Dinsos Sleman Perkuat Kelembagaan WKSBM, Jumlah Hampir Capai 100 Kelompok

Sleman – Wahana Kesejahteraan Sosial Berbasis Masyarakat (WKSBM) di Kabupaten Sleman terus menunjukkan perkembangan. Hingga saat ini, jumlahnya telah mendekati 100 kelompok yang tersebar di seluruh kalurahan. Dinas Sosial Kabupaten Sleman tidak hanya mendorong pembentukan WKSBM baru, tetapi juga memperkuat kelembagaan yang sudah ada melalui pembinaan berkelanjutan.

Kegiatan penguatan kelembagaan kali ini menyasar WKSBM Dadi Sejahtera di Padukuhan Pete, Kalurahan Margodadi, Kapanewon Seyegan. Kegiatan dilaksanakan pada Kamis (30/4/2026) di rumah Ketua WKSBM, Ahmad Dwi Harsanto, dan dihadiri oleh seluruh pengurus serta tokoh masyarakat setempat. Turut hadir pula Ketua Forum WKSBM Sleman, Subiyanto.

Dalam laporannya, Ahmad menyampaikan bahwa WKSBM Dadi Sejahtera yang berdiri sejak tahun 2015 telah aktif memberikan santunan bagi warga sakit serta bantuan saat terjadi musibah. Pertemuan rutin pengurus dilaksanakan setiap malam Rabu Legi, dengan penggalangan dana yang bersumber dari donatur maupun bantuan tidak mengikat.

“Alhamdulillah, kami juga mendapatkan bantuan berupa satu ekor kambing jantan dan lima ekor kambing betina dari Wakil Bupati Sleman, Danang Maharsa,” ungkapnya.

Namun demikian, ia mengakui masih terdapat sejumlah kendala, terutama terkait keberlanjutan pendanaan dan regenerasi pengurus. “Pendanaan kami belum berjalan secara kontinyu, dan belum banyak generasi muda yang bersedia terlibat sebagai pengurus,” tandasnya.

Materi penguatan organisasi disampaikan oleh Sekretaris Forum WKSBM Sleman, Tri Yoga Zulianto. Ia menegaskan bahwa penguatan WKSBM difokuskan pada peningkatan kapasitas kelembagaan, penguatan jejaring kerja, serta partisipasi aktif dalam menangani permasalahan sosial di masyarakat.

“Peningkatan kapasitas dapat dilakukan melalui pelatihan manajemen organisasi agar pengurus lebih profesional, termasuk dalam pengelolaan data. Dinas Sosial bersama pemerintah kalurahan terus bersinergi memberikan pembinaan berkelanjutan guna memotivasi anggota dan memastikan program berjalan secara konsisten,” jelasnya.

Ia menambahkan, tujuan penguatan ini agar WKSBM tidak sekadar terbentuk, tetapi mampu menjadi lembaga yang profesional, berdaya saing, serta responsif terhadap kebutuhan sosial masyarakat.

Materi kedua mengenai strategi penggalangan dana disampaikan oleh pewakilan Seksi Humas Forum WKSBM Sleman, Sugiyanto. Ia menekankan bahwa keberlangsungan organisasi sangat bergantung pada kekuatan finansial.

“Tanpa dukungan dana, organisasi tidak akan berkembang, bahkan bisa berhenti berjalan,” ujarnya.

Ia menjelaskan beberapa metode penggalangan dana yang dapat dilakukan, antara lain melalui program Kencreng Ajaib dengan menempatkan kotak donasi di warung, toko, maupun rumah warga. Selain itu, pengajuan proposal kepada CSR, instansi, dan perorangan juga menjadi alternatif sumber pendanaan.

Metode lainnya meliputi iuran pengurus, kontribusi Kelompok Pekerja Sosial (PKS), donatur tetap maupun tidak tetap, serta kegiatan pemberdayaan seperti sedekah sampah, pengelolaan warung WKSBM, hingga usaha ternak kambing.

Melalui penguatan kapasitas dan jejaring yang berkelanjutan, WKSBM diharapkan semakin mandiri dan mampu berperan aktif dalam menjawab berbagai persoalan sosial di tingkat padukuhan. (Giek/KIM Moyudan)




Hangat dan Penuh Kasih, UBK Rayakan Misa Paskah di Paroki St. Alfonsus Nandan

Sleman – Tim Pastoral Keluarga Paroki Paroki St. Alfonsus Maria de Liguori Nandan mengadakan kegiatan Misa Paskah dan Gathering UBK (Umat Berkebutuhan Khusus) bersama Romo Paroki Aloysius Gonzaga Luhur Prihadi. Kegiatan yang diselenggarakan pada Jumat (1/5/2026) tersebut berlangsung dalam suasana penuh sukacita, hangat, dan bahagia.

Dalam homilinya, Romo Aloysius Gonzaga Luhur Prihadi menyampaikan bahwa misa ini bukan hanya diperuntukkan bagi para UBK saja, tetapi juga menjadi penguatan iman bagi para pendamping dan keluarga yang setiap hari dengan penuh kasih mendampingi serta melayani mereka.

Ketua Tim Pastoral Keluarga Paroki St. Alfonsus Nandan, Christoper secara khusus juga menyampaikan rasa syukur karena kegiatan ini tidak hanya dihadiri anak-anak UBK, tetapi juga para UBK yang sudah dewasa.

“Selama ini sebagian dari mereka jarang tampil dan mungkin merasa malu untuk hadir di tengah lingkungan. Namun dalam kegiatan kali ini mereka justru datang dengan penuh semangat, tampak antusias, ceria, dan bahagia menikmati kebersamaan bersama umat lainnya. Semoga semangat paskah ini dapat dibawa pulang ke lingkungan masing-masing,” pungkasnya.

Selain perayaan Ekaristi dan gathering, panitia juga mengadakan permainan mencari telur Paskah yang berlangsung meriah dan menyenangkan. Para peserta dengan penuh semangat mencari telur-telur Paskah yang telah disembunyikan panitia.

Telur yang berhasil ditemukan kemudian ditukarkan dengan hadiah yang telah disediakan panitia, sehingga menambah kegembiraan dan keceriaan seluruh peserta.

Kegiatan ini menjadi wujud perhatian dan kasih Gereja kepada saudara-saudari Umat Berkebutuhan Khusus beserta keluarganya agar semakin merasakan diterima, dicintai, dan dilibatkan dalam kehidupan menggereja. (EDY – KIM PIJAR MLATI)




Sebanyak 573 Siswa SMA se-Kabupaten Sleman Ikuti FLS3N Tingkat Kabupaten

Sleman – Sebanyak 573 murid SMA/SMK/MA se-Kabupaten Sleman menunjukkan semangatnya dalam ajang Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) tingkat Kabupaten Sleman. Festival ini diselenggarakan oleh Balai Pendidikan Menengah, Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Sleman, di SMK Penerbangan Kompleks Lanud Adisutjipto, Maguwoharjo, Kapanewon Depok, pada Rabu (29/4/2026).

Berdasarkan Surat Balai Pendidikan Menengah Kabupaten Sleman Nomor B/, FLS3N tahun ini mempertandingkan 16 cabang lomba, antara lain baca puisi, cipta puisi, cipta lagu, desain poster, fotografi, instrumen solo gitar, menyanyi solo putra/putri, jurnalistik, kriya, komik digital, menulis cerpen, monolog, tari kreasi, film pendek, dan kreasi musik tradisional.

Peserta tampak antusias, dan optimal, serta penuh kesungguhan dalam berlaga. Hal itu terlihat dari kesiapan sebelum berlaga, aneka properti yang disiapkan, kostum yang dikenakan, hingga logistik yang mereka bawa.

Salah satunya ialah para peserta monolog yang menyiapkan properti sesuai dengan materi yang dibawakan, seperti kursi, miniatur batu dengan hamparan pasir, pepohonan, dan lain-lain. Begitu pula pada lomba tari, peserta melengkapi penampilan dengan berbagai properti yang disiapkan tim pendamping.

“Kami berusaha menyiapkan segalanya sebaik mungkin. Anak-anak penuh semangat dan mendapat dukungan optimal dari sekolah,” ujar Haidar, salah satu pendamping lomba film pendek dari SMA Budi Mulia Dua Sleman. 

Ia pun tampak sabar mendampingi dan memotivasi anak asuhnya yang mendapatkan giliran tampil paling akhir.  (Edy – KIM Sumber Biwara Moyudan)




Puskesmas Gamping I Edukasi P3LP kepada Pelajar SMK Muhammadiyah Gamping

Sleman – Pentingnya menjaga kesehatan fisik dan mental bagi warga sekolah kembali ditegaskan melalui kegiatan First Aider Pertolongan Pertama Pada Luka Psikologis (P3LP), yang digelar di SMK Muhammadiyah Gamping pada Kamis (30/4/2026). Kegiatan ini berlangsung berbarengan dengan program Panewu Goes to School, sebagai bagian dari upaya terpadu membangun karakter dan ketahanan diri pelajar.

Materi disampaikan oleh psikolog Puskesmas Gamping I, Syifa Triswidiastuty, yang menekankan bahwa kesehatan mental memiliki peran yang sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Menurutnya, keduanya saling berkaitan dan menjadi fondasi utama dalam menunjang keberhasilan belajar siswa.

Ia juga menjelaskan bahwa luka psikologis sering kali tidak terlihat secara kasat mata, namun dampaknya dapat memengaruhi emosi, perilaku, hingga prestasi akademik. Oleh karena itu, diperlukan pemahaman dasar mengenai cara mengenali dan merespons kondisi tersebut secara tepat.

Konsep Pertolongan Pertama Pada Luka Psikologis (P3LP) diperkenalkan sebagai langkah awal yang dapat dilakukan oleh siapa saja, termasuk siswa dan guru, ketika menghadapi individu yang mengalami tekanan mental.

“Pendekatan ini menekankan empati, kemampuan mendengar aktif, serta memberikan dukungan tanpa menghakimi,” tandas Syifa.

Selain itu, para siswa juga diberikan pemahaman mengenai tanda-tanda awal gangguan psikologis, seperti perubahan perilaku, penurunan konsentrasi, hingga menarik diri dari lingkungan sosial. Dengan mengenali gejala tersebut sejak dini, diharapkan penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat.

Syifa juga menegaskan bahwa mencari bantuan profesional bukanlah hal yang perlu ditakuti atau dianggap tabu. Ia mendorong siswa untuk berani berbicara dan mencari dukungan ketika mengalami tekanan psikologis.

Kegiatan ini semakin relevan karena dilaksanakan di wilayah Kapanewon Gamping yang terus mendorong penguatan pendidikan karakter melalui berbagai program kolaboratif. Sinergi antara sektor kesehatan, pendidikan, dan pemerintah menjadi kunci dalam menciptakan lingkungan belajar yang sehat dan aman.

Antusiasme siswa terlihat tinggi selama kegiatan berlangsung. Mereka aktif mengikuti sesi diskusi dan berbagi pengalaman terkait tekanan yang dihadapi dalam kehidupan sekolah maupun pergaulan sehari-hari.

Sementara itu, Kepala SMK Muhammadiyah Gamping, Asarika Fajarini menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan ini. Menurutnya, edukasi mengenai kesehatan mental masih sangat dibutuhkan di lingkungan pendidikan, mengingat tantangan yang dihadapi pelajar semakin kompleks di era saat ini.

Tenaga pendidik juga didorong untuk berperan sebagai first aider yang mampu memberikan respons awal terhadap permasalahan psikologis siswa. Dengan demikian, sekolah dapat menjadi tempat yang aman dan suportif bagi perkembangan peserta didik.

“Semoga program ini mampu menumbuhkan generasi muda yang tidak hanya unggul secara akademik, namun juga memiliki ketahanan mental yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan,” pungkas Asarika. (Adnan Nurtjahjo|KIM Pararta Guna Gamping)




Bangun Markas Baru di Godean, Sri Sultan Tekankan Keamanan yang Lentur dan Waskita

Sleman — Pembangunan Markas Kepolisian Daerah Istimewa Yogyakarta (Mapolda DIY) resmi dimulai dengan prosesi peletakan batu pertama di lahan Sultan Ground, Jalan Bibis, Sidomulyo, Godean, Kabupaten Sleman, Minggu (3/5/2026). Proyek strategis ini menandai transformasi institusi kepolisian di Yogyakarta menuju pelayanan yang lebih modern, humanis, dan adaptif terhadap tantangan zaman.

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, dalam sambutannya menegaskan bahwa tantangan keamanan saat ini telah bergeser dan tidak lagi hanya bersifat konvensional yang mengandalkan fisik. Menurut Sultan, keamanan modern harus tumbuh secara lentur dan waskita agar mampu mendeteksi potensi gangguan sejak dini, terutama di tengah pesatnya perkembangan teknologi.

“Kita menyadari bahwa tantangan keamanan tidak lagi hanya bersifat konvensional yang mengandalkan kekokohan fisik sebagai penyangga ketertiban. Keamanan modern harus tumbuh secara lentur dan waskita agar mampu membaca tanda-tanda zaman sebelum tantangan itu menjelma menjadi gangguan nyata bagi masyarakat,” ujar Sri Sultan Hamengku Buwono X di lokasi pembangunan.

Sultan berharap Mapolda DIY dapat menjelma menjadi pusat keamanan yang utuh, yang tidak hanya tangguh dalam menjaga ketertiban fisik di lapangan, tetapi juga kuat dalam menghadapi tantangan siber. Baginya, gedung ini bukan sekadar ruang kerja birokrasi, melainkan arsitektur peradaban yang merepresentasikan kehadiran negara untuk menjamin rasa aman dan harmoni di ruang publik.

“Bangunan ini adalah simbol komitmen Polri untuk semakin dekat dengan masyarakat, menjadi rumah bagi keadilan, dan menjadi benteng bagi kemanusiaan. Gedung ini dirancang sebagai arsitektur peradaban masa depan yang menjadi representasi kehadiran negara dalam menjamin harmoni sosial,” tambah Sri Sultan.

Kapolda DIY, Anggoro Sukartono, menjelaskan bahwa gedung baru ini berdiri di atas lahan seluas 7,5 hektare yang merupakan hibah hak pakai dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Pembangunan ini mengacu pada Pedoman Polri Tahun 2025 dengan mengedepankan konsep yang humanis serta menyediakan ruang pelayanan publik yang terbuka, nyaman, dan representatif bagi masyarakat Yogyakarta.

Konsep pembangunan Mapolda DIY ini juga mengusung tema filosofis lokal yang mendalam. Anggoro Sukartono menyebutkan bahwa seluruh desain dan operasionalnya nanti akan sejalan dengan nilai-nilai luhur kemanusiaan dan tugas pokok kepolisian sebagai pelindung, pengayom, dan pelayan masyarakat.

“Pembangunan Mapolda DIY mengusung tema Hamemayu Hayuning Bawono yang sejalan dengan nilai-nilai dalam Tribrata dan Catur Prasetya. Kami ingin memastikan bahwa gedung ini tidak hanya menjadi simbol kekuatan hukum, tetapi juga menjadi pusat pelayanan yang ramah dan mencerminkan janji operasional kami dalam melaksanakan tugas-tugas kepolisian demi kesejahteraan masyarakat,” tutur Anggoro Sukartono. (Giek/KIM Moyudan)