Latih Empati Sejak Dini, Siswa KBTK Khasanah Sleman Beli dan Distribusikan Hewan Kurban dari Uang Infak

Sleman — Penanaman nilai-nilai karakter, kepedulian sosial, dan kemandirian pada anak usia dini idealnya tidak hanya berhenti sebagai materi tekstual di dalam kelas, melainkan diwujudkan melalui pengalaman empiris yang nyata. Mengonstruksi semangat tersebut, ratusan siswa Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak (KBTK) Khasanah menggelar aksi filantropi Islam bertajuk Semarak Dzulhijjah 1447 H di Kompleks KBTK Khasanah, Padukuhan Sribit, Kalurahan Sendangtirto, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman, pada Jumat (29/5/2026).
Meskipun secara regulasi di Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman Kelompok Bermain (KB) dan Taman Kanak-Kanak (TK) Khasanah merupakan dua lembaga yang terpisah secara administratif, keduanya berada di bawah payung yayasan yang sama dan konsisten bersinergi. Unit KB yang dipimpin oleh Titik Rumy Kuntari saat ini mengasuh 29 siswa usia dua hingga empat tahun, sedangkan unit TK yang dinakhodai oleh Tri Utami menaungi 58 siswa usia empat hingga tujuh tahun. Kolaborasi kali ini mengusung tema besar “Meneladani Keikhlasan Nabi Ibrahim AS, Menumbuhkan Kepedulian dan Semangat Berbagi”.
Rangkaian acara edukatif tersebut diawali dengan simulasi pelaksanaan salat Iduladha berjamaah di halaman sekolah. Praktik ini sengaja didesain untuk mengenalkan struktur dan tata cara peribadatan salat Id yang memiliki karakteristik jumlah takbir berbeda dibandingkan dengan salat fardu lima waktu, sehingga mempermudah pemahaman kognitif anak sejak dini.
Usai pelaksanaan simulasi ibadah, para siswa diajak menyaksikan langsung proses penyembelihan hewan kurban berupa kambing. Uniknya, pengadaan hewan kurban tersebut bukan berasal dari pungutan wajib ataupun dana anggaran yayasan, melainkan murni bersumber dari akumulasi uang infak sukarela yang disisihkan oleh para siswa setiap hari Jumat.
“Uang infak harian yang dikumpulkan anak-anak setiap hari Jumat memang sengaja kami kelola untuk dua orientasi utama, yakni dana tanggap sosial dan pengadaan hewan kurban ini. Melalui skema ini, anak-anak diajak belajar secara langsung esensi dari berkurban dan bagaimana rasanya membagikan hak milik kita untuk kebahagiaan orang lain. Nantinya, draf daging kurban ini sebagian langsung didistribusikan kepada warga sekitar yang membutuhkan, dan sebagian lagi kami masak bersama di sekolah untuk dinikmati oleh para siswa dan guru pengasuh guna mempererat kebersamaan,” ujar Kepala Sekolah TK Khasanah, Tri Utami, saat menjelaskan mekanisme program di lapangan.
Teknis pendistribusian kantong daging kurban pun dikemas sebagai media pembelajaran sosial yang interaktif. Para siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil, lalu dengan didampingi guru pengasuh, mereka berjalan kaki menyusuri permukiman di sekitar Padukuhan Sribit untuk menyerahkan langsung paket daging kepada masyarakat.
“Kami berharap melalui tindakan taktis bersosialisasi langsung dengan lingkungan sekitar ini, benih-benih empati dan kepedulian sosial akan tertanam secara permanen dalam memori emosional anak, sehingga karakter mulia tersebut dapat terus terbawa hingga mereka tumbuh dewasa kelak menjadi bagian dari masyarakat,” kata Tri Utami menambahkan.
Salah satu guru pengasuh KBTK Khasanah, Anisa Wulandari, atau yang akrab disapa Bunda Icha, mengutarakan bahwa aksi nyata ini selaras dengan visi besar lembaga yang mengusung slogan Islamic Entrepreneur Preschool. Sekolah bertekad kuat untuk mencetak generasi Islami yang tidak hanya unggul secara spiritual dan akademik, tetapi juga memiliki mentalitas mandiri yang kokoh sejak bangku prasekolah.
“Implementasi dari pelatihan kemandirian anak di KBTK Khasanah dapat diidentifikasi dari pola kegiatan kami, baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah, yang secara sengaja meminimalkan keterlibatan langsung wali murid. Kami membiasakan para siswa untuk berani melakukan aktivitas mandiri tanpa harus ditemani orang tua mereka, seperti saat agenda outing class, kunjungan edukasi luar sekolah, pengenalan lingkungan sekitar, hingga program pesantren kilat atau Malam Bina Iman dan Takwa (Mabit). Keterlibatan ekstra dari orang tua baru akan kami buka pada momen-momen spesifik tertentu, misalnya saat perlombaan besar yang membutuhkan pengawasan ketat serta pada prosesi seremoni perpisahan sekolah,” ujar Anisa Wulandari memungkasi penjelasannya. (Kusnadi/KIM Berbah)



