Sinergi Lintas Sektor Jadi Fokus Koordinasi IPSM Depok

Sleman – Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat Kapanewon Depok menggelar koordinasi pada Selasa (26/5/2026), di ruang rapat lantai 2 Kapanewon Depok. Kegiatan tersebut dihadiri oleh Staf Jawatan Sosial Kapanewon Depok, Subekti Handayani, Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan Kapanewon Depok, serta perwakilan pengurus Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) se-Kapanewon Depok.

Dalam sambutannya, Subekti menyampaikan pentingnya kerja sama lintas sektor antara PSM, pemangku wilayah, serta berbagai unsur masyarakat lainnya, agar kiprah IPSM Depok dapat berjalan lebih maksimal dalam melayani masyarakat.

“Perlu adanya sinergi dan kerja sama lintas sektor antara PSM, pemangku wilayah, dan unsur terkait lainnya, sehingga keberadaan IPSM Depok dapat semakin optimal dalam berkiprah di masyarakat,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua IPSM Kapanewon Depok terpilih periode 2026–2031, Tri Suhartati, menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada Pemerintah Kapanewon Depok yang selama ini telah memberikan dukungan terhadap kegiatan IPSM Depok.

“Koordinasi kali ini dilaksanakan sebagai bagian dari persiapan pengukuhan pengurus Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat Kapanewon Depok periode 2026–2031, agar seluruh rangkaian kegiatan dapat berjalan lancar dan sesuai rencana,” tandas Suhartati.

Melalui koordinasi tersebut diharapkan terjalin komunikasi dan kolaborasi yang semakin kuat antara IPSM, pemerintah kapanewon, serta seluruh elemen masyarakat dalam mendukung kegiatan sosial dan kesejahteraan masyarakat di wilayah Kapanewon Depok. (Tri Suhartati/KIM Depok)




Resmi Diluncurkan, Albizoo Jadi Media Edukasi Flora dan Fauna bagi Anak

Sleman – Kandang Edukasi Albizoo Ramah Anak di Jalan Tembus Sanggrahan, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok resmi dibuka pada Selasa (26/5/2026). Kehadiran kandang edukasi ini menjadi sarana rekreasi sekaligus ruang belajar alternatif bagi anak-anak dan keluarga untuk mengenal berbagai jenis hewan secara interaktif dan menyenangkan.

Peresmian dihadiri Kepala Dinas P3AP2KB Kabupaten Sleman, dr. Novita Krisnaeni, Panewu Anom Depok, R. Herry Subagio, Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji, unsur pemerintah kalurahan, Babinsa dan Bhabinkamtibmas, lembaga PAUD dan TK, tokoh masyarakat, serta warga sekitar.

Rangkaian kegiatan meliputi sambutan, doa, pemotongan tumpeng, pemotongan pita, dan peninjauan area kandang edukasi.

Ketua sekaligus pengelola Albizoo, Paijan Trisnoharjono, mengatakan kandang edukasi dibangun sebagai alternatif kegiatan positif bagi anak-anak agar tidak terlalu bergantung pada gadget.

“Anak-anak bisa bermain, memberi makan hewan, sekaligus belajar mengenal satwa secara langsung,” ujarnya.

Berbagai jenis hewan tersedia di Albizoo, mulai dari kelinci, marmut, kambing, iguana, monyet, hingga ayam hias mancanegara seperti Golden Pheasant dan Silver Pheasant. Paijan mengatakan kandang edukasi ini terbuka untuk umum tanpa biaya masuk dan hanya menyediakan kotak donasi sukarela untuk perawatan hewan.

Selain koleksi satwa, kawasan Albizoo juga dilengkapi dengan tanaman apotek hidup dan warung hidup yang dapat dimanfaatkan sebagai media edukasi flora dan fauna bagi anak-anak.

Kamituwa Condongcatur, Al Thouvik Sofisalam menyampaikan bahwa keberadaan Albizoo menjadi bentuk partisipasi masyarakat dalam menciptakan lingkungan ramah anak di tengah semakin terbatasnya ruang bermain alami.

“Dengan adanya kandang edukasi ini diharapkan anak-anak dapat mengurangi penggunaan gadget dan lebih banyak beraktivitas positif di luar rumah,” katanya.

Kepala Dinas P3AP2KB Kabupaten Sleman, dr. Novita Krisnaeni pun mengapresiasi inovasi masyarakat Condongcatur dalam menghadirkan ruang edukasi berbasis lingkungan yang mendukung program Kalurahan Ramah Anak dan Kabupaten Layak Anak.

“Anak-anak bisa belajar langsung di lapangan, berinteraksi dengan hewan, dan lebih dekat dengan lingkungan,” ungkapnya.

Sementara itu, Ketua Paguyuban PAUD Condongcatur, Reni Lestari menilai Albizoo sangat bermanfaat sebagai media pembelajaran konkret bagi anak usia dini dan dapat dimanfaatkan sebagai lokasi outing class bagi PAUD dan TK di wilayah Condongcatur.

“Melalui keberadaan Kandang Edukasi Albizoo, masyarakat berharap tercipta ruang tumbuh anak yang sehat, edukatif, kreatif, dan dekat dengan alam,” tandasnya. (Wasana /KIM Depok)




Kalurahan Margorejo Sleman Perluas Program MBG dan Perkuat Peran Kader Lapangan

Sleman — Penguatan ketahanan keluarga di tingkat akar rumput dinilai menjadi pilar utama dalam mencetak sumber daya manusia yang unggul sekaligus memutus rantai stunting secara nasional. Komitmen tersebut menjadi bahasan utama dalam Rapat Koordinasi Program Bangga Kencana (Pembangunan Keluarga, Kependudukan, dan Keluarga Berencana) yang digelar di Ruang Pertemuan Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, pada Selasa (26/5/2026).

Pertemuan berskala lokal ini mengonsolidasikan puluhan kader Pembantu Pembina Keluarga Berencana Desa (Sub PPKBD), bidan desa, Tim Pendamping Keluarga (TPK), kamituwa, serta perangkat kalurahan. Sinergi lintas sektor ini dioptimalkan untuk menyatukan langkah intervensi dalam penanganan tengkes (stunting) serta akselerasi pembentukan keluarga berkualitas di wilayah Sleman.

Mewakili Lurah Margorejo, Kamituwa Margorejo Anwar Insani, menegaskan bahwa kesuksesan program jaminan mutu keluarga ini mustahil tercapai tanpa adanya peleburan ego sektoral. Keterlibatan aktif dari para kader perempuan dan tenaga kesehatan di tingkat padukuhan menjadi motor penggerak utama perubahan perilaku masyarakat.

“Program pembangunan keluarga ini tidak bisa berjalan sendiri secara parsial. Dibutuhkan kerja sama yang solid dan terintegrasi antara pemerintah kalurahan, para kader, tenaga kesehatan, dan masyarakat luas agar edukasi serta pendampingan pemenuhan gizi ini benar-benar dirasakan manfaatnya secara nyata oleh keluarga sasaran. Di Margorejo sendiri, kami bersyukur karena program MBG saat ini telah berjalan sukses di lima Posyandu, dan dalam waktu dekat direncanakan segera diperluas dengan penambahan tiga lokasi baru. Harapan kami, seluruh Posyandu di Kalurahan Margorejo nantinya dapat memperoleh program MBG secara bertahap agar manfaatnya semakin merata,” ujar Anwar Insani saat membuka forum koordinasi.

Anwar menambahkan, intervensi spesifik untuk pemenuhan gizi buruk balita juga akan diperkuat melalui peluncuran program Pemberian Makanan Tambahan (PMT) lokal dari Puskesmas. Program bantuan pangan berbasis pangan lokal tersebut dijadwalkan mulai didistribusikan secara serentak pada 9 Juni 2026 mendatang.

Sementara itu, Penyuluh Lapangan Keluarga Berencana (PLKB) Kapanewon Tempel, Edi Santosa, selaku narasumber utama memaparkan bahwa perbaikan gizi buruk anak harus ditarik ke hulu, yakni sejak masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun. Ia membedah secara rinci standar baku pemberian makan anak berdasarkan regulasi dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO).

Standardisasi tersebut meliputi kewajiban Inisiasi Menyusu Dini (IMD) satu jam setelah kelahiran, pemberian ASI eksklusif secara penuh selama enam bulan pertama, penyediaan Makanan Pendamping ASI (MPASI) yang aman, padat nutrisi, dan higienis, serta melanjutkan pemberian ASI hingga anak menginjak usia dua tahun. Langkah-langkah klinis ini dinilai menjadi benteng pertahanan terbaik dalam mencegah malnutrisi kronis.

“Pencegahan stunting tidak bisa dilakukan secara instan atau melalui proyek seremoni belaka. Edukasi kepada keluarga harus dilakukan terus-menerus dan konsisten, terutama mengenai perbaikan pola makan anak, sanitasi kebersihan lingkungan, dan pola pengasuhan yang sehat di dalam rumah tangga. Kader dan tim pendamping keluarga memiliki posisi yang sangat strategis sebagai ujung tombak penghubung informasi kesehatan kepada masyarakat. Banyak persoalan gizi buruk di lapangan terjadi bukan karena kurangnya kepedulian atau faktor ekonomi keluarga, melainkan akibat keterbatasan akses terhadap informasi pengasuhan yang benar dan valid,” kata Edi Santosa menjelaskan.

Dinamika rapat koordinasi ini juga dimanfaatkan para kader untuk mengevaluasi hambatan sosiologis di lapangan, seperti tren pola konsumsi anak yang gemar mengonsumsi makanan instan serta rendahnya kehadiran sebagian ibu balita ke posyandu. Melalui ruang diskusi ini, seluruh elemen menyepakati formulasi pendekatan yang lebih persuasif guna memastikan pembangunan kualitas manusia Indonesia benar-benar dimulai secara kokoh dari unit terkecil, yaitu keluarga. (SBD KIM SENYUM TEMPEL)




Tutup Perlintasan Liar KM 537+7 Gamping, Petugas Gabungan Sterilkan Jalur Kereta Api Rawan Kecelakaan

Sleman — Langkah tegas diambil oleh otoritas keamanan dan perkeretaapian guna menyisir titik-titik rawan kecelakaan di perlintasan sebidang tanpa izin. Petugas gabungan dari Polisi Khusus Kereta Api (Polsuska) Daerah Operasi 6 Yogyakarta, petugas jaringan jalan rel, serta personel Pengamanan Objek Vital (Pamobvit) Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melakukan penutupan permanen perlintasan kereta api liar di KM 537+7 wilayah Mejing Kidul, Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, pada Selasa (26/5/2026).

Operasi sterilisasi jalur perkeretaapian ini merupakan bagian dari program nasional untuk memitigasi tingginya angka kecelakaan yang melibatkan pengguna jalan dengan ular besi. Karakteristik perlintasan liar yang minim fasilitas rambu keselamatan, ketiadaan palang pintu otomatis, serta rendahnya pengawasan di tengah tingginya mobilitas harian masyarakat menjadikannya sebagai salah satu titik paling krusial yang mengancam nyawa warga dan kelancaran perjalanan kereta api.

Kepala Kepolisian Sektor Gamping, Bowo Susilo, menegaskan bahwa keselamatan operasional kereta api serta perlindungan terhadap nyawa publik merupakan prioritas tertinggi yang tidak bisa ditoleransi. Eksistensi jalur tikus yang membelah rel kereta api dinilai memicu risiko tinggi karena tidak memiliki sistem peringatan dini (early warning system) yang memadai.

“Penutupan perlintasan liar di kawasan Mejing Kidul ini merupakan bagian dari akselerasi program peningkatan keselamatan transportasi nasional. Dengan berkurangnya titik perlintasan tidak resmi di wilayah Gamping, potensi kecelakaan fatal antara kereta api dan kendaraan bermotor maupun pejalan kaki dapat ditekan secara signifikan. Kami mengimbau warga untuk patuh dan bersedia beralih menggunakan jalur perlintasan resmi yang jauh lebih aman,” ujar Bowo Susilo saat mengawal jalannya penertiban di lapangan.

Di lokasi penutupan, petugas gabungan memasang pembatas permanen berbahan besi dan beton berkekuatan tinggi agar tidak dapat dibuka kembali secara sepihak oleh oknum masyarakat. Di sela-sela pemasangan barikade, tim humas dan aparat juga melakukan sosialisasi persuasif kepada warga permukiman sekitar guna memberikan pemahaman logis mengenai bahaya laten beraktivitas di sekitar ruang manfaat jalur kereta api.

Sinergi ketat antarinstansi terbukti efektif meredam potensi konflik maupun penolakan dari sebagian kelompok pengguna jalan yang biasa memanfaatkan jalur pintas tersebut. Kehadiran personel Pamobvit Polda DIY menjamin seluruh tahapan eksekusi pemasangan pembatas berjalan dengan aman, tertib, dan kondusif.

Dukungan terhadap sterilisasi ini juga disuarakan oleh Bhabinkamtibmas Ambarketawang, Ibnu Prastowo, yang ikut turun langsung melakukan pendampingan pengamanan di area perlintasan sebidang ilegal tersebut. Ia mengingatkan kembali ketentuan regulasi bahwa jalur rel merupakan area steril yang terikat hukum baku.

“Penutupan perlintasan tanpa izin ini dinilai sebagai langkah preventif yang mutlak diambil demi menjaga kelancaran operasional logistik dan transportasi kereta api, sekaligus melindungi keselamatan jiwa warga Ambarketawang sendiri. Jalur rel adalah kawasan terbatas yang sangat berbahaya, sehingga segala bentuk aktivitas warga yang tidak berkepentingan di area ini harus dihentikan demi kebaikan bersama,” kata Ibnu Prastowo menjelaskan esensi pengamanan tersebut.

Meskipun harus menyesuaikan kembali rute perjalanan sehari-hari dan memutar ke jalur yang lebih jauh, warga lokal pada prinsipnya dapat memahami keputusan darurat demi keselamatan bersama ini. Warga berharap PT Kereta Api Indonesia (Persero) beserta pemerintah daerah dapat terus meningkatkan keandalan fasilitas dan kapasitas tampung di perlintasan-perlintasan resmi terdekat agar mobilitas ekonomi masyarakat tetap berjalan dengan nyaman tanpa mengabaikan aspek keselamatan. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Antisipasi Dampak Gawai, Universitas AMIKOM Edukasi Kesehatan Mental Remaja di MAN 4 Sleman

Sleman — Pesatnya arus digitalisasi dan tingginya intensitas penggunaan media sosial di kalangan remaja memicu perhatian serius dari dunia akademis. Guna membentengi generasi muda dari potensi gangguan psikologis, tim pengabdian masyarakat Universitas AMIKOM Yogyakarta menggelar Seminar Edukasi Digital bertajuk “Panduan Kesehatan Mental di Era Digital” bagi ratusan siswa di ruang aula MAN 4 Sleman pada Selasa (26/5/2026).

Agenda edukatif ini dirancang interaktif untuk membedah peta tantangan, peluang, serta dampak nyata dari adiksi perangkat digital terhadap stabilitas emosional remaja. Sepanjang jalannya seminar, para siswa kelas sepuluh tampak fokus menyimak pemaparan materi yang ditayangkan melalui layar proyektor serta terlibat aktif dalam sesi diskusi dua arah mengenai mitigasi risiko di dunia maya.

Tim narasumber dari Universitas AMIKOM Yogyakarta menekankan bahwa generasi Z saat ini dituntut memiliki literasi digital yang matang agar tidak terjebak dalam pusaran dampak negatif internet. Remaja harus dilatih untuk menyaring informasi secara objektif, membatasi waktu interaksi dengan layar gawai (screen time), serta mampu mendeteksi gejala awal kecemasan akibat dinamika media sosial.

“Era digital memang membawa banyak sekali kemudahan dalam aspek pembelajaran, namun tanpa adanya kontrol dan kendali diri yang kuat, tekanan psikologis dari dunia maya seperti perundungan, adiksi gawai, hingga kecemasan sosial bisa merusak kesehatan mental remaja. Melalui seminar edukasi ini, kami ingin memberikan panduan praktis dan aplikatif agar para siswa di Sleman tetap produktif, cakap memanfaatkan teknologi, namun tetap sehat secara mental dan psikologis,” ujar perwakilan tim pengabdi Universitas AMIKOM Yogyakarta di hadapan peserta.

Antusiasme tinggi salah satunya dirasakan oleh Azril, siswa kelas 10 C, yang memanfaatkan sesi tanya jawab untuk berkonsultasi mengenai metode pemulihan dari ketergantungan gawai. Forum tersebut juga mengulas secara mendalam tentang tata cara membangun ekosistem pertemanan digital yang sehat, aman, dan saling mendukung.

Merespons inisiatif tersebut, Wakil Kepala Madrasah Bidang Akademik MAN 4 Sleman, Safitri Ida Kusumastuti, menyambut baik kolaborasi strategis yang diinisiasi oleh Universitas AMIKOM Yogyakarta. Menurutnya, materi mengenai kesehatan mental merupakan kebutuhan mendesak yang belum sepenuhnya terakomodasi dalam kurikulum formal sekolah.

“Kami sangat mengapresiasi dan menyambut baik langkah nyata dari Universitas AMIKOM ini. Melalui pembekalan ini, kami berharap para siswa memiliki ketahanan mental (mental resilience) yang kokoh di tengah gempuran informasi digital. Sasaran kami jelas, agar anak-anak tidak hanya cerdas dan berprestasi secara akademik di kelas, tetapi juga tumbuh menjadi pribadi yang bijak, dewasa, serta sehat secara psikologis dalam memanfaatkan teknologi digital di kehidupan sehari-hari,” kata Safitri Ida Kusumastuti menegaskan.

Melalui sinergi antara perguruan tinggi dan lembaga pendidikan menengah ini, diharapkan kesadaran kolektif mengenai pentingnya kesehatan jiwa remaja dapat terus meluas. Penguatan mental sejak dini menjadi modal krusial bagi Kabupaten Sleman dalam menyiapkan generasi emas yang tangguh menghadapi disrupsi teknologi di masa depan. (Edy/KIM Sumber Biwara Moyudan)