DLH Sleman Dorong Terwujudnya Sleman Bebas Sampah 2029

Sleman – Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman terus mendorong terwujudnya program strategis Sleman Resik, Sleman Bebas Sampah 2029. Berbagai upaya dilakukan untuk memperkuat sekaligus mempercepat pelaksanaan program tersebut.

Salah satu langkah yang dilakukan yakni pembentukan Petugas Pendamping Pengelola Sampah (P3S) di setiap kapanewon dan kalurahan di wilayah Kabupaten Sleman.

“Salah satu tujuan P3S adalah membentuk Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM) di setiap padukuhan,” ujar Ketua Tim Kerja Pengelolaan Persampahan DLH Kabupaten Sleman, Fitasari Ayu Wardani, saat Sosialisasi Pengelolaan Sampah di Ruang Gumregah Kapanewon Berbah, Selasa (19/5/2026).

Fitasari menjelaskan, di Kabupaten Sleman terdapat padukuhan dan belum seluruhnya memiliki KPSM. Bahkan, masih banyak padukuhan yang belum memiliki kelompok pengelola sampah mandiri. Selain itu, terdapat pula KPSM yang sudah terbentuk namun kondisinya kurang optimal, seperti berhenti beroperasi maupun berjalan tidak stabil.

Menurutnya, P3S memiliki tugas yang cukup berat, mulai dari mengaktifkan kembali KPSM yang vakum, mendampingi kelompok yang belum stabil, hingga membentuk kelompok baru di padukuhan yang belum memiliki KPSM.

“Namun, para anggota P3S sebelumnya telah dibekali berbagai persiapan sehingga diharapkan mampu menangani berbagai persoalan di lapangan sesuai kapasitas dan tugasnya,” jelasnya.

Fitasari juga menyampaikan bahwa pascapenutupan TPA Piyungan telah memunculkan paradigma baru dalam pengelolaan sampah di masyarakat. Jika sebelumnya masyarakat terbiasa menggunakan pola “bayar-angkut-buang”, kini masyarakat dituntut melakukan pemilahan sampah guna mengurangi residu yang terbuang.

Ia menambahkan, meskipun Kabupaten Sleman telah memiliki tiga Tempat Pemrosesan Sampah Terpadu (TPST) yang berada di Kalasan, Turi, dan Minggir, kapasitasnya masih belum mampu menampung seluruh sampah yang dihasilkan masyarakat.

“Untuk menekan residu sampah yang terbuang, maka pemilahan sampah dari sumbernya menjadi sangat penting,” tandas Fitasari.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak membakar sampah plastik karena berdampak buruk bagi kesehatan dan lingkungan, serta menekankan pentingnya pelaporan dalam pengelolaan sampah.

“Asap hasil pembakaran plastik mengandung zat dioksin yang dapat memicu kanker dan berbahaya bagi kesehatan. Untuk pelaporan, DLH Sleman telah menyiapkan instrumen pelaporan data pengumpulan sampah melalui aplikasi SiosEstu,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Jawatan Kemakmuran Kapanewon Berbah, Ringgo Anthoni Surya, mewakili Panewu Berbah, menyampaikan apresiasi atas pelaksanaan sosialisasi tersebut. Ia menuturkan bahwa perkembangan pembangunan dan pertumbuhan perumahan di wilayah Berbah berdampak pada meningkatnya jumlah penduduk sekaligus volume sampah yang dihasilkan.

“Untuk itu, kami memohon kerja sama semua pihak dalam pengelolaan sampah agar tercipta lingkungan Berbah yang bersih dan nyaman sebagai tempat tinggal masyarakat,” ujarnya.

P3S Kapanewon Berbah, Siti Maryamah atau yang akrab disapa Yaya juga menyampaikan komitmen P3S di Kapanewon Berbah dan empat kalurahan untuk bekerja maksimal sesuai tugas dan kapasitas dalam mendampingi pengelolaan sampah.

Ia pun mengajak pemerintah kapanewon, kalurahan, maupun padukuhan untuk terus bersinergi dalam mewujudkan pengelolaan sampah yang lebih baik di wilayah Berbah. (Kusnadi – KIM Berbah)




KPSM Maguwoharjo Olah Sampah Saset Jadi Barang Bernilai

Sleman – Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM) Kalurahan Maguwoharjo menggelar demonstrasi pemanfaatan sampah saset menjadi barang bernilai guna, di Gedung Pertemuan TPQ Pasekan, Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Rabu (20/5/2026). Kegiatan tersebut diikuti pengurus KPSM dari 20 padukuhan di wilayah Kalurahan Maguwoharjo.

Ketua KPSM Maguwoharjo, Suwanti, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah rumah tangga, khususnya sampah kemasan saset yang selama ini sulit terurai dan kerap menjadi persoalan lingkungan.

“Sampah saset sebenarnya masih bisa dimanfaatkan menjadi barang yang berguna apabila dikelola dengan baik. Melalui kegiatan ini, kami ingin menunjukkan bahwa sampah tidak selalu harus dibuang, tetapi dapat diolah menjadi produk yang memiliki nilai guna,” ujarnya.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan contoh langsung pemanfaatan saset bekas kopi instan, pop ice, energen, dan kemasan sejenis untuk dibuat menjadi berbagai produk, seperti tempat tisu, tas ransel, tikar, dan barang kerajinan lainnya.

Suwanti menjelaskan, demonstrasi tersebut tidak hanya bertujuan memberi keterampilan teknis kepada pengurus KPSM, tetapi juga mendorong setiap padukuhan agar dapat mengembangkan gerakan pengelolaan sampah secara mandiri.

Menurutnya, pengurus KPSM di tingkat padukuhan memiliki peran penting dalam mengedukasi masyarakat agar lebih peduli terhadap pemilahan dan pemanfaatan sampah.

Ia menambahkan, pengolahan sampah saset menjadi barang berguna juga dapat menjadi langkah kecil untuk mengurangi volume sampah yang masuk ke tempat pembuangan. Selain itu, kegiatan tersebut dapat membuka peluang kreativitas dan pemberdayaan masyarakat apabila dilakukan secara berkelanjutan.

“Kami berharap kegiatan ini memberi manfaat bagi Kabupaten Sleman, terutama dalam menghadapi persoalan sampah. Dari tingkat kalurahan, kami ingin ikut berkontribusi mengurangi sampah dan mengajak masyarakat lebih peduli terhadap lingkungan. Semoga gerakan ini dapat terus berkembang di setiap padukuhan,” pungkasnya. (Athiful/KIM Depok)




Sinergi TNI-Polri Dukung Rehabilitasi Jaringan Irigasi di Gamping

Sleman – Kehadiran aparat keamanan dan kewilayahan dalam kegiatan pembangunan masyarakat kembali terlihat dalam Sosialisasi Rehabilitasi Jaringan Irigasi yang diselenggarakan oleh Dinas Pekerjaan Umum, Perumahan dan Energi Sumber Daya Mineral (DPUPESDM) DIY, di Aula Kalurahan Trihanggo, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Rabu (19/5/2026).

Sosialisasi yang dipandu oleh Ulu-Ulu Trihanggo, Nurharyanto, dihadiri perangkat kalurahan, kepala padukuhan, pengelola jaringan irigasi di wilayah padukuhan Trini, serta Bhabinkamtibmas dan Babinsa. Hal tersebut sebagai bentuk nyata sinergi lintas sektor dalam mendukung pembangunan infrastruktur yang menyentuh langsung kebutuhan warga, khususnya sektor pertanian.

Keikutsertaan Bhabinkamtibmas dan Babinsa dalam kegiatan itu dinilai penting untuk mendukung kelancaran program rehabilitasi, sekaligus memperkuat komunikasi antara pemerintah dan masyarakat. Peran mereka dinilai strategis dalam membantu menyampaikan informasi kepada masyarakat, sekaligus menjadi jembatan komunikasi apabila terdapat aspirasi maupun kendala di lapangan.

Perwakilan Dinas PUPESDM, Beni Harmoko, menjelaskan bahwa rehabilitasi jaringan irigasi dilakukan guna meningkatkan fungsi saluran air yang mengalami kerusakan maupun penurunan kualitas akibat sedimentasi dan faktor usia bangunan. Program tersebut diharapkan mampu memperlancar distribusi air menuju area persawahan, sehingga produktivitas pertanian masyarakat tetap terjaga.

“Melalui program rehabilitasi, pemerintah berharap jaringan irigasi mampu kembali berfungsi secara maksimal sehingga mampu menunjang produktivitas pertanian masyarakat. Infrastruktur pengairan yang baik menjadi salah satu faktor utama dalam menjaga stabilitas hasil panen, efisiensi penggunaan air, serta mengurangi potensi konflik distribusi air antarwilayah pertanian,” ujar Beni.

Selain menjelaskan aspek teknis pekerjaan rehabilitasi, sosialisasi juga menjadi sarana edukasi mengenai pentingnya menjaga keberlangsungan infrastruktur irigasi. Warga dan kelompok tani diajak untuk turut melakukan pengawasan, menjaga kebersihan saluran, serta menghindari aktivitas yang dapat merusak bangunan irigasi maupun menghambat aliran air.

Sementara itu, keikutsertaan Bhabinkamtibmas dan Babinsa dalam kegiatan tersebut sebagai upaya penguatan pengawasan sosial di tengah masyarakat. Dengan kedekatan mereka kepada warga, aparat di tingkat wilayah dinilai mampu membantu menciptakan situasi aman dan mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga fasilitas umum, termasuk jaringan irigasi.

Selain itu, keterlibatan aparat kewilayahan diharapkan dapat meminimalisasi potensi kesalahpahaman maupun persoalan sosial selama proses rehabilitasi berlangsung. Komunikasi yang baik antara pemerintah, pelaksana kegiatan, dan masyarakat menjadi faktor penting agar pembangunan dapat berjalan lancar, tepat sasaran, serta memberikan manfaat jangka panjang bagi warga.

Pemerintah Kalurahan Trihanggo melalui Ulu-Ulu, Nurharyanto, menyampaikan apresiasi atas dukungan semua pihak, termasuk unsur TNI dan Polri, yang selama ini aktif mendampingi berbagai kegiatan masyarakat. Menurutnya, keberadaan Babinsa dan Bhabinkamtibmas memberikan rasa aman sekaligus memperkuat koordinasi di tingkat akar rumput, terutama dalam program pembangunan berbasis kebutuhan masyarakat. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




UNY Perkuat Pembinaan MTQ Mahasiswa

Sleman – Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) rutin menggelar pembinaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) di Selasar Masjid Al-Mujahidin UNY, Rabu (20/5/2026). Kegiatan tersebut dikhususkan pada penguatan kemampuan mahasiswa dalam cabang Musabaqah Karya Tulis Ilmiah Al-Qur’an (KTIQ).

Koordinator MTQ UNY, Tsania Nur Diyana mengatakan pembinaan KTIQ menjadi bagian penting dalam menyiapkan mahasiswa agar mampu menghasilkan karya ilmiah yang orisinal, sistematis, dan memiliki relevansi dengan nilai-nilai Al-Qur’an.

“KTIQ bukan hanya menuntut kemampuan menulis, tetapi juga menguji daya kritis, kedalaman analisis, dan kemampuan peserta dalam mengaitkan nilai-nilai Al-Qur’an dengan ilmu pengetahuan modern serta isu-isu sosial kontemporer,” ujarnya.

Ia menjelaskan, KTIQ merupakan salah satu cabang kompetisi dalam MTQ yang mewajibkan peserta menyusun karya ilmiah berbasis kajian Al-Qur’an. Melalui cabang ini, mahasiswa didorong untuk tidak hanya memahami teks keagamaan, tetapi juga mampu merumuskan gagasan ilmiah yang menjawab persoalan aktual di masyarakat.

Menurutnya, terdapat sejumlah aspek penting yang menjadi perhatian dalam penilaian KTIQ. Aspek materi mencakup relevansi tema, kedalaman analisis, serta integrasi nilai-nilai Al-Qur’an. Selain itu, peserta juga dinilai dari logika dan organisasi tulisan, sistematika penulisan, struktur argumen, kaidah bahasa, serta kemampuan presentasi.

“Peserta harus mampu menyampaikan gagasan secara jelas, menggunakan bahasa ilmiah yang baik, serta siap menjawab pertanyaan atau sanggahan dari dewan juri. Karena itu, pembinaan tidak hanya berfokus pada penulisan, tetapi juga pada penguatan argumentasi dan presentasi,” katanya.

Pembinaan tersebut, katanya, menjadi upaya menjaga tradisi prestasi UNY dalam ajang MTQ. Kontingen UNY sebelumnya berhasil meraih Juara Umum Ketiga pada MTQ Mahasiswa Nasional, Juara 1 KTIQ MTQ Mahasiswa Internasional se-Asia Tenggara, serta Juara Umum MTQ Asosiasi MIPA LPTK Indonesia (AMLI).

“Prestasi tersebut menjadi motivasi bagi mahasiswa untuk terus meningkatkan kualitas karya dan kesiapan berkompetisi,” ujarnya.

Tsania berharap pembinaan MTQ UNY dapat melahirkan peserta yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menghadirkan gagasan Qur’ani yang kontekstual, ilmiah, dan bermanfaat bagi masyarakat. (Athiful/KIM Depok)




‘Aisyiyah Luncurkan TK ABA Semesta Berstandar Global

Sleman – Kabupaten Sleman menjadi lokasi soft launching Taman Kanak-Kanak ‘Aisyiyah Bustanul Athfal (TK ABA) Semesta yang digelar Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah, dalam puncak Milad ke-109 ‘Aisyiyah. Kegiatan tersebut berlangsung di Mejing Kidul, Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Selasa (19/5/2026).

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, mengatakan bahwa kehadiran TK ABA Semesta menjadi tonggak penting dalam perjalanan panjang pendidikan anak usia dini yang dirintis ‘Aisyiyah.

“Hari ini hadir TK yang diharapkan berstandar global. Ini juga merupakan wujud tajdid ‘Aisyiyah yang lahir dari UNISA untuk ‘Aisyiyah Semesta,” ujarnya.

Menurutnya, dari lebih dari TK ABA di seluruh Indonesia, perlu ada lembaga yang menonjol dan menjadi pusat keunggulan. TK ABA Semesta diharapkan dapat menjadi rujukan pengembangan mutu sekaligus terintegrasi dengan TK ABA lain di berbagai daerah.

“‘Aisyiyah adalah pelopor taman kanak-kanak. Kita harus mampu menjaga kepeloporan itu dan tetap menjadi yang terdepan dalam penyediaan pendidikan bermutu bagi anak-anak,” katanya.

Rektor Universitas ‘Aisyiyah (UNISA) Yogyakarta, Warsiti menyampaikan rasa syukur atas terlaksananya soft launching tersebut. Ia menyebut, kehadiran TK ABA Semesta menjadi hadiah istimewa dalam Milad ke-109 ‘Aisyiyah.

“Pembangunan ini masih perlu terus diselesaikan. Kami mohon doa dan dukungan untuk keberlanjutan pembangunan TK ABA Semesta,” ucapnya.

 Ia menjelaskan, perjalanan TK ABA sejak awal berdiri pada 1919 yang digagas Nyai Walidah menunjukkan transformasi besar dalam dunia pendidikan anak.

Dari bangunan sederhana, gerakan pendidikan tersebut berkembang menjadi jaringan luas yang memberi kontribusi penting bagi pembinaan generasi sejak usia dini.

“Dari bangunan kecil menjadi bangunan yang megah, semegah harapan anak-anak kita untuk mendapatkan pendidikan yang baik di masa depan,” ujarnya.

Dalam kesempatan tersebut, Warsiti berharap TK ABA Semesta di Kabupaten Sleman dapat menjadi barometer pengembangan TK ABA di Indonesia.

Kehadiran lembaga tersebut diharapkan memperkuat kualitas pendidikan anak usia dini, sekaligus mendukung Kabupaten Sleman sebagai daerah yang memberi ruang bagi tumbuhnya layanan pendidikan bermutu. (Athiful/KIM Depok)