Standarisasi BNSP, Belasan Personel PMI Sleman Ikuti Pelatihan Sertifikasi Kompetensi Nasional

Sleman — Upaya peningkatan profesionalisme lembaga kemanusiaan di tingkat daerah terus dipacu melalui standardisasi kompetensi berskala nasional. Guna mencetak instruktur yang andal dan diakui negara, Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Sleman menggelar Training of Trainer (TOT) dan Sertifikasi Keahlian Khusus yang dibuka secara resmi di Ruang Sindoro Prima SR, Jalan Magelang, Kabupaten Sleman, pada Kamis (28/5/2026).

Agenda strategis ini diikuti oleh 15 personel pilihan yang diproyeksikan menjadi pilar penggerak pendidikan dan pelatihan kemanusiaan yang terstruktur di Sleman. Seluruh peserta akan menjalani program karantina kompetensi intensif ini hingga 7 Juni 2026 mendatang di bawah bimbingan langsung dari Sakirin, fasilitator senior dari Lembaga Pelatih SDM Bangun Negeri yang telah mengantongi lisensi resmi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP).

Ketua Panitia Penyelenggara, Sri Wantini, memaparkan bahwa komposisi belasan peserta tersebut dirancang secara inklusif untuk memperkuat seluruh lini organisasi. Keterlibatan peserta mencakup 4 orang dari unsur pengurus, 1 orang staf markas, 4 orang relawan Tenaga Sukarela (TSR), serta 6 orang personel Korps Sukarela (KSR) Markas PMI Sleman. Langkah ini diambil sebagai implementasi riil dari amanat Tujuan Strategis 4 organisasi untuk membangun kapasitas SDM yang unggul dan adaptif terhadap perubahan iklim kebencanaan.

“Komitmen penguatan kapasitas ini dipertegas melalui capaian target untuk meningkatkan kapabilitas serta kinerja Unit Pelaksana Teknis sebagai pusat unggulan dalam mengelola SDM PMI. Salah satu prasyarat utama yang harus dipenuhi adalah ketersediaan tenaga pelatih yang kompetensinya diakui secara nasional. Pengakuan legalitas itu hanya dapat diperoleh secara sah melalui mekanisme sertifikasi profesi oleh BNSP selaku otoritas tunggal sertifikasi kompetensi di Indonesia,” ujar Sri Wantini saat menyampaikan laporan berkala kepanitiaan.

Sepanjang pelaksanaan TOT, para peserta wajib menuntaskan tiga fase pengujian yang komprehensif. Tahap pertama diawali dengan pemaparan materi substansial yang disertai dengan sesi bedah kasus dan tanya jawab interaktif. Tahap kedua memasuki fase penugasan mandiri, simulasi praktik mengajar (micro teaching), serta penyusunan dokumen portofolio kerja. Puncaknya, pada tahap ketiga, para peserta akan diuji kemampuannya secara langsung oleh tim asesor dari Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) berlisensi BNSP guna menentukan kelayakan kelulusan sertifikasi profesi mereka.

Langkah akselerasi ini mendapatkan dukungan penuh dari manajemen tertinggi organisasi. Ketua PMI Kabupaten Sleman, Mafilindati Nuraini, menegaskan bahwa kepemilikan sertifikat berlambang Garuda emas dari BNSP bagi para pelatih bukan lagi sekadar pelengkap administratif, melainkan prasyarat mutlak dalam tata kelola organisasi modern yang akuntabel.

“Saya berpesan agar seluruh peserta mengikuti setiap tahapan pelatihan ini dengan penuh kesungguhan dan disiplin tinggi. Kesempatan TOT ini harus dijadikan sebagai tonggak sejarah sekaligus modal besar dalam mewujudkan visi PMI Sleman yang Profesional, Bersinergi, dan Berkelanjutan dalam memberikan pelayanan kemanusiaan terbaik kepada masyarakat. Pelatihan bersertifikasi ini sudah kami agendakan sejak pencanangan Visi dan Misi Organisasi periode 2024-2029. Kita harus bergerak menuju arah yang profesional, baik secara tata kelola organisasinya, kapasitas orangnya, pemanfaatan teknologinya, maupun keandalan peralatannya,” kata Mafilindati Nuraini menegaskan arah kebijakan organisasi.

Melalui standarisasi kompetensi yang ketat ini, PMI Kabupaten Sleman bersiap mentransformasi pusat diklatnya menjadi rujukan utama penanganan kedaruratan yang bersesuaian dengan regulasi perundang-undangan di Indonesia. Kelulusan para peserta dari sertifikasi BNSP ini diharapkan dapat menjamin bahwa setiap transfer ilmu keselamatan dan kepalanganmerahan yang diberikan kepada sukarelawan baru di lapangan berada pada standar mutu tertinggi. (Tri Joko S/KIM Kalasan)




FMIPA UNY Salurkan Daging Kurban Guna Perkuat Solidaritas Sosial Komunitas Kampus

Sleman — Momentum perayaan hari besar keagamaan tidak sekadar dimaknai sebagai ritual ibadah tahunan, melainkan menjadi pemantik bagi institusi pendidikan tinggi untuk memperkokoh tanggung jawab sosial. Memperingati Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Yogyakarta (FMIPA UNY) menggelar penyembelihan tiga ekor sapi yang dipusatkan di lingkungan kampus pada Jumat (29/5/2026).

Agenda penyembelihan hewan kurban ini dioptimalkan sebagai perwujudan nyata dari kepedulian sosial, penguatan rasa kebersamaan, serta penegasan komitmen seluruh sivitas akademika FMIPA UNY dalam menghadirkan kemaslahatan publik. Penyaluran daging kurban diarahkan untuk menjangkau masyarakat prasejahtera di sekitar lingkungan kampus serta elemen keluarga besar universitas yang berhak menerima.

Dekan FMIPA UNY, Dadan Rosana, menegaskan bahwa ibadah kurban mengemban misi ganda yang sangat mulia, yakni ketakwaan secara vertikal kepada Tuhan sekaligus pembentukan kesalehan sosial secara horizontal di tengah masyarakat. Pesan luhur mengenai pengorbanan dan keikhlasan ini dinilai sangat relevan untuk diadopsi dalam kehidupan sehari-hari guna mengikis sifat egoisme sektoral.

“Ibadah kurban ini mengajarkan kita semua untuk memperkuat tali kebersamaan, menumbuhkan kepedulian, dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat luas. Nilai-nilai substantif dari ibadah kurban harus mampu bertransformasi menjadi energi moral bagi seluruh sivitas akademika untuk terus konsisten berbagi, mengabdi, dan menundukkan ego pribadi demi mengutamakan kemaslahatan bersama. Semangat kemanusiaan ini penting untuk terus dirawat secara berkelanjutan di lingkungan pendidikan tinggi,” ujar Dadan Rosana di sela-sela memantau jalannya pemotongan hewan kurban.

Dadan memaparkan bahwa pemaknaan kisah historis kepatuhan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail memberikan keteladanan yang kuat mengenai integritas, kesabaran, dan tanggung jawab. Karakteristik mulia tersebut menjadi fondasi penting bagi ekosistem kampus dalam mencetak generasi muda dan ilmuwan yang tidak hanya unggul secara intelektual di ruang laboratorium, tetapi juga memiliki kepekaan moral dan kepedulian sosial yang tinggi di tengah realitas masyarakat.

Dalam konteks penguatan institusi, iklim Idul Adha ini dimanfaatkan manajemen fakultas sebagai momentum strategis untuk mengikis jarak sosial antar-elemen dan membangun budaya saling peduli. Kampus modern dituntut mampu menyeimbangkan antara pengembangan sains teknologi dengan aksi pengabdian masyarakat yang konkret.

“FMIPA UNY terus mendorong agar semangat pencapaian akademik dapat berjalan seiring dengan penguatan kepedulian sosial. Ilmu pengetahuan yang diproduksi di kampus harus mampu memberi manfaat praktis bagi publik, dan pengabdian harus tertanam menjadi bagian dari jati diri serta budaya kerja kampus kami,” kata Dadan Rosana menambahkan.

Pihak fakultas berharap melalui pendistribusian daging kurban yang dikelola secara higienis ini dapat mempererat ukhuwah Islamiyah, menumbuhkan rasa syukur kolektif, serta memperluas jejaring kebermanfaatan institusi di wilayah Sleman. Melalui spirit Idul Adha, sivitas akademika FMIPA UNY diharapkan semakin totalitas dalam mengemban tugas kependidikan dan semakin tangguh dalam membangun kebersamaan yang inklusif.

“Semoga spirit Idul Adha tahun ini dapat terus mendorong kita semua untuk tanpa lelah menebarkan kebajikan, memperkuat simpul kepedulian sosial, dan menjadikan esensi pengorbanan sebagai jalan utama dalam membangun tatanan kehidupan bermasyarakat yang jauh lebih baik,” pungkas Dadan Rosana mengakhiri keterangannya. (Athiful/KIM Depok)




Padukan Nilai Religius dan Budaya, Panewu Gamping Buka Festival Takbir Ambarketawang

Sleman – Gemuruh lantunan takbir menggema di wilayah Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, saat Festival Takbir Keliling Ambarketawang resmi dibuka oleh Panewu Gamping, Suyanto, pada Rabu malam (27/5/2026). Kegiatan yang disaksikan Lurah Ambarketawang, Sumaryanto, Kapolsek Gamping, AKP Bowo Susilo, serta Pelda Acip Mulyawana dari Koramil 17/Gamping tersebut menjadi simbol kuatnya syiar Islam dan kebersamaan masyarakat menyambut Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah.

Dalam sambutannya, Suyanto mengungkapkan bahwa tema “Takbir Bergema, Budaya Bersatu Dalam Cahaya Iduladha” yang dipilih pemerintah Kalurahan Ambarketawang mengandung filosofi mendalam mengenai perpaduan nilai religius dan budaya dalam kehidupan masyarakat Ambarketawang.

“Takbir Bergema melambangkan syiar Islam yang dikumandangkan secara bersama-sama sebagai bentuk rasa syukur dan pengagungan kepada Allah SWT dalam menyambut Hari Raya Iduladha tahun 2026,” jelasnya.

Sementara itu, frasa Budaya Bersatu mencerminkan semangat kebersamaan, gotong royong, serta persatuan masyarakat dari berbagai kalangan yang terlibat dalam Festival Takbir Keliling Ambarketawang.

“Tradisi takbir keliling tidak hanya dipahami sebagai kegiatan keagamaan, tetapi juga sebagai warisan budaya masyarakat yang mampu mempererat hubungan sosial antarwarga,” sambung Suyanto.

Sedangkan Cahaya Iduladha dimaknai sebagai harapan agar masyarakat senantiasa berjalan dalam nilai-nilai kebaikan, persaudaraan, serta harmoni kehidupan bermasyarakat.

Secara keseluruhan, tema tersebut menegaskan bahwa Festival Takbir Keliling Ambarketawang sebagai media syiar Islam yang memadukan tradisi, budaya lokal, kreativitas generasi muda, dan semangat persatuan masyarakat dalam suasana religius yang damai dan penuh kebersamaan.

Menurut Lurah Ambarketawang, Sumaryanto, Festival Takbir Keliling tahun 2026 diikuti sebanyak 18 kontingen yang diberangkatkan dari Lapangan Kalurahan Ambarketawang. Peserta menempuh rute sejauh 2 kilometer.

Arak-arakan dari Lapangan Ambarketawang menuju selatan arah Pegadaian, kemudian melewati Jalan Wates Km.5 ke arah timur hingga Simpang Pasar Gamping, dilanjutkan menuju utara ke Simpang Tiga Masjid Agung Gamping, selanjutnya ke barat hingga Simpang Tiga Kapanewon Gamping dan kembali di Lapangan Ambarketawang.

Dalam kegiatan tersebut, Kepala Kepolisian Sektor Gamping, AKP Bowo Susilo bersama jajarannya melaksanakan pengamanan dan pengaturan arus lalu lintas di sepanjang rute guna memastikan kegiatan berjalan aman, tertib, dan lancar. Mereka dibantu oleh Linmas, Jaga Warga, Senkom, Kokam, serta relawan yang turut bersinergi menjaga situasi kamtibmas selama kegiatan berlangsung.

Kehadiran aparat TNI dan Polri dalam festival takbir sebagai bentuk dukungan terhadap pelestarian tradisi keagamaan yang positif di tengah masyarakat. Harapannya, mampu memperkuat solidaritas sosial dan menumbuhkan kecintaan generasi muda terhadap tradisi keagamaan yang sarat nilai kebersamaan dan persaudaraan. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Lomba Takbir Keliling Masjid Al-Mukarrom Salakan, Hiburan Edukatif Islami Warga

Sleman – Menyambut Hari Raya Iduladha 1447 Hijriyah, Takmir Masjid Masjid Al-Mukarrom menggelar lomba takbir keliling di wilayah Salakan, Kalurahan Trihanggo, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Kamis (28/5/2026). Kegiatan tersebut berlangsung meriah dengan melibatkan ratusan warga – dari berbagai kelompok masyarakat dan kalangan remaja.

Lomba takbir keliling itu tidak hanya menjadi sarana syiar Islam dalam menyambut Idul Adha, tetapi juga sebagai wadah pembinaan karakter generasi muda. Melalui lantunan takbir, tahmid, dan tahlil yang dikemas kreatif, para peserta diajak memahami makna pengagungan kepada Allah SWT sekaligus memperkuat kecintaan terhadap tradisi keagamaan.

Ketua Takmir Masjid Al-Mukarrom, H. Imam Suwardi mengatakan bahwa lomba tersebut sengaja dirancang sebagai kegiatan positif bagi anak-anak dan remaja di lingkungan Padukuhan Salakan. Menurutnya, momentum Idul Adha perlu dimanfaatkan untuk menanamkan nilai religius, kebersamaan, serta semangat gotong royong kepada generasi muda di tengah derasnya pengaruh budaya digital dan hiburan modern.

“Selain aspek keagamaan, lomba takbir keliling menjadi media edukasi sosial bagi masyarakat. Setiap kelompok peserta diminta menampilkan kreativitas dengan tetap menjaga etika, ketertiban, dan nuansa Islami. Penampilan yang mengedepankan pesan moral dan kebudayaan Islam mendapat apresiasi tinggi dari warga yang memadati sepanjang rute kegiatan,” ujar H. Suwardi.

Suasana malam takbiran di Salakan pun terasa lebih hidup dan penuh semangat. Iringan musik, alat musik tradisional, serta hiasan kendaraan bernuansa Islami menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat. Banyak warga memanfaatkan kegiatan tersebut sebagai sarana hiburan keluarga yang aman, edukatif, dan bernilai religius.

Sementara itu, Kepala Padukuhan Salakan, Suyana menilai bahwa kegiatan semacam ini memiliki dampak positif dalam mempererat hubungan sosial antarwarga. Melalui keterlibatan bersama dalam persiapan hingga pelaksanaan acara, masyarakat dapat membangun solidaritas dan memperkuat ukhuwah Islamiyah di lingkungan sekitar.

Para peserta yang sebagian besar berasal dari kalangan remaja terlihat antusias mengikuti perlombaan. Mereka mempersiapkan penampilan sejak beberapa hari sebelumnya, mulai dari latihan takbir, dekorasi kendaraan, hingga penyusunan konsep penampilan. Hal tersebut menunjukkan tingginya semangat generasi muda dalam melestarikan tradisi Islami yang penuh nilai budaya dan spiritual.

Warga setempat berharap kegiatan lomba takbir keliling dapat terus dilaksanakan setiap tahun dengan konsep yang semakin kreatif dan mendidik. Selain menjaga tradisi malam takbiran, kegiatan tersebut dinilai mampu menjadi alternatif hiburan masyarakat yang sehat di tengah maraknya aktivitas hiburan yang kurang mendidik bagi kalangan muda.

Dengan terselenggaranya lomba takbir keliling tersebut, Suyana berharap semangat Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai perayaan seremonial, melainkan menjadi momentum memperkuat nilai keimanan, kepedulian sosial, dan persatuan masyarakat. Kegiatan itu sekaligus membuktikan bahwa syiar Islam dapat dikemas secara menarik, edukatif, dan tetap relevan bagi generasi muda masa kini. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Perkuat Toleransi Umat Beragama, Pamja Gereja Katolik Santa Lidwina Amankan Salat Iduladha di Trihanggo

Sleman – Personel Pengamanan Gereja (Pamja) Katolik Santa Lidwina melaksanakan pengamanan kegiatan Sholat Idul Adha 1447 Hijriyah yang berlangsung di Lapangan Trihanggo, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Rabu (27/5/2026). Kehadiran personel pengamanan tersebut menjadi bagian penting dalam menciptakan situasi yang aman, tertib, dan kondusif selama pelaksanaan ibadah umat Muslim.

Pengamanan dilakukan sejak pagi hari dengan menempatkan personel di sejumlah titik strategis di sekitar lokasi kegiatan. Fokus pengamanan meliputi pengaturan arus kendaraan, pengawasan area parkir, serta membantu kelancaran mobilitas jamaah yang memadati lapangan sejak sebelum pelaksanaan sholat dimulai.

Kegiatan tersebut mencerminkan tingginya semangat toleransi dan kepedulian antarumat beragama di wilayah Gamping. Kehadiran personel pengamanan dari lingkungan Gereja Katolik Santa Lidwina dinilai menjadi simbol kuat kebersamaan dan harmonisasi sosial di tengah masyarakat yang majemuk.

Selain menjaga keamanan, para personel juga turut membantu memberikan arahan kepada jama’ah terkait akses masuk dan keluar lokasi ibadah guna menghindari kepadatan. Langkah tersebut dilakukan agar seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan dengan nyaman tanpa mengganggu aktivitas masyarakat di sekitar lokasi.

Anggota Pamja Santa Lidwina, Joko Widi menyampaikan bahwa keterlibatan pihaknya dalam kegiatan tersebut merupakan bentuk dukungan terhadap terciptanya suasana damai dan saling menghormati antarumat beragama. Menurutnya, momentum Idul Adha menjadi kesempatan penting untuk memperkuat nilai persaudaraan dan kepedulian sosial di lingkungan masyarakat.

“Sinergi antar elemen masyarakat dalam menjaga keamanan kegiatan keagamaan sangat diperlukan guna menciptakan stabilitas lingkungan yang harmonis. Dengan adanya kerja sama yang baik, potensi gangguan keamanan dapat diminimalkan sehingga masyarakat dapat menjalankan ibadah dengan tenang dan khusyuk,” jelasnya.

Pelaksanaan pengamanan juga mendapat apresiasi dari Bhabinkamtibmas Trihanggo, Aiptu Rusmanto yang turut membersamai. Dia menilai keberadaan personel pengamanan gereja membantu menciptakan rasa aman sekaligus menunjukkan semangat toleransi yang tumbuh kuat di wilayah Sleman, khususnya di Kapanewon Gamping.

Selama kegiatan berlangsung, situasi di sekitar Lapangan Trihanggo terpantau aman dan kondusif. Arus lalu lintas di sekitar lokasi dapat dikendalikan dengan baik, sementara jama’ah dapat mengikuti rangkaian Sholat Idul Adha dengan tertib hingga kegiatan selesai dilaksanakan.

Melalui kegiatan tersebut, nilai-nilai toleransi, gotong royong, dan solidaritas sosial kembali terlihat nyata dalam kehidupan masyarakat. Pengamanan Sholat Idul Adha yang melibatkan personel dari berbagai unsur masyarakat diharapkan dapat terus menjadi contoh positif dalam menjaga kerukunan dan persatuan di Kabupaten Sleman. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)