Target Sleman Tuntas Sampah 2029, Pemilahan Sejak dari Rumah Tangga Jadi Syarat Mutlak

Sleman — Pemerintah Kabupaten Sleman terus mematangkan strategi untuk mewujudkan target Sleman Tuntas Sampah 2029. Dalam Rapat Koordinasi Petugas Pendamping Pengelolaan Sampah (P3S) yang berlangsung di Ruang Kalpataru Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Sleman, Senin (20/4/2026), ditegaskan bahwa kunci sukses program ini terletak pada perubahan perilaku masyarakat dalam memilah sampah langsung dari sumbernya.

Rapat yang dihadiri oleh pendamping dari 17 kapanewon tersebut fokus pada percepatan pengelolaan sampah berbasis rumah tangga. Ketua Tim Kerja Pengelolaan Persampahan DLH Sleman, Fitasari Ayu Wardani, menyatakan bahwa ketergantungan pada pembuangan akhir harus dikurangi secara drastis melalui optimalisasi peran kelompok masyarakat di tingkat paling bawah.

“Pemilahan sampah di sumbernya menjadi kunci utama. Tanpa adanya kesadaran warga untuk mulai memisahkan sampah organik dan anorganik dari rumah, target Sleman Tuntas Sampah 2029 akan sangat sulit untuk kita capai,” ujar Fitasari Ayu Wardani di hadapan para petugas pendamping.

Salah satu langkah konkret yang ditempuh adalah target pembentukan Kelompok Pengelola Sampah Mandiri (KPSM) dengan konsep satu padukuhan satu kelompok. KPSM ini dapat berupa bank sampah, gerakan sedekah sampah, maupun Tempat Pengolahan Sampah Reduce-Reuse-Recycle (TPS3R). Seluruh kelompok ini nantinya diwajibkan memiliki legalitas berupa Surat Keputusan (SK) dan terintegrasi dalam sistem monitoring digital SIOSESTU.

Fitasari menjelaskan bahwa tugas pendamping di lapangan bukan hanya soal administrasi, melainkan menjadi ujung tombak dalam memberikan edukasi kepada warga. Sosialisasi yang dilakukan harus mampu menyentuh akar permasalahan, seperti masih rendahnya partisipasi masyarakat dan bahaya laten membakar sampah plastik yang masih sering ditemui di pedesaan.

“Yang paling penting adalah bagaimana masyarakat mau memilah sampah dan mengolah sampah organik dari rumah masing-masing secara mandiri. Kami juga mendorong pelibatan generasi muda di wilayah masing-masing agar gerakan pengelolaan sampah ini bisa berkelanjutan dan menjadi gaya hidup baru,” tegas Fitasari.

Dalam pelaksanaannya, DLH Sleman akan menggandeng berbagai pemangku kepentingan mulai dari tingkat kapanewon, kalurahan, hingga padukuhan untuk melakukan pengawasan ketat. Monitoring dan evaluasi akan dilakukan secara berkala guna memastikan setiap KPSM yang terbentuk benar-benar aktif dan memberikan dampak nyata terhadap pengurangan volume sampah yang dibuang ke lingkungan.

Melalui penguatan kelembagaan di tingkat padukuhan dan edukasi yang masif, Pemerintah Kabupaten Sleman optimistis tantangan persampahan dapat teratasi. Keseriusan ini diharapkan mampu menciptakan lingkungan yang lebih bersih dan sehat bagi masyarakat Bumi Sembada di masa depan. (Sutarto Agus/KIM Seyegan)




Sendra Tari Ramayana “Bayu Badjra” Meriahkan Peringatan Hari Jadi ke-78 Caturtunggal

Sleman — Kalurahan Caturtunggal merayakan hari jadinya yang ke-78 dengan menggelar pertunjukan seni spektakuler berupa Sendra Tari Ramayana bertajuk “Bayu Badjra”. Pergelaran yang berlangsung di Pendopo Kalurahan Caturtunggal, Kapanewon Depok, Sleman, Minggu (19/4/2026) malam tersebut menjadi puncak rangkaian peringatan yang memadukan pelestarian tradisi dengan semangat pembangunan wilayah.

Pertunjukan yang diproduksi oleh Joko Pamungkas ini menyajikan kisah epik Ramayana yang kaya akan pesan moral tentang kesetiaan, pengorbanan, serta kemenangan kebajikan atas kebatilan. Melalui perpaduan gerak tari yang gemulai, dentuman musik gamelan yang ritmis, serta tata panggung yang atraktif, acara ini berhasil menarik antusiasme tinggi dari ratusan warga serta jajaran pejabat yang hadir.

Sekretaris Daerah Kabupaten Sleman, Susmiarto, dalam sambutannya menekankan bahwa peringatan hari jadi ini harus menjadi momentum bagi jajaran pemerintah kalurahan untuk semakin terbuka terhadap aspirasi warga. Menurutnya, partisipasi aktif masyarakat merupakan kunci utama dalam mewujudkan tata kelola pemerintahan yang responsif dan inovatif.

“Kami sangat mengharapkan peran serta masyarakat dalam memajukan Kalurahan Caturtunggal. Apabila terdapat kekurangan dalam pelayanan, baik di tingkat kalurahan, kapanewon, maupun kabupaten, masyarakat dapat menyampaikan aspirasi melalui jalur yang tersedia agar dapat segera kami tindak lanjuti,” ujar Susmiarto di hadapan tamu undangan.

Lebih lanjut, Susmiarto menyatakan bahwa sinergi yang kuat antara birokrasi dan warga akan mempercepat penyelesaian berbagai permasalahan di lapangan. Ia berharap ke depan, Pemerintah Kalurahan Caturtunggal semakin cepat tanggap dalam memenuhi kebutuhan publik seiring dengan bertambahnya usia wilayah tersebut.

“Kami berharap ke depan dapat terwujud pemerintahan yang cepat tanggap terhadap kebutuhan masyarakat. Hal ini membutuhkan dukungan dan informasi dari warga, sehingga berbagai permasalahan dapat diselesaikan bersama. Selamat Hari Jadi ke-78 Kalurahan Caturtunggal, semoga semakin maju dengan masyarakat dan pemerintahan yang inovatif serta kreatif,” tambah Susmiarto.

Peringatan tahun ini mengusung tema “Caturtunggal Inovatif, Kreatif, Berbudaya, dan Berkelanjutan”. Tema tersebut mencerminkan visi kalurahan dalam mendorong pembangunan berbasis pemberdayaan masyarakat yang tetap berpijak pada kelestarian lingkungan dan nilai-nilai budaya lokal.

Kemeriahan malam puncak tersebut juga semakin semarak dengan kehadiran bintang tamu yang menghibur warga. Melalui pergelaran seni ini, Pemerintah Kalurahan Caturtunggal berharap dapat memperkuat rasa kebersamaan sekaligus memastikan warisan budaya adiluhung tetap lestari di tengah dinamika modernisasi perkotaan di wilayah Depok. (Oktaviana/KIM Caturtunggal)




Tantangan Menjaga Kedalaman Dakwah di Tengah Algoritma Digital

Sleman — Fenomena pergeseran ruang dakwah dari mimbar tradisional ke platform digital menjadi bahasan utama dalam talkshow bertajuk “Akar Budaya dalam Arus Dakwah Digital: Refleksi Budaya, Literasi, dan Dakwah di Zaman Algoritma”. Kegiatan yang digelar dalam rangka Miladiyah ke-27 UKM JQH Al Mizan UIN Sunan Kalijaga ini berlangsung di Convention Hall UIN Sunan Kalijaga, Senin (20/4/2026).

Acara ini menghadirkan dua tokoh penting, yakni pengasuh Pondok Pesantren Kali Opak sekaligus budayawan muslim, Jadul Maula, serta penulis sekaligus pendiri akun dakwah populer Dawuh Guru, Ali Adhim. Diskusi ini diikuti oleh ratusan mahasiswa, penggiat literasi, serta peserta lomba yang ingin mendalami bagaimana pesan agama tetap memiliki substansi kuat di tengah derasnya arus informasi media sosial.

Dalam pemaparannya, Jadul Maula menegaskan bahwa agama tidak pernah hadir di ruang hampa, melainkan selalu tumbuh dan berkembang di tengah denyut budaya masyarakat. Ia menjelaskan bahwa keberhasilan Islam berakar kuat di Nusantara adalah berkat kemampuannya menyatu dengan tradisi lokal. Pesantren, menurutnya, memiliki posisi sentral sebagai benteng pelestarian budaya sekaligus penjaga nilai-nilai keislaman yang moderat.

“Agama dan budaya itu berjalan beriringan tanpa harus saling meniadakan. Islam memberikan arah etik dan nilai-nilai spiritual, sementara budaya menjadi medium ekspresi serta wadah bagi nilai-nilai tersebut untuk membumi di tengah masyarakat,” ungkap Jadul Maula.

Di sisi lain, Ali Adhim menyoroti tantangan teknis dan moral yang dihadapi para pendakwah di era digital. Ia tidak menampik bahwa media sosial dan platform video merupakan sarana paling efektif untuk menjangkau generasi muda saat ini. Namun, ia memperingatkan adanya risiko penyederhanaan pesan keagamaan demi mengejar keterlibatan atau engagement yang tinggi dari netizen.

“Di ekosistem digital, pesan sering kali dinilai hanya dari jumlah tayangan dan interaksi, bukan lagi pada kedalaman maknanya. Ini menjadi tantangan besar bagi para dai agar tetap menjaga substansi materi dakwah agar tidak dangkal hanya demi viral. Kita harus bijak menggunakan teknologi, termasuk kecerdasan buatan, agar tetap pada koridor kebenaran,” jelas Ali Adhim.

Melalui talkshow ini, UKM JQH Al Mizan berupaya mendorong para anggotanya dan generasi muda pada umumnya untuk menjadi agen dakwah yang adaptif namun tetap memegang teguh kaidah menjaga tradisi lama yang baik dan mengambil inovasi baru yang lebih baik. Pemanfaatan media digital harus dilandasi tujuan mulia agar pesan damai Islam dapat tersampaikan secara luas tanpa kehilangan ruh budaya asalnya.

Kegiatan ditutup dengan penekanan pentingnya literasi digital bagi para penggiat dakwah. Dengan literasi yang baik, diharapkan konten-konten keagamaan yang muncul di ruang publik digital tidak hanya bersifat informatif, tetapi juga mampu memberikan pencerahan yang menyejukkan bagi masyarakat luas di tengah tantangan zaman yang semakin kompleks. (Tri Suhartati/KIM Depok)




Turun ke Sungai, Lurah Wukirsari Pimpin Aksi Bersih Kali Tepus Bersama Warga

WUKIRSARI — Pemerintah Kalurahan Wukirsari menegaskan komitmennya terhadap pelestarian ekosistem air melalui aksi nyata di lapangan. Lurah Wukirsari, Handung Tri Rahmawan, turun langsung menyusuri aliran sungai dalam kegiatan bersih Sungai Tepus yang dipusatkan di wilayah Dusun Kiyaran pada Minggu (19/4/2026) pagi.

Kegiatan yang diinisiasi oleh Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman bersama Komunitas Kali Tepus ini mengedepankan semangat gotong royong dan kolaborasi lintas sektor. Sejak pagi hari, para relawan yang terdiri dari berbagai elemen masyarakat telah berkumpul di Pendopo Dusun Kiyaran untuk mendapatkan arahan teknis sebelum menyisir aliran sungai yang melintasi pemukiman warga tersebut.

Sejumlah pihak turut ambil bagian dalam aksi lingkungan ini, mulai dari jajaran Polsek Cangkringan, Babinsa dan Bhabinkamtibmas Wukirsari, hingga warga dari Hunian Tetap (Huntap) Dongkelsari. Untuk memaksimalkan jangkauan pembersihan, para peserta dibagi menjadi dua kelompok besar yang menyisir titik berbeda guna memastikan seluruh sampah dan material penghambat aliran air dapat terangkat dengan sempurna.

Lurah Wukirsari, Handung Tri Rahmawan, tampak aktif membaur di tengah warga dengan memungut sampah di sepanjang aliran sungai. Kehadirannya bukan sekadar seremonial, melainkan menjadi simbol kepemimpinan partisipatif yang diharapkan mampu memantik semangat warga dalam menjaga keasrian lingkungan tempat tinggal mereka.

“Menjaga kebersihan sungai adalah tanggung jawab bersama, bukan hanya tugas pemerintah atau komunitas tertentu saja. Dengan turun langsung seperti ini, kita ingin menumbuhkan kesadaran kolektif bahwa lingkungan yang bersih dan sehat dimulai dari kepedulian kecil setiap individu terhadap sumber airnya,” ujar Handung Tri Rahmawan di sela-sela kegiatannya membersihkan sungai.

Sepanjang kegiatan, suasana kebersamaan begitu kental terasa. Berbagai jenis sampah plastik dan limbah rumah tangga yang sebelumnya mengotori aliran sungai berhasil diangkat, sehingga kondisi Sungai Tepus kini nampak jauh lebih bersih dan alirannya kembali lancar. Efek jangka pendeknya adalah pengurangan risiko banjir luapan saat hujan deras sekaligus mengembalikan fungsi sungai sebagai elemen estetika desa.

Lebih dari sekadar aksi fisik, kegiatan ini juga menjadi ruang untuk mempererat sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, dan komunitas pecinta alam. Partisipasi aktif dari berbagai elemen ini menunjukkan bahwa tantangan lingkungan di tingkat lokal dapat diatasi dengan baik melalui pola kolaborasi yang terencana.

Pemerintah Kalurahan Wukirsari berharap kegiatan semacam ini dapat terus berlanjut dan bertransformasi menjadi budaya masyarakat setempat. Dengan meningkatnya kesadaran publik untuk tidak membuang sampah ke sungai, Kali Tepus diharapkan tetap terjaga kelestariannya sehingga mampu memberikan manfaat ekologis dan ekonomi yang berkelanjutan bagi kehidupan warga di sekitarnya. (Lilik/KIM Wara Aji Cangkringan)




Revitalisasi Olahraga Tradisional Jadi Kunci Perkuat Identitas Bangsa di Era Digital

Sleman — Upaya menjadikan permainan rakyat dan olahraga tradisional sebagai instrumen pembangunan karakter bangsa dinilai kian relevan di tengah derasnya arus globalisasi. Nilai-nilai luhur yang terkandung dalam kekayaan budaya lokal Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran sosial dan etika yang selaras dengan prinsip-prinsip Pancasila.

Permainan tradisional seperti gobak sodor, egrang, hingga bakiak panjang terbukti mampu menanamkan nilai kerja sama, sportivitas, dan tanggung jawab sejak dini. Aktivitas fisik ini mengajarkan setiap individu untuk menghargai aturan, menjunjung tinggi kejujuran, serta membangun solidaritas kelompok yang kuat dalam interaksi sosial langsung.

Ketua Komite Permainan Rakyat dan Olahraga Tradisional Indonesia (KPOTI) Kabupaten Sleman, Syukron Arief Muttaqin, menegaskan pentingnya integrasi olahraga tradisional ke dalam sistem pendidikan dan kegiatan kemasyarakatan. Hal tersebut ia sampaikan saat menghadiri pembukaan lomba olahraga tradisional dalam rangka HUT ke-92 Gerakan Pemuda (GP) Ansor di Lapangan Baratan, Candibinangun, Sleman, Minggu (19/4/2026) siang.

“Di era globalisasi dan digitalisasi saat ini, kita dihadapkan pada tantangan degradasi nilai sosial. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan berbasis budaya yang mampu memperkuat identitas sekaligus membangun kepribadian generasi muda yang berakar pada nilai luhur bangsa. Nilai-nilai tersebut merupakan fondasi penting dalam membentuk karakter generasi muda yang berintegritas,” ujar Syukron Arief Muttaqin di sela-sela kegiatan.

Syukron menambahkan bahwa olahraga asli Indonesia bukan sekadar aktivitas rekreatif, melainkan wahana pendidikan karakter yang efektif. Dalam setiap pergerakan dan strategi permainan, terkandung nilai disiplin dan kejujuran yang menjadi modal utama dalam kehidupan bermasyarakat. Semangat ini dinilai sangat sejalan dengan napas Pancasila yang menekankan keseimbangan antara hak individu dan kewajiban kolektif.

Lebih lanjut, ia menyoroti nilai gotong royong yang menjadi elemen kunci dalam membangun solidaritas sosial melalui olahraga rakyat. Pola interaksi yang intensif dalam permainan tradisional membentuk karakter individu yang tidak egois dan lebih berorientasi pada kepentingan bersama. Hal ini dianggap sebagai penawar bagi kecenderungan generasi muda saat ini yang lebih akrab dengan permainan digital bersifat individualistik.

“Nilai-nilai dalam olahraga tradisional ini selaras dengan semangat Pancasila. Ada keseimbangan antara individu dan kelompok. Di tengah dominasi budaya populer global, revitalisasi permainan rakyat menjadi langkah strategis untuk menjaga keseimbangan antara modernitas dan kearifan lokal agar jati diri bangsa tidak terkikis,” tambahnya.

KPOTI Sleman bersama pemerintah daerah terus mendorong pengarusutamaan olahraga tradisional sebagai bagian dari pembangunan nasional. Langkah konkret seperti integrasi ke dalam kurikulum pendidikan, penyelenggaraan festival budaya secara rutin, serta dukungan terhadap komunitas pelestari diharapkan dapat dilakukan secara berkelanjutan untuk memastikan warisan luhur ini tetap lestari bagi generasi mendatang. (Adnan Nurtjahjo/KIM Pararta Guna Gamping)