Latih Empati Sejak Dini, Siswa KBTK Khasanah Sleman Beli dan Distribusikan Hewan Kurban dari Uang Infak

Sleman — Penanaman nilai-nilai karakter, kepedulian sosial, dan kemandirian pada anak usia dini idealnya tidak hanya berhenti sebagai materi tekstual di dalam kelas, melainkan diwujudkan melalui pengalaman empiris yang nyata. Mengonstruksi semangat tersebut, ratusan siswa Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak (KBTK) Khasanah menggelar aksi filantropi Islam bertajuk Semarak Dzulhijjah 1447 H di Kompleks KBTK Khasanah, Padukuhan Sribit, Kalurahan Sendangtirto, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman, pada Jumat (29/5/2026).

Meskipun secara regulasi di Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman Kelompok Bermain (KB) dan Taman Kanak-Kanak (TK) Khasanah merupakan dua lembaga yang terpisah secara administratif, keduanya berada di bawah payung yayasan yang sama dan konsisten bersinergi. Unit KB yang dipimpin oleh Titik Rumy Kuntari saat ini mengasuh 29 siswa usia dua hingga empat tahun, sedangkan unit TK yang dinakhodai oleh Tri Utami menaungi 58 siswa usia empat hingga tujuh tahun. Kolaborasi kali ini mengusung tema besar “Meneladani Keikhlasan Nabi Ibrahim AS, Menumbuhkan Kepedulian dan Semangat Berbagi”.

Rangkaian acara edukatif tersebut diawali dengan simulasi pelaksanaan salat Iduladha berjamaah di halaman sekolah. Praktik ini sengaja didesain untuk mengenalkan struktur dan tata cara peribadatan salat Id yang memiliki karakteristik jumlah takbir berbeda dibandingkan dengan salat fardu lima waktu, sehingga mempermudah pemahaman kognitif anak sejak dini.

Usai pelaksanaan simulasi ibadah, para siswa diajak menyaksikan langsung proses penyembelihan hewan kurban berupa kambing. Uniknya, pengadaan hewan kurban tersebut bukan berasal dari pungutan wajib ataupun dana anggaran yayasan, melainkan murni bersumber dari akumulasi uang infak sukarela yang disisihkan oleh para siswa setiap hari Jumat.

“Uang infak harian yang dikumpulkan anak-anak setiap hari Jumat memang sengaja kami kelola untuk dua orientasi utama, yakni dana tanggap sosial dan pengadaan hewan kurban ini. Melalui skema ini, anak-anak diajak belajar secara langsung esensi dari berkurban dan bagaimana rasanya membagikan hak milik kita untuk kebahagiaan orang lain. Nantinya, draf daging kurban ini sebagian langsung didistribusikan kepada warga sekitar yang membutuhkan, dan sebagian lagi kami masak bersama di sekolah untuk dinikmati oleh para siswa dan guru pengasuh guna mempererat kebersamaan,” ujar Kepala Sekolah TK Khasanah, Tri Utami, saat menjelaskan mekanisme program di lapangan.

Teknis pendistribusian kantong daging kurban pun dikemas sebagai media pembelajaran sosial yang interaktif. Para siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil, lalu dengan didampingi guru pengasuh, mereka berjalan kaki menyusuri permukiman di sekitar Padukuhan Sribit untuk menyerahkan langsung paket daging kepada masyarakat.

“Kami berharap melalui tindakan taktis bersosialisasi langsung dengan lingkungan sekitar ini, benih-benih empati dan kepedulian sosial akan tertanam secara permanen dalam memori emosional anak, sehingga karakter mulia tersebut dapat terus terbawa hingga mereka tumbuh dewasa kelak menjadi bagian dari masyarakat,” kata Tri Utami menambahkan.

Salah satu guru pengasuh KBTK Khasanah, Anisa Wulandari, atau yang akrab disapa Bunda Icha, mengutarakan bahwa aksi nyata ini selaras dengan visi besar lembaga yang mengusung slogan Islamic Entrepreneur Preschool. Sekolah bertekad kuat untuk mencetak generasi Islami yang tidak hanya unggul secara spiritual dan akademik, tetapi juga memiliki mentalitas mandiri yang kokoh sejak bangku prasekolah.

“Implementasi dari pelatihan kemandirian anak di KBTK Khasanah dapat diidentifikasi dari pola kegiatan kami, baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah, yang secara sengaja meminimalkan keterlibatan langsung wali murid. Kami membiasakan para siswa untuk berani melakukan aktivitas mandiri tanpa harus ditemani orang tua mereka, seperti saat agenda outing class, kunjungan edukasi luar sekolah, pengenalan lingkungan sekitar, hingga program pesantren kilat atau Malam Bina Iman dan Takwa (Mabit). Keterlibatan ekstra dari orang tua baru akan kami buka pada momen-momen spesifik tertentu, misalnya saat perlombaan besar yang membutuhkan pengawasan ketat serta pada prosesi seremoni perpisahan sekolah,” ujar Anisa Wulandari memungkasi penjelasannya. (Kusnadi/KIM Berbah)




Perkuat Peran Perempuan dalam Kampanye Hidup Sehat, Perwosi Kapanewon Depok Bentuk Kepengurusan Baru

Sleman — Upaya penguatan status kesehatan keluarga melalui peran strategis kaum perempuan terus diintensifkan di tingkat kewilayahan. Guna mengonsolidasikan gerakan olahraga rekreasi dan pembudayaan gaya hidup aktif, Persatuan Wanita Olahraga Seluruh Indonesia (Perwosi) Kapanewon Depok resmi membentuk struktur kepengurusan baru masa bakti 2026-2030 di Gedung Anglocita Tama, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (30/5/2026).

Langkah taktis ini diambil sebagai respons atas perlunya wadah formal yang mampu mengintegrasikan berbagai kelompok olahraga perempuan di kawasan urban Sleman. Kehadiran struktur kepengurusan yang solid dinilai menjadi instrumen penting untuk menggerakkan potensi perempuan, khususnya dalam menekan prevalensi penyakit tidak menular (PTM) melalui aktivitas fisik yang teratur dan terukur.

Panewu Depok, Rakhmat Harinawan, menekankan bahwa perempuan memegang peran sentral sebagai agen perubahan dalam lingkup domestik maupun sosial. Organisasi Perwosi dirancang bukan sekadar untuk menggelar kegiatan seremonial, melainkan menjadi motor penggerak Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (Germas) yang menyasar kluster keluarga di tiga kalurahan, yakni Caturtunggal, Condongcatur, dan Maguwoharjo.

“Perwosi merupakan wadah instansional yang sangat penting untuk membina olahraga wanita secara terarah, terpadu, dan berkelanjutan. Kita ingin perempuan di wilayah Kapanewon Depok tidak hanya menjadi penonton, tetapi tampil di depan untuk menjaga kebugaran tubuh mereka sendiri sekaligus menularkan kebiasaan positif tersebut kepada anak-anak dan lingkungan sekitarnya. Dengan tubuh yang sehat dan bugar, produktivitas domestik maupun kontribusi sosial perempuan dalam pembangunan daerah akan meningkat secara eksponensial,” ujar Rakhmat Harinawan saat memberikan pengarahan.

Dalam forum tersebut, susunan kepengurusan inti Perwosi Kapanewon Depok disepakati dengan menempatkan jajaran struktural birokrasi sebagai pilar pembina. Posisi pelindung dijabat oleh Panewu, disusul Panewu Anom sebagai penasihat, dan Kepala Jawatan Sosial bertindak selaku pengarah. Guna memastikan roda organisasi berjalan laras, posisi ketua diamanahkan kepada istri Panewu, didampingi istri Panewu Anom selaku wakil ketua. Jabatan sekretaris diisi oleh staf Jawatan Sosial bersama Resmi Widayati, sementara pos bendahara dikelola oleh Bendahara Gaji Kapanewon Depok bersama staf Jawatan Kemakmuran.

Struktur ini diperkuat oleh enam bidang kerja strategis yang melibatkan lintas sektor. Bidang Humas digawangi oleh Kasubbag Umum dan Kepegawaian, sementara Bidang SDM dikoordinasikan oleh istri Lurah Caturtunggal dibantu Ganep Sri Lestari dan Murniwati. Untuk Bidang Organisasi dipercayakan kepada istri Lurah Condongcatur bersama Retnaningsih dan Sri Rejeki. Pada sektor teknis, Bidang Keolahragaan dipimpin oleh Sri Sulistyowati dibantu Yashinta Sulistyo dan Ratna Handayani. Adapun Bidang Dana Usaha dikoordinasikan oleh istri Lurah Maguwoharjo bersama Nunung dan Rubiyani, serta Bidang Publikasi dikawal oleh staf Jawatan Sosial bersama Titik Yuliati dan Sussilityaningsih.

Rakhmat menambahkan, salah satu target jangka pendek yang harus dieksekusi oleh pengurus baru ini adalah melakukan pemetaan dan mencetak instruktur olahraga lokal, khususnya untuk cabang senam kreasi baru. Langkah pembibitan ini krusial untuk memastikan proses regenerasi pelatih di tingkat akar rumput berjalan dengan baik tanpa hambatan baku.

“Pembinaan kader dan instruktur senam tingkat kapanewon ini sangat mendesak untuk menjaga keberlanjutan program jangka panjang. Kita harus memastikan Depok selalu siap, baik secara kualitas fisik maupun kesiapan organisasi, saat harus mendelegasikan perwakilan dalam ajang kompetisi olahraga wanita di tingkat kabupaten maupun di level Daerah Istimewa Yogyakarta. Selain aspek kompetisi, ruang ini juga harus dioptimalkan untuk memperkuat integrasi dengan ibu-ibu PKK dan Dharma Wanita agar olahraga rekreasi seperti yoga, jalan sehat, dan bulutangkis semakin inklusif diakses oleh semua lapisan masyarakat,” kata Rakhmat menambahkan komitmennya.

Melalui legalitas kepengurusan yang baru ini, Perwosi Kapanewon Depok diharapkan mampu mengikis ego sektoral dengan membangun kemitraan yang kokoh bersama Dinas Pemuda dan Olahraga serta kader kesehatan desa. Sinergitas yang terjalin erat ini ditargetkan mampu melahirkan regulasi aktivitas fisik yang rutin, terstruktur, dan berdampak nyata pada penurunan angka kesakitan massal di wilayah Depok. (Athiful/KIM Depok)




FK-KMK UGM Latih Kesiapsiagaan Darurat Medis Berbasis Keluarga di Tempel

Sleman — Penguatan ketahanan kesehatan nasional dinilai tidak dapat lagi bertumpu sepenuhnya pada ketersediaan fasilitas medis formal, melainkan harus dimulai dari kemandirian unit terkecil, yakni keluarga. Guna mewujudkan pilar tersebut, mahasiswa Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar diseminasi program intervensi kesehatan bertajuk Community and Family Health Care–Interprofessional Education (CFHC-IPE) yang kini sukses memasuki pelaksanaan tahun kedua.

Agenda pemaparan hasil pendampingan yang mengusung tema spesifik “Family Health and Emergency” tersebut dipusatkan di Joglo Kadisono, Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (30/5/2026). Forum strategis ini mempertemukan dosen pembimbing lapangan, jajaran birokrasi kalurahan, puluhan kader kesehatan, serta perwakilan masyarakat untuk membedah peta temuan klinis dan rekomendasi tindak lanjut penanganan risiko penyakit di tingkat domestik.

Program CFHC-IPE merupakan model inovasi pembelajaran berbasis komunitas jangka panjang yang mengintegrasikan mahasiswa dari berbagai disiplin ilmu, seperti kedokteran, keperawatan, dan gizi kesehatan. Melalui skema kolaboratif ini, para calon tenaga kesehatan dilatih keluar dari zona teori ruang kuliah untuk bersentuhan langsung dengan dinamika sosiologis, psikologis, dan faktor lingkungan yang memengaruhi status kesehatan sebuah keluarga.

Mewakili Pemerintah Kalurahan Margorejo, Kamituwa Margorejo Anwar Insani, mengapresiasi tinggi konsistensi para mahasiswa UGM yang berkomitmen melakukan pendampingan secara kontinu selama dua tahun berturut-turut di wilayahnya. Kehadiran para mahasiswa dinilai efektif mendobrak kebiasaan buruk masyarakat dalam mengabaikan gejala penyakit kronis.

“Keberadaan para mahasiswa UGM di tengah-tengah pemukiman warga Margorejo memberikan kemanfaatan yang sangat nyata dan terukur. Selain berhasil mendongkrak literasi kesehatan warga mengenai mitigasi penyakit, kegiatan ini juga ampuh membangun kesadaran kolektif bahwa menjaga kebersihan dan keselamatan tubuh merupakan tanggung jawab penuh setiap anggota keluarga, bukan hanya tugas bidan desa. Kami berharap sinergi lintas sektor antara perguruan tinggi dan pemerintah kalurahan ini terus dirawat agar program yang sudah dirintis mampu memicu dampak jangka panjang bagi peningkatan indeks pembangunan manusia di desa kami,” ujar Anwar Insani saat memberikan sambutan.

Dosen pembimbing lapangan sekaligus narasumber kegiatan, Purwanto, menjelaskan bahwa jika fokus tahun pertama berpusat pada pemetaan demografi dan identifikasi masalah, maka target tahun kedua ini ditekankan pada penguatan kapasitas kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat kesehatan (emergency). Keluarga wajib diposisikan sebagai lini pertama yang cakap mengeksekusi pertolongan pertama sebelum bantuan medis tiba di lokasi.

“Banyak kasus kegawatdaruratan domestik, seperti serangan jantung, tersedak, hingga kecelakaan rumah tangga, yang membutuhkan respons cepat sekian menit dari anggota keluarga atau tetangga terdekat demi menyelamatkan nyawa pasien. Oleh karena itu, peningkatan pengetahuan dan keterampilan praktis masyarakat di akar rumput mengenai tindakan penyelamatan awal menjadi hal yang sangat krusial. Melalui pendekatan kolaborasi profesi ini, mahasiswa juga kami latih untuk melihat sebuah persoalan kesehatan secara holistik, tidak hanya mendiagnosis dari aspek klinis kedokteran saja, melainkan juga membedah faktor perilaku dan lingkungan sosialnya,” kata Purwanto menjabarkan esensi edukasi.

Melalui diseminasi data lapangan yang dikumpulkan oleh Angkatan 2024 ini, pemerintah kalurahan kini mengantongi draf rekomendasi akurat untuk mengarahkan kebijakan anggaran kesehatan desa secara lebih efektif. Langkah taktis ini diharapkan menjadi role model nasional mengenai bagaimana kolaborasi institusi pendidikan dan komunitas lokal mampu melahirkan masyarakat yang mandiri, responsif, dan tangguh dalam menangani isu kesehatan secara swadaya sejak dari dalam rumah. (SBD/KIM Senyum Tempel)




Gumregah Takbir Rinengga Budaya, Harmoni Syiar Islam dan Kearifan Lokal di Kapanewon Tempel

Sleman — Tradisi malam takbiran di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta terus bertransformasi menjadi ruang syiar yang tidak hanya sarat dengan nilai spiritualitas, tetapi juga merefleksikan kekayaan budaya lokal. Manifestasi tersebut teperikan secara nyata dalam festival akbar Tempel Takbiran 2026 yang mengusung tema “Gumregah Takbir Rinengga Budaya” di Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, pada Jumat (29/5/2026).

Agenda kolosal yang dinisiasi oleh Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Kapanewon Tempel bersama berbagai unsur keagamaan ini mengambil titik awal (start) dari Masjid At-Taqwa Sono Kulon, Kalurahan Merdikorejo, dan berakhir (finish) di Lapangan Lumbungrejo. Iring-iringan gema takbir ini memukau ribuan warga yang memadati sepanjang rute berkat atraksi display takbir kreatif, lampion raksasa, hingga keterlibatan puluhan pelaku UMKM lokal yang menggerakkan ekonomi kerakyatan.

Ketua Panitia Pelaksana, Ilham Syukron, menjelaskan bahwa pemilihan tema tersebut memiliki filosofi mendalam mengenai semangat bangkit mengagungkan kebesaran Tuhan yang dihiasi dan diperkaya oleh keindahan tradisi Nusantara. Pola pendekatan kebudayaan dinilai menjadi instrumen dakwah yang santun, inklusif, dan ampuh dalam merajut ukhuwah serta persatuan antar-warga.

“Melalui tema ini, kami ingin menghadirkan festival takbiran yang bukan hanya mengejar kemeriahan seremonial belaka, melainkan sebuah syiar yang penuh makna spiritual, memperkuat rajutan kebersamaan, serta memberi ruang ekspresi kreativitas bagi generasi muda dalam nuansa Islami. Antusiasme masyarakat sangat luar biasa, di mana lomba takbir tahun ini diikuti oleh tujuh kontingen terbaik dari Kalurahan Margorejo, Merdikorejo, Sumberrejo, Mororejo, Tambakrejo, serta dua kontingen dari Lumbungrejo. Dengan rata-rata 50 peserta per kelompok, total ada sekitar 350 pendekar takbir yang turun ke jalan, membuktikan bahwa tradisi ini menjadi ruang pemersatu lintas generasi,” ujar Ilham Syukron di sela-sela perlombaan.

Setelah melalui proses kurasi dan penilaian ketat dari dewan juri profesional, Kontingen Lumbungrejo 1 (Sedogan) ditetapkan sebagai juara pertama berkat keunggulan aransemen musik dan harmoni budaya. Posisi Juara 2 diraih oleh Kontingen Lumbungrejo 2 (Krasakan), sedangkan Juara 3 berhasil diamankan oleh kontingen dari Kalurahan Margorejo.

Ilham menambahkan, indikator penilaian tidak hanya bertumpu pada kemegahan properti, melainkan aspek kefasihan makhorijul huruf dalam mengumandangkan takbir, kekompakan barisan, persentase unsur budaya, serta ketertiban di sepanjang jalur pawai. Pihak panitia memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada seluruh peserta yang telah menampilkan performa terbaik dengan tetap menjaga esensi utama takbir sebagai bentuk pengagungan kepada Allah SWT.

Apresiasi senada juga dilontarkan oleh Panewu Tempel, Rasyid Ratnadi Sosiawan, yang ikut memantau langsung jalannya festival dari panggung kehormatan. Pihaknya menilai manajemen kepanitiaan berhasil mengemas acara dengan sangat tertib, aman, sekaligus mampu meredam konotasi negatif malam takbiran yang kerap diwarnai aksi penyalaan petasan atau knalpot brong.

“Pemerintah kapanewon sangat mengapresiasi pelaksanaan kegiatan ini, yang menjadi contoh nyata bahwa tradisi keagamaan dapat berjalan berdampingan secara positif, damai, dan membangun dengan budaya lokal. Ini bukan sekadar perayaan menyambut hari raya, tetapi juga ruang strategis untuk memperkuat harmoni sosial dan persatuan masyarakat Tempel. Keberhasilan acara yang luar biasa ini mutlak tidak lepas dari kolaborasi yang sangat solid antara jajaran birokrasi, panitia, organisasi kepemudaan, serta kesadaran warga dalam menjaga ketertiban umum,” kata Rasyid Ratnadi Sosiawan menegaskan.

Guna menjamin kelancaran arus lalu lintas dan sterilisasi jalur protokol, panitia menerapkan sistem pengamanan berlapis dengan mengonsolidasikan ratusan personel gabungan. Pengamanan lapangan tersebut melibatkan unsur Satuan Perlindungan Masyarakat (Linmas), Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (Kokam), Barisan Ansor Serbaguna (Banser), pendekar Tapak Suci, jajaran relawan lokal, hingga kelompok Jaga Warga.

Melalui kemasan festival yang tertib dan estetis ini, masyarakat Kapanewon Tempel berhasil mengirimkan pesan kuat ke tingkat nasional bahwa nilai-nilai spiritualitas agama dan kearifan lokal tidak perlu dipertentangkan. Di tengah laju modernisasi, Tempel Takbiran 2026 menjadi bukti autentik bahwa syiar keagamaan yang berbalut seni tradisi mampu bertransformasi menjadi kekuatan sosial yang membahagiakan sekaligus mempererat kohesi kehidupan berbangsa. (SBD/KIM SENYUM TEMPEL)




Ratusan Aparat dan Warga Gamping Meriahkan Hari Jadi ke-110 Sleman Lewat Senam Massal

Sleman — Kampanye penguatan gaya hidup sehat dan pembentukan ekosistem masyarakat yang bugar terus digelorakan di tingkat kewilayahan. Menyambut momentum peringatan Hari Jadi ke-110 Kabupaten Sleman, ratusan peserta dari berbagai instansi dan elemen warga memadati halaman Pendopo Kantor Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, untuk mengikuti aksi senam massal pada Jumat (29/5/2026).

Agenda olahraga bersama ini mengonsolidasikan seluruh pemangku kepentingan di wilayah barat Sleman. Massa yang hadir berbaur menjadi satu, mulai dari pegawai jajaran Pemerintah Kapanewon Gamping, personel Kepolisian Sektor Gamping, anggota Koramil 17/Gamping, serta tenaga medis dari Puskesmas Gamping I dan II. Selain itu, tampak hadir pula perwakilan dari Stasiun Geofisika Sleman, Kantor Urusan Agama (KUA), Balai Penyuluhan Keluarga Berencana (BPKB), perangkat kalurahan se-Kapanewon Gamping, hingga pengurus Komunitas Informasi Masyarakat (KIM) Pararta Guna yang bergerak lincah mengikuti instruksi pemandu senam.

Panewu Gamping, Suyanto, menegaskan bahwa penuaan usia Kabupaten Sleman harus merefleksikan peningkatan kualitas hidup masyarakatnya, yang salah satunya diukur dari derajat kesehatan harian. Aktivitas fisik yang masif ini sengaja dipilih sebagai instrumen taktis untuk mencairkan sekat birokrasi dan mendekatkan hubungan emosional antarinstansi pelayanan publik dengan warga yang dilayaninya.

“Momentum sakral Hari Jadi ke-110 Kabupaten Sleman ini harus kita maknai secara konkret sebagai upaya kolektif untuk membangun tatanan masyarakat yang sehat, produktif, dan harmonis. Melalui senam massal ini, kita tidak hanya membakar kalori secara fisik, tetapi juga mempertebal modal sosial berupa rasa kekeluargaan dan solidaritas lintas sektoral. Kita ingin membumikan kembali kesadaran publik mengenai urgensi investasi kesehatan melalui aktivitas olahraga rutin yang murah dan gembira,” ujar Suyanto dengan penuh semangat di sela-sela kegiatan.

Suyanto memaparkan, penguatan edukasi mengenai pembiasaan gaya hidup aktif menjadi agenda mendesak di tengah ancaman disrupsi penyakit tidak menular (PTM) seperti stroke, jantung, dan diabetes yang kian marak menyerang usia produktif di kawasan urban. Gerakan berolahraga minimal tiga puluh menit sehari diharapkan bertransformasi menjadi kebudayaan baru yang melekat pada sendi kehidupan keluarga.

Pihak otoritas kapanewon menempatkan status kesehatan warga sebagai indikator makro keberhasilan pembangunan daerah. Ketika indeks kesehatan masyarakat berada pada level optimal, maka produktivitas kerja dan daya saing ekonomi wilayah otomatis akan terkerek naik secara linear.

“Kesehatan masyarakat merupakan salah satu fondasi paling utama dan mendasar dalam mendukung kelancaran seluruh roda pembangunan daerah. Dengan modal tubuh yang sehat, jiwa yang prima, serta lingkungan sosial yang kompak dan solid, seluruh elemen masyarakat Gamping dapat berkontribusi secara maksimal dan optimal dalam menggerakkan berbagai sektor pembangunan strategis di wilayah ini,” kata Suyanto menambahkan.

Kemeriahan pesta rakyat dalam bingkai olahraga ini ditutup dengan pembagian ratusan hadiah hiburan (doorprize) menarik serta panggung hiburan musik yang semakin melarutkan suasana kebersamaan. Kehadiran ragam kluster masyarakat dari berbagai latar belakang profesi ini menjadi simbol konkret dari kokohnya semangat gotong royong warga Gamping yang humanis untuk berjalan beriringan mendukung program kerja pemerintah daerah yang berkelanjutan. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)