Perkuat Ketahanan Komunitas, Kalurahan Margomulyo Gencarkan Penyuluhan Anti Narkoba

Sleman – Upaya membentengi masyarakat dari ancaman narkotika terus digencarkan hingga ke tingkat akar rumput. Melalui penyuluhan sosial bertema “Ketahanan Masyarakat Anti Narkoba” yang digelar di Gedung Serbaguna Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Selasa (28/4/2026), konsep ketahanan berbasis komunitas kembali ditegaskan sebagai kunci menciptakan lingkungan yang aman dan sehat.

Dalam kegiatan tersebut, Fasilitator Badan Narkotika Nasional Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (BNNP DIY), Herlina Rahmawati menekankan bahwa masyarakat memiliki peran sentral dalam memerangi narkoba, bukan sekadar sebagai objek kebijakan.

“Ketahanan masyarakat anti narkoba adalah kemampuan kolektif untuk mencegah, menolak, dan mengatasi ancaman narkotika, sekaligus menjadikan warga sebagai agen perubahan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, ketahanan tersebut dibangun melalui tiga dimensi utama yang saling terhubung. Pertama, ketahanan diri, yakni kemampuan individu dalam mengendalikan diri dan menolak pengaruh negatif. Kedua, ketahanan keluarga sebagai fondasi utama pembentukan karakter. Ketiga, ketahanan lingkungan atau sistem sosial yang mencakup kohesi masyarakat serta dukungan norma lokal.

“Ketahanan keluarga merupakan inti dari ketahanan masyarakat secara keseluruhan, sehingga menjadi strategi preventif paling vital dalam memberantas narkoba,” tegasnya.

Selain itu, program Desa atau Kalurahan Bersinar (Bersih Narkoba) terus diperkuat sebagai strategi implementatif. Program ini bertujuan menciptakan wilayah yang mandiri dalam menghadapi ancaman narkoba melalui keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat.

Dalam paparannya, Herlina juga menyoroti pentingnya kolaborasi lintas sektor.

“Kami mendorong pendekatan komprehensif, mulai dari keluarga, sekolah, hingga komunitas, agar kesadaran dan ketahanan masyarakat meningkat secara menyeluruh,” jelasnya.

Upaya tersebut turut didukung dengan pembentukan satuan tugas (satgas) anti narkoba, relawan masyarakat, serta pengembangan soft skills bagi remaja. Program remaja teman sebaya juga dinilai efektif dalam memperkuat ketahanan generasi muda, dengan capaian yang cukup tinggi di wilayah DIY.

Menutup kegiatan, Herlina menegaskan komitmen jangka panjang yang ingin dicapai.

“Melalui berbagai program ini, kami menargetkan terwujudnya Yogyakarta Bersinar dengan melibatkan seluruh komponen masyarakat,” pungkasnya. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Poktan Nglahar Pasang 40 Tenggeran Tyto Alba, Perkuat Ketahanan Pangan di Moyudan

Sleman – Persawahan di Bulak Nglahar, Kalurahan Sumbersari, Kapanewon Moyudan, yang kerap mengalami gagal panen akibat serangan hama tikus, kini mulai bangkit. Kelompok Tani (Poktan) Nglahar bergotong royong memasang 40 tenggeran burung hantu (Tyto alba) sebagai upaya preventif pengendalian hama, Selasa (28/4/2026).

Kegiatan ini dipimpin oleh Dukuh Nglahar, Wahyu Wibowo, bersama Ketua Poktan Nglahar, Utoyo, serta diikuti seluruh anggota kelompok tani. Turut hadir Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Sumbersari, FX. Naryanto, serta tim pengendali hama dari tingkat kapanewon hingga provinsi.

Ketua Poktan Nglahar, Utoyo menegaskan bahwa pemasangan tenggeran merupakan langkah nyata dalam menjaga ketahanan pangan di wilayahnya.

“Burung hantu Tyto alba merupakan predator alami hama tikus. Kami berharap upaya ini dapat membantu petani mengurangi serangan hama sekaligus meningkatkan semangat dalam mengolah lahan pertanian,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Dukuh Nglahar, Wahyu Wibowo. Menurutnya, wilayah Moyudan yang dikenal sebagai salah satu lumbung pangan di DIY kerap menghadapi tantangan serius akibat serangan hama tikus.

“Jika 40 tenggeran ini nantinya ditempati burung hantu, tentu akan sangat membantu petani dalam mengendalikan hama tikus,” jelasnya.

Sementara itu, PPL Sumbersari, FX. Naryanto menyampaikan bahwa pasca pelaksanaan Sekolah Pertanian yang diselenggarakan oleh Balai Besar Peramalan Organisme Pengganggu Tumbuhan (BBOPT) Direktorat Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, para petani mulai kembali aktif mengelola lahan.

“Dalam Sekolah Pertanian, petani telah dibekali pengetahuan tentang pengendalian hama. Hasilnya mulai terlihat pada musim panen saat ini yang menunjukkan peningkatan hasil yang cukup baik,” ungkapnya.

Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Kabupaten Sleman juga terus mendorong petani untuk mengembalikan peran Sleman Barat sebagai salah satu penyokong utama komoditas beras di DIY. Sinergi antarpetani dalam pengelolaan lahan dan pengendalian hama dinilai menjadi kunci peningkatan produktivitas pertanian.

Melalui pemanfaatan predator alami Tyto alba, Poktan Nglahar berharap musim tanam ke depan dapat terbebas dari serangan hama tikus maupun hama lainnya, sehingga mampu menghasilkan panen yang lebih optimal. (Giek/KIM Moyudan)




Sekolah Lansia Sekar Melati Ngropoh Kembali Dibuka Mandiri, Perkuat Komitmen Padukuhan Ramah Lansia

Sleman – Sekolah Lansia Sekar Melati Padukuhan Ngropoh, Kalurahan Condongcatur, kembali membuka kegiatan pembelajaran secara mandiri di Balai Padukuhan Ngropoh, Rabu (29/4/2026).

Pembukaan ini menjadi wujud komitmen masyarakat dalam menjaga keberlanjutan program pemberdayaan lansia, meskipun program formal dari pemerintah tidak lagi dilaksanakan.

Sebelumnya, melalui surat pemberitahuan dari Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (P3AP2KB), program Sekolah Lansia jenjang S1/S2 dinyatakan tidak dilanjutkan. Namun demikian, semangat pengurus dan masyarakat tetap terjaga untuk melanjutkan kegiatan pembelajaran bagi para lansia.

Keputusan tersebut diambil melalui rapat pengurus pada 13 April 2026 yang melibatkan kepala sekolah lansia, kader, perwakilan lansia dari tiap RT, pendamping, serta pemerhati lansia di Padukuhan Ngropoh.

Dukuh Ngropoh, Nurdin Widodo, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kembali digelarnya kegiatan tersebut. Ia menilai sekolah lansia memiliki manfaat besar dalam meningkatkan kualitas hidup warga lanjut usia.

“Program ini sangat bermanfaat, tidak hanya menambah pengetahuan, tetapi juga menjadi sarana mempererat silaturahmi dan bertukar pikiran antar sesama lansia,” ujarnya.

Ia menambahkan, tingginya antusiasme dan kehadiran peserta menjadi indikator bahwa program ini masih sangat dibutuhkan. Hal tersebut sekaligus memperkuat identitas Padukuhan Ngropoh sebagai wilayah yang ramah lansia.

Meski saat ini berjalan secara mandiri, Sekolah Lansia Sekar Melati tetap mendapatkan pendampingan dari Dinas P3AP2KB sehingga pelaksanaannya tetap selaras dengan arahan Pemerintah Kabupaten Sleman.

Pada tahun 2026, kegiatan ini direncanakan berlangsung sebanyak delapan kali pertemuan yang dilaksanakan setiap bulan. Materi pembelajaran disesuaikan dengan kebutuhan lansia, dengan agenda wisuda di akhir tahun sebagai bentuk apresiasi kepada peserta.

Pembelajaran perdana diisi dengan materi kesehatan bertema Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK) yang disampaikan oleh dr. Raninditya Damayanti, Sp.P, dokter spesialis paru dari RS Hermina.

Di akhir sambutannya, Nurdin Widodo menyampaikan harapan bagi seluruh lansia di Padukuhan Ngropoh.

“Semoga para lansia selalu diberikan kesehatan, umur panjang yang berkah, serta rezeki yang melimpah, sehingga tetap dapat berperan aktif dalam berbagai kegiatan di masyarakat,” tuturnya.

Dengan kembali aktifnya Sekolah Lansia Sekar Melati, diharapkan para lansia tetap produktif, sehat, dan bahagia, sekaligus menjadi inspirasi bagi wilayah lain dalam membangun lingkungan yang inklusif dan ramah lansia. (Wasana/KIM Depok)




Margomulyo Jadi Percontohan Penguatan Ketahanan Sosial Masyarakat di Sleman

Sleman – Mengusung tema “Ketahanan Masyarakat Anti Narkoba”, Dinas Sosial DIY menggelar kegiatan Penyuluhan Sosial Tingkat Kalurahan tahun 2026 di Kalurahan Margomulyo, Kapanewon Seyegan, Selasa (28/4/2026). Kalurahan ini dipilih karena dinilai masih menghadapi berbagai persoalan sosial yang cukup kompleks dibanding wilayah lainnya.

Kegiatan yang berlangsung di Gedung Pertemuan Kalurahan Margomulyo tersebut dihadiri oleh berbagai unsur masyarakat, mulai dari lurah dan pamong kalurahan, BPKal, dukuh, Pekerja Sosial Masyarakat (PSM), kader, tokoh masyarakat, hingga Penyuluh Sosial Masyarakat (Pensosmas) DIY.

Lurah Margomulyo, Eko Puji Mulyanto menyampaikan apresiasi atas ditunjuknya wilayahnya sebagai lokasi kegiatan. Ia juga berharap kegiatan ini memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Kami berterima kasih karena Margomulyo dipilih sebagai tempat penyuluhan sosial. Memang di sini masih banyak permasalahan sosial, terutama kemiskinan, sehingga kegiatan ini sangat relevan,” ujarnya.

“Harapan kami, peserta yang hadir dapat mengambil manfaat dari penyuluhan ini dan menyebarluaskannya ke wilayah masing-masing,” sambung Eko.

Sementara itu, AKS dari Dinas Sosial DIY, Tri Susilastuti, menegaskan bahwa penyuluhan sosial memiliki peran strategis dalam meningkatkan kesadaran masyarakat.

“Tujuan utama kegiatan ini adalah meningkatkan pemahaman masyarakat dalam menangani berbagai masalah sosial seperti kemiskinan, lansia, disabilitas, hingga anak terlantar,” jelasnya.

Tri juga mengungkapkan bahwa pemerintah telah menyediakan berbagai fasilitas untuk mendukung penanganan masalah sosial.

“Saat ini telah berdiri enam balai rehabilitasi di wilayah DIY. Namun, tantangannya adalah masih minimnya informasi yang sampai ke masyarakat, sehingga perlu peran aktif PSM, TKSK, dan Pensosmas sebagai penghubung,” ungkapnya.

Ia menambahkan bahwa angka Pemerlu Pelayanan Kesejahteraan Sosial (PPKS) di Kapanewon Seyegan menunjukkan tren penurunan, meskipun di Margomulyo masih tercatat 222 kasus.

“Ini menunjukkan ada kemajuan, tetapi tetap perlu kerja bersama agar angka tersebut terus menurun,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Tri juga memaparkan program nasional Sekolah Rakyat (SR) tahun 2026 sebagai upaya memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan gratis berasrama bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera. Selain itu, disampaikan pula program Jaminan Sosial Lanjut Usia (JSLU) untuk meningkatkan kesejahteraan lansia miskin melalui bantuan tunai, pelayanan sosial, dan kesehatan

Kegiatan ini menghadirkan sejumlah narasumber, antara lain anggota Komisi D DPRD DIY, Muslimatun, perwakilan BNNP DIY, Dinas Sosial DIY, serta Balai Perlindungan dan Rehabilitasi Sosial Wanita (PRSW) Kabupaten Sleman.

Melalui penyuluhan ini, diharapkan masyarakat Margomulyo semakin tangguh dalam menghadapi berbagai tantangan sosial, sekaligus mampu membangun lingkungan yang sehat, mandiri, dan bebas dari penyalahgunaan narkoba. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Petugas Ronda RT 06 Sidoharjo Turi Tangkap Ular Sanca Dua Meter

Sleman – Aksi sigap petugas ronda malam kembali menunjukkan pentingnya Sistem Keamanan Lingkungan (Siskamling) bagi masyarakat. Tiga petugas ronda RT 06 Sidoharjo, Kalurahan Bangunkerto, Kapanewon Turi, berhasil menangkap seekor ular sanca sepanjang sekitar dua meter yang berkeliaran di permukiman warga, Selasa malam (28/4/2026).

Ketiga petugas ronda tersebut yakni Heri Subagyo, Sutardi, dan Wakidi. Keberhasilan ini menjadi kali ketiga mereka menangkap ular di wilayah tersebut, sekaligus mendapat apresiasi dari warga sekitar.

Sutardi menegaskan bahwa kegiatan ronda memiliki peran penting tidak hanya dalam menjaga keamanan dan ketertiban, tetapi juga sebagai langkah antisipasi berbagai potensi bahaya.

“Kegiatan ronda melalui Siskamling bukan hanya untuk menjaga keamanan dan ketenteraman, tetapi juga mengantisipasi berbagai kejadian di lingkungan,” ujarnya.

Peristiwa bermula saat ketiganya tengah berkeliling melaksanakan patroli sekaligus kegiatan jimpitan di wilayah RT 06. Mereka kemudian mendapati seekor ular sanca berukuran besar melintas di area permukiman warga.

Tanpa menunggu lama, para petugas ronda segera berkoordinasi dan mengambil tindakan untuk mengamankan ular tersebut sebelum menimbulkan kepanikan atau membahayakan warga.

Berkat keberanian dan kerja sama yang solid, ular sanca sepanjang dua meter itu berhasil diamankan tanpa menimbulkan korban jiwa maupun luka dari pihak petugas. Selanjutnya, ular diamankan guna mencegah potensi bahaya lebih lanjut.

Kejadian ini menjadi pengingat bahwa keberadaan Siskamling tidak hanya berfungsi mencegah tindak kriminal, tetapi juga sebagai garda terdepan dalam menghadapi berbagai situasi darurat, termasuk ancaman dari satwa liar, terutama di wilayah yang berbatasan dengan area persawahan atau kawasan hijau.

Kegiatan ronda malam yang dilakukan secara bergilir oleh warga RT 06 Sidoharjo dinilai efektif dalam menciptakan rasa aman di lingkungan. Keberhasilan penangkapan ular ini menjadi bukti nyata bahwa kewaspadaan dan partisipasi aktif warga mampu mencegah potensi kejadian yang lebih serius. (Arief Hartanto/KIM Kertomandiri Turi)