Dobrak Stigma Gengsi, Dukuh Muda di Moyudan Sleman Sukses Kelola Bisnis Ternak Domba Sirkular

Sleman — Profil pejabat kewilayahan di era modern kini kian dinamis dengan hadirnya representasi generasi muda yang adaptif dan produktif. Menepis anggapan bahwa perangkat desa hanya berfokus pada urusan birokrasi di balik meja, Rama Wikan Pratama, seorang pemuda berusia 24 tahun yang menjabat sebagai Dukuh Klisat, Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, Kabupaten Sleman, konsisten turun langsung ke lapangan untuk mengelola usaha peternakan domba miliknya.

Lini usaha peternakan tersebut sejatinya telah dirintis sejak tahun 2020, tepat setelah ia menyelesaikan pendidikan bangku SMA. Komitmen dan etos kerja yang tinggi membawa Rama terpilih menduduki jabatan struktural sebagai kepala padukuhan atau Dukuh Klisat pada Desember 2024. Kendati memikul tanggung jawab formal dalam pelayanan publik harian, ia menolak untuk meninggalkan sektor agribisnis yang telah membentuk kemandirian ekonominya sejak remaja.

Keputusan taktis untuk mempertahankan dua peran strategis ini membuahkan hasil signifikan, terutama dalam menangkap peluang pasar pada momentum Hari Raya Iduladha 1447 H. Pada musim kurban pertengahan tahun ini, Rama sukses memasarkan dua puluh ekor domba dan kambing berkualitas super dengan harga berkisar antara Rp 3 juta hingga Rp 3,5 juta per ekor, yang mengindikasikan adanya lonjakan margin keuntungan hingga 30% jika dibandingkan dengan hari-hari biasa.

“Mengapa kita harus memelihara rasa malu atau gengsi dalam bekerja? Selama seluruh proses usaha yang kita jalankan itu berada di koridor yang baik dan halal, tidak ada alasan sedikit pun untuk merasa minder. Justru melalui kandang ini, kami ingin membuktikan bahwa sektor peternakan rakyat memiliki prospek kapitalisasi ekonomi yang sangat riil dan menjanjikan, khususnya bagi para pemuda di kawasan perdesaan agar tidak berbondong-bondong melakukan urbanisasi ke kota besar,” ujar Rama Wikan Pratama saat ditemui di sela-sela aktivitas sanitasi kandang komunal di Klisat pada Senin (1/6/2026).

Mengenai manajemen pakan harian, Rama memaparkan bahwa karakteristik geografis wilayah Sumbersari masih sangat mendukung ketersediaan hijauan melimpah. Lahan kosong dan pekarangan di sekitar pemukiman warga menyediakan pasokan rumput liar yang melimpah sehingga mampu menekan biaya operasional hulu secara signifikan.

Guna melakukan akselerasi peningkatan bobot dan menjaga imunitas ternak dari serangan penyakit, ia menerapkan metode kombinasi pakan sirkular. Pola penggemukan (fattening) mengombinasikan pakan alami dengan pakan tambahan berupa konsentrat pabrikan bersertifikat, sehingga kualitas daging domba yang dihasilkan memenuhi standar kelayakan hewan kurban nasional.

“Ketersediaan pakan hijau di wilayah kami sebenarnya melimpah ruah, sehingga sama sekali tidak merepotkan untuk urusan merumput harian. Namun, untuk mengejar target bobot optimal menjelang Iduladha, asupan nutrisi tambahan dari konsentrat tetap wajib diberikan secara teratur. Kami melihat serapan pasar untuk komoditas ini masih sangat terbuka lebar, mengingat tren permintaan hewan kurban di Moyudan terus mencatatkan kurva kenaikan yang linier dari tahun ke tahun,” kata Rama menjelaskan teknis pemeliharaannya.

Berdasarkan data draf kompilasi dari Pemerintah Kalurahan Sumbersari, angka penyembelihan hewan kurban pada perayaan Iduladha tahun ini mencapai 165 ekor domba dan kambing di luar komoditas sapi, yang tersebar di belasan masjid dan musala wilayah setempat. Potensi pasar lokal yang besar tersebut memicu optimisme Rama untuk segera mengeksekusi rencana perluasan kapasitas kandang serta memperluas penetrasi jaringan pemasaran digital ke lingkup Sleman dan Daerah Istimewa Yogyakarta.

Aksi nyata yang ditunjukkan oleh sang dukuh muda ini mendapat respons positif dan apresiasi tinggi dari para tokoh masyarakat Klisat. Pola kepemimpinan lapangan yang ditunjukkan Rama dinilai mampu menjadi figur teladan (role model) yang mendobrak stigma bahwa pekerjaan beternak itu kotor dan tidak bergengsi. Kehadirannya di tengah warga membuktikan bahwa jabatan pelayan publik justru menjadi pemantik untuk menggerakkan roda ekonomi kerakyatan dan memperkuat ketahanan pangan dari tingkat akar rumput. (Giek/KIM Moyudan)




Geliat Industri Rumahan Musiman Iduladha di Sleman, Jasa Olah Daging Kurban Jadi Abon Kebanjiran Order

Sleman — Momentum Hari Raya Iduladha tidak hanya membawa berkah keagamaan, tetapi juga memicu denyut ekonomi kreatif di sektor hilirisasi pangan berskala mikro. Di saat masyarakat menerima limpahan draf daging kurban, sebagian warga cerdas menangkap peluang bisnis dengan membuka jasa pengolahan daging sapi menjadi abon gurih yang siap saji dan memiliki daya simpan yang lama.

Fenomena bisnis musiman yang prospektif ini salah satunya ditekuni oleh pasangan suami istri, Sandi, di Dusun Tegal Domban, Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman. Memanfaatkan momentum perayaan hari raya kurban, halaman rumah mereka disulap menjadi area produksi komunal guna memenuhi lonjakan pesanan dari warga yang ingin mengonversikan jatah daging kurbannya menjadi lauk praktis berkadar air rendah.

Sandi menjelaskan bahwa lini usaha jasa pembuatan abon daging sapi ini memiliki karakteristik durasi yang sangat pendek atau musiman. Operasional intensif biasanya hanya berlangsung efektif selama empat hari saja pasca-hari penyembelihan, mengingat setelah fase tersebut volume pasokan daging kurban di masyarakat mulai menurun drastis dan tidak lagi efisien untuk menutup biaya operasional kayu bakar dan tenaga kerja.

“Sehari-hari basis produksi utama kami sebenarnya adalah abon ayam dengan merek dagang Abon Miraos. Namun, begitu masuk musim Iduladha seperti sekarang, kami langsung mengalihkan fokus untuk membuka jasa pembuatan abon dari bahan daging sapi milik warga yang sangat ramai peminatnya. Dalam sehari, kami bisa mengeksekusi pengolahan hingga tiga puluh kilogram daging sapi murni berkat tingginya kepercayaan konsumen dari wilayah Tempel dan sekitarnya,” ujar Sandi di sela-sela aktivitas menggoreng abon di halaman rumahnya pada Senin (1/6/2026).

Sandi memaparkan bahwa teknis pembuatan abon sapi dengan kualitas premium menuntut ketelatenan dan standardisasi proses yang cukup rumit. Fase awal dimulai dari pemilihan daging yang wajib steril dari kandungan gajih atau lemak murni, yang kemudian direbus hingga empuk lalu ditumbuk secara manual agar serat-serat dagingnya terurai sempurna sebelum masuk ke wajan penggorengan bersama racikan bumbu rempah tradisional.

“Titik paling krusial yang menentukan keberhasilan tekstur dan rasa abon itu terletak pada fase penggorengan harian. Kami menggunakan wajan raksasa di atas tungku kayu bakar, di mana satu wajan mampu memuat lima kilogram daging. Kami mengoperasikan dua wajan sekaligus agar kapasitas sepuluh kilogram bisa selesai dalam sekali proses. Pola mekanisnya, selama setengah jam pertama saat minyak delapan liter mulai dipanaskan, adonan daging sama sekali tidak boleh diaduk sampai minyak benar-benar mendidih. Setelah fase itu, barulah adonan wajib diaduk tanpa henti selama tiga jam lamanya secara konstan karena jika lengah sedikit saja, serat daging akan langsung melekat di dasar wajan dan memicu kegosongan,” kata Sandi menjabarkan detail produksinya.

Sandi secara sengaja tetap mempertahankan penggunaan bahan bakar kayu tradisional dibandingkan beralih ke tabung gas modern. Selain faktor efisiensi biaya produksi, karakter api dari kayu bakar dinilai mampu menghasilkan hantaran panas yang maksimal dan merata, serta memberikan aroma asap khas (smoky) yang memperkuat cita rasa autentik abon sapi miliknya meskipun para pekerja harus tahan terhadap sengatan hawa panas tungku di udara terbuka.

Usai proses penggorengan selama berjam-jam selesai, draf abon yang telah matang berwarna cokelat keemasan tersebut langsung dimasukkan ke dalam mesin pemeras minyak (spinner). Langkah mekanis dengan cara diputar cepat ini sangat vital untuk mereduksi sisa kadar minyak hingga kering sempurna, sehingga komoditas abon sapi sirkular ini tidak mudah tengik dan siap didistribusikan kembali ke meja makan keluarga konsumen sebagai alternatif pangan sehat jangka panjang. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)




Cetak Hattrick Bersejarah, Drum Band MTsN 2 Sleman Rebut Piala Bergilir UNY Menjadi Piala Tetap

Sleman — Rekor baru dalam dunia seni pertunjukan musik tiup dan perkusi tingkat remaja sukses diukir oleh perwakilan pelajar Kabupaten Sleman. Tim Drum Band Gema Suara Masda besutan MTsN 2 Sleman berhasil menobatkan diri sebagai Juara Umum dalam ajang bergengsi Klasemen Senior Non Brass Marching Band Indonesia SMP/MTs Citra Derap Bahana (CDB) Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) 2026 yang puncaknya berlangsung pada Senin (1/6/2026).

Kemenangan ini terasa sangat monumental dan emosional karena menjadi raihan gelar juara umum untuk ketiga kalinya secara berturut-turut oleh madrasah tersebut. Berdasarkan regulasi ketat kejuaraan nasional CDB UNY, keberhasilan mencetak hattrick prestasi ini membuat trofi bergilir yang diperebutkan oleh puluhan sekolah dari berbagai daerah tersebut kini resmi diserahkan untuk draf kepemilikan permanen atau menjadi piala tetap MTsN 2 Sleman.

Dominasi Gema Suara Masda di atas lantai kompetisi dibuktikan lewat penguasaan podium pada delapan kategori penilaian utama yang diawasi oleh dewan juri independen. Tim perwakilan Sleman ini sukses mengamankan predikat Juara Umum Tropi Piala Bergilir Menjadi Piala Tetap, Juara 1 General Effect, Juara 1 Field Commander, Juara 1 Konser, Juara 1 Color Guard, Juara 1 Analisis Musik, serta Juara Defile Klasemen Senior Combc 2026. Sementara untuk kategori Paramanandi, mereka harus puas menduduki posisi Juara 2 nasional.

“Alhamdulillah, sebuah kebanggaan luar biasa tim kita mampu meraih juara umum untuk yang ketiga kalinya di tingkat universitas negeri. Karena konsistensi raihan ketiga secara beruntun ini, piala bergilir yang sangat prestisius itu akhirnya sah menjadi piala tetap milik madrasah kami untuk tahun 2026. Ini bukan sekadar piala biasa, melainkan simbol draf perjuangan panjang anak-anak yang mengorbankan waktu luangnya untuk berlatih disiplin,” ujar Kepala MTsN 2 Sleman, Titik Susilowati, dengan mata berkaca-kaca menahan haru pasca-pengumuman pemenang.

Titik memaparkan, manajemen madrasah menerapkan pola pendampingan total selama masa persiapan yang memakan waktu berbulan-bulan. Unsur pimpinan sekolah turun langsung ke lapangan guna menunggui proses latihan berkala hingga larut malam demi memastikan pemenuhan gizi, motivasi mental, hingga jaminan keselamatan kepulangan para siswa ke rumah masing-masing dalam kondisi aman.

Kombinasi ketat antara keselarasan dentuman drum, akurasi tiupan alat musik tiup, serta konfigurasi estetis koreografi pasukan pengibar bendera (color guard) menjadi kunci keunggulan nilai mereka dari aspek general effect. Kompleksitas aransemen yang dibawakan menuntut tingkat fokus dan sinkronisasi motorik yang sangat tinggi dari puluhan personel yang terlibat di dalam lapangan.

“Keberhasilan makro ini mutlak tidak lepas dari konsistensi semangat dan kerja keras semua pihak tanpa terkecuali. Persiapan yang matang, latihan intensif yang menguras fisik, hingga pelaksanaan lomba berjalan dengan penuh rasa kebersamaan yang kokoh. Kompetisi marching band dengan jumlah personel massal seperti ini menuntut tingkat koordinasi kolektif yang sangat tinggi. Satu orang saja melakukan kesalahan ritme, maka fatal bagi keseluruhan nilai tim. Namun, anak-anak membuktikan bahwa mereka mampu memikul tanggung jawab besar itu,” kata Titik menambahkan analisis teknisnya.

Capaian legendaris ini diharapkan bertransformasi menjadi stimulus dan inspirasi positif bagi ekosistem pendidikan di Kabupaten Sleman agar terus memfasilitasi minat bakat siswa di luar ranah akademik formal. Manajemen sekolah menegaskan bahwa investasi pada pembentukan karakter, kedisplinan, dan mentalitas juara melalui unit kegiatan ekstrakurikuler terbukti ampuh melahirkan generasi muda yang tangguh, kompetitif, dan siap bersaing di level nasional.

“Kami menghaturkan rasa terima kasih yang tidak terhingga kepada seluruh personel tim drum band, jajaran pelatih profesional yang sabar, guru pendamping, serta persatuan orang tua murid yang telah memberikan dukungan moral maupun materil secara penuh tanpa henti. Raihan piala tetap ini adalah hadiah terindah dan torehan tinta emas bagi perjalanan sejarah madrasah kita tercinta,” tutur Titik Susilowati memungkasi kalimatnya dengan senyuman bangga. (Edy/KIM Sumber Biwara Moyudan)




Pancasila Hidup sebagai Ideologi Tangguh

Sleman — Pemerintah Kabupaten Sleman sukses menggelar Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila Tahun 2026 di Lapangan Pemerintah Daerah Sleman, Kabupaten Sleman, pada Senin pagi (1/6/2026). Momentum sakral ini dimanfaatkan otoritas daerah untuk memperkuat kembali komitmen kebangsaan serta meneguhkan nilai-nilai luhur Pancasila sebagai pemersatu bangsa dalam menghadapi ancaman disrupsi global di era modern.

Bertindak selaku Inspektur Upacara yakni Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa. Agenda kenegaraan ini turut diikuti secara khidmat oleh Bupati Sleman Harda Kiswaya, jajaran Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD), serta ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sleman. Prosesi pengibaran Bendera Merah Putih yang dikawal oleh Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Sleman berjalan lancar tanpa hambatan di bawah atmosfer penuh semangat nasionalisme.

Dalam amanat Bupati Sleman yang dibacakan oleh Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa, ditegaskan bahwa dasar negara tidak boleh sekadar menjadi jargon politik tekstual, melainkan wajib diimplementasikan sebagai dasar kehidupan berbangsa dan bernegara harian. Penjagaan terhadap nilai falsafah ini krusial agar kemajemukan masyarakat tetap berada dalam satu ikatan yang utuh dan harmonis.

“Melalui tema Hari Lahir Pancasila tahun ini, yaitu Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia, kita sedang memberikan pernyataan tegas kepada publik bahwa nilai-nilai luhur Pancasila tidak hanya relevan untuk menjaga kedaulatan dan keutuhan internal bangsa kita saja, melainkan juga menjadi jawaban konkret bagi terciptanya perdamaian dunia yang abadi. Pancasila membawa Indonesia bertumbuh menjadi bangsa yang besar dengan keragaman suku, budaya, bahasa, dan adat istiadat yang saling menguatkan,” ujar Danang Maharsa saat membacakan draf amanat.

Danang menguraikan, tantangan paling nyata yang dihadapi oleh generasi muda saat ini adalah penetrasi arus globalisasi serta disrupsi digital yang bergerak sangat dinamis. Penguatan literasi digital berbasis ideologi negara menjadi benteng utama agar peradaban bangsa tidak tergerus oleh infiltrasi budaya asing yang tidak selaras dengan kepribadian ketimuran.

“Saat ini kita semua sedang berhadapan dengan tantangan globalisasi dan disrupsi digital yang luar biasa masif. Namun, kami optimistis, berbekal penempatan Pancasila sebagai living ideology atau ideologi yang hidup dan dipraktikkan dalam keseharian, bangsa Indonesia akan senantiasa mampu membuktikan ketangguhannya dalam melewati berbagai terpaan zaman,” kata Danang menambahkan.

Menariknya, pelaksanaan upacara tahun ini juga bertepatan dengan momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia. Pihak otoritas birokrasi memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menyerukan gerakan pelestarian ekologi secara masif melalui internalisasi kearifan lokal Jawa, yaitu filosofi “Memayu Hayuning Bawono”. Konsep tersebut menekankan ajaran moral bahwa kelangsungan hidup manusia mutlak tidak akan pernah bisa dilepaskan dari kondisi kelestarian lingkungan alam di sekitarnya.

“Bumi ini adalah rumah kita bersama, tempat di mana masa depan anak cucu kita digantungkan. Oleh karena itu, mari kita bersama-sama menjaga, merawat, dan melestarikan alam ini dengan penuh rasa cinta. Melalui aksi nyata penanganan sampah dan penghijauan, mari kita wariskan lingkungan hidup yang sehat, hijau, dan layak huni untuk generasi mendatang di Kabupaten Sleman,” ujar Danang memungkasi pidatonya.




SAH Banyu Bening Sleman Boyong Teknologi ISLAH dan Elektrolisa Air ke Sentra Krisan Tomohon

Sleman — Inovasi tata kelola air mandiri hasil rintisan pegiat lingkungan Kabupaten Sleman kini mulai diadopsi secara nasional untuk mendongkrak produktivitas sektor hortikultura. Melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR) PT Pertamina Geothermal Energy Lahendong, Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman diamanahkan untuk melakukan transfer teknologi pemanenan air hujan ke kawasan pertanian bunga krisan di Kota Tomohon, Sulawesi Utara.

Langkah ekspansi pemikiran ini diposisikan sebagai strategi taktis dan adaptif bagi para petani bunga dalam menghadapi tantangan perubahan iklim global yang memicu ketidakpastian pasokan air bersih harian. Kolaborasi lintas pulau ini berfokus pada pengenalan metode pemanfaatan air hujan sebagai alternatif utama substitusi air tanah, yang selama ini kerap terbuang percuma ke saluran pembuangan tanpa sempat dikonservasi secara optimal.

Pendiri SAH Banyu Bening, Sri Wahyuningsih, memaparkan bahwa teknologi utama yang diboyong ke Tomohon adalah ISLAH atau Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan. Modul instalasi tepat guna ini dirancang secara khusus untuk menangkap, menyaring, dan mengamankan cadangan air hujan berskala makro ke dalam wadah penyimpanan kedap udara, sehingga dapat diandalkan oleh para petani krisan secara berkelanjutan saat memasuki fase kemarau panjang.

“Air hujan merupakan sumber daya alam yang sangat melimpah ruah di bumi Indonesia, namun sayangnya manajemen pemanfaatannya di sektor pertanian kita masih sangat minim. Melalui skema lumbung air hujan atau ISLAH ini, kami mengedukasi para petani krisan di Tomohon agar memiliki kemandirian cadangan pasokan air baku harian. Ketika manajemen hulu ini berhasil diterapkan, para petani otomatis memiliki bantalan ketahanan air yang stabil untuk mendukung seluruh siklus penyiraman bunga krisan sepanjang tahun tanpa perlu cemas akan risiko kekeringan,” ujar Sri Wahyuningsih saat ditemui di markasnya yang berlokasi di Tempursari, Ngaglik, Sleman, pada Senin (1/6/2026).

Selain mengandalkan infrastruktur fisik lumbung air, Sri Wahyuningsih yang akrab disapa Mbak Ning ini juga memperkenalkan teknologi elektrolisa air kepada kelompok tani hortikultura setempat. Proses mekanis ini bekerja dengan cara memisahkan molekul air menggunakan arus listrik searah guna memecah zat air hujan menjadi dua karakter fungsional baru, yakni air yang bersifat asam (acid) dan air yang bersifat basa (alkali).

Dalam aplikasinya pada budidaya krisan, fraksi air asam hasil elektrolisa dapat dioptimalkan sebagai disinfektan alami untuk menekan pertumbuhan jamur dan patogen pada media tanam, sementara fraksi air basa sangat baik untuk merangsang penyerapan nutrisi pupuk pada akar tanaman. Kombinasi sirkular ini dinilai mampu mereduksi penggunaan zat kimia sintetis di area kebun, sekaligus meningkatkan kualitas kesegaran kelopak bunga krisan agar sesuai dengan standar komoditas ekspor.

“Kombinasi taktis antara teknik pemanenan air hujan dan pemanfaatan teknologi elektrolisa ini merupakan terobosan baru menuju era pertanian modern yang ramah lingkungan. Sosialisasi yang kami lakukan di Sulawesi Utara tidak hanya sekadar mengenalkan instalasi pipa dan tangki, melainkan membuka ruang diskursus dan perspektif baru mengenai urgensi konservasi air. Kami ingin membuktikan bahwa air hujan memiliki kualitas yang jauh lebih unggul bagi kesuburan tanaman jika dikelola dengan sains dan metodologi yang tepat,” kata Wahyuningsih menambahkan.

Hilirisasi teknologi tepat guna asal Sleman ini diharapkan mampu memicu lahirnya regulasi berskala lokal di Kota Tomohon terkait perlindungan tangkapan air hujan di area agrowisata. Pihak SAH Banyu Bening menegaskan komitmennya untuk terus mengawal implementasi program ini di lapangan melalui skema pendampingan berkala bersama tim teknis Pertamina Geothermal Energy.

“Harapan terbesar kami, pengetahuan baru mengenai pemanfaatan dan rekayasa kualitas air hujan ini bisa segera diaplikasikan secara konkret oleh kelompok tani di sana melalui langkah-langkah aksi nyata harian. Program kemitraan ini tidak boleh berhenti pada tataran seremonial atau ruang sosialisasi di gedung pertemuan saja, melainkan harus mewujud menjadi kluster-kluster lumbung air yang produktif di sepanjang ladang krisan Tomohon demi keberlanjutan masa depan pertanian nasional,” pungkas Wahyuningsih mengakhiri keterangannya. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)