Akselerasi Program Ketahanan Pangan, Warga Gundengan Kidul Sleman Gotong Royong Rawat Ribuan Pohon Klengkeng

Sleman — Kesadaran komunal dalam mengawal program kemandirian pangan dan optimalisasi aset publik terus ditunjukkan oleh masyarakat di tingkat pedesaan. Menyikapi pertumbuhan gulma yang mulai mengganggu vegetasi produktif, puluhan warga Gundengan Kidul RW 26, Padukuhan Tegal Domban, Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, menggelar aksi gotong royong kerja bakti massal pada Minggu (31/5/2026).

Aksi pembersihan ekologis yang dimulai sejak pagi buta ini difokuskan pada pembabatan semak belukar dan rumput liar yang tumbuh tinggi di area kebun klengkeng terpusat milik wilayah setempat. Langkah taktis ini diambil warga guna memastikan pasokan unsur hara dalam tanah dapat terserap secara sempurna oleh akar tanaman, sehingga draf pertumbuhan pohon buah berkulit cokelat tersebut tidak terhambat selama musim pancaroba.

Ketua Sub Unit Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kalurahan (LPMKal) Gundengan Kidul, Margono, memaparkan bahwa area perkebunan seluas kurang lebih seribu meter persegi yang sedang dirawat tersebut memiliki status hukum resmi sebagai Tanah Kas Desa (TKD). Adapun bibit tanaman buah yang saat ini telah memasuki masa tanam tahun kedua tersebut merupakan stimulan bantuan langsung dari jajaran Pemerintah Kalurahan Margorejo.

“Tanah kas desa seluas seribu meter persegi ini sengaja kami konversikan menjadi lahan produktif agar tidak mangkrak dan menjadi sarang hama. Tanaman klengkeng di sini merupakan bantuan prioritas kalurahan yang telah kami rawat secara swadaya sejak satu tahun lalu. Agenda gotong royong di hari libur ini sengaja kami budayakan kembali karena memiliki fungsi ganda, yakni sebagai media rekreasi dan olahraga fisik yang murah, sekaligus instrumen silaturahmi yang ampuh untuk mempererat kerukunan sosial antar-tetangga,” ujar Margono di sela-sela aktivitas membabat rumput.

Margono menambahkan, program “Klengkengisasi” yang diinisiasi oleh Pemerintah Kalurahan Margorejo sejak dua tahun lalu ini merupakan bagian dari cetak biru (blueprint) penguatan ekonomi makro desa yang berbasis pada ketahanan pangan jangka panjang. Pemerintah daerah memproyeksikan kawasan Tempel tidak sekadar menjadi wilayah swasembada buah, melainkan bertransformasi menjadi pusat destinasi agrowisata petik klengkeng ramah anak yang mampu mendatangkan surplus pendapatan bagi kas desa.

Hingga pertengahan tahun ini, ribuan bibit klengkeng unggulan dilaporkan telah didistribusikan secara merata untuk ditanam di seluruh lahan kosong milik kas desa serta di pekarangan rumah-rumah penduduk. Tanaman klengkeng, atau yang secara ilmiah dikenal sebagai Dimocarpus longan, dipilih karena memiliki nilai ekonomis yang sangat tinggi di pasar buah nasional, adaptif terhadap karakteristik tanah Sleman, serta kaya akan kandungan antioksidan dan vitamin C yang baik untuk kesehatan tubuh.

Melalui perawatan intensif dan pembersihan gulma secara berkala oleh sub-unit LPMKal ini, warga Tegal Domban optimistis masa panen perdana dapat tercapai sesuai target estimasi pertanian. Sinergi antara pemanfaatan lahan tidur milik negara dan gerakan gotong royong warga ini diharapkan menjadi percontohan bagi wilayah lain di Sleman dalam mewujudkan kemandirian ekonomi desa yang berdaulat, hijau, dan berkelanjutan. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)




Mitigasi Risiko Kolesterol Tinggi, Lansia di Gamping Sleman Diimbau Jaga Pola Makan Jelang Hari Raya Iduladha

Sleman — Melimpahnya hidangan berbasis daging merah pada momentum perayaan Hari Raya Iduladha kerap memicu kekhawatiran terhadap lonjakan kasus penyakit tidak menular (PTM) di kalangan kelompok lanjut usia (lansia). Merespons potensi kerentanan medis tersebut, edukasi preventif digulirkan melalui forum Kajian Sehat Rohani Jasmani (Seroja) Banyuraden yang bertempat di Pendopo Kekandhangan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, pada Minggu (31/5/2026).

Langkah jemput bola ini dihadirkan sebagai instrumen taktis untuk meningkatkan literasi nutrisi bagi warga senior di wilayah suburban Sleman. Dalam pemaparannya, dosen Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (UII), Mahdea Kasyiva, bertindak sebagai narasumber utama yang membedah korelasi langsung antara penurunan laju metabolisme tubuh lansia dengan konsumsi makanan tinggi lemak jenuh secara tidak terkontrol selama hari raya kurban.

Mahdea menekankan bahwa pertambahan usia secara biologis menurunkan efisiensi organ tubuh dalam mencerna lemak dan menyaring kolesterol. Oleh karena itu, konsumsi daging kambing maupun sapi secara berlebihan dan berturut-turut dalam porsi besar berisiko tinggi memicu penyumbatan pembuluh darah, serangan hipertensi akut, peningkatan kadar kolesterol total, hingga komplikasi jantung yang fatal.

“Iduladha merupakan momentum sakral untuk beribadah dan merayakan rasa syukur bersama keluarga, sehingga jangan sampai kebahagiaan tersebut justru terganggu oleh serangan penyakit akibat pola makan yang tidak terkontrol. Kunci utama keselamatan kesehatan lansia saat hari raya adalah menerapkan prinsip makan secukupnya. Membatasi porsi makan secara disiplin akan sangat membantu menjaga stabilitas tubuh tetap prima, sehingga esensi ibadah dan silaturahmi menjadi jauh lebih bermakna tanpa harus berakhir di ruang perawatan rumah sakit,” ujar Mahdea Kasyiva di hadapan ratusan jamaah lansia yang hadir.

Selain membatasi kuantitas porsi, Mahdea juga membagikan tips klinis mengenai modifikasi teknik pengolahan menu kurban yang lebih higienis dan aman bagi pencernaan lansia. Masyarakat diimbau untuk memprioritaskan metode memasak dengan cara direbus, dikukus, atau dipanggang tanpa arang berlebih, serta meminimalkan penggunaan minyak goreng deep-fry dan santan kental yang berpotensi melipatgandakan kadar kalori hidangan.

Pihak otoritas kesehatan mengingatkan bahwa asupan protein hewani dari daging kurban wajib diimbangi dengan konsumsi serat larut dari sayur-sayuran dan buah-buahan segar sebagai pengikat lemak di dalam usus. Kecukupan pemenuhan cairan melalui air putih juga menjadi aspek yang tidak boleh diabaikan untuk mencegah dehidrasi dan menjaga kinerja sistem ekskresi ginjal para lansia tetap seimbang.

Para peserta paruh baya tampak sangat responsif selama sesi diskusi interaktif, yang ditandai dengan munculnya draf pertanyaan seputar cara mengelola menu harian bagi penderita diabetes dan darah tinggi di tengah kepungan hidangan bersantan. Melalui pembekalan komprehensif ini, warga Banyuraden diharapkan tidak hanya terjebak pada euforia kuliner sesaat, melainkan mampu mengadopsi gaya hidup aktif seperti jalan kaki ringan demi membakar kalori harian dan menjaga kebugaran otot di usia senja. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Sambut Hari Lahir Pancasila, Ratusan Ibu-Ibu PKK Kejora Rejosari Sleman Gelar Senam ‘Sak Obahe’ guna Perkuat Kohesi Sosial

Sleman — Implementasi nilai-nilai luhur Pancasila di era modern tidak terbatas pada forum refleksi formal, melainkan dapat diaktualisasikan melalui aktivitas kolektif yang menyehatkan fisik dan memperkuat kerukunan warga. Menyambut Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap tanggal 1 Juni, ratusan ibu-ibu yang tergabung dalam Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Kejora Padukuhan Rejosari menggelar aksi senam massal bertajuk “Senam Sak Obahe” di halaman rumah Dukuh Rejosari, Kalurahan Jogotirto, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman, pada Minggu (31/5/2026).

Agenda olahraga komunal yang berlangsung semarak ini diposisikan sebagai momentum penting untuk membumikan kembali pilar-pilar kebangsaan di tingkat unit sosial terkecil, yakni keluarga. Dengan mengusung tema nasional “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia”, gerakan senam bersama ini dimanfaatkan untuk merekatkan tali persaudaraan antar-warga sekaligus mengikis potensi polarisasi sosial di tengah dinamika masyarakat pedesaan.

Dukuh Rejosari, Muhamad Dalis Kurniawan, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam atas inisiatif mandiri dari pengurus dan anggota PKK Kejora dalam mengemas peringatan hari bersejarah negara dengan kegiatan yang produktif. Menurut analisisnya, esensi dasar dari Pancasila sebagai dasar negara dan pandangan hidup bangsa harus diwujudkan melalui semangat gotong royong untuk membangun daerah sesuai dengan kapasitas dan bidang keahlian masing-masing.

“Peringatan Hari Lahir Pancasila di era sekarang bukan lagi sekadar pelaksanaan upacara bendera yang bersifat seremonial atau pengibaran bendera merah putih semata. Momentum ini harus menjadi pemicu bagi seluruh komponen bangsa untuk menguatkan kembali falsafah Pancasila dalam realitas kehidupan bermasyarakat harian. Makna terpentingnya adalah bagaimana kita mengisi kemerdekaan ini dengan kemampuan yang ada. Aktivitas olahraga senam ini menjadi ikhtiar nyata untuk menyehatkan bangsa, di mana ibu-ibu PKK bertindak sebagai garda terdepan sekaligus tulang punggung negara yang memegang peran sentral dalam mendidik dan menyiapkan generasi masa depan yang berkarakter kuat,” ujar Muhamad Dalis Kurniawan di sela-sela pemantauan kegiatan.

Tingginya animo warga terlihat dari padatnya lokasi senam oleh sekitar seratus anggota yang bergerak sinkron mengikuti irama musik di bawah panduan instruktur senam, Ani Wijaya. Gerakan “Sak Obahe” yang ekspresif dan penuh kegembiraan ini berhasil mencairkan suasana dan membangun keakraban lintas usia di padukuhan tersebut.

Ketua PKK Kejora Rejosari, Umi Nasihah, mengaku bangga dengan kekompakan yang ditunjukkan oleh seluruh anggotanya dalam menyukseskan agenda ini. Ia memaparkan bahwa nama “Kejora” yang disematkan pada kelompok PKK tersebut memiliki muatan filosofis persatuan yang kuat, karena merupakan akronim dari gabungan tiga kampung yang berada di bawah rumpun administrasi Padukuhan Rejosari.

“Nama PKK Kejora ini adalah akronim autentik dari tiga wilayah kampung kami, yaitu Kampung Kerten, Jogomangsan, dan Rejosari. Penyatuan ini menjadi bukti konkret bahwa perbedaan latar belakang geografis kampung tidak menjadi penghalang bagi kami untuk bersatu dalam satu wadah yang harmonis. Kami bersyukur kegiatan yang dikoordinasikan oleh ketua kelompok senam kita, Fitri, ini berjalan sukses. Harapannya, melalui kebersamaan di lapangan ini, semangat persatuan Pancasila benar-benar tertanam di hati ibu-ibu dan diimplementasikan dalam pengasuhan anak di rumah,” kata Umi Nasihah menjelaskan latar belakang organisasinya.

Pemerintah padukuhan berharap gerakan hidup sehat berbasis komunitas yang diinisiasi oleh kaum perempuan ini dapat terus digulirkan secara konsisten dan berkelanjutan. Penjagaan kebugaran fisik yang diimbangi dengan solidnya ketahanan sosial warga dinilai menjadi modal pembangunan paling mendasar bagi Kabupaten Sleman dalam mewujudkan wilayah yang aman, sehat, dan berdaya saing dari tingkat tapak. (Kusnadi/KIM Berbah)




Dorong Wisata Edukasi Cangkringan, Kopi Madu Merapi Konsisten Angkat Kesejahteraan Petani Lokal Lereng Sleman

Sleman — Industri pariwisata berbasis masyarakat di kawasan lereng Gunung Merapi terus menunjukkan geliat positif yang linier dengan pertumbuhan sektor ekonomi kreatif setempat. Salah satu motor penggerak ekonomi yang konsisten mempertahankan eksistensinya adalah Kopi Madu Merapi, sebuah jenama produsen kopi lokal yang sukses mengintegrasikan kualitas produk perkebunan dengan kemajuan destinasi Desa Wisata Pentingsari, Kalurahan Umbulharjo, Kapanewon Cangkringan, Kabupaten Sleman.

Pemilik Kopi Madu Merapi, Bayu Dwi Setiawan, menuturkan bahwa lini usaha hilirisasi kopi ini sebenarnya sudah mulai dirintis sejak tahun 2008 silam. Kendati demikian, momentum emas dari usaha mikro ini baru mulai dikenal secara luas oleh publik nasional pada tahun 2017, seiring dengan mencuatnya pamor Desa Wisata Pentingsari sebagai salah satu destinasi wisata pedesaan unggulan di Kabupaten Sleman.

Dalam memperkuat lini produknya, Kopi Madu Merapi mengandalkan dua varietas utama yang tumbuh subur di tanah vulkanis kaya mineral, yakni kopi robusta dan arabika. Guna memenuhi preferensi pasar konsumen modern yang semakin variatif dan spesifik, mereka menghadirkan deretan varian proses pengolahan yang kaya rasa, antara lain Robusta Wine, Peaberry, Black Honey, Arabica Natural, Robusta Yellow Honey, Robusta Red Honey, hingga Kopi Lanang.

“Dalam setiap tahapan pemrosesan biji kopi, fokus utama kami adalah menjaga konsistensi kualitas secara ketat agar para penikmat kopi dapat merasakan cita rasa asli yang khas, kuat, dan berkarakter dari lereng Merapi. Bahan baku kopi yang kami produksi seratus persen berasal dari hasil panen para petani di wilayah Pentingsari, Umbulharjo, Cangkringan, dan kawasan sekitar. Pola kemitraan pemanfaatan hasil panen lokal ini sengaja kami bangun sebagai bentuk komitmen nyata dalam mendukung pemberdayaan ekonomi dan kesejahteraan para petani kopi di tingkat tapak,” ujar Bayu Dwi Setiawan saat ditemui langsung di kedainya di kawasan Dusun Pentingsari pada Sabtu (30/5/2026).

Bayu memaparkan, guna menjaga mutu agar tidak mengalami degradasi, pihaknya menerapkan standardisasi prosedur operasional (SOP) secara rigid tanpa celah, mulai dari fase budidaya tanaman, teknik pemetikan buah merah saja (red cherry), penanganan pascapanen, penyangraian (roasting), hingga pengemasan akhir. Berkat kepatuhan terhadap standar tersebut, bahan baku biji kopi mentah (green bean) yang mereka kelola memiliki daya simpan optimal hingga sepuluh tahun, sementara untuk produk kopi olahan siap seduh mampu bertahan prima selama dua tahun jika disimpan dalam wadah kedap udara yang tepat.

Uniknya, meski memiliki basis penggemar yang cukup besar dari berbagai daerah, Kopi Madu Merapi hingga kini secara sengaja hanya melayani sistem pembelian secara langsung atau offline di kedai fisik mereka di Dusun Pentingsari. Strategi bisnis ini diambil bukan tanpa alasan, melainkan sebagai langkah taktis untuk menjaga keberlanjutan pasokan produk sekaligus menciptakan efek pengganda (multiplier effect) bagi ekosistem Desa Wisata Pentingsari sebagai pusat kunjungan wisata edukasi.

“Kami memang sangat menjaga kontinuitas produksi dan eksklusivitas kualitas produk ini. Keberadaan kedai fisik di dalam lingkungan Pentingsari ini sengaja dipertahankan karena sudah bertransformasi menjadi salah satu magnet dan daya tarik wisata edukasi desa yang harus dirawat bersama. Pemasaran alami lewat getok tular dari mulut ke mulut antar-wisatawan, komunitas pencinta kopi, dan pemandu wisata terbukti jauh lebih efektif membangun loyalitas konsumen,” kata Bayu menegaskan skema pemasarannya.

Peran Kopi Madu Merapi dalam menyokong pariwisata daerah juga diperkuat lewat penyediaan paket edukasi interaktif bagi para pelancong yang singgah. Konsep ini dinilai berhasil memberikan pengalaman baru bagi wisatawan perkotaan yang ingin melepaskan penat dari rutinitas harian.

“Di sini para wisatawan tidak hanya datang untuk sekadar minum kopi lalu pulang, melainkan kami ajak untuk terlibat dan melihat secara langsung bagaimana proses hulu ke hilir berjalan, mulai dari cara budidaya pohon kopi di kebun, metode pengolahan pascapanen yang rumit, hingga proses penyeduhan di bar. Pengunjung bisa mendapatkan edukasi mendalam mengenai bagaimana perbedaan metode pengolahan pascapanen seperti honey atau wine process bisa menghasilkan catatan rasa (taste notes) yang sangat berbeda di lidah,” ujar Eni, istri dari pemilik Kopi Madu Merapi, di sela kesibukannya melayani antrean pembeli yang memadati kedai.

Melalui konsistensi dalam mempertahankan standar mutu produk, pelibatan aktif rantai pasok dari petani lokal, serta komitmen kuat pada konsep pariwisata berkelanjutan, Kopi Madu Merapi kini menjelma menjadi ikon usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) lokal panutan. Langkah integrasi ini membuktikan bahwa sinergi sektor pertanian dan industri pariwisata berbasis komunitas mampu menjadi pilar ekonomi yang tangguh di kawasan lingkar Merapi. (Tri Suhartati/KIM Depok)




Latih Empati Sejak Dini, Siswa KBTK Khasanah Sleman Beli dan Distribusikan Hewan Kurban dari Uang Infak

Sleman — Penanaman nilai-nilai karakter, kepedulian sosial, dan kemandirian pada anak usia dini idealnya tidak hanya berhenti sebagai materi tekstual di dalam kelas, melainkan diwujudkan melalui pengalaman empiris yang nyata. Mengonstruksi semangat tersebut, ratusan siswa Kelompok Bermain dan Taman Kanak-Kanak (KBTK) Khasanah menggelar aksi filantropi Islam bertajuk Semarak Dzulhijjah 1447 H di Kompleks KBTK Khasanah, Padukuhan Sribit, Kalurahan Sendangtirto, Kapanewon Berbah, Kabupaten Sleman, pada Jumat (29/5/2026).

Meskipun secara regulasi di Dinas Pendidikan Kabupaten Sleman Kelompok Bermain (KB) dan Taman Kanak-Kanak (TK) Khasanah merupakan dua lembaga yang terpisah secara administratif, keduanya berada di bawah payung yayasan yang sama dan konsisten bersinergi. Unit KB yang dipimpin oleh Titik Rumy Kuntari saat ini mengasuh 29 siswa usia dua hingga empat tahun, sedangkan unit TK yang dinakhodai oleh Tri Utami menaungi 58 siswa usia empat hingga tujuh tahun. Kolaborasi kali ini mengusung tema besar “Meneladani Keikhlasan Nabi Ibrahim AS, Menumbuhkan Kepedulian dan Semangat Berbagi”.

Rangkaian acara edukatif tersebut diawali dengan simulasi pelaksanaan salat Iduladha berjamaah di halaman sekolah. Praktik ini sengaja didesain untuk mengenalkan struktur dan tata cara peribadatan salat Id yang memiliki karakteristik jumlah takbir berbeda dibandingkan dengan salat fardu lima waktu, sehingga mempermudah pemahaman kognitif anak sejak dini.

Usai pelaksanaan simulasi ibadah, para siswa diajak menyaksikan langsung proses penyembelihan hewan kurban berupa kambing. Uniknya, pengadaan hewan kurban tersebut bukan berasal dari pungutan wajib ataupun dana anggaran yayasan, melainkan murni bersumber dari akumulasi uang infak sukarela yang disisihkan oleh para siswa setiap hari Jumat.

“Uang infak harian yang dikumpulkan anak-anak setiap hari Jumat memang sengaja kami kelola untuk dua orientasi utama, yakni dana tanggap sosial dan pengadaan hewan kurban ini. Melalui skema ini, anak-anak diajak belajar secara langsung esensi dari berkurban dan bagaimana rasanya membagikan hak milik kita untuk kebahagiaan orang lain. Nantinya, draf daging kurban ini sebagian langsung didistribusikan kepada warga sekitar yang membutuhkan, dan sebagian lagi kami masak bersama di sekolah untuk dinikmati oleh para siswa dan guru pengasuh guna mempererat kebersamaan,” ujar Kepala Sekolah TK Khasanah, Tri Utami, saat menjelaskan mekanisme program di lapangan.

Teknis pendistribusian kantong daging kurban pun dikemas sebagai media pembelajaran sosial yang interaktif. Para siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok kecil, lalu dengan didampingi guru pengasuh, mereka berjalan kaki menyusuri permukiman di sekitar Padukuhan Sribit untuk menyerahkan langsung paket daging kepada masyarakat.

“Kami berharap melalui tindakan taktis bersosialisasi langsung dengan lingkungan sekitar ini, benih-benih empati dan kepedulian sosial akan tertanam secara permanen dalam memori emosional anak, sehingga karakter mulia tersebut dapat terus terbawa hingga mereka tumbuh dewasa kelak menjadi bagian dari masyarakat,” kata Tri Utami menambahkan.

Salah satu guru pengasuh KBTK Khasanah, Anisa Wulandari, atau yang akrab disapa Bunda Icha, mengutarakan bahwa aksi nyata ini selaras dengan visi besar lembaga yang mengusung slogan Islamic Entrepreneur Preschool. Sekolah bertekad kuat untuk mencetak generasi Islami yang tidak hanya unggul secara spiritual dan akademik, tetapi juga memiliki mentalitas mandiri yang kokoh sejak bangku prasekolah.

“Implementasi dari pelatihan kemandirian anak di KBTK Khasanah dapat diidentifikasi dari pola kegiatan kami, baik di dalam maupun di luar lingkungan sekolah, yang secara sengaja meminimalkan keterlibatan langsung wali murid. Kami membiasakan para siswa untuk berani melakukan aktivitas mandiri tanpa harus ditemani orang tua mereka, seperti saat agenda outing class, kunjungan edukasi luar sekolah, pengenalan lingkungan sekitar, hingga program pesantren kilat atau Malam Bina Iman dan Takwa (Mabit). Keterlibatan ekstra dari orang tua baru akan kami buka pada momen-momen spesifik tertentu, misalnya saat perlombaan besar yang membutuhkan pengawasan ketat serta pada prosesi seremoni perpisahan sekolah,” ujar Anisa Wulandari memungkasi penjelasannya. (Kusnadi/KIM Berbah)