Kesbangpol Sleman Gembleng Warga Minggir Lewat Latsar Bela Negara

Sleman — Tantangan pertahanan negara saat ini telah bergeser dari ancaman konvensional menjadi ancaman digital yang menyasar ruang-ruang siber dan pola pikir masyarakat. Menanggapi situasi tersebut, Pemerintah Kabupaten Sleman melalui Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) mengambil langkah preventif dengan menggelar Latihan Dasar (Latsar) Bela Negara di Kalurahan Sendangagung, Kapanewon Minggir, Kabupaten Sleman, Senin (18/5/2026).

Kegiatan yang mengusung tema peneguhan bela negara di era digital untuk menjaga persatuan bangsa ini diikuti oleh 75 peserta yang merupakan perwakilan warga dari berbagai kalurahan di wilayah Kapanewon Minggir. Program strategis ini terselenggara berkat kerja sama sinergis antara Badan Kesbangpol Sleman dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Sleman melalui fasilitasi pokok-pokok pikiran dari anggota dewan, Untung Basuki Rahmat.

Lurah Sendangagung, Raden Heru Prasetya Wibawa, dalam sambutannya mengingatkan bahwa platform digital dan media sosial kini menjadi medan pertempuran baru yang sangat rentan memecah belah kerukunan warga. Di tengah derasnya arus informasi yang tidak terbendung, ia meminta para peserta untuk menjadi motor penggerak literasi digital di lingkungan keluarga dan tetangga guna menolak segala bentuk propaganda negatif, termasuk penyebaran berita bohong.

“Kami mengimbau masyarakat untuk melaksanakan bela negara di era digital ini dengan baik. Jangan sampai terjerumus pada hal-hal negatif seperti judi online yang sedang marak dan merusak sendi-sendi ekonomi keluarga. Saring setiap informasi sebelum dibagikan, serta gunakan teknologi ini untuk hal-hal yang produktif dan mempererat silaturahmi, bukan untuk memicu konflik,” ujar Raden Heru Prasetya Wibawa di hadapan para peserta.

Pandangan senada disampaikan oleh perwakilan dari Badan Kesbangpol Sleman, Hendri Setiawan. Pihaknya menegaskan bahwa latsar ini bertujuan untuk membangun imunitas mental masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh konten-konten radikalisme, ujaran kebencian, maupun polarisasi politik di dunia maya. Penguasaan diri dalam memilah informasi dinilai sebagai wujud konkret bela negara modern bagi warga sipil.

“Di era digital seperti saat ini kita harus bisa semaksimal mungkin menyaring berbagai informasi yang masuk ke gawai kita. Dengan latsar bela negara ini bisa menjadi dasar kita untuk bersikap dan bertindak secara bijak, bertanggung jawab, serta selalu menempatkan kepentingan keutuhan bangsa di atas kepentingan pribadi atau golongan,” kata Hendri Setiawan.

Pendidikan karakter kebangsaan ini dijadwalkan berlangsung secara intensif selama tiga hari hingga Rabu (20/5/2026) mendatang. Untuk memberikan pemahaman yang komprehensif, panitia menghadirkan para pakar dari berbagai disiplin ilmu guna mengisi sesi pembekalan materi materi strategis, mulai dari hukum, hak asasi manusia, hingga sistem pertahanan semesta.

Pada hari pertama, peserta mendapatkan materi seputar jaminan Hak Asasi Manusia (HAM) berdasarkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 yang disampaikan oleh perwakilan Bagian Hukum Sekretariat Daerah Sleman, Yudha Prasetia Bhakti. Ia menekankan bahwa pemahaman hukum yang baik akan melahirkan warga negara yang berdaya dan mampu menghormati hak sesama demi tegaknya pilar demokrasi.

Selanjutnya, akademisi dari UPN Veteran, Hari Kusuma Satria Negara, memberikan materi mengenai metodologi penumbuhan kesadaran bela negara melalui jalur non-militer. Kepatuhan terhadap hukum, pengamalan nilai Pancasila, pemakaian produk dalam negeri, serta toleransi antarumat beragama disebut sebagai manifestasi bela negara yang paling relevan saat ini. Adapun pada sesi penutup, Danramil Minggir, Kapten Inf Suparyono, membedah Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2002 tentang Pertahanan Negara guna menumbuhkan rasa tanggung jawab bersama dalam menjaga kedaulatan NKRI. (Andy Ahmad/KIM DSN Ngaglik)




Bangun Lingkungan Tanggap Darurat, Komunitas Seroja Banyuraden Gelar Pelatihan Bantuan Hidup Dasar

Sleman — Kesiapsiagaan menghadapi situasi darurat medis kini tidak lagi menjadi domain eksklusif tenaga kesehatan, melainkan mulai merambah sebagai kompetensi wajib bagi masyarakat awam. Kesadaran humanis ini mendorong Komunitas Sehat Rohani Jasmani (Seroja) Dusun Cokrowijayan, Kalurahan Banyuraden, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, untuk menggelar kajian dan pelatihan teknik Bantuan Hidup Dasar (BHD). Agenda edukasi keselamatan ini dipusatkan di Pendhapa Kekandhangan Banyuraden, Minggu (17/5/2026).

Langkah edukasi kemanusiaan ini sengaja dibidik sebagai respons atas masih tingginya angka fatalitas akibat keterlambatan penanganan awal pada kasus kegawatdaruratan di tingkat rumah tangga maupun ruang publik. Melalui pembekalan praktis ini, warga diperkenalkan pada sistem rantai penyelamatan hidup (chain of survival) untuk menghadapi berbagai skenario kritis, seperti korban pingsan mendadak, tersedak, tenggelam, hingga kasus serangan jantung koroner dan kecelakaan lalu lintas.

Narasumber utama dari Fakultas Kedokteran Universitas Islam Indonesia (UII), Shafarina Maulia Prasudia, menegaskan bahwa detik-detik awal setelah korban kehilangan kesadaran merupakan masa keemasan (golden period) yang menentukan hidup dan matinya seseorang. Ketiadaan pasokan oksigen ke otak selama lebih dari beberapa menit dapat mengakibatkan kerusakan organ permanen yang fatal apabila warga di sekitar lokasi kejadian hanya menonton tanpa melakukan tindakan kompresi dada yang benar.

“Bantuan hidup dasar merupakan keterampilan penting yang perlu dimiliki masyarakat umum. Kami ingin masyarakat memiliki pengetahuan agar mampu menyelamatkan korban dalam situasi kegawatdaruratan seperti kecelakaan, maupun kondisi tidak sadar. Dengan pemahaman yang benar, warga diharapkan tidak panik dan mampu memberikan tindakan cepat yang aman serta sesuai prosedur dasar keselamatan. Kemampuan memberikan pertolongan pertama tidak hanya menjadi tanggung jawab tenaga medis, tetapi juga membutuhkan keterlibatan masyarakat luas karena petaka bisa terjadi kapan saja dan di mana saja,” ujar Shafarina Maulia Prasudia saat memaparkan materi.

Suasana kajian berlangsung interaktif saat memasuki sesi simulasi mekanis. Menggunakan alat peraga khusus, para anggota Komunitas Seroja diajarkan tahapan sistematis dalam memberikan pertolongan. Mulai dari memastikan keamanan lingkungan sekitar terlebih dahulu (aman diri, aman lingkungan, aman pasien), mengecek tingkat respons kesadaran korban melalui metode tepuk pundak, mengaktifkan panggilan darurat medis, hingga melakukan teknik resusitasi jantung paru (RJP) dengan kedalaman dan ritme yang presisi.

Pelatihan berkala di tingkat padukuhan ini dinilai menjadi bentuk investasi sosial yang sangat berharga untuk menumbuhkan solidaritas serta kepekaan antar-tetangga. Di tengah padatnya aktivitas masyarakat urban, memiliki kelompok warga yang sigap dan berani mengeksekusi tindakan penyelamatan pertama tanpa ragu menjadi benteng pertahanan lini terdepan sebelum ambulans atau tim paramedis tiba di lokasi kejadian.

Pengurus Komunitas Seroja Banyuraden berharap gerakan literasi kesehatan ini dapat direplikasi secara masif di dusun-dusun lain dengan melibatkan cakupan peserta yang jauh lebih luas, termasuk menyasar kelompok pemuda karang taruna dan pengurus RT. Membekali masyarakat dengan keterampilan klinis dasar ini dipercaya ampuh menekan angka kematian mendadak sekaligus membangun ekosistem lingkungan desa yang aman, peduli, dan responsif terhadap keselamatan jiwa sesama manusia. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Padukan Spiritual dan Lingkungan, Puluhan Kader Fatayat NU Jepara Belajar Budidaya Kelengkeng di Sleman

Sleman — Gerakan sosial keagamaan berbasis perempuan kini semakin aktif mengambil peran dalam isu pelestarian lingkungan dan kedaulatan pangan. Semangat ini ditunjukkan oleh puluhan kader Fatayat Nahdlatul Ulama (NU) asal Tengguli, Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, yang melakukan kunjungan kerja sekaligus tadabur alam di perkebunan kelengkeng milik Kelompok Tani Gumregah, Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Kabupaten Sleman, Sabtu (16/5/2026).

Rombongan yang membawa sekitar 70 peserta tersebut sengaja memilih kawasan agrowisata Sleman utara sebagai lokasi studi tiru. Selain menyerap ilmu tata kelola pertanian berbasis komunitas, para kader badan otonom NU ini juga menggelar pengajian di tengah rindangnya hamparan pohon kelengkeng varietas New Kristal, menciptakan perpaduan antara refleksi teologis dan aksi nyata penyelamatan bumi di tengah ancaman perubahan iklim global.

Dalam sesi siraman rohani yang digelar di sela-sela petik buah, tokoh penggerak Fatayat NU, Nur Faizah, mengingatkan bahwa aktivitas merawat ekosistem pekarangan memiliki kedudukan yang sangat mulia dalam ajaran Islam. Menanam pohon pelindung maupun tanaman pangan tidak sekadar urusan pemenuhan kebutuhan ekonomi domestik, melainkan bagian dari manifestasi iman dan ibadah sosial yang bernilai pahala jariyah.

“Keutamaan menanam pohon adalah mendapat pahala yang berlipat-lipat. Apa yang ditanam akan memberi manfaat bagi banyak makhluk hidup. Setiap pohon yang tertanam akan selalu berzikir kepada Allah SWT. Selain berzikir, pohon juga memberi manfaat bagi makhluk hidup lain, mulai dari manusia yang mengonsumsi buahnya hingga hewan ternak yang memanfaatkan daunnya. Oleh karena itu, mari kita jadikan gerakan penghijauan ini sebagai bagian dari gaya hidup kader Fatayat di rumah masing-masing,” ujar Nur Faizah.

Langkah taktis Fatayat NU Jepara yang melintasi batas provinsi untuk belajar pertanian ini dinilai menjadi pemantik bagi organisasi kemasyarakatan lain agar lebih peduli pada ketahanan pangan keluarga. Pengenalan teknik penanaman vegetatif, pemupukan organik, hingga manajemen pasca-panen yang dipelajari dari petani Sleman diharapkan dapat langsung dipraktikkan oleh para kader saat kembali ke daerah asal.

Ketua Kelompok Tani Gumregah Margorejo, Supriyo Widodo, mengaku sangat terkesan dengan antusiasme yang ditunjukkan oleh organisasi perempuan pemuda NU tersebut. Kunjungan berskala besar dari luar daerah ini diakui menjadi suntikan motivasi bagi para petani lokal untuk terus mempertahankan lahan hijau mereka dari desakan alih fungsi lahan menjadi kawasan permukiman.

“Kunjungan ini menjadi kehormatan bagi kami. Ini merupakan salah satu kunjungan rombongan besar ke kebun kelengkeng kami. Terima kasih atas kebersamaan dan semangat yang dibawa rombongan Fatayat NU. Kami berharap kebun buah yang dikelola secara swadaya oleh masyarakat ini tidak hanya menjadi sumber ekonomi, tetapi juga ruang belajar bersama tentang pentingnya menjaga kelestarian alam dan memperkuat fondasi ketahanan pangan berbasis komunitas,” tutur Supriyo Widodo. (SBD/KIM Senyum Tempel)




IPSM DIY Targetkan Rampungkan Kelembagaan Tingkat Kapanewon pada 2027

Sleman — Ikatan Pekerja Sosial Masyarakat (IPSM) Daerah Istimewa Yogyakarta bergerak cepat merespons sinyal penguatan pilar-pilar sosial dari pemerintah pusat. Guna memantapkan posisinya sebagai mitra strategis Kementerian Sosial, organisasi relawan ini mencanangkan program percepatan pemutakhiran data keanggotaan serta perluasan struktur kepengurusan hingga tingkat kapanewon (kecamatan). Langkah taktis ini dibahas secara mendalam dalam pertemuan rutin IPSM DIY di Resto Puri Mataram, Kapanewon Tridadi, Kabupaten Sleman, Sabtu (16/5/2026).

Pertemuan rutin tersebut dihadiri oleh perwakilan pengurus Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) dari lima kabupaten dan kota se-DIY. Momentum konsolidasi ini dimanfaatkan untuk menyamakan persepsi mengenai arah kebijakan nasional, mengingat Direktorat Pemberdayaan Sosial Kementerian Sosial RI kini tengah memberikan atensi khusus terhadap validasi basis data relawan di tingkat bawah yang bersentuhan langsung dengan warga miskin.

Ketua IPSM DIY, Anton Sutopo, menginstruksikan seluruh jajaran pengurus di tingkat daerah untuk segera melakukan tertib administrasi. Akurasi data jumlah personel aktif menjadi hal yang mutlak dipenuhi agar program jaminan sosial dan stimulus peningkatan kapasitas dari pemerintah pusat dapat disalurkan secara tepat dan proporsional.

“Direktur Pemberdayaan Sosial memberikan perhatian serius kepada PSM karena kedudukannya sangat strategis sebagai salah satu pilar sosial. Karena itu, saya minta seluruh pengurus di masing-masing kabupaten dan kota segera melakukan pendataan anggota secara lebih akurat. Secara kelembagaan juga harus segera dibentuk sampai tingkat kapanewon. Harapannya pada tahun 2027 nanti, pendataan keanggotaan dan kelembagaan ini sudah selesai seluruhnya di seluruh wilayah DIY,” ujar Anton Sutopo di hadapan jajaran pengurus.

Anton menambahkan bahwa di tengah kompleksitas problematika sosial urban saat ini, anggota PSM dituntut memainkan tiga peran utama sekaligus secara seimbang. Peran tersebut meliputi fungsi sebagai motivator dan inisiator program kemandirian warga, dinamisator yang menggerakkan potensi gotong royong lokal, serta administrator sosial yang andal dalam mengelola data kemiskinan di tingkat kalurahan (desa).

Eksistensi PSM yang mengusung jargon “Tiada Hari Tanpa Pengabdian” ini dinilai krusial untuk meminimalkan terjadinya eror dalam penyaluran bantuan sosial, baik dari segi salah sasaran (inclusion error) maupun warga miskin yang terlewat (exclusion error). Para relawan ini bertugas mengawal proses verifikasi dan validasi data terpadu kesejahteraan sosial, memantau distribusi bantuan pangan non-tunai, hingga melakukan pendampingan khusus bagi lansia sebatangkara dan penyandang disabilitas.

Sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi tanpa pamrih para relawan di lapangan, pemerintah pusat rencananya akan mengucurkan dukungan operasional melalui pemanfaatan dana dekonsentrasi. Selain itu, pemerintah juga menjadwalkan agenda rutin berkala berupa lomba pilar-pilar sosial berprestasi tingkat nasional sebagai panggung penghormatan bagi para pejuang kemanusiaan tersebut.

Konsolidasi di tingkat regional DIY ini juga menjadi jembatan menuju transisi kepemimpinan IPSM di level pusat, mengingat masa bakti kepengurusan tingkat nasional akan resmi berakhir pada akhir tahun 2026 ini. Sesuai dengan draf agenda organisasi yang telah disepakati bersama, Musyawarah Nasional (Munas) IPSM berikutnya dijadwalkan bakal digelar di Balige, Sumatera Utara, yang akan menjadi momentum krusial dalam menentukan nakhoda baru serta arah peta jalan gerakan pekerja sosial masyarakat di Indonesia. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Ratusan Takmir Ikuti Pelatihan Kurban di Sleman dan Asah 1.300 Pisau Gratis

Sleman — Menjelang perayaan Hari Raya Iduladha 1447 Hijriah, kesiapan teknis dan pemahaman syariat dalam menyembelih hewan kurban menjadi perhatian serius bagi para pengurus masjid di berbagai daerah. Merespons kebutuhan tersebut, ratusan masyarakat dan takmir masjid memadati area Masjid Sultan Agung Babadan Baru, Kentungan, Kalurahan Condongcatur, Kapanewon Depok, Kabupaten Sleman, untuk mengikuti Pelatihan Asah Bilah dan Manajemen Qurban, Minggu (17/5/2026).

Kegiatan edukatif ini diinisiasi secara kolaboratif oleh Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kapanewon Depok, Ikamaba Babadan Baru, Juru Sembelih Halal (Juleha) Kabupaten Sleman, Takmir Masjid Sultan Agung, Pemerintah Kalurahan Condongcatur, serta Jaringan Jagal Indonesia. Melalui sinergi lintas komunitas ini, panitia membuka layanan asah pisau gratis menggunakan metode profesional yang berhasil memecahkan rekor lokal dengan mempertajam sebanyak bilah pisau kurban milik warga.

Ketua Panitia Kegiatan, Jaka Purnama, mengungkapkan bahwa pelatihan manajemen kurban ini diikuti oleh 183 peserta terregistrasi. Luar biasanya, ketertarikan terhadap acara ini tidak hanya datang dari wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta saja, melainkan meluas hingga ke luar provinsi seperti Solo, Ngawi, dan Purworejo. Hal tersebut menunjukkan bahwa kesadaran takmir untuk menyelenggarakan kurban yang higienis kini semakin meningkat.

“Kami sangat bersyukur kegiatan ini mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat. Peserta datang dari berbagai daerah, bahkan luar DIY. Ini menunjukkan kebutuhan edukasi tentang manajemen kurban dan teknik asah bilah memang sangat besar di tengah masyarakat. Pelaksanaan kurban saat ini membutuhkan kesiapan yang jauh lebih baik, mulai dari sisi kapasitas sumber daya manusia, standardisasi peralatan, hingga tata kelola penyembelihan agar daging yang dihasilkan lebih bersih dan profesional,” ujar Jaka Purnama di sela-sela memantau posko pengasahan pisau.

Acara dibuka dengan pengarahan dari Ketua DMI Kapanewon Depok, Suryadi, yang menggarisbawahi pentingnya menjaga aspek kebersihan lingkungan dan kelayakan konsumsi di samping pemenuhan rukun fikih penyembelihan. Senada dengan hal itu, Lurah Condongcatur, Reno Candra Sangaji, turut memberikan apresiasi tinggi kepada para pemuda Babadan Baru dan tim relawan jagal yang berhasil mengorganisasi massa dengan tertib dalam satu forum ilmiah populer tersebut.

“Ini bukan sekadar pelatihan mengasah pisau biasa, tetapi juga bagian dari edukasi umat dan penguatan nilai ibadah kurban itu sendiri. Antusiasme masyarakat sangat luar biasa, ada sekitar pisau yang berhasil diasah secara gratis dan 183 peserta konsisten mengikuti pelatihan manajemen kurban dari pagi sampai selesai. Kehadiran peserta dari luar daerah seperti Solo, Ngawi, dan Purworejo menjadi bukti sahih bahwa kegiatan praktis seperti ini sangat dibutuhkan oleh masyarakat luas,” tutur Reno Candra Sangaji.

Dalam ruang kelas pelatihan, para peserta digembleng dengan materi fikih kurban dan manajemen pengorganisasian panitia yang disampaikan oleh Ustadz Teguh Santoso. Materi ini mengupas tuntas sistem zonasi penyembelihan untuk mencegah kontaminasi silang pada daging, tata cara pembagian kupon yang adil, hingga aspek keselamatan kerja panitia kurban.

Memasuki sesi teknis metalurgi, Coach Eko membekali peserta dengan pengetahuan karakteristik logam baja pada bilah pisau agar tidak mudah tumpul atau berkarat. Usai pemaparan teori, peserta langsung diajak mempraktikkan teknik mengasah modern bersudut presisi menggunakan batu asah grid tinggi, serta teknik perawatan akhir (honing dan stropping) di bawah bimbingan langsung dari ahli bilah, Mr. Agus Budi.

Suasana pelatihan menjadi semakin meriah menjelang sore hari dengan adanya sesi diskusi interaktif antarkomunitas jagal serta pengundian ratusan hadiah menarik dari sponsor. Panitia membagikan sedikitnya 100 unit pisau khusus pengulitan (kelet), kaus seragam, alat asah portable, hingga sabuk kulit stropping kepada peserta yang aktif bertanya. Melalui transfer keilmuan ini, penyelenggaraan ibadah kurban di berbagai pelosok daerah pada tahun ini diharapkan dapat berjalan lebih aman, berperikehewanan, dan sesuai dengan syariat Islam. (Wasana/KIM Depok)