BNNK Sleman Hadirkan Layanan MERAPAT di Condongcatur, Permudah Akses SKHPN bagi Masyarakat

Sleman – Badan Narkotika Nasional Kabupaten (BNNK) Sleman kembali menghadirkan layanan MERAPAT (Melayani di Masyarakat Setempat) di Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Selasa (2/6/2026).

Program ini merupakan upaya BNNK Sleman untuk mendekatkan pelayanan kepada masyarakat sekaligus meningkatkan kesadaran akan bahaya penyalahgunaan narkoba.

Petugas BNNK Sleman, Lisa Nur Widiastuti, yang hadir bersama dua petugas lainnya, Rezza Umami Fuadiah dan Kusmartono, menjelaskan bahwa pada pelaksanaan layanan MERAPAT kali ini terdapat dua masyarakat yang mengakses layanan Surat Keterangan Hasil Pemeriksaan Narkotika (SKHPN) 7 parameter.

“Kedua pemohon mengajukan penerbitan SKHPN sebagai salah satu persyaratan untuk melanjutkan pendidikan ke Universitas Gadjah Mada (UGM),” jelasnya.

Lisa menerangkan bahwa masyarakat yang akan mengakses layanan SKHPN terlebih dahulu melakukan pendaftaran secara daring melalui website BOSS BNN. Setelah mengisi formulir pendaftaran, data pemohon diverifikasi oleh petugas. Selanjutnya, pemohon akan menerima kode billing untuk melakukan pembayaran Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sesuai ketentuan yang berlaku.

Setelah proses administrasi selesai, pemohon menjalani wawancara menggunakan formulir Drug Abuse Screening Test (DAST-10), pemeriksaan kesehatan, serta pemeriksaan urin 7 parameter. Sampel urin kemudian langsung diperiksa oleh petugas BNNK Sleman.

Berdasarkan hasil pemeriksaan yang menunjukkan hasil negatif terhadap penyalahgunaan narkotika, petugas kemudian menerbitkan Surat Keterangan Hasil Pemeriksaan Narkotika (SKHPN) dan menyerahkannya kepada masing-masing pemohon. Dokumen tersebut digunakan sebagai salah satu persyaratan administrasi untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Gadjah Mada (UGM).

Lisa menjelaskan bahwa layanan MERAPAT dilaksanakan secara rutin setiap hari Selasa pukul – WIB di Kalurahan Condongcatur sebagai bentuk komitmen BNNK Sleman dalam memberikan pelayanan yang mudah dijangkau masyarakat.

Selain melalui layanan MERAPAT di Condongcatur, masyarakat juga dapat mengakses layanan penerbitan SKHPN di Klinik Pratama Sembada Bersinar BNNK Sleman yang beralamat di Jl. KRT Pringgodiningrat No. 3, Beran, Tridadi, Sleman.

Melalui kegiatan ini, BNNK Sleman berharap masyarakat semakin memahami bahaya penyalahgunaan narkoba dan berperan aktif dalam upaya pencegahan, baik di lingkungan keluarga maupun masyarakat.

“Melalui layanan MERAPAT, masyarakat tidak hanya dapat mengurus penerbitan SKHPN, tetapi juga memperoleh berbagai layanan lainnya yang disediakan oleh BNNK Sleman. Kami berharap masyarakat semakin sadar akan bahaya narkoba dan bersama-sama menciptakan lingkungan yang bersih dari penyalahgunaan narkoba,” ujar Lisa.

Adapun layanan yang tersedia dalam program MERAPAT meliputi konsultasi dan edukasi bahaya narkoba, penerbitan SKHPN, konsultasi rehabilitasi bagi penyalahguna narkoba, permohonan narasumber kegiatan Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN), pemeriksaan urin bagi instansi, permohonan Tim Asesmen Terpadu (TAT), penerimaan mahasiswa magang, serta layanan pengaduan masyarakat terkait dugaan peredaran gelap narkoba.

Melalui inovasi pelayanan publik ini, BNNK Sleman terus berupaya menghadirkan layanan yang lebih dekat, cepat, dan mudah diakses masyarakat guna mendukung terwujudnya Sleman Sembada Bersinar (Bersih dari Narkoba). (Wasana / KIM Depok)




TPS3R Makmur Mandiri Kembangkan Tungku Biomasa Tiga Ruang untuk Kurangi Residu Sampah

Sleman – Berbagai inovasi bermunculan untuk mengurangi volume residu sampah di Sleman. Salah satunya melalui penggunaan tungku pembakaran yang dirancang untuk meminimalkan dampak pencemaran lingkungan.

Upaya tersebut dilakukan oleh TPS3R Makmur Mandiri Kalurahan Sendangtirto, Kapanewon Berbah. Kelompok pengelola sampah ini mengembangkan Tungku Pembakaran Biomasa Tiga Ruang atau Three Chamber Furnace (TCF) untuk mengolah residu sampah.

“Dengan penggunaan tungku TCF, proses pembakaran menjadi lebih sempurna dan asap yang dihasilkan lebih bersih,” ujar Agus Hitami, pembuat tungku tiga ruang, saat ditemui di TPS3R Makmur Mandiri Sendangtirto, Senin (1/6/2026).

Agus menjelaskan, tungku biomasa tersebut dibangun menggunakan konstruksi bata dua lapis. Lapisan bagian dalam menggunakan batu bata yang disusun dengan perekat tanah liat. Material ini dipilih karena mampu menahan dan meratakan panas selama proses pembakaran sehingga suhu di dalam tungku dapat terjaga secara optimal.

Selain itu, penggunaan tanah liat juga membantu mengurangi risiko retak akibat paparan suhu tinggi. Sementara itu, lapisan bagian luar diperkuat menggunakan campuran semen dan pasir yang diplester secara merata guna meningkatkan kekuatan konstruksi tungku.

Menurut Agus, proses pembakaran tidak memerlukan bahan bakar tambahan karena panas dihasilkan dari sampah yang dibakar. Setelah suhu tungku mencapai kondisi ideal dan dinding ruang pembakaran telah membara, berbagai jenis sampah residu dapat dimasukkan secara bertahap.

Meski demikian, ia menyarankan agar sampah berbahan kain atau gombal serta styrofoam tidak dibakar karena dapat menghasilkan asap berwarna hitam dan meningkatkan potensi pencemaran udara.

“Dua jenis sampah itu bisa membuat asap menjadi hitam dan kotor,” jelasnya.

Dalam satu hari, tungku biomasa tiga ruang tersebut mampu membakar hingga sekitar tiga ton sampah residu kering. Menurut Agus, pembakaran sampah memang bukan solusi yang ideal dalam pengelolaan sampah. Namun hingga saat ini, teknologi tersebut dinilai masih menjadi salah satu alternatif yang relatif terjangkau untuk mengurangi volume residu yang sulit ditangani.

“Kami menyadari bahwa membakar sampah bukan pilihan yang paling baik. Namun dengan menggunakan tungku bersuhu tinggi ini, kami berupaya menekan risiko dampak lingkungan yang ditimbulkan,” tuturnya. (Kusnadi KIM Berbah)




Festival Kampung Dolanan Elingo Jogja Resmi Dibuka, Tumbuhkan Cinta Budaya Sejak Dini

Sleman – Semangat pelestarian budaya Jawa dan permainan tradisional mewarnai penyelenggaraan Festival Kampung Dolanan Elingo Jogja, yang digelar di Limasan Elingo Jogja, Clikan, Umbulmartani, Ngemplak, Sleman, Minggu (1/6/2025). Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat kecintaan generasi muda terhadap budaya lokal sekaligus menandai peresmian Kampung Elingo Jogja.

Festival menghadirkan berbagai kegiatan edukatif dan hiburan budaya yang melibatkan anak-anak serta masyarakat. Sejumlah penampilan turut memeriahkan acara, di antaranya penampilan dalang cilik Neo dan Mijil, tarian anak bertema Jaranan, Jamuran, dan Padang Bulan yang mendapat apresiasi dari para tamu undangan dan peserta.

Selain pertunjukan seni budaya, festival juga menghadirkan dua narasumber inspiratif, yakni Bagong Soebardja, penulis buku cerita anak berbahasa Jawa sekaligus pegiat dongeng, dan penulis buku Dolanan Nusantara, Arif Bintoro Johan yang juga sebagai anggota Dewan Pendidikan Sleman serta pegiat kebudayaan Yogyakarta. Keduanya mengajak peserta memahami pentingnya menjaga bahasa daerah, sastra Jawa, dan permainan tradisional sebagai bagian dari identitas bangsa.

Acara semakin istimewa dengan peresmian Kampung Elingo Jogja yang dilakukan oleh Bupati Sleman, Harda Kiswaya. Peresmian ditandai dengan pemotongan tumpeng secara simbolis serta penandatanganan prasasti pada batu sebagai penanda berdirinya kampung budaya tersebut.

Founder Elingo Jogja, Widodo, menyampaikan harapannya agar kegiatan ini mampu menumbuhkan kecintaan masyarakat, khususnya generasi muda, terhadap budaya bangsa.

“Kami berharap kegiatan ini dapat menjadi sarana menanamkan kecintaan terhadap budaya sejak dini. Tidak hanya berhenti pada pembukaan Kampung Elingo Jogja, tetapi juga terus berkembang dan dilestarikan melalui berbagai kegiatan budaya yang berkelanjutan,” ujarnya.

Sementara itu, Bupati Sleman, Harda Kiswaya mengapresiasi inisiatif pelestarian budaya yang dilakukan oleh Elingo Jogja. Menurutnya, keberadaan Kampung Elingo Jogja dapat menjadi ruang edukasi budaya yang bermanfaat bagi masyarakat.

“Saya berharap kegiatan ini tidak berhenti pada seremoni peresmian saja, tetapi mampu menghadirkan berbagai gebrakan dan inovasi yang luar biasa dalam upaya pelestarian budaya serta pengembangan karakter generasi muda,” katanya.

Festival Kampung Dolanan Elingo Jogja merupakan bagian dari program pelestarian budaya yang didukung oleh Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, LPDP, Dana Indonesiana, Dinas Kebudayaan Kabupaten Sleman, dan berbagai pihak lainnya.

Melalui kegiatan ini, penyelenggara berharap masyarakat semakin menyadari pentingnya menjaga warisan budaya lokal di tengah perkembangan zaman, sekaligus menjadikan permainan tradisional, bahasa Jawa, dan kesenian daerah sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari yang terus hidup dan berkembang. (AJENG KIM DSN Ngaglik)




Penguatan Akuntabilitas Kinerja Kalurahan Jadi Kunci Pembangunan Desa yang Transparan dan Berdampak

Sleman — Pemerintah terus mendorong penerapan Sistem Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (SAKIP) hingga ke tingkat kalurahan. Komitmen tersebut mengemuka dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Penyusunan Dokumen Perjanjian Kinerja Lurah yang digelar di Aula Kalurahan Lumbungrejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, Selasa (2/6/2026).

Kegiatan ini menghadirkan Analis Kebijakan Ahli Muda Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK) Kabupaten Sleman, Aulia Frida Widyasmara sebagai narasumber, yang memaparkan pentingnya penerapan SAKIP dalam tata kelola pemerintahan kalurahan.

Menurut Aulia, perjanjian kinerja merupakan instrumen strategis untuk memastikan setiap program pemerintah memiliki arah, target, dan indikator keberhasilan yang jelas.

“Akuntabilitas kinerja bukan sekadar menyusun dokumen, tetapi bagaimana seluruh proses pemerintahan dapat menunjukkan hasil yang nyata dan manfaat yang dirasakan masyarakat. Karena itu setiap target harus terukur dan dapat dievaluasi,” ujarnya.

Ia menambahkan, penerapan SAKIP menjadi bagian dari upaya membangun budaya kerja yang berorientasi pada hasil, bukan sekadar pelaksanaan kegiatan administratif atau penyerapan anggaran.

Sementara itu, Kepala Jawatan Praja Kapanewon Tempel, Sri Lestari menegaskan bahwa dokumen perjanjian kinerja merupakan bentuk komitmen pemerintah kalurahan kepada masyarakat dalam mewujudkan pembangunan yang terarah dan terukur.

“Perjanjian kinerja bukan hanya dokumen administratif yang disusun setiap tahun, tetapi merupakan bentuk komitmen pemerintah kalurahan kepada masyarakat. Melalui dokumen ini, target pembangunan menjadi lebih jelas, terukur, dan dapat dievaluasi bersama,” katanya.

Menurutnya, keberhasilan pembangunan harus diukur dari manfaat yang dirasakan masyarakat, sehingga setiap program perlu memiliki tujuan yang jelas dan indikator keberhasilan yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dalam kesempatan yang sama, Lurah Lumbungrejo, M. Misbah Alhakim menekankan bahwa penyusunan perjanjian kinerja harus selaras dengan berbagai agenda pembangunan yang menjadi kebutuhan masyarakat. Salah satu prioritas yang mendapat perhatian adalah penanganan stunting, mengingat kualitas sumber daya manusia masa depan sangat ditentukan oleh kondisi kesehatan dan gizi anak sejak dini.

“Persoalan stunting harus menjadi perhatian bersama. Pemerintah kalurahan tidak bisa bekerja sendiri, tetapi membutuhkan dukungan seluruh elemen masyarakat agar upaya pencegahan dapat berjalan optimal,” ujarnya.

Misbah menyoroti pentingnya memperkuat ketahanan pangan sebagai langkah strategis menghadapi berbagai tantangan ekonomi dan perubahan global yang berdampak pada sektor pertanian serta ketersediaan pangan masyarakat. Desa memiliki peran penting dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan sekaligus meningkatkan kesejahteraan warga melalui pengelolaan potensi lokal.

Ia juga menyampaikan capaian positif Kalurahan Lumbungrejo berupa peningkatan Pendapatan Asli Desa (PAD) yang menunjukkan semakin berkembangnya kemampuan desa dalam mengelola aset dan potensi ekonomi secara produktif.

“Alhamdulillah, PAD Kalurahan Lumbungrejo terus mengalami peningkatan. Ini menjadi modal penting untuk mendukung berbagai program pembangunan dan pelayanan kepada masyarakat,” katanya. (SBD KIM SENYUM TEMPEL)




Atasi Dampak Penutupan TPA Piyungan, TPS3R Makmur Mandiri Sleman Operasikan Mesin Pemilah Skala Industri

Sleman — Kebijakan penghentian operasional Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Piyungan secara permanen terus memicu desentralisasi pengelolaan sampah di tingkat kelurahan. Sebagai wilayah yang berada di koridor perbatasan langsung dan hanya berjarak lima kilometer dari TPA Piyungan, TPS3R Makmur Mandiri Kalurahan Sendangtirto, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman, kini bertransformasi mengadopsi mekanisasi teknologi tepat guna guna mengurai kedaruratan volume residu domestik.

Berdiri di atas lahan kas desa seluas meter persegi, fasilitas lingkungan yang dikelola di bawah Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Makmur Mandiri ini memikul tanggung jawab besar memproses sedikitnya 10 ton sampah per hari. Pasokan limbah masif tersebut berasal dari kepala keluarga yang menjadi pelanggan aktif di kawasan selatan Sleman tersebut.

Sebelum TPA Piyungan ditutup, manajemen pengelolaan terhitung lebih mudah karena seluruh residu sisa pemilahan dapat langsung dibuang ke hilir. Namun, pasca-penutupan, tumpukan sampah sempat menjadi persoalan pelik yang memaksa Pemerintah Kalurahan Sendangtirto dan pengelola BUMDes memutar otak untuk menemukan skema reduksi sampah yang cepat dan bernilai ekonomis. Langkah taktis kemudian diambil melalui pengadaan stimulus hibah unit mesin pemilah sampah otomatis dari Pemerintah Kabupaten Sleman.

“Kehadiran mesin pemilah sampah dari pemerintah kabupaten melalui dinas terkait ini secara perlahan mulai mengurai backlog antrean sampah di TPS3R Makmur Mandiri. Meskipun sistem pengolahan ini belum bisa dikatakan sempurna seratus persen, namun alat mekanis ini memotong rantai waktu pemilahan manual secara signifikan,” ujar Penanggung Jawab Pengelolaan Sampah TPS3R Makmur Mandiri, Agus Hitami, saat memberikan keterangan di kompleks workshop Berbah pada Senin (1/6/2026).

Agus menguraikan, tantangan terbesar dalam operasionalisasi teknologi ini terletak pada kebutuhan pasokan daya listrik yang sangat besar. Mengingat rangkaian mesin pemilah digerakkan oleh dinamo listrik bertenaga besar, instalasi di lokasi wajib ditingkatkan menggunakan jaringan listrik khusus skala industri. Kebutuhan teknis inilah yang sempat membuat pengoperasian alat pemilah tersendat beberapa waktu lalu sebelum akhirnya mendapat intervensi kebijakan dari lurah setempat.

Peran aktif Lurah Sendangtirto, Amir Junawan, sebagai pemangku kebijakan lokal dinilai sangat krusial dalam mempercepat koordinasi dengan penyedia daya listrik hingga mesin pemilah tersebut akhirnya resmi beroperasi penuh. Langkah ini didukung oleh kesiapan aspek sumber daya manusia di lapangan, di mana TPS3R Makmur Mandiri saat ini mempekerjakan 16 orang petugas terampil yang terbagi dalam dua kluster kerja.

Enam personel ditugaskan di bagian hulu untuk melakukan mobilitas pengambilan sampah ke rumah-rumah warga dengan mengandalkan armada satu unit truk, satu pikap, dan dua motor roda tiga. Sementara itu, sepuluh personel lainnya bersiaga di bagian hilir sebagai operator mesin pemilah, pengawas komposting, serta petugas pengemasan (packing) sampah anorganik yang memiliki nilai jual di pasar daur ulang.

Guna mengoptimalkan ruang penyimpanan gudang, pihak pengelola juga mengoperasikan alat pres hidraulis khusus yang digerakkan oleh dinamo listrik. Alat ini berfungsi untuk memadatkan sampah jenis duplek atau karton hingga menjadi satu paket kemasan padat seberat 40 kilogram.

“Dengan mempergunakan mesin pres hidraulis ini, kami bisa memperkecil volume ruang material anorganik secara drastis. Hal ini sangat mempermudah proses penyimpanan di gudang agar tidak memakan tempat, sekaligus mengefisiensikan kapasitas muat truk saat pengiriman ke pabrik daur ulang mitra kami,” kata Agus yang juga merupakan praktisi rekayasa teknologi mesin pengolah sampah lulusan Yayasan Dian Desa tersebut.

Sinergi antara pemanfaatan teknologi tepat guna, dukungan penuh regulasi kalurahan, dan ketelatenan para pekerja lapangan di Sendangtirto ini menjadi draf percontohan konkret bagi wilayah lain di Daerah Istimewa Yogyakarta. Kemandirian mengolah sampah dari level desa diharapkan mampu memutus ketergantungan pada TPA regional sekaligus menciptakan sirkular ekonomi baru yang bersih dan berkelanjutan bagi masyarakat. (Kusnadi/KIM Berbah)