Kelompok Disabilitas Condongcatur Dilatih Urban Farming dan Teknologi Biopori

Sleman — Penyandang disabilitas memiliki hak dan potensi yang sama untuk berkontribusi dalam menjaga kelestarian lingkungan serta membangun kemandirian ekonomi dari rumah. Menjawab tantangan tersebut, sebuah kolaborasi lintas sektor yang melibatkan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Institut Pertanian Stiper (Instiper) Yogyakarta, Perkumpulan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI) Condongcatur, Hidimu, dan Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Depok menggelar pelatihan pemanfaatan lahan sempit untuk bercocok tanam di Balai Dusun Gejayan, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, Sabtu (16/5/2026).
Agenda pemberdayaan ini diikuti oleh puluhan penyandang disabilitas yang hadir bersama para pendamping keluarga, kader sosial, serta pengurus PPDI Condongcatur. Kehadiran perwakilan Pemerintah Kalurahan Condongcatur dalam forum tersebut menegaskan komitmen birokrasi lokal dalam mendukung terciptanya ruang publik yang inklusif, ramah difabel, sekaligus produktif melalui konsep pertanian perkotaan (urban farming).
Dosen Fakultas Kehutanan Instiper Yogyakarta, M. Darul Falah, yang hadir sebagai pemateri utama, membekali para peserta dengan dua basis keilmuan praktis, yakni gerakan Go Green dan pengaplikasian teknologi biopori. Melalui materi Go Green, peserta diajak mengadopsi gaya hidup ramah lingkungan melalui prinsip 3R (Reduce, Reuse, Recycle) untuk menekan volume sampah domestik serta menghemat pemakaian sumber daya air tanah.
“Gaya hidup ramah lingkungan adalah tanggung jawab kita bersama tanpa terkecuali. Melalui teknologi biopori, kita membuat lubang silindris vertikal ke dalam tanah sedalam satu meter dengan diameter 10 hingga 30 sentimeter. Lubang ini kemudian diisi sampah organik rumah tangga untuk memicu aktivitas fauna tanah seperti cacing. Saluran-saluran alami yang terbentuk dari aktivitas biota tanah inilah yang akan mengoptimalkan resapan air hujan, mencegah genangan banjir, sekaligus menyuburkan pekarangan rumah walau areanya sangat terbatas,” ujar M. Darul Falah saat memandu jalannya praktik pembuatan biopori.
Antusiasme peserta melonjak saat memasuki sesi simulasi lapangan. Dengan dipandu tim instruktur, para penyandang disabilitas didampingi kadernya mempraktikkan langsung cara mengebor tanah, memasang pipa paralon berlubang, hingga memasukkan sampah organik. Keterampilan mekanis ini sengaja diajarkan agar dapat diadopsi dengan mudah di lingkungan tempat tinggal masing-masing peserta.
Ketua PPDI Condongcatur, Setyawati Marheni, menyampaikan bahwa program ini menjadi pembuktian bahwa keterbatasan fisik tidak boleh menjadi sekat pembatas bagi seseorang untuk terus belajar dan berkarya. Kemampuan mengelola pangan mandiri di pekarangan rumah dinilai menjadi langkah awal yang baik untuk mendongkrak rasa percaya diri serta ketahanan ekonomi keluarga difabel.
“Kami ingin menunjukkan bahwa keterbatasan fisik bukanlah penghalang untuk berkarya, belajar, dan berkebun. Harapannya kegiatan ini dapat memberikan manfaat nyata bagi teman-teman disabilitas agar mereka bisa lebih mandiri, produktif, dan ikut ambil bagian dalam merawat lingkungan sekitarnya. Sinergi antara perguruan tinggi dan organisasi sosial seperti ini sangat kami butuhkan untuk terus membuka peluang-peluang baru bagi komunitas difabel,” tutur Setyawati Marheni.
Melalui pelatihan terpadu ini, hubungan kemitraan antara akademisi, aparatur kalurahan, dan organisasi kemasyarakatan di Sleman diharapkan semakin solid. Investasi keilmuan yang diberikan kepada kelompok rentan ini menjadi potret nyata bagaimana pembangunan daerah berbasis lingkungan hidup dapat berjalan beriringan dengan pemenuhan hak-hak kesetaraan bagi seluruh warga negara. (Tri Suhartati/KIM Depok)



