Tingkatkan Keamanan dan Kelancaran Akses Rumah Sakit, PKU Muhammadiyah Gamping Jalin Koordinasi dengan Polsek Gamping

Sleman – Direktur Utama Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping, Ahmad Faesol melakukan kunjungan silaturahmi dan koordinasi dengan Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Gamping di Markas Kepolisian Sektor Gamping, Selasa (5/5/2026). Pertemuan tersebut bertujuan mempererat sinergitas antar lembaga dalam menjaga keamanan dan ketertiban di lingkungan rumah sakit.

Kedua pihak membahas berbagai isu strategis terkait stabilitas keamanan, khususnya di area pelayanan kesehatan yang memiliki mobilitas tinggi serta potensi kerawanan tertentu. Rumah sakit sebagai fasilitas publik dinilai membutuhkan dukungan pengamanan yang optimal guna memastikan pelayanan berjalan lancar.

Dalam kesempatan itu, Direktur Utama Rumah Sakit PKU Muhammadiyah Gamping, Ahmad Faesol menyampaikan permohonan bantuan personel kepolisian untuk membantu pengaturan dan penyeberangan arus lalu lintas di pintu utama keluar masuk rumah sakit pada jam-jam sibuk. Hal ini guna menciptakan keamanan, kenyamanan, dan kelancaran bagi pasien, pengunjung, maupun pengguna jalan.

“Koordinasi dengan aparat kepolisian merupakan langkah penting dalam menciptakan lingkungan rumah sakit yang aman, nyaman, dan kondusif,” ujarnya.

Kapolsek Gamping, AKP Bowo Susilo yang didampingi Kanit Lantas Polsek Gamping, Iptu Albertus Firdiyanto, dan Panit Binmas, Iptu Mamik Susanti menyambut baik inisiatif silaturahmi tersebut dan menegaskan komitmen kepolisian dalam mendukung pengamanan objek vital, termasuk rumah sakit.

“Sinergi yang baik antara institusi kesehatan dan aparat keamanan akan meminimalkan potensi gangguan ketertiban,” tandas AKP Bowo Susilo.

Ia menambahkan, pihaknya siap melakukan patroli rutin serta penguatan komunikasi dengan manajemen rumah sakit sebagai bentuk pencegahan dini terhadap potensi gangguan keamanan di lingkungan RS PKU Muhammadiyah Gamping.

Ia pun menyoroti pentingnya deteksi dini terhadap potensi gangguan keamanan. Menurutnya, komunikasi yang intensif antara petugas keamanan rumah sakit dan kepolisian akan mempercepat respons terhadap berbagai situasi darurat yang mungkin terjadi.

Melalui kegiatan silaturahmi dan koordinasi ini, diharapkan terbangun kolaborasi yang berkelanjutan antara RS PKU Muhammadiyah Gamping dan Kepolisian Sektor Gamping dalam menjaga keamanan dan ketertiban, sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan kepada masyarakat di wilayah Sleman. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Perkuat Ketahanan Sosial, Pemkab Sleman Dorong Keluarga Jadi Garda Terdepan Pendamping Disabilitas

Sleman — Pemerintah Kabupaten Sleman terus memperkuat peran keluarga sebagai pilar utama dalam pendampingan penyandang disabilitas. Melalui Dinas Sosial, upaya ini diwujudkan dalam kegiatan pembinaan intensif yang digelar di Kalurahan Margorejo, Kapanewon Tempel, Selasa (5/5/2026). Agenda ini melibatkan sekitar 40 peserta yang terdiri dari unsur keluarga dan pendamping lapangan guna membangun pemahaman yang lebih inklusif terhadap hak-hak serta kebutuhan disabilitas.

Pembinaan ini menitikberatkan pada pendekatan komprehensif, mulai dari teknis deteksi dini perkembangan anak hingga penguatan mental bagi para anggota keluarga. Hal ini didasari oleh pandangan bahwa tantangan terbesar dalam merawat penyandang disabilitas sering kali bukan hanya pada aspek medis, melainkan pada tekanan emosional dan sosial yang dihadapi oleh keluarga sebagai lingkungan terdekat.

Psikolog Rini Indriani yang hadir sebagai narasumber menegaskan bahwa kesehatan mental keluarga menjadi kunci efektivitas pendampingan. Menurutnya, ketika keluarga memiliki ketahanan psikologis yang kuat, mereka akan lebih mampu memberikan kasih sayang dan stimulasi secara konsisten tanpa merasa terbebani oleh stigma sosial.

“Keluarga bukan hanya tempat kembali, tetapi juga sumber kekuatan utama bagi penyandang disabilitas. Ketika keluarga mampu memahami dinamika psikologis yang terjadi, maka proses pendampingan akan lebih efektif dan penuh empati. Merawat harapan itu bukan hal instan, tetapi proses panjang yang membutuhkan penerimaan, dukungan sosial, dan konsistensi agar anak tetap merasa berharga,” ujar Rini Indriani di depan para peserta.

Selain aspek psikologis, pengetahuan praktis mengenai tumbuh kembang juga menjadi perhatian serius. Perwakilan Dinas Sosial Sleman, Marjiyo, menekankan bahwa intervensi dini merupakan faktor penentu kualitas hidup penyandang disabilitas di masa depan. Ia mengimbau para orang tua untuk lebih peka terhadap setiap tahapan perkembangan anak agar jika ditemukan indikasi keterlambatan, stimulasi dapat segera diberikan secara tepat.

“Orang tua perlu dibekali pengetahuan dasar agar tidak terlambat dalam mengenali tanda-tanda keterlambatan perkembangan. Intervensi dini bisa sangat menentukan kualitas hidup anak di masa depan. Semakin cepat kita mendeteksi hambatan perkembangan, semakin besar peluang anak untuk tumbuh secara optimal di tengah keterbatasan yang ada,” jelas Marjiyo.

Lurah Margorejo, Abdul Aziz Muh Ridwan, mengapresiasi langkah pemerintah daerah dalam menjangkau warganya melalui program ini. Menurutnya, kegiatan ini tidak hanya berfungsi sebagai sarana transfer ilmu, tetapi juga menjadi wadah penguat jejaring sosial antarkeluarga penyandang disabilitas agar mereka bisa saling menguatkan. Sinergi ini didukung pula oleh Tenaga Kesejahteraan Sosial Kecamatan (TKSK) yang memastikan pendampingan di tingkat akar rumput berjalan selaras dengan kebijakan pemerintah.

Secara luas, inisiatif ini mempertegas komitmen Kabupaten Sleman dalam menempatkan keluarga sebagai pusat intervensi pembangunan sosial. Dengan memperkuat kapasitas keluarga, diharapkan penyandang disabilitas tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan individu yang mampu berpartisipasi aktif dalam kehidupan bermasyarakat. (SBD/KIM Senyum Tempel)




Sambut Akses Jalan Tol, Kapanewon Tempel Siapkan Diri Jadi Cermin Estetika Yogyakarta

Sleman — Kapanewon Tempel kini memegang peran yang kian krusial sebagai gerbang utama di sisi utara, tidak hanya bagi Kabupaten Sleman tetapi juga bagi Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Posisi strategis ini menuntut kesiapan wilayah dalam menyambut lonjakan mobilisasi pendatang, terutama dengan segera dibukanya akses jalan tol yang akan melintasi kawasan tersebut.

Panewu Tempel, Rasyid Ratnadi Sosiawan, menegaskan bahwa wilayahnya harus mampu menampilkan wajah yang bersih, tertata, dan mencitrakan keramahan Yogyakarta. Hal ini dikarenakan Tempel menjadi titik pertama yang memberikan kesan kepada para pelancong maupun pelaku bisnis saat memasuki DIY dari arah utara. Menurutnya, antisipasi terhadap arus mobilisasi yang tinggi harus dilakukan sejak dini agar kemajuan infrastruktur nasional memberikan dampak positif bagi daerah.

“Kapanewon Tempel adalah pintu gerbang utara yang merefleksikan citra Yogyakarta di mata pendatang. Karena itu, wilayah yang dilalui arus keluar-masuk kendaraan perlu melakukan persiapan matang. Kita ingin wajah Tempel menjadi cermin keindahan dan kesiapan DIY dalam menyambut era konektivitas jalan tol ini,” ujar Rasyid Ratnadi Sosiawan saat berdialog dengan pengurus Kelompok Informasi Masyarakat (KIM) di Kantor Kapanewon Tempel, Selasa (5/5/2026).

Selain kesiapan infrastruktur, Rasyid juga menyoroti pentingnya literasi informasi digital dalam menyongsong perkembangan wilayah. Ia memberikan apresiasi tinggi terhadap peran KIM Senyum Tempel yang dinilai aktif dalam menyebarkan informasi melalui berbagai platform digital mulai dari media sosial hingga buletin. Keberadaan kanal informasi yang dikelola masyarakat secara mandiri dianggap mampu menjawab tantangan generasi masa kini dan membantu pemerintah mempromosikan potensi lokal.

Ketua KIM Senyum Tempel, Muryono, menjelaskan bahwa pihaknya terus berupaya memperluas cakupan berita melalui portal Media Center Sembada. Selain itu, mereka tengah bersiap menyambut pertemuan rutin KIM tingkat kabupaten yang akan dipusatkan di Tempel pada akhir Mei mendatang. Fokus pemberitaan ke depan akan diarahkan untuk mendukung promosi pariwisata berbasis potensi lokal.

Sejalan dengan hal tersebut, pemerintah kapanewon mendorong pemanfaatan aset alam seperti penataan kawasan tanggul di sepanjang Kali Krasak untuk dijadikan destinasi wisata. Pengembangan sektor pariwisata lokal ini diyakini akan menjadi penggerak ekonomi baru bagi warga sekitar, sehingga kesejahteraan masyarakat meningkat seiring dengan berkembangnya aksesibilitas wilayah.

“Kami mendorong pemanfaatan potensi lokal untuk pengembangan wisata, salah satunya penataan kawasan di sepanjang Kali Krasak. Pengembangan sektor ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat, sehingga warga tidak hanya menjadi penonton di tengah pesatnya pembangunan infrastruktur jalan tol,” tambah Rasyid Ratnadi Sosiawan di akhir pertemuan. (Sadhono Hadi/KIM Senyum Tempel)




Inovasi Lingkungan dalam Secangkir Kopi, SAH Banyu Bening Sleman dan Kopilubi Gagas Festival Kopi Air Hujan

Sleman — Sekolah Air Hujan (SAH) Banyu Bening Sleman melakukan terobosan unik dengan mengintegrasikan isu pelestarian lingkungan ke dalam budaya populer melalui gagasan Festival Kopi Air Hujan. Inisiatif yang menggandeng kedai Kopilubi ini tidak hanya menawarkan pengalaman baru dalam menikmati kopi, tetapi juga menjadi sarana edukasi masif mengenai pemanfaatan air hujan sebagai solusi atas tantangan krisis air bersih.

Pendiri SAH Banyu Bening Sleman, Sri Wahyuningsih, menjelaskan bahwa festival ini dirancang untuk mengubah persepsi negatif masyarakat terhadap air hujan. Melalui teknologi Instalasi Sistem Lumbung Air Hujan (ISLAH) dan proses elektrolisa, air hujan yang sering dianggap kurang layak konsumsi justru dapat diolah menjadi air minum berkualitas tinggi yang memenuhi standar kesehatan, bahkan sangat cocok untuk menyeduh kopi.

“Air hujan yang selama ini kerap dipandang hanya sebagai sumber air alternatif, kami olah melalui sistem ISLAH dan elektrolisa sehingga sangat layak digunakan sebagai air minum, termasuk untuk menyeduh kopi berkualitas tinggi. Kami ingin membuktikan bahwa dengan teknologi yang tepat, air hujan adalah sumber daya yang luar biasa,” ujar Sri Wahyuningsih di Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Sleman, Senin (4/5/2026).

Kepala Sekolah Air Hujan Banyu Bening, Kamaludin, menambahkan bahwa pemilihan kopi sebagai medium kampanye lingkungan dilakukan karena daya tariknya yang sangat kuat di lintas generasi, terutama anak muda. Menurutnya, festival ini merupakan gerakan kultural untuk menghubungkan praktik ekologis dengan gaya hidup modern. Selain itu, kegiatan ini diproyeksikan mampu membuka peluang ekonomi baru bagi UMKM dan petani kopi lokal melalui konsep produk berbasis keberlanjutan.

“Kopi adalah bahasa universal yang disukai semua kalangan. Kami berharap festival ini bukan sekadar ajang seremonial, melainkan menjadi agenda wisata tematik yang memperkuat identitas Sleman sebagai daerah inovatif di bidang lingkungan. Kami ingin mengedukasi masyarakat melalui pendekatan yang kreatif dan menyenangkan,” tutur Kamaludin.

Dukungan teknis mengenai kualitas rasa datang dari Teuku Elwin, pemilik kedai Kopilubi sekaligus barista yang dikenal dengan konsep bayar seikhlasnya. Ia menilai penggunaan air hujan memberikan ruang eksplorasi baru dalam dunia brewing atau penyeduhan kopi. Karena memiliki kandungan mineral yang berbeda dengan air tanah, air hujan hasil filtrasi mampu menghasilkan profil rasa yang lebih bersih atau clean cup.

“Kualitas air merupakan faktor paling krusial dalam menentukan hasil akhir seduhan kopi. Air hujan yang telah melalui pengolahan sistem ISLAH memiliki potensi menghasilkan rasa yang lebih ringan, sehingga karakter asli dari biji kopi dapat lebih menonjol dan terasa unik. Ini adalah solusi sederhana namun berdampak luas yang menunjukkan bahwa krisis air bisa kita hadapi dengan langkah yang sangat dekat dengan keseharian kita,” ungkap Teuku Elwin.

Melalui rangkaian kegiatan seperti lokakarya dan demonstrasi pengolahan air, festival ini diharapkan mampu membangun literasi lingkungan berbasis pengalaman langsung. Inisiatif kolaboratif ini mempertegas posisi Sleman sebagai pelopor gerakan pemanfaatan air hujan berkelanjutan yang dapat diadopsi di tingkat nasional maupun internasional. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)




Buka Gebyar Husada Sembada, Wabup Sleman Dorong Upaya Pemenuhan Layanan Kesehatan

Sleman – Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa membuka kegiatan Pekan Layanan Kesehatan Terpadu Gebyar Husada Sembada dalam rangka Hari Jadi ke-110 Kabupaten Sleman, yang bertempat di Atrium Sinta Sleman City Hall, Selasa (5/5/2026).

Kegiatan ini merupakan upaya Pemerintah Kabupaten Sleman dalam meningkatkan kesehatan masyarakat melalui layanan kesehatan terpadu yang diberikan secara gratis dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, rumah sakit, akademisi hingga masyarakat.

Dalam sambutannya, Danang Maharsa menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen pemerintah dalam menghadirkan layanan kesehatan yang menyeluruh bagi masyarakat.

“Saya sangat mengapresiasi tema yang diangkat, yaitu ‘Gendong Mikul Sleman Sehat’. Filosofi ini menggambarkan semangat gotong royong yang luar biasa dalam mewujudkan masyarakat Sleman yang sehat,” ujarnya.

Lebih lanjut, Danang menegaskan pentingnya pemanfaatan layanan kesehatan oleh masyarakat sebagai bagian dari upaya pembangunan berkelanjutan di Kabupaten Sleman.

“Saya mengajak seluruh warga Sleman untuk memanfaatkan momen ini selama tiga hari ke depan. Semua layanan ini disediakan secara gratis dan berkualitas dan jangan ragu untuk memeriksakan kesehatan,” ujarnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sleman, Cahya Purnama dalam laporannya menyampaikan bahwa Pekan Layanan Kesehatan Terpadu ini dirancang secara komprehensif untuk menjangkau seluruh siklus hidup masyarakat.

“Pekan Layanan Kesehatan Terpadu ini dirancang secara komprehensif untuk menyentuh seluruh siklus hidup manusia dengan tujuan meningkatkan literasi kesehatan masyarakat, memberikan akses layanan kesehatan yang berkualitas secara gratis, serta memperkuat jejaring rujukan,” ujarnya.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari yakni 5 sampai 7 Mei 2026 dengan fokus layanan bagi ibu hamil, balita, serta masyarakat dewasa dan lansia. Selain itu, juga dilaksanakan bakti sosial operasi katarak gratis bagi 110 masyarakat Sleman di RSUD Sleman dan RSUD Prambanan.

Pada kesempatan tersebut juga dilakukan penyerahan apresiasi kepada RSUD Sleman, RSUD Prambanan, dan Sleman City Hall atas dukungan dalam penyelenggaraan kegiatan, serta penyerahan bantuan sembako kepada perwakilan ibu hamil. Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan peninjauan booth layanan kesehatan oleh Wakil Bupati Sleman.