Outbound Berkarakter Perkuat Nilai Positif Siswa SD Muhammadiyah Banyuraden

Sleman – Outbound Berkarakter SD Muhammadiyah Banyuraden digelar di Karangsari Outbound, Kabupaten Sleman, Selasa (19/5/2026). Kegiatan ini diikuti siswa kelas 1, 2, dan 3 sebagai upaya menanamkan nilai disiplin, tanggung jawab, kerja sama, kejujuran, percaya diri, serta jiwa kepemimpinan sejak dini.

Kepala SD Muhammadiyah Banyuraden, Maria Ulfa, mengatakan bahwa kegiatan outbound menjadi bagian dari pembelajaran karakter yang dikemas secara menyenangkan, edukatif, dan bermakna bagi peserta didik.

“Melalui kegiatan ini, kami berharap terbentuk karakter siswa SD Muhammadiyah Banyuraden yang kuat, tidak hanya secara akademik, tetapi juga memiliki sikap, perilaku baik, dan nilai-nilai Islami dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Menurutnya, pendidikan karakter perlu ditanamkan melalui pengalaman langsung agar siswa tidak hanya memahami nilai kebaikan secara teori, tetapi juga mampu mempraktikkannya dalam interaksi bersama teman, guru, dan lingkungan sekolah.

Ia menjelaskan, kegiatan outbound juga menjadi sarana untuk meningkatkan rasa kebersamaan dan mempererat hubungan antara murid, guru, serta seluruh warga SD Muhammadiyah Banyuraden. Melalui permainan edukatif dan aktivitas kelompok, siswa dilatih untuk saling membantu, menghargai, dan bekerja sama.

Dalam kesempatan tersebut, siswa mengikuti berbagai aktivitas luar ruang yang dirancang untuk membangun keberanian, kekompakan, dan kemandirian. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi ruang refreshing edukatif bagi siswa agar proses belajar tetap menyenangkan dan tidak terbatas pada ruang kelas.

Pembentukan karakter siswa, katanya, harus dilakukan secara konsisten melalui kegiatan yang dekat dengan dunia anak. Dengan cara itu, nilai-nilai positif seperti disiplin, tanggung jawab, jujur, kerja sama, percaya diri, dan kepemimpinan dapat tumbuh secara alami.

“Anak-anak perlu mendapatkan pengalaman belajar yang menyenangkan dan bermakna. Dari kegiatan seperti ini, mereka belajar bekerja sama, berani mencoba, bertanggung jawab, dan percaya pada kemampuan dirinya,” katanya.

Ia menambahkan, outbound berkarakter juga menjadi bagian dari upaya sekolah dalam memperkuat citra positif di tengah masyarakat. SD Muhammadiyah Banyuraden ingin menunjukkan bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan akhlak, karakter, dan kepribadian siswa.

Melalui kegiatan tersebut, Maria Ulfa berharap siswa SD Muhammadiyah Banyuraden mampu tumbuh menjadi pribadi yang mandiri, percaya diri, berakhlak Islami, serta mampu menerapkan nilai-nilai positif dalam kehidupan sehari-hari di sekolah, keluarga, dan masyarakat. (Athiful/KIM Depok)




Dinas PMK Kabupaten Sleman Tekankan RKPKal 2027 Tepat Sasaran

Sleman – Penyusunan Rencana Kerja Pemerintah Kalurahan (RKPKal) Tahun 2027 di Maguwoharjo ditekankan agar berjalan partisipatif, terukur, dan benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat.

Penekanan tersebut disampaikan Kepala Bidang Administrasi, Keuangan, dan Aset Kalurahan Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kalurahan (PMK) Kabupaten Sleman, Y. Purnama Kristiawan, dalam Musyawarah Kalurahan di Pendopo Maguwoharjo, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Selasa (19/5/2026).

Purnama mengatakan bahwa musyawarah kalurahan menjadi tahapan penting dalam menyusun arah pembangunan tahun 2027 agar sesuai dengan prioritas dan kemampuan anggaran.

“Penyusunan RKPKal harus dilakukan secara cermat, transparan, dan berdasarkan kebutuhan masyarakat. Setiap usulan perlu dibahas bersama agar program yang direncanakan benar-benar tepat sasaran dan memberi manfaat bagi warga,” ujarnya.

Menurutnya, pemerintah kalurahan perlu memastikan setiap rencana kegiatan memiliki dasar kebutuhan yang jelas, dapat dilaksanakan, serta selaras dengan regulasi dan arah kebijakan pembangunan daerah.

“Dengan cara itu, RKPKal tidak hanya menjadi dokumen perencanaan, tetapi juga pedoman kerja yang mampu mendorong peningkatan kualitas pelayanan kepada masyarakat,” ungkapnya.

Ia menjelaskan, musyawarah kalurahan menjadi ruang bersama untuk menyelaraskan berbagai usulan dari padukuhan. Usulan tersebut perlu dipetakan berdasarkan tingkat urgensi, manfaat, kemampuan pendanaan, serta dampaknya terhadap peningkatan kesejahteraan warga.

Dalam kesempatan tersebut, sejumlah usulan kegiatan dari padukuhan di Maguwoharjo turut menjadi bahan pembahasan. Berdasarkan materi Muskal RKP 2027, usulan yang dibahas mencakup kegiatan infrastruktur serta pemberdayaan dan pembinaan masyarakat dari berbagai padukuhan.

Pada bidang infrastruktur, usulan kegiatan antara lain meliputi pembangunan dan perbaikan drainase, pengaspalan jalan, konblokisasi, pembangunan talud, penerangan jalan umum, pembangunan balai padukuhan, hingga sarana pendukung lingkungan.

“Sementara pada bidang pemberdayaan dan pembinaan, usulan kegiatan meliputi pelatihan membatik, pelatihan MC, pembinaan karang taruna, pembinaan kelompok tani, penguatan bank sampah, pelatihan kewirausahaan, dukungan posyandu, serta kegiatan kelompok masyarakat,” katanya.

Pembahasan usulan tersebut, katanya, perlu dilakukan secara selektif agar kegiatan yang masuk dalam RKPKal benar-benar menjadi prioritas. Pemerintah kalurahan bersama unsur masyarakat diharapkan mampu menentukan program secara objektif, terbuka, dan bertanggung jawab.

“Musyawarah ini bukan sekadar menyusun daftar kegiatan, tetapi memastikan setiap rencana memiliki dasar kebutuhan yang kuat, manfaat yang jelas, dan dapat dipertanggungjawabkan,” katanya.

Ia menambahkan, keterlibatan masyarakat menjadi kunci penting dalam perencanaan pembangunan kalurahan. Melalui forum musyawarah, warga memiliki ruang untuk menyampaikan kebutuhan, memberi masukan, sekaligus ikut mengawal arah pembangunan di wilayahnya.

Melalui Musyawarah Kalurahan Penyusunan RKPKal Tahun 2027 tersebut, Purnama berharap Pemerintah Kalurahan Maguwoharjo dapat menyusun program yang lebih terarah, partisipatif, dan berdampak langsung bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. (Athiful/KIM Depok)




SMP Muhammadiyah 2 Prambanan Perkuat Karakter Siswa

Sleman – Penguatan karakter siswa menjadi perhatian penting dalam pembinaan peserta didik di SMP Muhammadiyah 2 Prambanan, Kabupaten Sleman, Selasa (19/5/2026).

Kegiatan ini diarahkan untuk membentuk siswa yang cerdas, santun, berintegritas, serta memiliki kepedulian sosial.

Kepala SMP Muhammadiyah 2 Prambanan, Eko Priyantoro, mengatakan bahwa pendidikan tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga membentuk perilaku siswa agar mampu berpikir, bersikap, dan bertindak sesuai nilai Pancasila serta nilai luhur bangsa Indonesia.

“Pendidikan harus membentuk siswa agar mampu berpikir baik, berhati baik, dan berperilaku baik. Karakter yang kuat menjadi bekal penting bagi siswa dalam kehidupan di sekolah, keluarga, maupun masyarakat,” ujarnya.

Menurutnya, penguatan karakter perlu dilakukan secara menyeluruh melalui pembiasaan olah pikir, olah rasa, olah hati, dan olah raga.

Upaya tersebut membutuhkan kerja sama antara sekolah, keluarga, dan masyarakat agar nilai-nilai positif dapat tumbuh secara konsisten dalam diri peserta didik.

Eko menjelaskan, guru memiliki peran penting sebagai teladan sekaligus fasilitator dalam membangun budaya sekolah yang tertib, santun, dan bertanggung jawab.

Melalui keteladanan tersebut, siswa diharapkan mampu memahami nilai karakter bukan hanya sebagai nasihat, tetapi sebagai kebiasaan dalam kehidupan sehari-hari. Pembentukan karakter siswa, katanya, juga perlu diperkuat melalui nilai-nilai luhur dan budaya lokal.

Dengan cara itu, peserta didik di Kabupaten Sleman diharapkan tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan sosial.

Eko pun menekankan tiga hal penting yang perlu dibudayakan siswa. Pertama, etika berkomunikasi dengan guru menggunakan bahasa yang baik dan santun.

Kedua, etika mengontrol diri dengan membiasakan sikap merawat, bukan merusak. Ketiga, etika menempatkan diri dengan menggunakan setiap fasilitas sesuai fungsi dan kegunaannya.

“Hal-hal sederhana seperti berbicara santun, menjaga fasilitas sekolah, dan menggunakan sesuatu sesuai fungsinya merupakan bagian dari pendidikan karakter yang harus dibiasakan sejak dini,” katanya.

Eko menambahkan, pembiasaan karakter tidak dapat dilakukan secara instan, tetapi perlu dibangun melalui proses yang berkelanjutan. Sekolah menjadi ruang penting untuk menanamkan kedisiplinan, tanggung jawab, kepedulian, dan sikap saling menghargai antarsesama.

Melalui penguatan karakter tersebut, Eko berharap peserta didik SMP Muhammadiyah 2 Prambanan mampu tumbuh menjadi generasi yang berakhlak baik, disiplin, menghargai sesama, serta mampu berkontribusi positif bagi keluarga, sekolah, dan masyarakat. (Athiful/KIM Depok)




Donor Darah Rutin PMI Depok Himpun 50 Kantong Darah di Condongcatur

Sleman – PMI Kapanewon Depok bersama Pemerintah Kalurahan Condongcatur dan PMI Kabupaten Sleman kembali menggelar kegiatan donor darah rutin triwulan kedua tahun 2026, Selasa (19/5/2026), di Ruang Wacanaloka Kalurahan Condongcatur.

Donor darah rutin ini dilaksanakan setiap tiga bulan sekali dan kali ini bertepatan dengan program pelayanan terpadu “SEMANIS MADU” (Selasa Melayani Semua, Mudah dan Terpadu) di Pendopo Kalurahan Condongcatur. Masyarakat dapat mengakses berbagai layanan publik dalam satu lokasi, seperti perpanjangan SIM, layanan Samsat, BNN Sleman, pemeriksaan kesehatan gratis, hingga donor darah.

PMI Kabupaten Sleman menerjunkan lima petugas Unit Donor Darah (UDD) dengan dukungan empat bed donor dan 60 kantong darah. Dari total 60 peserta yang hadir, sebanyak 50 orang berhasil mendonorkan darahnya, sedangkan 10 peserta lainnya belum memenuhi syarat kesehatan.

Rincian darah yang terkumpul meliputi 11 kantong golongan A, 26 kantong golongan B, 12 kantong golongan O, dan 1 kantong golongan AB.

Ketua PMI Kapanewon Depok, Sussilistyaningsih mengatakan bahwa donor darah merupakan bentuk kepedulian sosial sekaligus upaya membantu menjaga ketersediaan stok darah.

“Donor darah bukan hanya membantu memenuhi kebutuhan stok darah, tetapi juga menjadi bentuk nyata kepedulian sosial dan semangat kemanusiaan,” ujarnya.

Ia menambahkan, PMI Kapanewon Depok terus mengajak berbagai instansi dan masyarakat untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan donor darah sukarela.

Kegiatan ini mendapat dukungan dari berbagai pihak, di antaranya Pemerintah Kapanewon Depok, Pemerintah Kalurahan Condongcatur, Polda DIY, Polsek jajaran Depok, Puskesmas Depok, Lanud Adisutjipto, Akademi Angkatan Udara, Koramil 11, Yonif 403, serta sejumlah mitra lainnya.

Selain mendukung ketersediaan stok darah, kegiatan ini juga menjadi bagian dari Program Lada Manis (Layanan Darah Sleman Gratis), yaitu program Pemerintah Kabupaten Sleman bersama PMI Sleman untuk memberikan layanan darah gratis bagi warga ber-KTP Sleman yang membutuhkan transfusi darah.

Humas Condongcatur, Wasana menyampaikan bahwa kegiatan donor darah ini merupakan ruang kolaborasi sosial yang memperkuat kepedulian dan semangat gotong royong masyarakat.

“Kami mengapresiasi seluruh mitra, relawan, dan warga yang terus mendukung kegiatan kemanusiaan ini,” ungkapnya.

Pemerintah Kalurahan Condongcatur menyampaikan apresiasi kepada seluruh relawan, mitra, dan masyarakat yang telah mendukung kegiatan kemanusiaan tersebut. PMI Kapanewon Depok bersama Pemerintah Kalurahan Condongcatur berencana kembali menggelar donor darah rutin pada Agustus 2026 mendatang. (Wasana / KIM Depok)




Psikolog UGM Tekankan Pendampingan Gawai Sehat bagi Anak

Sleman – Psikolog Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Sylvi Dewajani, menekankan pentingnya pendampingan penggunaan gawai secara sehat dalam tumbuh kembang anak. Hal itu disampaikannya dalam acara Sarasehan Hari Kebangkitan Nasional, Senin (18/5/2026), di Gedung Pracimasana Lantai 2 Komplek Kepatihan Danurejan, Yogyakarta.

Menurutnya, gawai telah menjadi bagian dari kehidupan anak-anak. Namun, penggunaannya perlu dikendalikan agar tidak mengganggu perkembangan fisik, mental, emosi, sosial, dan kemampuan konsentrasi anak.

Sylvi menegaskan bahwa tantangan utama saat ini bukan hanya anak semakin dekat dengan teknologi, tetapi juga minimnya literasi digital orang tua dan anak. Kondisi tersebut membuat peran orang tua dan guru sangat dibutuhkan dalam memberi arahan, membuat aturan, serta mendampingi anak saat menggunakan gawai.

“Gawai adalah alat. Jangan sampai anak justru diperalat oleh gawai,” tegasnya.

Sylvi menjelaskan, penggunaan gawai yang tidak terarah dapat memunculkan sejumlah risiko, mulai dari kecanduan, menurunnya aktivitas fisik, melemahnya kepekaan sosial, gangguan konsentrasi, hingga paparan konten negatif seperti perundungan siber, pornografi, kekerasan, dan pelecehan seksual daring.

Ia menekankan bahwa pendampingan tidak cukup dilakukan dengan larangan. Orang tua perlu membangun komunikasi sejak awal, memahami apa yang dipikirkan dan dirasakan anak, serta menyusun aturan penggunaan gawai secara konsekuen dan konsisten.

Sylvi juga mengingatkan pentingnya menyeimbangkan aktivitas anak. Anak perlu tetap memiliki ruang untuk bergerak, bermain, bersosialisasi, mengelola emosi, berpikir, dan berinteraksi langsung dengan lingkungan sekitar.

“Anak membutuhkan aktivitas yang sehat secara fisik, mental, emosi, dan sosial. Karena itu, penggunaan gawai harus diimbangi dengan kegiatan nyata yang mendukung tumbuh kembangnya,” jelasnya.

Sylvi turut memaparkan aturan penggunaan gawai sesuai usia. Anak usia 0–2 tahun sebaiknya tidak diberikan gawai dan lebih diarahkan pada stimulasi motorik, sensorik, komunikasi langsung, serta interaksi tatap muka. Untuk usia 3–5 tahun, penggunaan gawai perlu dibatasi, didampingi penuh, dan diarahkan pada konten pendidikan serta stimulasi perkembangan.

Sementara itu, anak usia 6–12 tahun dapat menggunakan gawai untuk kebutuhan sekolah, kreativitas, dan literasi dasar dengan pengawasan orang dewasa. Pada usia remaja, pengawasan tetap diperlukan, terutama terkait media sosial, keamanan data, jejak digital, dan risiko layanan digital.

Ia menambahkan, orang tua perlu mengenali media sosial yang digunakan anak, terlibat dalam diskusi tentang informasi yang sedang berkembang, serta menyepakati aplikasi yang boleh dan tidak boleh digunakan. Aturan tersebut sebaiknya berbentuk panduan bersama, bukan sekadar larangan sepihak.

Melalui pendampingan yang tepat, penggunaan gawai dapat diarahkan menjadi sarana belajar, komunikasi, dan kreativitas. Dengan demikian, anak tetap mampu memanfaatkan teknologi tanpa kehilangan kontak sosial, empati, dan keseimbangan tumbuh kembangnya. (Athiful/KIM Depok)