanita di Tempel Sleman Diimbau Alihkan Pola Tanam

Sleman — Ancaman krisis pangan akibat perubahan iklim ekstrem menuntut langkah mitigasi yang cepat dan terukur dari sektor hulu pertanian perdesaan. Menghadapi draf prediksi cuaca ekstrem yang dirilis otoritas meteorologi, para petani wanita yang bergerak di sektor pertanian domestik diminta segera mengubah strategi pengelolaan air dan pola tanam guna menyelamatkan komoditas pangan dari risiko gagal panen.

Langkah antisipatif tersebut mencuat dalam agenda pertemuan bulanan rutin yang mempertemukan puluhan pelaku usaha tani perempuan di rumah Dukuh Krasakan, Padukuhan Krasakan, Kalurahan Lumbungrejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, pada Senin (8/6/2026). Dalam forum sirkular tersebut, jajaran pendamping lapangan memberikan draf peringatan dini mengenai datangnya gelombang musim kemarau kering yang diproyeksikan akan melanda sebagian besar wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Petugas Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Kalurahan Lumbungrejo, Purwanto, menjelaskan bahwa fenomena iklim El Nino tahun ini diduga kuat akan memicu draf penurunan curah hujan secara drastis dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Kondisi tersebut berpotensi memicu kekeringan lahan pertanian jika para petani tetap memaksakan menanam komoditas yang membutuhkan pasokan air tinggi seperti padi sawah.

“Kami mengimbau dengan sangat agar seluruh anggota wanita tani segera melakukan langkah-langkah darurat, mulai dari optimalisasi penampungan air mandiri, pengetatan penghematan penggunaan air irigasi, hingga draf pengalihan pemilihan jenis tanaman yang jauh lebih tahan terhadap cuaca kering seperti palawija atau hortikultura berumur pendek. Selain masalah pasokan air, kondisi suhu yang panas pada kemarau kering ini sangat berpotensi memicu ledakan populasi hama wereng dan serangan hama tikus. Upaya pencegahan organisme pengganggu tanaman ini wajib dieksekusi secara serentak bersama dengan padukuhan lain melalui koordinasi lapangan yang solid agar penanganannya tidak parsial,” ujar Purwanto di hadapan anggota kelompok tani.

Di sisi lain, penguatan kelembagaan lokal dinilai bertransformasi menjadi draf benteng pertahanan utama dalam menjaga stabilitas pangan keluarga terlepas dari dinamika cuaca. Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) Lemah Teles, Nurhayati, merespons draf peringatan tersebut dengan mengajak seluruh anggotanya yang berjumlah 25 orang untuk memperketat draf pengawasan kebun produktif mereka melalui penerapan teknologi pertanian modern yang efisien.

Nurhayati memaparkan bahwa selama ini kelompoknya telah dibekali pelbagai pengetahuan praktis dan inovasi agraria hasil kolaborasi sirkular dengan para akademisi perguruan tinggi, mahasiswa kuliah kerja nyata (KKN), serta pendamping PPL. Selain memaksimalkan draf pemanfaatan pekarangan rumah masing-masing untuk penanaman sayuran organik, KWT Lemah Teles juga aktif mengelola hamparan kebun komunal yang memanfaatkan lahan milik Kas Desa melalui draf fasilitasi bantuan benih, pupuk biologis, dan obat-obatan dari pemerintah.

“Kami berkomitmen untuk terus memperkuat peran kaum perempuan di sektor domestik agar mampu menjadi draf penyokong utama ketahanan pangan keluarga sekaligus penggerak kesejahteraan ekonomi anggota. Pertemuan rutin setiap tanggal delapan ini bukan sekadar sarana silaturahmi biasa, melainkan wadah pemberdayaan riil untuk meng-upgrade keterampilan bertani kami. Menghadapi tantangan kemarau kering ini, kami akan segera merumuskan draf jadwal piket penyiraman berbasis pupuk organik cair agar kebun komunal maupun tanaman pekarangan warga tetap produktif menghasilkan draf sayuran segar bernilai jual,” kata Nurhayati menegaskan strategi kelompoknya.

Sinergi yang ditunjukkan oleh KWT Lemah Teles di Tempel ini menjadi draf potret nyata mengenai pentingnya keterlibatan gender dalam mitigasi bencana kelaparan dan inflasi komoditas pokok di tingkat daerah. Kemandirian pangan berbasis pekarangan diposisikan sebagai jaring pengaman sosial yang efektif untuk mengamankan draf pasokan nutrisi warga Sleman di tengah fluktuasi iklim global yang kian tidak menentu. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)




Tekan Kriminalitas Jalanan, Bhabinkamtibmas Condongcatur Sleman Intensifkan Sambang Kamling Bersama Warga

Sleman — Akselerasi pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat di kawasan urban menuntut pola pendekatan yang lebih interaktif dan humanis dari aparat penegak hukum. Mengantisipasi potensi kerawanan sosial dan tindak kriminalitas malam hari, jajaran Bhabinkamtibmas Kalurahan Condongcatur mengintensifkan draf operasi sambang kamling defensif di wilayah binaannya guna mempertegas fungsi sistem keamanan lingkungan.

Langkah preventif kolektif tersebut direalisasikan melalui kegiatan dialog kamtibmas yang dipusatkan di Joglo Suratno RW 45 Kayen, Padukuhan Kayen, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, pada Senin (8/6/2026) malam hingga dini hari. Berbeda dengan aktivitas patroli pos ronda konvensional, agenda sirkular yang diinisiasi oleh Polsek Depok Timur ini sengaja memanfaatkan ruang pertemuan warga yang representatif agar mampu memobilisasi atensi masyarakat secara meluas. Terbukti, sebanyak 29 warga setempat antusias memadati lokasi lesehan pasca-melakukan draf tradisi pengambilan koin jimpitan ronda harian.

Anggota Bhabinkamtibmas Condongcatur, Bastian Sapta Adhy, menegaskan bahwa benteng pertahanan paling kokoh dalam memitigasi draf kejahatan konvensional 3C, yakni pencurian dengan pemberatan (curat), pencurian dengan kekerasan (curas), dan pencurian kendaraan bermotor (curanmor), berada pada tingkat kepedulian rukun warga. Sinergi sirkular antara pemasangan kamera pengawas (CCTV), optimalisasi lampu penerangan jalan, serta tertib penguncian ganda pada kendaraan bermotor wajib dieksekusi secara disiplin oleh warga domestik.

“Kami menekankan bahwa pemeliharaan keamanan lingkungan yang hakiki sama sekali tidak bisa jika hanya bertumpu pada draf patroli dinas kepolisian yang jumlah personelnya terbatas. Peran aktif masyarakat melalui konsistensi ronda malam, kepekaan terhadap kehadiran orang asing, serta komunikasi sirkular antar-tetangga merupakan kunci utama dalam memutus draf niat dan kesempatan para pelaku kejahatan. Selain itu, kami memberikan perhatian khusus pada draf perlindungan anak demi menekan eskalasi kenakalan remaja dan kejahatan jalanan,” ujar Bastian Sapta Adhy di hadapan kelompok ronda malam.

Terkait maraknya fenomena geng motor dan draf gangguan ketertiban remaja, Bastian meminta para orang tua memperketat draf jam malam anak sesuai dengan mandat Peraturan Bupati Sleman Nomor 45 Tahun 2020 tentang Jam Rumah/Jam Istirahat Anak. Langkah hukum ini juga disinkronisasikan secara ketat dengan Program Gerakan Ibu Memanggil yang diinisiasi langsung oleh Kapolda DIY, di mana seluruh anak berusia di bawah 18 tahun wajib sudah berada di dalam rumah paling lambat pukul WIB guna menghindari draf risiko korban maupun pelaku kriminalitas jalanan.

Di sisi lain, potensi terjadinya gesekan sosial dan tindakan anarkis warga di lapangan saat mengamankan terduga pelaku pidana turut diantisipasi oleh kepolisian. Anggota Bhabinkamtibmas Condongcatur lainnya, Bagiyo, melarang keras adanya aksi persekusi atau penghakiman massa secara sepihak yang kerap mencederai draf penegakan hukum nasional dan berisiko memunculkan tuntutan pidana baru bagi warga.

“Apabila dalam pelaksanaan ronda malam warga mendapati atau berhasil mengamankan seseorang yang tertangkap tangan melakukan draf tindak kejahatan, kami meminta dengan sangat agar jangan sampai terjadi tindakan kekerasan fisik atau penganiayaan. Segera lokalisir pelaku dan langsung hubungi Bhabinkamtibmas, Babinsa, mapolsek terdekat, atau manfaatkan layanan Call Center Polri 110 agar draf penanganan perkara dapat dieksekusi secara cepat dan presisi sesuai prosedur hukum yang berlaku di tanah air,” kata Bagiyo memberikan draf edukasi hukum pidana.

Melalui ruang dialog dua arah yang difasilitasi oleh tokoh masyarakat setempat, Sukirman, warga secara aktif menguraikan pelbagai draf dinamika kerawanan lokal serta peta jalur pelarian yang kerap dimanfaatkan pelaku kejahatan di kawasan Kayen. Penguatan kemitraan sirkular yang ditutup dengan makan malam bersama ini diharapkan mampu mengkonsolidasikan ketahanan lingkungan Condongcatur secara komprehensif, sekaligus menghadirkan ruang publik yang aman, tertib, dan bebas dari ancaman teror kriminalitas demi kenyamanan masyarakat Sleman. (Wasana/KIM Depok)




Kalurahan Sinduadi Sleman Jadi Model Percontohan Nasional Kolaborasi BUMDes dan KDMP

Sleman — Langkah strategis untuk memperkuat ketahanan ekonomi perdesaan melalui integrasi kelembagaan lokal mulai memasuki babak baru di tingkat nasional. Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Republik Indonesia membidik Pemerintah Kalurahan Sinduadi, Kapanewon Mlati, Kabupaten Sleman, sebagai lokus rujukan utama dalam penyusunan Naskah Akademik Kebijakan serta Pedoman Kolaborasi antara Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) dan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).

Guna mengeksplorasi ekosistem bisnis hulu-hilir di tingkat tapak tersebut, tim ahli dari Syncore Indonesia selaku lembaga yang ditunjuk resmi oleh kementerian melakukan kunjungan lapangan dan draf diskusi mendalam di kantor kalurahan setempat pada Senin (8/6/2026). Kehadiran tim perumus kebijakan makro ini disambut langsung oleh Lurah Sinduadi, Senen Haryanto, bersama Carik Sinduadi, Fendy Ramadhan, serta jajaran direksi pelaksana dari Ketua BUMKal Puji Utama dan Ketua KDMP Kliwon Suherman.

Lurah Sinduadi, Senen Haryanto, mengibaratkan keberadaan BUMDes dan KDMP di wilayahnya seperti dua pilar kembar yang harus terus dibimbing secara beriringan agar mampu melahirkan efek domino yang positif bagi kesejahteraan warga. Sinergi operasional antara entitas milik desa dan badan usaha koperasi dinilai memiliki ruang yang sangat luas, terutama dalam draf pemotongan rantai distribusi logistik dan perluasan pasar produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

“Kami memandang kedua lembaga ekonomi ini memiliki draf peluang yang sangat besar untuk saling menyokong satu sama lain. Apabila seluruh pelaku UMKM lokal kita diberikan draf akses untuk menyuplai produk unggulannya secara langsung ke jaringan gerai KDMP, tentu hal tersebut akan melahirkan perputaran omzet yang jauh lebih masif bagi perekonomian warga. Di sisi lain, BUMKal Sinduadi saat ini juga mengelola draf unit usaha yang beragam, mulai dari pasar desa, manajemen perparkiran, kompleks greenhouse, Pertashop, hingga lini ritel Warung Kinasih yang semuanya terus dikembangkan demi mendongkrak pendapatan asli kalurahan,” ujar Senen Haryanto saat memaparkan profil bisnis desa di hadapan tim ahli.

Senen menambahkan, draf integrasi ini juga memungkinkan optimalisasi sektor jasa komersial lokal seperti bisnis rumah kos di kawasan urban Sinduadi agar dapat dipromosikan secara digital melalui ekosistem layanan gerai KDMP yang telah memiliki jaringan infrastruktur lengkap. Carik Sinduadi, Fendy Ramadhan, turut menaruh draf harapan besar agar hasil kajian akademis ini lekas disahkan menjadi draf regulasi nasional yang aplikatif sehingga mampu mengakhiri ego sektoral kelembagaan di tingkat desa.

Ketua Tim Syncore Indonesia, Wiratama, memaparkan analisisnya bahwa BUMDes dan Koperasi merupakan dua kekuatan ekonomi determinan yang memegang mandat konstitusi untuk menggerakkan potensi lokal. Kendati memiliki irisan ruang lingkup usaha yang senada pada aspek produksi, distribusi barang, pembiayaan modal, hingga skema pemasaran, dalam realitasnya masih sering dijumpai pelbagai benturan regulasi dan operasional di lapangan.

“Tantangan klasik yang kami temukan di berbagai wilayah tanah air adalah belum tersedianya draf pola kolaborasi yang terstruktur, adanya potensi tumpang tindih jenis usaha yang memicu gesekan, keterbatasan payung hukum regulasi, hingga lemahnya kapasitas sumber daya manusia dan tata kelola integrasi rantai nilai ekonomi desa. Oleh sebab itu, draf Naskah Akademik dan Pedoman Kolaborasi ini dirumuskan secara khusus agar menjadi dasar kebijakan nasional yang kuat. Kunjungan ke Sinduadi ini sangat penting untuk menggali draf praktik baik (good practices) dan model pengelolaan unit usaha desa yang sukses agar nantinya dapat direplikasi secara massal oleh ribuan desa lain di Indonesia,” kata Wiratama menjelaskan urgensi riset lapangannya.

Melalui draf diskusi yang berlangsung interaktif tersebut, jajaran pamong kalurahan bersama pengurus BUMKal dan KDMP memberikan pelbagai draf masukan krusial terkait hambatan birokrasi riil yang dihadapi pengelola usaha sirkular desa. Data primer dan draf rekomendasi dari pinggiran Sleman ini diposisikan sebagai instrumen vital dalam penyusunan draf final pedoman kementerian, guna memastikan produk kebijakan yang dilahirkan kelak benar-benar bersifat membumi, adaptif, serta mampu mendorong kemandirian fiskal desa secara komprehensif menuju Indonesia Emas. (Edy/KIM Pijar Mlati)