Antisipasi FOMO hingga Pornografi, BKKBN DIY Gembleng Konselor Sebaya PIK-R Maguwoharjo

Sleman — Kompleksitas tantangan yang dihadapi generasi muda di era digital menuntut adanya ruang aman yang adaptif dan bebas dari penghakiman di tingkat komunitas. Guna merespons kebutuhan tersebut, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Daerah Istimewa Yogyakarta mengambil langkah strategis dengan memperkuat kapasitas para konselor sebaya. Mereka menggembleng para pengurus Pusat Informasi dan Konseling Remaja (PIK-R) Restu di Padukuhan Sambilegi Kidul, Kalurahan Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Jumat (22/5/2026).
Langkah edukasi intensif ini diarahkan untuk membekali para konselor remaja dengan pemahaman komprehensif mengenai dinamika transisi biopsikososial yang dialami teman sebaya mereka. Penguatan kapasitas ini dinilai sangat krusial mengingat posisinya sebagai ujung tombak dalam memitigasi berbagai risiko perilaku menyimpang, gangguan kesehatan mental, hingga distorsi orientasi hidup akibat paparan teknologi yang tidak terfilter.
Penyuluh Keluarga Berencana Kapanewon Depok, Enik Kisnawati, memaparkan bahwa masa remaja merupakan fase krusial yang ditandai dengan lompatan perkembangan fungsi otak, fluktuasi hormon, serta pematangan fungsi reproduksi atau pubertas. Di tingkat domestik dan sosial, perubahan fisik seperti awal menstruasi pada perempuan atau mimpi basah pada laki-laki sering kali memicu kecemasan akibat minimnya literasi biologis yang sehat.
“Remaja berada pada masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Pada fase ini, mereka mengalami banyak perubahan, baik secara fisik, psikis, sosial, maupun emosional. Perubahan tubuh tersebut merupakan bagian alami dari proses tumbuh kembang. Remaja perlu memahami bahwa perubahan anatomi dan biologis ini bukan sesuatu yang tabu atau perlu ditakuti, melainkan harus dikenali dan dikelola dengan menjaga kesehatan reproduksi secara bertanggung jawab,” ujar Enik Kisnawati saat memberikan pembekalan materi.
Enik menambahkan bahwa tantangan paling berat yang dihadapi remaja masa kini justru terletak pada aspek psikis dan tekanan eksternal ruang siber. Fenomena kecemasan sosial akibat takut tertinggal tren atau fear of missing out (FOMO), invasi konten pornografi yang mudah diakses lewat gawai, paparan budaya kekerasan virtual, hingga gaya hidup hedonis menjadi pemicu utama rapuhnya kesehatan mental generasi muda. Oleh karena itu, konselor sebaya dilatih untuk tidak hanya menjadi pendengar yang pasif, melainkan mampu mengarahkan korban tekanan mental menuju mekanisme penyelesaian masalah yang sehat.
“Remaja tidak hanya perlu sehat secara fisik, tetapi juga harus sehat secara mental. Remaja yang sehat mental diharapkan mampu mengenali emosi, mengelola tekanan kelompok, membangun kebiasaan baik, serta memiliki jaringan dukungan yang positif. Mereka harus dilatih untuk menghadapi persoalan secara jernih karena mereka tidak akan pernah terhindar dari masalah, sehingga perlu belajar menyelesaikan masalah dengan cara yang baik sejak dini tanpa merusak masa depan mereka,” tegasnya.
Melalui program peningkatan kapasitas ini, para pengurus PIK-R Restu diproyeksikan mampu mentransformasikan sekretariat mereka menjadi wadah konseling yang inklusif dan solutif. Keberadaan konselor sebaya yang cerdas, berkarakter, dan peka terhadap isu kesehatan mental diharapkan dapat menekan angka kenakalan remaja di kawasan aglomerasi Sleman, sekaligus menciptakan ekosistem lingkungan kepemudaan yang tangguh dalam menghadapi disrupsi zaman. (Athiful/KIM Depok)



