Penuhi Standar Pasar Nasional, Pokdakan Mina Ngremboko Sleman Perkuat Penanganan Pascapanen Lele

Sleman — Persaingan pasar perikanan air tawar yang semakin ketat menuntut para pembudidaya lokal untuk terus meningkatkan standardisasi mutu produk mereka. Menjawab tantangan tersebut, Kelompok Budidaya Ikan (Pokdakan) Mina Ngremboko yang berpusat di Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman, bergerak cepat dengan memperkuat kualitas tata kelola pascapanen, khususnya pada komoditas ikan lele.

Langkah taktis ini diwujudkan melalui aksi penyortiran dan penanganan pascapanen secara intensif yang dilakukan oleh para anggota kelompok pada Sabtu (23/5/2026). Aktivitas ini difokuskan pada pemisahan ukuran ikan secara presisi, inspeksi klinis kondisi fisik ikan, hingga teknik pengemasan khusus sebelum komoditas tersebut didistribusikan ke jaringan pengepul skala besar maupun konsumen akhir. Upaya ini dinilai sangat krusial untuk menjaga stabilitas harga dan memastikan lele komersial asal Sleman tetap higienis serta segar hingga ke meja makan konsumen.

Perwakilan Divisi Pelatihan Pokdakan Mina Ngremboko, Aria Aninditta, menegaskan bahwa rantai penanganan pascapanen sering kali menjadi titik lemah yang diabaikan oleh para pembudidaya tradisional. Padahal, fase pascaproduksi ini memiliki bobot nilai yang sama pentingnya dengan fase pembesaran benih di dalam kolam.

“Penyortiran harus dilakukan dengan baik dan teliti agar ukuran ikan benar-benar seragam sesuai permintaan spesifik dari pasar modern atau pelaku industri kuliner. Jika penanganan pascapanen ini kurang maksimal atau dilakukan sembarangan, kualitas fisik ikan bisa menurun drastis dan hal itu langsung berdampak buruk pada anjloknya harga jual di tingkat peternak,” ungkap Aria Aninditta di sela-sela aktivitas pemanenan kolam.

Aria Aninditta menjelaskan bahwa karakteristik pasar komoditas lele saat ini sangat menghendaki keseragaman ukuran karena berkaitan erat dengan efisiensi logistik, proses pengangkutan jarak jauh, hingga standardisasi porsi di industri pengolahan makanan. Menyikapi dinamika tersebut, Pokdakan Mina Ngremboko kini menerapkan sistem sortir bertahap (grading) berbasis ukuran berat untuk menjamin seluruh produk yang keluar dari wilayah mereka memiliki kualitas yang setara.

Lebih dari sekadar memilah ukuran, proses penanganan pascapanen di Mina Ngremboko juga mengadopsi prinsip kesejahteraan hewan (animal welfare) dengan meminimalisasi tingkat stres pada ikan selama proses pemanenan dan manipulasi air. Pengaturan suhu media angkut dan sanitasi wadah penampungan diperhatikan secara ketat agar metabolisme ikan tetap rendah, sehingga tekstur dan kualitas daging lele tetap padat serta tidak mudah rusak selama durasi pengiriman antarprovinsi.

Menurut Aria Aninditta, orientasi pada detail pascapanen inilah yang akan menjadi pembeda sekaligus pendongkrak daya saing produk perikanan lokal di tengah gempuran pasokan dari daerah lain. Selama ini, mayoritas peternak cenderung mengalami kerugian terselubung (losses) yang tinggi akibat salah penanganan pascaproduksi, meskipun performa budidaya di kolam tergolong sukses.

Pokdakan Mina Ngremboko sendiri memang telah lama dikenal sebagai salah satu kelompok pembudidaya paling progresif di Kabupaten Sleman. Di samping konsisten menerapkan manajemen budidaya berbasis teknologi modern, kelompok ini juga aktif menjadi mentor bagi komunitas perikanan lintas wilayah guna menyebarluaskan pentingnya adopsi standar kualitas di sektor perikanan darat.

“Melalui penerapan penyortiran dan penanganan pascapanen yang baik, kami berharap hasil budidaya ikan lele dari Sleman dapat semakin kompetitif dan mampu memenuhi kebutuhan pasar secara berkelanjutan. Langkah standardisasi ini juga kami harapkan dapat mendongkrak pendapatan riil para pembudidaya sekaligus memperkuat sektor perikanan lokal sebagai salah satu pilar penopang ekonomi masyarakat daerah,” kata Aria Aninditta menutup penjelasannya. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




TPA Al-Mujahidin Sleman Gelar Gebyar Dzulhijjah untuk Perkuat Karakter Anak Sejak Dini

Sleman — Menjelang tibanya bulan suci Dzulhijjah, upaya pembentukan karakter generasi muda berbasis nilai-nilai keagamaan terus digalakkan di Kabupaten Sleman. Langkah nyata ini diwujudkan oleh Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPA) Al-Mujahidin yang menggelar acara bertajuk Gebyar Dzulhijjah di Masjid Al-Mujahidin, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, pada Sabtu (23/5/2026).

Rangkaian kegiatan edukatif tersebut dioptimalkan sebagai instrumen strategis untuk memperkuat pondasi pendidikan Al-Qur’an serta memperluas syiar keagamaan di tengah masyarakat urban Sleman. Melalui pendekatan yang kreatif, anak-anak diajak untuk mengenalkan nilai-nilai luhur dan keutamaan bulan Dzulhijjah lewat aktivitas yang menyenangkan dan lekat dengan nuansa kemasjidan.

Direktur TPA Al-Mujahidin, Suyitno, menegaskan pentingnya mengenalkan tradisi dan syiar Islam kepada anak-anak melalui metode yang inklusif dan menggembirakan. Menurutnya, pendekatan emosional yang positif akan membuat anak-anak merasa nyaman dan rindu untuk terus beraktivitas di lingkungan tempat ibadah.

“Anak-anak perlu kita kenalkan dengan syiar Islam melalui kegiatan yang menggembirakan, agar mereka tumbuh dekat dengan masjid dan mencintai Al-Qur’an sejak dini. Kita ingin menanamkan memori indah pada anak-anak bahwa belajar agama dan merayakan hari besar Islam itu seru serta penuh kebersamaan,” ujar Suyitno di sela-sela memantau jalannya kegiatan.

Kemeriahan acara sudah terasa sejak siang hari yang diawali dengan sesi kreasi santri, di mana anak-anak secara berkelompok menyiapkan berbagai perlengkapan takbir. Aktivitas motorik dan seni ini sengaja dirancang bukan sekadar untuk mengisi waktu, melainkan sebagai media pendidikan karakter guna melatih kedisiplinan, rasa tanggung jawab, kerja sama tim, serta menumbuhkan sikap saling membantu antarsantri.

Menginjak malam hari, atmosfer kegiatan berubah menjadi lebih khidmat dengan digelarnya program Tadarus Al-Qur’an Warga Al-Mujahidin atau yang akrab disebut TAQWA. Agenda yang diikuti oleh lintas generasi ini diisi dengan kegiatan khataman Al-Qur’an bersama untuk memperkuat ekosistem religius sekaligus menegaskan kembali fungsi esensial masjid sebagai pusat pembinaan umat dan ruang interaksi sosial warga.

Apresiasi tinggi juga diberikan oleh manajemen TPA Al-Mujahidin kepada para santri dewasa dari kalangan ibu-ibu yang berhasil meraih capaian hafalan ayat suci terbanyak. Penghargaan ini menjadi bukti nyata bahwa semangat belajar agama tidak mengenal batasan usia.

“Apresiasi tersebut menjadi bentuk penghargaan kami atas semangat belajar Al-Qur’an yang terus tumbuh subur di lingkungan keluarga. Pendidikan Al-Qur’an bagi anak-anak akan jauh lebih kuat dan berdampak apabila terbangun melalui sinergi yang harmonis antara pengajar di masjid, keteladanan orang tua di rumah, serta dukungan lingkungan sosial sekitar,” kata Suyitno menambahkan.

Melalui konsistensi pelaksanaan Gebyar Dzulhijjah ini, TPA Al-Mujahidin berharap dapat memberikan kontribusi nyata dalam mencetak generasi penerus di Kabupaten Sleman yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki akhlak mulia dan berjiwa Qur’ani. Langkah swadaya dari tingkat kampung ini diharapkan mampu menjadi pemantik bagi masjid-masjid lain di wilayah Sleman untuk terus menghidupkan syiar anak-anak yang edukatif. (Athiful/KIM Depok)




KPSM Kompak Maju Sleman Dorong Warga Pilah Sampah dari Rumah

Sleman — Krisis pembuangan akhir dan menumpuknya volume sampah di Kabupaten Sleman memicu gerakan swadaya di tingkat akar rumput untuk mencari jalan keluar. Langkah nyata ini diperlihatkan oleh Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM) Kompak Maju Padukuhan Kalongan, Kalurahan Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, yang menggelar aksi gerakan pengelolaan sampah berbasis warga pada Sabtu (23/5/2026).

Aktivitas kolektif tersebut dioptimalkan sebagai instrumen strategis untuk membangun kesadaran kolektif masyarakat dalam memilah sampah langsung dari dapur rumah tangga. Melalui gerakan edukasi ini, warga didorong untuk mengubah paradigma lama dan tidak lagi memandang sampah sebagai barang buangan yang tidak berguna. Sampah domestik, khususnya jenis anorganik yang masih bernilai ekonomi tinggi, mulai dipilah dan dikumpulkan agar tidak seluruhnya terbuang ke tempat pembuangan akhir.

Ketua KPSM Kompak Maju, Nuriyanto, menegaskan bahwa carut-marut persoalan sampah di wilayah Sleman sudah tidak bisa lagi diselesaikan jika hanya mengandalkan penanganan di sektor hilir atau tempat pembuangan saja. Menurutnya, intervensi terbaik mutlak harus dimulai dari perubahan perilaku dan kebiasaan harian warga di kediaman masing-masing.

“Masalah sampah bukan hanya soal mengangkut dan membuang, tetapi bagaimana warga mulai sadar untuk memilah sejak dari rumah. Kalau dari sumbernya sudah tertata dan dipisahkan antara yang organik serta anorganik, maka beban pengelolaan sampah di daerah akan jauh berkurang drastis,” ujar Nuriyanto di sela-sela memimpin jalannya pemilahan sampah.

Nuriyanto menjelaskan, KPSM Kompak Maju berkomitmen merawat gerakan ini agar menjadi program yang konsisten dan berkelanjutan. Selain mengedukasi pemilahan jenis sampah, warga juga diajak untuk menekan produksi sampah residu yang sulit didaur ulang, serta mengalokasikan hasil penjualan sampah anorganik yang bernilai jual untuk mendukung pendanaan kegiatan sosial kemasyarakatan di Padukuhan Kalongan. Langkah ini sekaligus menjadi perekat gotong royong warga agar tidak bersikap apatis terhadap kebersihan lingkungan.

“Harapan kami, KPSM Kompak Maju bisa menjadi wadah warga untuk bergerak bersama. Lingkungan yang bersih tidak cukup hanya dengan imbauan atau jargon semata, tetapi perlu kebiasaan, keteladanan nyata, dan kerja bersama seluruh elemen masyarakat tanpa harus selalu bertumpu pada pemerintah,” kata Nuriyanto menambahkan.

Inisiatif mandiri dari warga Kalongan ini mendapat apresiasi tinggi dari otoritas lingkungan setempat. Petugas Pendamping Pengelolaan Sampah (P3S) Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman, Sri Rahayu, menilai gerakan berbasis komunitas seperti ini menjadi pilar utama yang sangat krusial dalam menyokong program makro pemerintah daerah terkait darurat sampah.

“Kunci utama pengelolaan sampah ada pada perubahan perilaku dan kebiasaan harian masyarakat. Jika setiap warga sudah terbiasa memilah sampah dari rumah, maka volume sampah yang dibuang ke tempat pembuangan akhir akan berkurang secara signifikan. Ini menjadi bagian penting dan solusi riil dari masalah sampah di Kabupaten Sleman saat ini,” tutur Sri Rahayu.

Lebih lanjut, Sri Rahayu berharap KPSM Kompak Maju dapat menjaga konsistensi pergerakannya agar mampu memicu efek domino bagi wilayah-wilayah lain di sekitarnya. Dengan adanya sinergi yang kuat antara partisipasi aktif warga, fasilitasi kelompok masyarakat, dan regulasi pemerintah, tata kelola sampah di Sleman diharapkan dapat bertransformasi menjadi sistem yang efektif, efisien, serta bernilai guna tinggi bagi kelestarian lingkungan hidup.

“Gerakan seperti ini perlu terus dijaga ritmenya. Sampah yang dikelola dengan benar dari sumbernya tidak hanya mengurangi masalah pencemaran lingkungan, tetapi juga terbukti mampu menumbuhkan rasa kepedulian serta tanggung jawab sosial yang tinggi di tengah masyarakat,” pungkas Sri Rahayu. (Athiful/KIM Depok)




Pelopor Perikanan Air Tawar, Ketekunan Saptono Bawa Pokdakan Mina Ngremboko Sleman Raih Prestasi Nasional

Sleman — Industri perikanan air tawar di Kabupaten Sleman terus menunjukkan taji di kancah nasional berkat tangan dingin para pelaku lokalnya. Salah satu figur sentral di balik kesuksesan ini adalah Saptono, Ketua Kelompok Budidaya Ikan (Pokdakan) Mina Ngremboko yang berbasis di Kapanewon Ngemplak, Kabupaten Sleman. Ia sukses menorehkan peta prestasi baru dengan membawa kelompoknya diakui sebagai salah satu sentra budidaya ikan paling inovatif di Indonesia.

Melalui konsistensi yang dirintis dari skala kecil, Saptono berhasil mentransformasi Pokdakan Mina Ngremboko menjadi episentrum perikanan air tawar terintegrasi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Di bawah komandonya, kelompok ini tidak lagi sekadar berfokus pada pembesaran komoditas ikan lele (Clarias Batrachus) dan ikan nila (Oreochromis Niloticus), melainkan telah merambah ke sektor hulu hingga hilir yang mencakup pembenihan mandiri hingga pengolahan pascapanen untuk mendongkrak nilai tambah produk ekonomi anggota.

Komitmen panjang tersebut membawa Pokdakan Mina Ngremboko meraih penghargaan Adibakti Mina Bahari dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Republik Indonesia. Penghargaan tertinggi berskala nasional itu diserahkan langsung oleh Menteri Kelautan dan Perikanan saat itu, Susi Pudjiastuti, sebagai apresiasi resmi negara kepada pelaku utama perikanan yang dinilai memberikan kontribusi nyata bagi kedaulatan pangan dan pertumbuhan ekonomi berbasis kerakyatan.

“Penghargaan Adibakti Mina Bahari ini menjadi motivasi besar bagi kami untuk tidak cepat puas, melainkan terus berinovasi dan mengembangkan perikanan rakyat. Kami ingin membuktikan bahwa nelayan darat dan pembudidaya lokal mampu berbicara banyak di level nasional,” ujar Saptono saat ditemui di Sekretariat Pokdakan Mina Ngremboko, Sabtu (23/5/2026).

Reputasi kelompok asal Sleman ini kian diperkuat dengan keberhasilan mereka menyabet Juara I Nasional dalam ajang Kelompencapir Gerakan Nasional Masyarakat Peduli Industrialisasi Kelautan dan Perikanan (Gempita). Rentetan prestasi ini diraih bukan lewat jalan pintas, mengingat Saptono telah mengantongi sertifikasi kepelatihan budidaya ikan dari lembaga sertifikasi profesi nasional, yang ia terapkan langsung dalam tata kelola harian kelompok.

Sejak mulai menggerakkan roda usaha perikanan ini pada tahun 1988, Saptono memang menaruh perhatian besar pada aspek pemberdayaan masyarakat. Ia secara aktif merangkul warga sekitar, khususnya generasi muda di Sleman, untuk melihat sektor perikanan bukan lagi sebagai profesi sampingan, melainkan sebagai lini bisnis modern yang menjanjikan dan berkelanjutan.

“Kami sangat berharap generasi muda di Sleman tertarik untuk terjun langsung dan mengembangkan sektor perikanan secara profesional karena potensinya sangat menjanjikan bagi masa depan ekonomi daerah. Budidaya modern dengan teknologi tepat guna adalah kunci agar kita bisa mandiri secara pangan,” kata Saptono menegaskan komitmen regenerasinya.

Pengalaman empiris selama puluhan tahun membuat pria ini kerap dipercaya menjadi narasumber nasional dalam berbagai bimbingan teknis, terutama dalam membedah sistem manajemen pengelolaan air dan penguatan bisnis perikanan. Kehadiran unit usaha terpadu dari Mina Ngremboko terbukti efektif menciptakan lapangan kerja baru di tingkat lokal sekaligus menekan angka pengangguran di wilayah pinggiran Sleman.

Keberhasilan yang ditunjukkan oleh Saptono dan Pokdakan Mina Ngremboko memberikan pesan kuat bagi dunia agribisnis nasional bahwa sektor perikanan rakyat memiliki daya saing yang sangat tinggi apabila dikelola dengan sentuhan inovasi yang konsisten. Capaian ini sekaligus mempertegas posisi Kabupaten Sleman sebagai salah satu lumbung ikan air tawar paling produktif yang patut menjadi percontohan nasional. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Tampilkan Tradisi Wiwitan, Kontingen Ngaglik Sabet Juara I Festival Upacara Adat Kabupaten Sleman 2026

Sleman — Upaya pelestarian warisan budaya takbenda di tingkat akar rumput terus menunjukkan geliat positif. Kontingen Padukuhan Penen yang mewakili Kapanewon Ngaglik sukses menyabet Juara Pertama dalam ajang bergengsi Festival Upacara Adat Kabupaten Sleman Tahun 2026 yang berlangsung di Gedung Serbaguna Kabupaten Sleman.

Dalam festival yang digelar selama dua hari pada Jumat dan Sabtu, 23–24 Mei 2026 tersebut, kontingen Kapanewon Ngaglik berhasil memukau dewan juri lewat visualisasi apik Upacara Adat Tradisi Wiwitan. Atas performa yang solid dan sarat makna itu, mereka berhak atas podium tertinggi setelah mengantongi akumulasi skor tertinggi sebesar 784 poin dari total 17 kapanewon peserta se-Kabupaten Sleman.

Dominasi Ngaglik dalam festival tahun ini ditentukan oleh penilaian ketat dari dewan juri yang terdiri atas Untung Waluyo, Endang Widuri, dan Faisal Nur Singgih. Dalam penyampaian evaluasi teknisnya, tim juri menegaskan bahwa esensi dari kompetisi ini bukan sekadar mengejar aspek teatrikal, sendratari, drama, maupun kemegahan prosesi teatrikal semata, melainkan bobot kesesuaian tata urutan upacara adat yang memiliki akar kuat di masyarakat.

“Upacara adat harus memiliki lokus dan fokus yang jelas, tata cara sesuai kultur wilayah masing-masing, serta mengandung nilai pendidikan dan transfer budaya kepada generasi penerus. Seluruh unsur pertunjukan, mulai dari blocking panggung, kesinambungan atau sambung rapet antaradegan, tata busana, iringan musik, hingga kru properti juga menjadi perhatian penting karena semuanya merupakan satu rangkaian pertunjukan yang utuh,” ungkap Faisal Nur Singgih mewakili dewan juri saat memberikan penilaian akhir.

Juri lain, Endang Widuri, turut mengingatkan seluruh kontingen agar tidak terjebak pada aspek kosmetik panggung hingga lepas dari konsep dasar tradisi yang ditampilkan. Ia menyoroti pentingnya detail artistik penunjang, seperti tata rambut sinden, ketepatan penggunaan simbol-simbol adat, hingga kostum para pendukung agar tetap selaras dengan nuansa sakralitas adat yang dibawakan dari desa asal mereka.

Keberhasilan mempertahankan keaslian ritus ini diakui menjadi kunci kemenangan kontingen Ngaglik. Koordinator Kontingen Ngaglik, Winardi, mengungkapkan rasa syukur dan bangganya karena Tradisi Wiwitan yang dipentaskan di panggung festival sebenarnya merupakan refleksi dari kehidupan agraris nyata yang hingga kini masih lestari di wilayahnya.

“Tradisi Wiwitan adalah budaya yang adiluhung warisan dari nenek moyang kita yang sampai hari ini masih tetap konsisten kami laksanakan secara komunal di Padukuhan Penen setiap kali menjelang musim panen padi. Tradisi seperti ini tidak di semua tempat ada, bahkan banyak yang sudah luntur ditelan kemajuan zaman. Semoga generasi seterusnya juga ikut tergerak untuk menjaga dan merawat budaya ini, karena ini adalah salah satu aset padukuhan yang tidak berwujud namun bernilai tinggi,” ujar Winardi seusai menerima penghargaan.

Ajang tahun ini mencatatkan persaingan angka yang cukup ketat di papan atas. Berdasarkan keputusan resmi dewan juri, posisi Juara II diraih oleh kontingen Kapanewon Berbah dengan Upacara Adat Tirto Malaikatan yang mengumpulkan nilai 753. Di urutan ketiga, kontingen Kapanewon Kalasan sukses mengamankan peringkat Juara III lewat visualisasi Upacara Adat Merti Sendang Sempol dengan torehan nilai 743.

Sementara itu, peringkat Juara Harapan I berhasil ditempati oleh kontingen Kapanewon Cangkringan yang juga membawakan konsep Tradisi Wiwitan dengan total nilai 732. Mengunci posisi lima besar, kontingen Kapanewon Minggir berhak atas predikat Juara Harapan II setelah mengumpulkan nilai 730 melalui pementasan Upacara Adat Merti Umbul Pengantin. (Endarwati/KIM Donoharjo)